
Bernard yang semakin hari semakin kacau, membuat keluarganya semakin kalut.
Setiap hari Bernard uring-uringan. Meminta rokok. Bahkan terkadang meracau tak jelas.
Hari ini Ia bersikap aneh lagi. Ia menggunakan baju koko putih, menggunakan peci berwarna hitam, lalu berjalan kearah belakang rumah kontrakannya.
Dirumah belakang itu terdapat pohon nangka yang sangat besar dan berbuah serta daun yang rimbun. Ia memandangi pohon nangka itu dengan seksama.
Lalu berbalik lagi kerumah, membawa sebilah parang yang sangat tajam. Entah tenaga dari mana, Ia menebang pohon nangka itu tanpa lelah.
Ia terus mengayunkan sebilah parang yang sangat tajam dengan penuh semangat.
Hingga akhirnya pohon nangka tersebut tumbang. Ia memandangi pohon nangka yersebut seperti orang linglung.
Rustam Sitorus sang pemilik pohon nangka tiba-tiba berang, karena pohon nangka ditebang oleh Bernard tanpa permisi dahulu.
Rustam Sitorus mendatangi Safri yangbsaat itu sedang bekerja " "Hei..Safri, kau urus itunya ankmu yang sudahbgila. Jangan dibiarkan berkeliaran gak jelas.!! Kali ini pohon nangkaku yang mengalami nasib sial, lain waktu bisa saja anak-anak atau orang dewasa yang akan menjadi korbannya." ucap Rustam Sitorus dengan bengis.
Safri saragih merasa jika Ia tidak sanggup lagi untuk menangani Bernard. Dimana Ia juga harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan biaya perobatan Bernard.
Safri menghentikan pekerjaannya. Ia segera pulang kerumah. Saat ini ambar istrinya juga sedang bekerja sebagai pembuat ulos.
Saat dirumah Ia melihat Bernard sedang berdiri memandangi pohon nangka yang sudah ditumbangnya.
Safri Saragih mengelus dadanya untuk bersabar menghadapi cobaan ini.
"sudah pulang kerja kau bang..?" sapa Imelda tetangga Bernard, yang melihat Safri sudah lebih awal pulang.
"iya melda. Tadi pak Rustam sitorus datang menemuiku ditempat kerja, katanya Bernard menebang pohon nangkanya dan membawa senjata tajam." jawab Safri dengan datar.
"bang.. Ku rasa si Bernard kena kiriman ini bang. Rasaku penyakitnya ini tak murni penyakit stres biasa. Coba abang bawakan ke orang pintar." Imelda menyarankan.
"apa maksud dari ucapan kau ini.?" ucap Safri sedkit bingung.
"Iya, aku curiga bang sama cewek yang dulu sering kerumah ini. Aku punya firasat jika Ia mengirimi santet kepada Bernard." ucap Imelda dengan berapi-api.
Safri mencoba berfikir sejenak. Namun Ia menepis dugaan tersebut. Ia tidak yakin jika Rena sampai melakukan itu.
"perempuan itu sepertinya sakit hati sama Bernard bang, karena akunpernah lihat si Bernard mengusirnya dan membiarkannya berada diluar." ucap Imelda yang tak henti-hentinya untuk mengompori.
__ADS_1
Safri memandang Imelda. "atau mungkin aku cari saja orang pintar untuk mengobati Bernard agar segera terbebas dari penyakitnya.
"baiklah. Saya akan mempertimbangkan kamu." ucap Safri senbari tersenyum datar.
Safri melangkah mendekati Bernardnyang sedang berdiri mematung memandangi pohon nangka yang ditebangnya. Ia merayu agar Bernard hendak menyerahakan sebilah senjata tajaam yang dpegangnya.
Bernard memandang dengan tatapan tajam, membuat hati Safri menciut.
Bernard meninggalkan pohon nangka yang ditumbangnya. Ia berjalan menuju rumah,
Sesampainya didalam rumah. Ia meletakkan senjata tajam yang dipegangnya. Ia tidur terlentang dilantai dapur, menatap langit-langit ruangan dapurnya. Matanya nanar dengan tatapan kosong.
Safri memandangi Bernard yang dirasanya seperti sudah tak waras lagi.
Lalu Ia menghubungi seseorang untuk dapat membantunya.
------------
Pukul 8 malam. Dirumah Bernard berkumpul para kekuarga dan tetangga. Termasuk Bernard. Dukun yang sangat sakti telah mereka undang menyembuhkan Bernard.
Saat ini, sang dukun sedang melakukan ritual. Ia membakar arang kecik, lalu menaburkan bubuk kemenyan keayas bara api tersebut.
Dukun itu memejamkan matanya, berkomat kamit membaca mantra. Lalu sesaat Ia tersentak, begitu juga dengan semua orang hadir saat ini.
Sesosok hantu yang dikenal oleh suku batak dengan sebutan begu ganjang muncul disudut ruangan.
Semua orang berteriak histeris, sehingga menimbulkan kegaduhan yang sangat mencekam dan rasa panik yang luar biasa.
Visual hantu begu ganjang. Yaitu hantu yang dikenal sebagai hantu pencabut nyawa, dimana semakin kita memandangnya keatas, maka hantu tersebut semakin tinggi menjulang hingga hampir mencapai 10 meter.
Kelemahan dari hantu ini ialah, dengan cara merundukkan pandangan kita jika bertemu dengannya. Maka Ia akan semakin mengecil.
Karena kata 'Begu Ganjang' artinya hantu panjang.
"tundukkan pandanga kalian.!!" perijtah dukun tersebut. Sehingga semua mereka segera merundukkan pandangnya. Namun seorang bocah berusia 9 tahun yang ikut berada didalam kekacuan itu merasa penasaran.
Ia memandang begu ganjang itu, maka begu ganjang semakin meninggikan badannya, sang dukun merasa kewalahan. Karena Ia tak mampu menjangkau kekuatan begu ganjang yangbsemakin meninggi tersebut.
__ADS_1
begu Itu meraih tubuh Bernard yang sangat kecil baginya. Ia meletakkan tubuh mungil Bernard ditelapak tangannya ibarat sebuah upil.
dukin itu lalu membacakan mantranya. Kembali melakukan ritual untuk melakukan tawaran keoada begu ganjang itu.
Begu ganjang melempar tubuh mungil bernad ke sudut .
"aaaakkkhhhh" teriak Bernard kesakitan. Ia memegangi bokongnya yang sakit, Ia belum juga sadar dengan dirinya.
Dukun itu terus membakar kemenyan sembari menuangkan minyak.duyung kepada sebuah tongkat yang dipegangnya.
Setelah itu Ia melemparkan tombak kecik tersebut kearah begu ganjang, lalu mengenai bagian pinggangnya
Hantu itu berteriak kesakitan, "aaaarrrgh.." suaranya menggelegar. Ia menatap marah kepada sang dukun. Matanya merah menyala, lau mengucapakn sebuah kata ancaman.
"Aaaarrgh..awas aku tak senang jika menvusikku.."
"katakan, siapa yang mengutusmu datang kemari..?" tanya sang dukun
"kau tidak perlu tau siapa yang menjadi pesuruhku. Tugaskau hanya melaksanakan setiap apa yang diperintahkan oleh taunku." jawab begu ganjang dengan parau.
"katakanlah..ataunaku akan menyiksamu.." ancam sang dukun sembari memberikan energi pada tombak kecil tersebut yang membuat Begu ganjang semakin mengerang kesakitan.
"katakan..siapa..?" djkun itu mengulangi lagi ucapannya sembari menambahkan energi pada tongkat tersejut.
Hingga akhirnya bgu ganjang itu menyerah. "aku dikirim seirang dukun sakti atas perintah dari seorang laki-laki" ucap begu ganjang dengan suara parau.
Semua orang saling pandang mendengar jawaban dati begu ganjang tersebut.
Lalu dukun itu melenyapkan sang begu ganjang. Bersamaan dengan itu, Bernard tersentak. Ia memandangi orang-orang yang berkumpul dirumahnya.
"a..ada apa ini ramai-ramai dirumah..? " ucapnya dengan kondisi bingung.
"Syukurlah, jika kau sudah sadar.." ucap Safri dan Ambar bersamaan.
Safri memeluk anak laki-lakinya. Lalu keluarga menyonggot Bernard (memberikan uoacara jemputan semangat) pada diri Bernard. Mereka telah memasak arik ikan mas, lalu memberikannya kepada Bernard.
Setelah sekian lama terbelenggu oleh penyakit yang aneh, kinj akhinya sehat kembali.
Kemudaian mereka melakukan makan bersama. Melakukan tolak bala, dan bersyukur atas kesembuhan bernard.
__ADS_1