Pemikat Sukma

Pemikat Sukma
Pemikat


__ADS_3

Wina sedang bersiap-siap untuk pergi bekerja malam ini ke Bar. Mobil Rika sudah menunggunya didepan pintu rumah kosnya.


Wina keluar dari rumah kos nya dengan berdandan bak seorang remaja yang masih ABG. Tubuhnya uang masih ramping dengan wajah yang masih terlihat awet muda tentu sangat mendukung penampilannya.


Ia bergegas mengunci pintu rumah kosnya dan berjalan cepat menuju mobil Rika.


"Hai.. Kamu tampil cantik banget malam ini.." puji Rika kepada sahabatnya.


"Ah..kamu bisa saja, kamu juga cantik.." jawab Wina malu-malu lalu naik keatas jok mobil. Rika terkekeh dengan sikap Wina yang tampak seperti kikuk itu.


Rika melajukan mobilnya menuju Bar tempat mereka bekerja. Dipertengahan jalan, mereka melihat mobil yang sangat mereka kenal berparkir didepan sebuah butiq yang menjual pakaian mahal dan branded. "Bukankah itu mobil si Bos, William..? Sedang apa dia dibutiq itu..? Bukannkah istrinya diluar kota..?" tanya Rika penasaran sedangkan Wina hanya mengangkat kedua bahunya.


Dalam rasa penasaran yang tinggi, Rika memperlambat laju mobilnya. Tak lama kemudian, Mereka melihat seorang gadis cantik yang tak lain adalah Duma, sedang keluar dari toko dan membawa 4 buah paper bag dengan kedua tangannya. Tampak wajah gadis itu begitu sumringah.


"Siaaal..! Mengapa gadis itu begitu dengan mudahnya dapat mendekati si Bos..? Padahal Ia hanya anak baru..!" ujar Rika dengan nada kesal.


"Ya karena masih baru, RiK, dimanja dan diutamakan." Jawab Wina santai.


"Ya... Tapi ini sepertinya sudah keterlaluan banget deh Win. Coba saja lihat itu, selain menjadi teman ranjang, Ia juga dengan mudah memoroti si Bos. Gak semudah itu dapat memoroti si William.. Biasanya habis ngajak bobok, paling cuma diberi tamu istimewa saja sebagai imbalannya." ujar Rika dengan perasaan iri dihatinya.


Wina hanya memanggutkan kepalanya, menatap gadis tersebut. Entah ada perasaan apa dihatinya saat melihat gadis itu tersenyum sumringah kepada bos mereka. "Aku seperti mengenal senyum itu..? Bernard.. Ya senyum itu.. bagaimana kondisi anak itu sekarang..? Apakah opungnya merawatnya dengan baik..?" Tiba-tiba saja Wina teringat akan anak yang dilahirkannya 19 tahun yang lalu.


Rika yang tampak kesal sepertinya sedang menyusun rencana untuk menjatuhkan gadis itu agar ditendang dari pekerjaannya.

__ADS_1


"Aku menyesal telah membawamu kepada dia, sepertinya Bis William sudah tidak perduli lagi padaku.." Rika berguman dalam hatinya, sembari memukul stir mobil dengan geram.


Wina yang memperhatikan raut wajah kesal dari Rika, sahabatnya itu, tampak biasa saja. Ia seperti mulai terbiasa dengan persaingan. Ia hanya berharap dapat makan dan tempat tinggal saja, itu sudah cukup baginya.


Rika melajukan mobilnya, lalu bergerak menuju Bar tempat mereka bekerja.


Sesampainya di Bar, tampak Rika uring-uringan. Ia sepertinya sedang menunggu kehadiran gadis itu tiba.


Wina menuju meja Bar, duduk dengan santai, sembari menunggu pelanggan yang akan dilayani mereka. Seorang bartender memintanya untuk mengantar pesanan minuman kemeja yang sudah dipesan.


Wina dengan senang hati mengantarkan pesanan tersebut. Lalu Ia menuju ruangan tempat tamu itu memesan. Tampak seorang pria paruh baya uang tak jauh beda dengan usianya sedang duduk seorang diri. Ia sepertinya sedang dalam suasana kacau.


Wina meletakkan gelas dan sebotol minuman yang sudah diracik dengan sempurnah oleh bartender kebanggaan mereka.


Pria itu hanya menatap sendu kepada Wina, lalu menerimanya dengan tatapan dingin tanpa ekspresi.


Tamu pria itu meneguknya dengan perlahan, lalu menghabiskannya. Wina mencoba mebdekatkan dirinya dengan pelanggan tersebut. Saat itu, ujung matanya melihat kehadirqn Duma yang sudah tampak tampil anggun dengan pakaian baru dan mahal hasi memoroti Bos mereka.


Lalu Duma menuju ke toilet, tak lama Ia juga melihat jika Rika mengikuti gadis itu ke toilet. "Apa yang akan dilakukan oleh Rika kepada gadis itu..? Jangan sampai Rika nekad melakukan hal yang sangat fatal dan gila." Wina berguman lirih dalam hatinya. Ingin rasanya Ia juga mengintai ke toilet, untuk mencegah sesuatu yang tidak diinginkan.


Saat Wina akan beranjak pergi, tangan pria itu mencegahnya. "Tetaplah disini, temani aku malam ini.." ungkap pria itu dengan datar. Lalu Wina kembali duduk ditempatnya. Namun perasaannya terus tertuju pada gadis bernama Djma dan sahabatnya Rika itu.


Perasaan khawatir tiba-tjba menyerangnya. Meskipun awalnya Ia menganggap Duma adalah saingannya, namun Ia tidak ingin sesuatu terjadi pada gadis itu.

__ADS_1


Sementara itu, Rika mengekori Duma yang sedang menuju toilet. Ia menyiapkan sebuah kata-kata berupa ancaman yang akan ditujukan kepada gadis itu.


Namun tanpa Rika sadari, sepertinya Duma sudah mengetahui jika Ia sedang diamati dan Ia tersenyum sinis.


Saat ini Duma berpura-pura untuk membenahi rambutnya yang sedikit berantakan di washtafel kamar mandi dan menghadap cermin.


Saat itu Rika juga sudah berdiri disisi kirinya. "Heii.. Anak ingusan..! Kamu jangan menjadi sok merasa hebat karena Bos William memnajakanmu..! Jika kamu mendapatkan barang-barang mewah pemberian si Bos, maka kamu harus menyetornya juga kepadaku, ingat.. Aku yang membawamu kemari.." ujar Rika dengan nada penekanan.


Duma tampak santai, lalu Ia memejamkan matanya, dan tampak diam sejenak. Lalu Ia menolehkan wajahnya kepada Rika yang tampak sedang kesal padanya. Duma tersenyum datar, lalu menatap bola mata Rika dengan tajam. "Boleh aku meminta uangmu sedikit..?" tanya Djma dengan nada lembut.


Seketika amarah Rika yang semula meledak dan jengkel, tiba-tiba mereda dan menjadi penurut. Lalu dengan syka rela Ia mengeluarkan uangnya, lalu memberikannya pada Duma.


"Ini, ambillah.. Pakai saja semuanya jika kamu mau.." ucap Rika dengan lirih. Entah mengapa saat ini hatinya begutu iba melihat gadis tersebut, dan merasa tak tega, meski awalnya Ia sangat kesal dan membencinya.


Lalu Duma meraih uang tersebut, dan membentangkannya menjadi kipas, lalu mengkipaskan uang tersebut ke wajahnya, lalu memasukkan uang tersebut kedalam tas sandangnya. " Apakah kau punya pelanggan malam ini..?" tanya Duma dengan lembut.


"I..iya..ada.." jawab Rika dengan tergagap.


"Kalau begitu layani dengan baik, setelah itu setorkan uang tipsnya padaku.. Apakah kau mengerti..?" ucap Duma, sembari membenahi kerah baju milik Rika.


Wanita berusia 40-an tahun itu hanya menggangguk lemah.


"Bagus kakak.. bekerjalah dengan baik, buat pelangganmu puas akan pelayananmu, maka mereka akan memberikan uang tips yang banyak.." ujar sang gadis, lalu berjalan melenggang meninggalkan koridor toilet. Sedangkan Rika menatap kepergian Duma dengan perasaan yang tak mengerti. Ia seolah seperti kerbau yang dicocok hidungnya, dan menuruti segala apa yang diperintahkan oleh gadis itu.

__ADS_1


Sementara itu, Duma tersenyum puas karena merasa berhasil telah mengerjai wanita tersebut.


__ADS_2