Pemikat Sukma

Pemikat Sukma
Samar


__ADS_3

Bernard gelisah. sudah sebulan Ia tidak dapat menghubungi Rena. gadis itu sepertinya telah membelcklist nomornya. tidak biasanya Rena seperti ini. "apa yang terjadi pada gadis itu?" mengapa nomorku tidak tersambung?" ucapnya gusar.


Bernard meminjam handphone ayahnya. lalu mencoba menghubungi Rena, dan olala..ternyata tersambung.


"hallo Rena sayang...apa kabarmu?" ucap Bernard seakan tanpa dosa. namun tiba-tiba saja sambungan telefon terputus. Rena mereject nomor panggilan Bernard.


Bernard mencoba menghubunginya ulang. namun tetap tak tersambung. Bernard bingung, mengapa sampai Rena melakukan itu padanya.


"heh...awas kau Rena, aku akan membuatmu mengemis cinta padaku." ucap Bernard dengan geram. Ia menghapus panggilan keluar, dan meletakkan handphone milik ayahnya didalam dilemari kaca. Ia bergegas masuk kedalam kamar dan menguncinya.


Bernard melakukan ritual sihirnya 'Pemikat Sukma'. mulutnya komat-kamit merafalkan mantra pemikat tersebut, menyebutkan nama Rena, lalu membayangkan wajah Rena.


Ia membuka matanya, berkonsentrasi membayangkan wajah Rena kembali. namun wajah itu tak tercapai penglihatan dan ingatannya. wajah itu seperti samar-samar, tertutup kabut.


"sial..!" mengapa aku tak mampu menembus wajahnya.? sepertinya ada yang telah mencampuri urusanku." ucap Bernard geram.


Ia teringat beberapa bulan yang lalu saat bertemu dengan raga seorang pria dewasa. "pasti pria tua sialan itu yang menghalangi perbuatanku!.." berani sekali dia menantangku. Bernard mengepalkan tangannya, lalu meninju telapak tangannya.


"aku akan memberinya pelajaran." ucap Bernard, lalu melakukan ritual 'ngrogo sukmo'. Ia melepaskan raga dari tubuhnya, raganya berjalan diudara mencari sosok pria dewasa yang ditemuinya saat itu.


lama Ia mencari. lalu Ia melihat sesosok pria berbadan tinggi tegap sedang membelakanginya. pria itu menggunakan baju jubah berwarna putih, dengan selempang kain dipundaknya. Ia memegang sebuah tasbih.


Bernard mencoba mendekatinya, memastikan bahwa sosok didepannya adalah pria yang ditemuinya waktu itu. "hai..orang tua..! apa maumu..?!" ucap raga bernard kepada pria yang memunggunginya.


pak Ucok memutar tubuhnya, Ia melihat ingin siapa orang yang menyapanya dengan lantangbtanpa sopan santun.


Bernard melihat wajah pria itu terlihat berseri, memancarkan aura penuh kewibawaaan. "ada apa anak muda? mengapa kamu begitu penuh amarah?" ucap raga Ucok dengan tenang.


Bernard menggeretakkan giginya, wajahnya memerah menahan amarah. "jangan sok santailah lai..kamu sudah terlalu mencampuri urusanku." ucap raga Bernard dengan geraman.

__ADS_1


Raga Ucok tersenyum menanggapi amarah Bernard. "urusanmu yang mana hai anak muda?" sepertinya aku tidak pernah mengusikmu." ucap Ucok santai. menambah Bernard semakin berang.


"mengapa kau menghalangi langkahku untuk mendapatkan gadis itu?!" ucap raga Bernard semakin meluap-luap emosinya.


Raga Ucok memandang raga Bernard dengan tatapan sarkas.. "dengan alasan apa kamu ingin memilikinya?" ucap Ucok dengan selidik.


"kamu tidak perlu tau untuk alasan apa aku ingin memilikinya." ucap Bernard dengan amarah yang semakin tinggi. Ia tidak terima jika pria itu terus bertanya alias kepo.


"aku berhak tau, karena gadis itu dalam pengawasanku saat ini." ucap Ucok tegas.


"ciiiih...sejak kapan kamu menjadi asisten pribadinya?!" ucap Bernard sinis.


"sejak kamu berbuat dzhalim padanya.. jangan pernah coba-coba untuk mengusiknya kembali. karena kamu akan mendapatkan konsekuensinya."ucap Ucok dengan nada ancaman.


Bernard bergetar hatinya, namun Ia tak suka jika orang lain ikut campur akan urusannya. raga Bernard mencoba mendekati raga Ucok, Ia ingin melayangkan sebuah tendangan kepada Ucok. dengan sigap Ucok menangkapnya, lalu memutar kaki Bernard layaknya seperti sebuah gasing yang berputar-putar, lalu merafalkan doa dan menendang kaki Bernard dengan telapak tangannya.


tubuh Bernard berguncang saat menyatu dengan raganya. nafasnya tersengal karena menahan sakit dari hantaman ghaib milik Ucok.


Bernard memegangi dadanya, Ia merutuki pria tersebut. "brengsek kau orang tua!" umpat bernard dengan amarah


"apa yang harus aku lakukan untuk mendapatkan Rena kembali? bisa berhenti ATM berjalanku." ucap Bernard bingung.


Ia mengambil foto Rena dari dompetnya. Ia memperhatikan foto itu dengan seksama. hampir 3 tahun menjalin hubungan tanpa Ia pernah memberi kejelasan pada gadis malang itu.


Ia memandangi wajah Rena difoto , Ia melihat senyum gadis itu begitu manis. "mengapa aku baru menyadari betapa manisnya dia?" ucapnya lirih. entah perasaan darimana yang datang tiba-tiba saja menjalar dihatinya.


Ia mencoba membayangkan kembali wajah Rena dalam ingatan melalui mata bathinnya, wajah itu terlihat samar-samar, ada kabut putih yang menghalanginya.


"Rena...maafkan akan sikapku selama ini. sebenarnya aku menyukaimu. namun aku takut jika kelak sihir itu luntur kamu akan meninggalkanku." ucapnya lirih. Ia memandangi foto Rena dengan sendu. namun penyesalan selalu datang terlambat.

__ADS_1


Bernard terbaring dikasur tipisnya yang beralaskan lantai. menatap langit-langit kamar. teringat akan kenangan saat masa Rena bermanja dengannya di alun-alun kota Tebing Tinggi. wajah itu terlihat begitu indah.


Ia teringat akan semua pemberian Rena kepadanya. Ia membuka lemari kecil tempatnya menyimpan pakaian. Ia mencari kotak kecil yang diselipkannya di diantara lipatan pakaian. lalu Ia membuka kotak tersebut. Ia memandang sebuah arloji yang memiliki merk mahal pemberian Rena. Ia mengenakannya, memandangnya dengan seksama. lalu mengecup arloji indah tersebut.


seumur hidupnya, Ia baru dua kali menggunakan ilmu tersebut. penggunaan ilmu pertama pada gadis semasa sekolahnya di SMA, namun berakhir dengan sadis, sigadis bercinta dengan pria lain dan menikah tanpa sepengetahuannya.


ternyata ilmunya masih dapat dikalahkan dengan orang yang memiliki kesucian hati , sehingga lebih tinggi tingkat kanuragannya. karena hanya orang yang berhati bersih dan tidak melakukan kemaksiatan yang dapat berada pada tingkatan tertinggi.


sedangkan Bernard, masih dalam tahap tingkatan awal, sudah bermaksiat dengan seringnya kepelacuran, meminum-minuman keras, serta menyalahgunakan ilmu yang dipelajarinya. bahkan Ia melupakan pesan dari guru yang telah mengajarkan ilmu tersebut kepadanya, jika Ia sampai menyalahgunakannya, suatu saat akan ada karma yang menimpanya, dimana pengaruh sihir itu akan berbalik menghantam dirinya.


Bernard Saragih, ya sebuah marga dari suku Batak simalungun. kini Ia merasa kehilangan gadis yang selama ini Ia permainkan. merasa pria paling keren sejagat raya, namun kini meratapi nasibnya. kini Ia tak mampu menghubungi nomor gadis itu, bahkan membayangkan wajahnya saja ia tak mampu menembusnya.


Bernard baru menyadari, betapa sakitnya menahan perasaan ketika merindukan seseorang. Ia memeluk foto Rena dalam dekapannya. meraba arloji yang dikenakannya, tanpa Ia sadari Ia menitiskan air matanya.


"Rena...masihkah kau ingin memaafkanku.? akankah kau menerimaku tanpa harus terkena pengaruh sihir pelet sukma?" ucap Bernard dengan lirih. matanya menerawang jauh, menembus angan yang tak lagi mampu Ia gapai.


Bernard tertidur sembari memeluk foto Rena.


****


Bernard berjalan dalam kabut tebal. Ia melihat Rena berjalan didepannya, Ia berjalan bersama seorang pria yang berbadan kekar dengan memunggunginya. Rena berlari jauh meninggalkannya dalam keterpurukan. Ia mencoba mengejar Rena yang terus berlari bersama pria tersebut. namun semakin cepat Ia mengejarnya, semakin jauh Rena berlari, hingga menghilang dari pandangannya yang tertutup kabut tebal


"Ree...naaaaa.....jaangan tinggalkan aku.." teriak Bernard sekuat tenaganya. namun Ia tak menemukan lagi bayangan tubuh Rena. kini gadis itu tak lagi peduli padanya. tidak akan ada lagi gadis manis yang bersujud meminta cintanya.


Bernard terduduk diatas tanah yang penuh dengan rerumputan, dengan bertumpu pada kedua kakinya. hatinya begitu pedih, meratapi dirinya yang pernah menyia-nyiakan gadis itu.


hingga akhirnya, Ia merasakan sesuatu menepuk-nepuk wajahnya. "hei...Bernard, bangunlah kau.. mimpi apanya kau rupanya?" ucap Ambar, ibu Bernard dengan logat bataknya.


Bernard terbangun karena tepukan diwajahnya, lalu membuka mata dan mendapati ibunya sudah berada disampingnya. ternyata tanpa Ia sadari pintu kamarnya sudah didobrak paksa, karena suara teriakannya yang begitu mengganggu.

__ADS_1


__ADS_2