Pemikat Sukma

Pemikat Sukma
dua darah yang berbeda


__ADS_3

Duma yang telah selesai menjamu para tamunya, segera kembali kekebelakang. Ia merasa hari ini moodnya kurang begitu baik. Perlakuan Khnza yang acuh tak acuh padanua, membuat jiwa penasarannya begitu kuat.


Duma tidak dapat mengerti, mengapa Khanza tidak berpengaruh pada mantra peletnya, bukankah siapa saja yang terkena akan segera bertekuk lututnya padanya..? Namun Khanza tampak tiada reaksi apapun.


Duma berniat pulang cepat malam iji, Ia akan meminta ijin pada tuan William, dia yakin William akan memberikannya ijin.


Duma melangkah menuju ruangan kerja milik william, Ia mengetuk pintu tersebut.


Tok..tok..tok..


"Masuk...." ucapnya dari dalam ruangan.


Duma membuka lintu dan berusaha masuk. Ia melangkah dengan anggun, meskipun hatinya kini sedang kacau, pemuda itu benar-benar membuatnya badmood. Ia ingin beristirahat sejenak.


"Oh..my baby.. Ada apa kau datang menemuiku..? Apakah permainan sore tadi membuatmu merasa kurang..? Atau tamu-tamumu tadi tidak ada yang memuaskanmu..?" cecar William dengan pertanyaan yang terlalu begitu gamblang.


Duma tidak menjawab segala pertanyaan konyol dari William, Ia sibuk dengan merafalkan mantra pemikat untuk meluluhkan hati William yang kini tampak begitu berhasrat untuknya.


Duma menghampiri kursi sang manager Bar, Ia segera naik keatas pangkuan pria yang memiliki salah satu kedudukan mumupuni di Bar tersebut.


"Bos.. Malam ini aku ijin pulang cepat ya.. Aku lagi tidak enak badan.. Dan moodku sangat buruk."Ucap Duma sembari membusungkan kedua buah melon yang menggantung indah.


Melihat hal itu, William merasa jiwa lelakinya tertantang, Ia meraih tubuh Duma agar lebih mendekat, menarik pingang ramping gadis itu sehingga begitu jelas berada dihadapannya.


Ia menyingkap pakaian gadis itu, lalu melahab dua buah melon nan ranum dengam sangat rakusnya.


Duma membiarkan saja sang Bos Bar menikmati apa yang Ia punya, karena Ia merasa itu akan menjadi senjatanya untuk menaklukkan William.


Tangan William mulai nakal dan menyusuri setiap lekuk tubuh sang gadis.


Baginya, Duma adalah candu yang tidak ada habisnya. Ia begitu amat menggila kepada Gadis itu.


Setelah puas melahab dua buah melon itu, Ia masih juga ingin yang lainnya. Ia meletakkan Duma diatas meja kerjanya, lalu merenggangkan kedua kaki mulus sang gadis.


Disana William mencari titik lemah Duma, menyesapnya laksana sebuah manisan yang begitu sangat manis rasanya.


Duma merasakan sensasi yang luar biasa, Itubuhnya merespon dengan cepat, Saat William bermain-main disana, menyesapi segala yang Ia punya. Willia menyesap madu cinta miliknya, hingga begitu liar, membuat tubuhnya bergetar, dan tak mampu Ia tahan lagi untuk menyemburkan lahar panas miliknya.

__ADS_1


Tubuh Duma mengejang bagaikan orang tersengat aliran listrik.


Hal tersebut membuat William sangat senang, lalu mengambil kesempatan melakukan penyatuan tubuh, dan berusaha mencapai puncak surgawinya.


Setelah Ia berhasil mencapai keinginannya, Ia melenguh panjang dengan rasa yang begitu menyenangkan. Lalu membenamkan dengan sangat dalam senjata pamungkasnya.


Setelah mendapatkan keinginannya, Ia kembali duduk dikursi kerjanya, Merapikan pakainnya yang tampak berantakan.


"Besoj jika datang bekerja jangan lagi menggunakan celana jeans pendek ini, aku kesulitan untuk melucutinya, tapi pakai saja Rok pendek, itu lebih baik.."Titah William sembari menyandarkan tubuhnya disandaran kursi.


Duma menjawab dengan menautkan kedua alisnya.


"Aku ijin pulang cepat ya Bos.. Ada sesuatu yang sangat penting, aku harus segera pulang.." ucap Duma berbohong.


"Emmmm..baiklah, karena kamu sudah membuatku begitu puas hari ini, aku mengijkanmu. Esok jangan lupa untuk untuk memakai pakain yang lebih menggoda lagi."Titah William, sembari memagut lembut bibir Duma.


Duma menyambutnya dengan cepat. Setelah William melepaskan pagutannya, Duma segera turun dari meja kerja milik Sang Bos.


Ia membernahi pakaian dan rambutnya yang sangat berantakan. Lalu keluar melenggang dengan perasaan lega.


"kemana wanita tua itu..? Apakah dia tidak bekerja malam ini..?" Duma berguman lirih dalam hatinya. Lalu saat Ia akan keluar dari pintu Bar, Ia berpapasan dengan Rika yang sepertinya akan melakukan chek in ke penginapan dengan salah satu pelanggan di Bar itu.


Namun berusaha bersikap acuh tak acuh.


Duma memanggil seorang abang penarik betor, Ia minta si Abang untuk mengantarnya kerumah kos.


Namu, ditengah perjalanan, oerutnya merasa lapar, Ia melihat soerang penjual bubur ayam yang berada ditrotoar jalan.


Duma meminta abang betor agar menepi untuk membeli bubur ayam.


Disana hanya ada satu pelanggan yang sedang mengantri membeli, seorang gadis berhijab dan menggunakan mobil.


Duma memesan 2 porsi bubur ayam, satu untuknya, dan satu lagi untuk si abang betor. Lalu Ia duduk dikursi plastik yang disediakan oleh pedagang bubur ayam tersebut. Duma mengambil duduk disisi gadis tersebut.


Adilah menoleh kearah Duma, gadis manis yang penuh kelembutan itu memberikan senyum sahajanya kepada Duma.


Duma membalasnya dengan senyum datar.

__ADS_1


Bersamaan dengan itu, Abang betor menghampiri Duma, dengan langkah yang tergesah-gesah.


"Maaf, Boru.. Tulang mau ada keperluan mendadak, istri tulang mau melahirkan dan harus dibawa kerumah sakit." ucap Abang betor dengan wajah panik. Duma beranjak bangkit, lalu memandang tercengang.


"Trus saya bagaimana dong Tulang.?" ucap Duma dengan wajah melengus.


"Ya sudah.. Ongkosnya tidak usah boru bayar, Tulang ikhlas." ucapnya ingin beranjak pergi.


"Tulang, tunggu.." teriak Duma, sembari menghampiri abang becak motor yang sangat jelas gurat wajahnya orang suku batak.


Duma mengeluarkan dompetnya, mengambil selembaran uang 200 ribu, lalu memberikannya kepada abang becak motor tersebut.


"Tidak usah repot-repotlah Boru, sudah..ambil saja untukmu.!" abang becak berusaha menolak.


Namun Duma dengan cepat menarik tangan abang becak, dan menyelipkan uang tersebut kepadanya. "ini untuk bibi.. Semoga bermanfaat ya Tulang.." ucap Duma dengan senyum tulus.


"Terimakasih ya Boru.. Semoga kau dalam keselamatan." ucap abang becak sembari melangkah pergi. Hatinya sangat bahagia sekali, karena Ia memang memerlukan uang tersebut. Abang becak melajukan becak motornya dengan berlawanan arah.


Duma kembali menunggu pesanan bubur ayamnya.


Ia memandang kembali pada Adillah. Ia memperhatikan cara berpakaian gadis itu, terlihat sangat sopan. Lalu Ia melirik pada pakaiannya, sungguh sangat jauh berbeda. Duma mendenguskan nafasnya.


Pedagang itu memberikan pesanan untuk kedua gadis, lalu mereka membayarnyanya.


Duma berdiri ditepi jalan mencari abang betor yang lewat. Saat bersamaan, Adillah juga akan pulang.." Arah kemana mbak.? mana tau satu arah bisa ikut saya sekalian.." Adillah menawarkan.


"Ke jalan Kapten Muslim.." jawab Duma dengan senyum datar.


"Oh.. Kalau begitu kita searah.. kalau mau boleh ikut dengan saya, nanti saya antrakan." Ucap Adillah tulus.


Duma merasa bingung, namun Ia juga ingin segera sampai kerumah, Ia sangat ingin beristirahat, melupakan bayangan Khanza dari fikirannya yang terus mengganggu.


Entah perasaan apa, Duma merasakan getaran indah, saat melihat gadis itu.


"Apakah tidak merepotkan..?" tanya Duma sungkan.


"Tidak.. Ayolah.." jawab Duma, lalu menuju mobilnya dan membuka pintu depan mobil. Lalu mempersilahkan Duma untuk masuk.

__ADS_1


__ADS_2