
kabar tentang Hanif yang akan membangun pabrik bio solar dari kelapa sawit mencuat kepermukaan. para investor berlomba-lomba untuk menanamkan sahamnya kepada Hanif.
mereka dapat menggambarkan, jika ide tersebut sangatlah menguntungkan. dimana kebutuhan solar semakin meningkat setiap tahunnya. sedangkan sumber daya alam yang berasal dari barang tambang minyak bumi sudah semakin menipis. maka bio solar adalah solusi yang tepat.
kebutuhan lahan perkebunan kelapa sawit juga semakin meningkat. rencananya Hanif akan membangun pabrik Bio solar dikota Dumai-Riau. dimana hanya Dumai yang letaknya dekat dengan Pekanbaru sebagai kota asalnya.
Dumai terpilih menjadi pembangun pabrik barunya karena disanalah letak pusat Pertamina sebagai bentuk kerjasama yang saling menguntungkan.
disisi lain, Dumai daerah pesisir yang akan memudahkan untuk melakukan ekspor ke negara luar. melalui kapal tanker. Dumai juga termasuk wilayah yang masih banyak lahan kosong terbengkalai, sehingga mendapatkan lahan sangatlah mudah.
***
seorang investor telah mengajukan untuk menanamkan sahamnya kepada Perusahaan Hanif.
mereka sudah melakukan perjanjian pertemuan untuk membahas tentang kerjasama bisnis tersebut.
Hanif menghubungi Rena, jika Ia pulang terlambat malam ini, karena akan ada pertemuan penting dengan rekan bisnisnya.
Hanif memarkirkan mobilnya disebuah hotel mewah. yang mana tempat Ia bertemu janji dengan rekan bisnisnya. Hotel mewah itu menyediakan meeting room bagi para pebisnis yang akan menyewanya.
seorang pria yang menggunakan stelan tuxedonya telah lama menunggu kedatangan Hanif . Ia menunggu di lobi hotel sejak sejam yang lalu.
melihat kedatangan Hanif, Ia begitu terlihat senang. lalu keduanya berjabat tangan dengan ramah.
"sore Tuan Hanif, senang dapat berkenalan langsung dengan anda." ucap seorang pria dewasa bermata sipit, dengan menyunggingkan senyumnya.
"Sore Tuan Yuen.. terimakasih atas perkenalannya. mungkin kita dapat membicarakannya diruangan yang lebih privasi." ucap Hanif sopan terhadap lawan bicaranya.
"oh..tentu.. mari ikut saya.." ucap Tuan Yuen dengan ramah.
lalu mereka berjalan menuju lift. menekan tombol sesuai dengan letak meeting room yang telah mereka pesan sebelumnya.
setelah lift terbuka. mereka menuju meeting room untuk segera membahas tentang apa yang akan menjadi acuan utama. disana sudah ada beberpa orang lainnya yang juga ikut menanamkan sahamnya.
setelah terjadi kesepakatan kerja sama, mereka menikmati hidangan dan minuman yang telah disediakan.
__ADS_1
satu persatu orang sudah keluar dari meeting room. kini tinggal Hanif dan seorang wanita yang bertugas sebagai pramusaji, Ia terlihat sedang membereskan sisa dari makanan dan minuman tersebut.
Hanif merasakan kepalanya merasakan sedikit pusing setelah menikmati makanan dan minuman yang disajikan. semakin lama semakin berat dan Ia tak mampu menahan rasa kantuknya. lalu Ia tertidur pulas berbantalkan meja meeting.
****
Hanif telah terbaring di ranjang hotel dengan bertelanjang dada. seorang wanita memotretnya melalui HP milik Hanif, lalu mengirimkannya kepada Rena. Ia tertawa dengan licik.
wanita itu membuka penyamarannya, Ia adalah Wina. Ia yang telah menuangkan minuman dan obat tidur tersebut. Ia melepaskan pakaiannya sendiri, menggunakan lingire yang sangat menggoda. laku menghampiri Hanif yang masih tertidur pulas.
Ia menatap nanar pada Hanif. mendekati ranjang dan duduk ditepiannya. "mengapa kau tidak mengindahkanku..? aku lebih cantik dari Dia." ucapnya dengan lirih.
"kau milikku...hanya milikku.." ucapnya sembari hendak melucuti pakaian Hanif. namun tanpa diduganya, sebuah hembusan angin mendorongnya. menghempasnya dengan kuat, hingga tersungkur dari tepian ranjang.
Wina terperanjat. Ia melihat kesegala arah. mencari tau siapa yang sedang mengerjainya. Ia memandang kesekelilingnya, merasakan ada sesuatu yang ganjil.
"siapa yang nendorongku hingga terjatuh. ?" Wina berguman lirih. seketika merasakan bulu kuduknya meremang.
lalu Ia berusaha menghampiri tubuh Hanif kembali. saat Ia meraih tubuh Hanif, sesuatu yang aneh terjadi.."aaaww.." Wina meringis dengan erangan kesakitan.
cengkraman itu telepas. lalu meninggalkan luka lebam dibagian lengannya. seperti gambar jari tangan.
bekas cengkraman itu meninggalkan rasa perih. belum sempat Wina tersadar dengan apa yang terjadi, pintu kamar dibuka.
alangkah kagetnya Ia, mendapati Rena, istri Hanif beserta petugas hotel dan seorang sopir masuk tanpa diduganya sama sekali.
Rena menatapnya penuh amarah, sorot matanya tajam. lalu pandangannya beralih pada Hanif, ada sedikit luka disana, dimana mendapati suaminya tertidur dihotel bersama seorang wanita lain adalah hal yang menyakitkan.
sebagai wanita, tentu rasa sakit itu ada, dan cemburu pasti menggelayuti hatinya. namun Rena berusah bersikap tenang. karena Ia tahu, seperti apa sikap suaminya.
Rena yakin, jika suaminya hanyalah korban jebakan dari wanita ****** tersebut.
suaminya yang tertidur pulas pulas dengan tanpa berpakaian. "tolong bawa suami saya ke mobil ya pak." ucap Rena dengan sarkas kepada kedua pria tersebut.
lalu keduanya membopong tubuh Hanif.
__ADS_1
Rena mendekati Wina yang sepertinya sedang mengerang kesakitan. Ia melihat ada luka lebam dibagian lengannya. dan Rena yakin itu bukan perbuatan suaminya.
Rena mengambil HP milik Hanif yang berda tak jauh dari Wina. " jangan pernah usik rumah tanggaku..!!" ucap Rena dengan dingin dan penuh penekanan.
Wina tersenyum licik kepada Rena. "ciiih...dasar pelakor..!!" sergah Wina dengan nada sinis.
Rena menatap tajam pada Wina.." bukannya kamu yang sudah jadi pelakor..?!" ucap Rena balik bertanya.
"aku yang lebih dulu mengenalnya..!! dan rumah itu seharusnya menjadi rumahku.!!" jawabnya dengan sengit.
Rena menatap Wina dengan amarah, namun mencoba bersikap tenang. " tapi aku yang terpilih menjadi istrinya." ucap Rena dengan tegas.
Wina mencibir.. tetapi tadi Ia baru saja tidur denganku.." ucap Wina terkekeh sinis.
"dan aku tidak mempercayai ucapan dari wanita ****** sepertimu..!" ucap Rena dengan penuh ketenangan dan berusaha meredam emosinya.
Wina membulatkan bola matanya, Ia tidak terima dikatakan ****** oleh Rena.."hei..Hanif yang merayuku untuk tidur dengannya..!" jawab Wina dengan sengit.
"dan aku bukan wanita bodoh yang dapat kamu kelabui.." ucap Rena dengan tegas.
Rena menatapi Wina yang hanya menggunakan lingere, sepertinya Ia berniat berbuat mesum pada suaminya.
"ciiih..."Wina meludah kesisi kirinya. "lihatlah dirimu, bahkan aku jauh lebih cantik darimu.." ucapnya dengan nada mencibir.
Rena menatapnya dengan senyum sarkas.."tapi aku lebih beruntung darimu.."
"jika sampai kau mengganggu kehidupan rumah tanggaku, kupastikan hidumu tidak akan tenang.. jangan bermain api denganku.. karena kupastikan kau akan terbakar olehnya."ucap Rena dengan penuh ancaman. sembari beranjak pergi meninggalkan kamar hotel.
Ia berjalan dengan hati yang diliputi rasa kepedihan. meskipun mencoba tegar, namun Ia hanyalah seorang wanita yang juga memiliki rasa sakit hati.
Rena memasuki mobilnya. Ia meletakkan kepala hanif pada pangkuannya. Ia mencoba mempercayai suaminya, meski ada sedikit keraguan.
mobil melaju dengan kecepatan sedang "kita langsung menuju rumah nyonya..?" ucap sopir itu dengan sopan.
Rena menjawab dengan anggukan. Rena mencoba mengingat dimana Ia pernah bertemu wanita itu.
__ADS_1
"bukankah dia yang pernah kulihat diminimarket waktu itu dengan seorang bayi..?" Rena berguman dalam hatinya. namun, bayi siapa itu..??" Rena berguman lirih.