
"siaaal.. Apakah dia pria yang pernah dibicarakan Rena kepadaku waktu itu..? Oh.. Cerobohnya aku..!" Hanif memaki dirinya sendiri.
Hanif menghubungi Tony untuk menanyakan perihal masa lalu Rena. Hanif menjelaskan jika saat ini Rena telah kabur bersama pria asing.
Semua kelurga merasa terpukul mendengar ucapan Hanif. "mengapa kakak tidak cerita sebelumnya kak..?" cecar Tony. Kini Ia sudah menikah dan memiliki dua orang anak.
"kakak merasa jika permasalahan rumah tangga kakak tidak perlu diumbar. Kakak tidak ingin membebani kalian, tetapi malah menjadi beban." jawab Hanif dengan panik.
"Coba kakak share loc kemana saja mereka akan pergi. Nanti Tony akan mencoba menghubungi kak Hanan. Karena Ia yang tau rumah paranormal tersebut." Tony memberi saran kepada Hanif.
"ok.. kakak akan share pergerakan mereka." ucap Hanif dengan gemetar.
Ia yang sempat su'udzon dengan istrinya kini merasa iba. Ia menggaap dirinya terlalu bodoh karena tidak peka dengan perubahan istrinya yang tiba-tiba saja.
"ampuni aku Ya Rabb.. Tidak mampu menjaga makmumku dengan baik." Hanif merintih dalam doanya. Ada penyesalan yang amat terdalam hatinya. Ia mengira Rena meninggalkannya karena tidak merasa bahagia, dan Ia ingin melepaskannya jika itunyang menjadi keinginan Rena. Karena sebuah mahligai tidak dapat dipaksakan jika tidak memberikan kenyamanan.
Namun kini Hanif menyadari, jika semua yang dilakukan Rena adalah diluar nalarnya. Ia tau, jika Rena hanya mencintai dirinya dan anak-anaknya.
"apakah saat Rena meminta untuk dikawal bodyguard saat itu adalah karena takut dengan teror pria itu?" Hanif teringat akan saat Rena panik meminta Hanif untuk melakukan penjagaan padanya.
"Sayang.. Maafin Hubby.." Hanuif bergerak keparkiran. Ia menelfon abah dan uminya, Untuk menitipkan Khanza dan Adillah. Hanif belum dapat bercerita tentang peristiwa yang menimpa rumah tangganya.
Hanif menyusuri pergerakan kemana arah Rena pergi. "mereka menuju provinsi Sumatera Utara." Hanif berguman lirih. Mungkin Ia sudah tertinggal jauh, namun Ia tidak ingin sesuatu hal terjadi pada istrinya. Ia ingin mengambil kembali apa yang menjadi miliknya.
Seribu wanita dengan mudah Ia dapatkan, namun cinta dan kenyamanan bukanlah hal yang mudah.
Tony menelefonnya. Memberitahu jika paranormal yang menangani Rena waktu itu pindah alamat.
Tony akan membantu jika dibutuhkan. "apakah kita lapor polisi saja kak Hanif? kasus perbuatan tidak menyenangkan. Jika kasus penculikan kak Renanya tampak suka rela. " ucap Tony menyarankan.
"kakak kirimkan saja no plat Rena ya. Mungkin nanti kamu bisa mencegah merekan dipersimpangan. Kakak sudah tertinggal jauh. Kalau polisi jangan dulu." titah Hanif kepada Tony.
"ok kak.. Saya akan bergerak kearah yang kakak informasikan." cetus Tony, sembari melajukan sepeda motornya keluar dari desanya.
---------*****-------
__ADS_1
Rena termenung sepanjang perjalanannya. Ia merasakan bahagia bersama Bernard saat ini, namun akalnya masih saja terus bertentangan. seperti ada sebuah bisikan yang mengatakan untuk Ia menghentikan perjalanannya.
Bisikan-bisikan itu terus berlanjut. Mencoba menyadarkan Rena yang kini masih dalam pengaruh Ilmu pelet Pemikat Sukma dari Bernard.
"emm.. Sayang.. Kita berhenti dulu untuk makan ya.." ajak Rena. Ia sepertinya ingin menghentikan perjalanan ini, namun disatu sisi hatinya memaksa Ia melanjutkannya.
Sesekali Ia melihat kearah belakang, seperti menanti seseorang. Namun saat melihat Bernard, Ia menjadi ragu.
Mereka berhenti dinwarung makan yang menyediakan pecel lele. Mereka memesan dua porsi untuk makan siangnya.
Saat menyantab makanannya, Rena seperti hambar. Selera makannya mendadak menurun. Ia hanya menyuapkan beberapa suap saja.
---------******-------
Khanza melihat Papa dan Mamanya tidak berada dirumah. Ia bertanya kepada kakek dan neneknya tentang keberadaan mereka.
Abah Hasyim dan Umi Aisyah hanya dapat menjawab jika kedua orang tua mereka ada pekerjaan mendadak diluar kota.
"kenapa Khanza dan kak Adillah tidak diajak kek..?" tanya Khanza penasaran.
Hasyim dan Aisyah tidak mengerti dengan permasalahan apa yang sedang menimpa dalam rumah tangga anak semata wayangnya.
Karena selama ini mereka terlihat baik-baik saja. Tidak pernah ada pertengkaran sekalipun. Namun namanya hidup berumah tangga, tentu tidak mungkin berjalan mulus saja. Seperti sebuah pepatah 'tak ada gading yang tak retak'.
Hasyim mengira jika Rena kabur kerumah orangtuanya, lalu Hanif menyusulnya. Sebagai orang tua, Ia hanya dapat mendoakan yang terbaik untuk keutuhan rumah tangga anaknya, tanpa harus ikut campur didalamnya.
---------******------
Beberapa hari ini, Ambar merasakan perasaannya tidak enak. Ia seperti gelisah setiap saat.
Burung gagak terus saja melintasi diatap rumahnya. Ia semakin gelisah dengan pertanda alam itu.
"bang.. Aku rasa perasaanku tak enak kalilah.." ungkap Ambar keoada Safri Saragih saat mereka sedang menikmati waktu santainya.
Ambar kini sudah tidak bekerja lagi di penenun Ulos. Bernard telah membelikan rumah kecil sebagai tempat berteduh mereka. Kini mereka tidak lagi harus mengontrak.
__ADS_1
Bernard juga memberikan usaha warung sembako dan penjualan voucher pulsa listrik dan voucher internet, dan juga Kartu sim card.
"mungkin perasaan kamu saja itu dik.." jawab Safri Saragih menenangkan hati istrinya.
----------*****--------
Tonny sudah hampir mencapai jalanan utama. Ia mulai memperhatikan satu persatu kendaraan yang melintasi jalan milik negara tersebut.
Hanif telah mengirimkan foto jenis mobil, warna dan nomor plat kendaraan yang dikendarai oleh Rena dan Pria yang telah membawanya kabur.
Setiap mobil yang memiliki plat BM tak lepas dari perhatian Tony. Menurut perkiraannya, Rena akan sampai dipertigaan tempat Tony menunggu sekitar 1 jam lagi. Maka Tony lebih memilih menunggu lebih cepat dari perkiraannya.
---------****-------
Hanif merasakan perutnya nyeri, Ia belum mengisi asupan energi sedikitpun sejak pergi dari rumah. Ia singgah sebentar di minimartket, membeli roti tawar dan minuman mineral untuk mengisi energinya. Bukankah untuk berjuang itu juga perlu energi? Biar gak oleng juga.
Hanif memakan rotinya sembari menyetir. Ia tidak ingin tertinggal jauh dari pengejarannya.
Ia merasa bersalah atas semuanya. Ia menyesali jika selama ini tidak menyadari semuanya. Ia ingin segera menemukan pujaan hatinya, wanita yang telah mencuri hatinya.
--------******-----
Lebih cepat dari perkiraan, Tony melihat dikejauhan sebuah mobil hendak menuju arahnya dengan plat mobil yang sama dengan apa yang dikirimkan oleh Kakak iparnya melalu pesan gambar.
"Ya salam.. Ini beneran mobilnya." Tony menggeram dalam hatinya.
Hari hampir senja, saat mobil Rena melintasi jalanan utama. Tony yang melihat mobil telah melewatinya, segera melakukan pengejaran. Ia mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi, untuk mengejar mobil itu.
"dasar, pria brengsek.!! Tidak ada jeranya dirimu mempermainkan kakakku. Tunggu saja pembalasannku.!!" Tony menggerutu dalam hatinya.
Saat melewati sebuah rel kereta api yang melintang dijalan lintas, kendaraan Brenard sedikit melambat, hal ini menjadi kesempatan bagi Tony untuk menghentikan mobil itu saat telah sampak diujung re kereta api.
Tony mengacungkan sebuah senjata tajam kearah pengemudi mobil. Membuat para pengendara lain merasa penasaran, mereka megira Tony sedang melakukan aksi perampokan disiang hari.
~bersambung...❤❤❤❤~
__ADS_1