Pemikat Sukma

Pemikat Sukma
Dendam-2


__ADS_3

Khanza melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Ia pertama kali menuju kampus Adillah untuk mengantarkan sang kakak untuk memberikan materi kuliah. Karena kakaknya dipercaya sebagai asisten dosen, dan hal itu membuat sang kakak merasa sangat bahagia.


"Ma.. Gau gak.." ucap Khanza sembari tersenyum gak jelas sembari menyetir.


"Apaan..? Tanya Rena sembari membenahi kerudung phasminanya yang sedikit longgar.


"Pacar Kak Adillah dosen dikampus in lho..?" ucap Khanza yang mulutnya sedikit bocor.


Seketika wajah Adillah berubah memerah dan secara refleks mencubit lengan Khanza dengan gemas dari jok tengah.


"aaaww.. Sakit.." rintih Khanza saat cubitan sang kakak mendarat dilengan kirinya. "Aiisssh.. Kakak beneran dah cubitnya.." Kanzha menggerutu. 1


"Rasain.. Resek banget.." jawab Adillah ketus, lalu melipat kedua tangannya didada, Ia begitu sangat kesal oleh sikap Khanza yang kekanakan.


Khanza terkekeh melihat wajah kesal sang kakak yang terlihat masam dari pantulan kaca dashbor. Saat Adillah melihatnya dirinya ditertawakan melalui kaca dashbor, seketika Khanza menjulurkan lidahnya, membuat Adillah semakin kesal.


"Sudahlah.. Kalian ini seperti anak kecil saja.." sergah Rena yang melihat pertengkaran dua orang bayi besarnya itu.


"Kalaupun benar yang dikatakan Khanza, itu hal yang membahagaiakan, berarti mama sebentar lagi akan menimang cucu.." ujar Rena santai.


Adillah mengernyitkan keningnya, Ia melirik mamanya yang duduk di jok depan bersama Khanza.


"Mama gak marah..?" tanya Adillah penuh selidik.


Rena terkekeh mendengar pertanyaan konyol dari puterinya itu.


"Ngapain juga Mama marah..? Kamu sudah besar, dan sudah pantas untuk merasakan cinta dari lawan jenismu, namun harus pandai menjaga diri." ujar Rena kepada sang puteri.


Adillah merasa tersipu akan penuturan Mamanya, Ia memang baru kali ini merasakan rasanya jatuh cinta, pada pria dewasa, yang mungkin sebaya dengan mamanya.


"Siapa dia..? Boleh kamu kenalkan dengan mama..?" tanya Rena dengan senyum sahaja kepada sang puteri.


"Dia dosen Dillah Ma.." jawab Sang gadis dengan malu-malu.


"Oh..ya .. Bagus donk.." jawab Rena mencoba memberi lampu hijau kepada sang puteri.

__ADS_1


Percakapan keduanya terhenti saat Khanza menghentikan mobilnya di gerbang kampus, lalu Adillah turun dari mobil, dan memberi salim kepada Mamanya.


"Dillah kekampus dulu ya Ma.." ucap Gadis itu dengan wajah sumringah, karena merasa cintanya mendapat restu..lalu sang gadis berlari kecil menuju perkarangan kampus.


Khanza kembali mengemudikan mobilnya, saat bersamaan, sebuah mobil melintas ingin memasuki pintu gerbang kampus.


Mata pengemudi mobil itu menangkap selintas wajah wanita yang pernah tersimpan dihatinya sekian lamanya.


"Rena.." ucapnya lirih.. Lalu mencoba memperjelas wajah wanita yang berada didalam mobil yang terus berlalu.


Deeeegh...


Seketika jantungnya terasa berdetak lebih kencang, laksana genderang yang hendak perang. Ridwan, pria yang mengemudikan mobil itu, merasa Ia tak salah melihat jika wanita itu adalah Rena, sang wanita yang pernah mengisi relung hatinya.


Ridwan mengemudikan mobilnya menuju parkiran dengan perasaan yang penuh debaran. Tiba-tiba saja hatinya menjadi sangat gelisah. Ia tidak tahu mengapa rasa yang sudah lama Ia pendam, harus terkuak lagi kepermukaan.


******


*********


"Mau traktir Mama apa..? Tanya Rena dengan nada menantang sang putera.


"Apa saja deh.. Yang penting mama senang.." jawab Khanza dengan senyum tulusnya.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, akhirnya mereka sampai ke sebuah pusat perbelanjaan yang terkenal dikota tersebut.


Khanza memarkirkqn mobilnya, lalu menggandeng sang Mama menuju Mall tersebut.


"Kita masak apa siang ini Ma..?" tanya Khanza, sembari mendorong troli belanja.


"Kita masak sup daging saja bagaimana..?" ucap Rena, sembari memilih bahan yang akan menjadi menu mereka siang ini. "Boleh Ma.. Pastinya seger banget itu siang-siang dengan cuaca gerah seperti ini." jawab Khanza antusias.


Lalu Rena memilih bahan yang dibutuhkan. Bersamaan dengan hal itu, seorang gadis dengan tampilan aduhai dan tubuh semoknya sedang berbelanja juga.


Pandangan matanya tak sengaja melihat pemuda yang membuatnya tergila-gila itu bersama dengan seorang wanita dan terlihat sangat begitu mesra.

__ADS_1


"Oh.. ternyata dia sudah beristri..? Dan tampaknya istrinya lebih dewasa usianya dibandingkan dengannya.." gerutu sang gadis dengan penuh kekesalan. "Tapi aku tidak perduli kamu sudah beristri atau belim, aku pastikan aku akan menyingkirkan istrimu dan aku yang pantas disana." ucap sang gadis yang tak lain adalah Duma.


Ujung mata gadis itu terus mengekori arah kemana kedua insan itu mendorong troli belanjanya.


Rasa benci, kesal dan dendam menjadi satu bergelayut didalam dadanya. Ia tampak geram dan tak mampu mengontrol emosinya.


Gadis iru berjalan mengikuti arah Rena dan Khanza yang masih sibuk memilih barang yang dibutuhkan.


Saat berpapasan, Duma sengaja menyenggol Rena yang sedang sibuk memilih barang, dan membuat Rena limbung ke kanan hendak terjatuh.


Khanza dengan sigap menagkapnsang mama, lalu memperhatikan gadis yang terus berjalan merasa tidak bersalah atas perbuatan yang sepertinya sengaja dilakukannya.


Khanza mengernyitkan keningnya. "Ternyata Dia.." Dasar, gadis gila.." gerutu Khanza, lalu membantu sang Mama untuk berdiri tegak. Saat berbelok dirak barang, Gadis itu memandang Khanza dengan sinis. Ia tampak sangat kesal saat mengetahui Khanza membantu Rena untuk berdiri.


Duma berhenti disebalik rak, Ia menggenggam barang yang dipegangnya dengan sangat kuat, sebagai bentuk pelampiasan kekesalannya.


Namun tanpa diduga, Khanza sudah berdiri dibelakangnya, lalu mencolek punggung sang gadis yang hanya menggunakan tanktop.


Duma tersentak saat mengetahui pria itu sudah berada dibelakangnya. "Kamu punya masalah apa dengan saya..?!" tanya Khanza dengan tatapan dingin.


"Apa maksudmu..?!" tantang Duma dengan wajah tak berdosanya, seolah bukan Ia pelaku yang membuat Rena hampir terjatuh tadi.


"Aku lihat kamu sengaja membuat wanita yang kusayangi hampir terjatuh.." ucap Khanza penuh intimidasi.


"Heei.. Jangan asal menuduh kamu..!" jawab Duma, sembari mendorng pundak Khanza dengan cepat, lalu Ia mencoba menghindari tatapan Khanza.


Khanza bergeser satu langkah mundur kebelakang, lalu tersenyum datar melihat sikap Duma yang seolah merasa Ia adalah korban.


Seketika Duma menghindari jarak dengan Khanza. Ia merasa ciut.." Mengapa aku jadi gugup saat didekatnya, seharusnya Ia yang aku tundukkan.." gumannya lirih. Tiba-tiba saja tubuhnya menjadi gemetaran, Ia mempercepat langkahnya. "Awas saja kamu.. Jangan sebut aku Duma jika tidak mampu mendapatkan pria yang aku inginkan..!" ucapnya dengan dendam.


Gadis itu berjalan dengan persaan yang sangat sakit. Ia harus dapat mencapai semua keinginannya, Ia tidak suka jika ditolak. Maka semua pria harus tunduk padanya.


Gadis itu mencoba merencanakan sesuatu, agar Ia dapat menjerat Khanza dan membuatnya bertekuk lutut.


"Aku hanya inginkan Dia mencariku dan menyerahkan seluruh hidupnya padaku..!!" Guman sang gadis dengan sangat marah..

__ADS_1


__ADS_2