Pemikat Sukma

Pemikat Sukma
Galau


__ADS_3

tin...tin... suara klakson mobil Amy..


Rena berlari kecil menghampiri Amy..nafasnya terengah-engah, lalu membuka pintu mobil. setalah meletakkan bokongnya, Amy mulai menyetir dan melaju membelah kota Medan.


"Mi...jujur deh...pasti kamu yang bocorin sama kak Hanif tentang masalahku kemarin..ayo ngaku..?" ucap Rena memandang Amy dengan meminta jawaban..


yang dipandang cuma menaikkan kedua bahunya saja. sembari tersenyum.."habisnya aku bingung..waktu wisuda tinggal 3 hari lagi. kalau sampai hari ini gak kamu selesaikan, kamu terancam wisuda tahun ini.." ucap Amy sedih.


"tapi aku malu banget mi..masa iya baru kenal dan ketemu 2 hari sudah dimintai uangnya..? kalau dia anggap aku ini cuma morotin kak Hanif gimana..?" ucap Rena lirih.


Amy memandang sekilas wajah sahabatnya, lalu kembali fokus menyetir. " aku kenal kak Hanif. Dia bukan type orang yang ribet. asalkan kamu benar tulus mencintainya, apapun akan diberikannya untukmu." ucap Amy menenangkan hati Rena.


Rena memandang Amy yang fokus menyetir.." terima kasih banyak untukmu.." ucap Rena tulus..


"atas apa..?" ucap Amy..


"karena kamu telah mengirimkan seorang malaikat yang mengubah hidupku lebih berwarna.." ucap Rena dengan tatapan sendu..


Amy menoleh ke arah Amy, "aku juga berterimakasih padamu.." ucap Amy lembut..


Rena bingung dengan ucapan Amy.."untuk apa..?" Rena penasaran.


Amy tersenyum tulus kepada Rena "karena kamu telah memberikan judul skripsi dan aku bisa wisuda tahun ini..tanpamu mungkin aku takkan wisuda. bisa-bisa akan menjadi mahasiswa abadi.." ucap Rena terkekeh..


Rena pun ikut tertawa mendengar ucapan Amy.

__ADS_1


"ngomong-ngomong kak Hanif kapan pulang ke Pekan Baru..?" ucap Amy penasaran.


"kalau tidak salah sore ini.." jawab Rena..


"oooo...mungkin pekerjaannya sudah selesai disini..LDR-an donk.."Amy menatap Rena tanpa ekspresi..


Rena tersenyum datar.."tiga bulan lagi keluarganya datang untuk melamarku.." ucap Rena.


Amy memasang wajah senang.."what...ya ampuuun...Rena..selamat ya sayang.. kalau gitu setelah kamu menikah, aku akan meminta Arman untuk melamarku.." ucap Amy konyol.


Rena tertawa mendengar ucapan sahabatnya yang konyol itu.


****


Amy dan Rena telah sampai di kampus. Rena segera keruang Administrasi untuk memyelesaikan tunggakannya. setelah selesai Ia menghampiri Amy yang sedari tadi menunggunya.


Amy mengusap mengusap punggung Rena dengan lembut. "sudahlah..aku melakukkannya dengam tulus." ucap Amy.


Rena melepaskan pelukannya, lalu menyeka air matanya.


Rena memandangi kesekeliling kampus. setelah wisuda nanti, kampus ini hanya akan tinggal kenangan saja. Ia akan mengingat tempat dimana Ia pernah menimba Ilmu.


"kamu kenapa..?" ucap Amy..


Rena tersenyum dengan paksa.."kampus ini.. sebentar lagi kita akan berpisah dari kampus ini.." ucap Rena sendu.

__ADS_1


Amy menghela nafasnya.."ya..tentu akan menjadi hal yang sangat dirindukan.." ucap Amy menimpali..


mereka saling pandang sembari senyum yang yang dipaksakan.


"yuuk...ke kantin..hitung-hitung perpisahan sama bu dhe kantin.."ucap Amy terkekeh.


diperjalanan menuju kantin mereka mengobrol..


"Mi...kamu tau gak..?" ucap Rena..


"enggak..kan kamu belum kasih tau.."celetuk Amy sembari terkekeh.


Rena manyun..."iya aku kasih tau deh..gini ni..waktu kemaren kak Hanif ikut kekampus, si Ridwan dan Rehan mengira Kak Hanif kekasihmu. karena waktu kamu ngobrol terlalu dekat." ucap Rena dengan serius.


"iya kah..?" ucap Amy sembari menautkan kedua alisnya. lalu tertawa keras..Ia merasa kedua pemuda itu sangatlah konyol.


Namun Ia menghentikan tawanya. "Ren...sudah waktunya kamu memberikan jawaban kepada Ridwan dan Rehan, jangan menggantung harapan seseorang, karena itu menyakitkan.." ucap Amy mengingatkan.


Rena terdiam dengan ucapan Amy. mungkin benar, tidak seharusnya Ia menjadi orang Pemberi Harapan Palsu. karena itu sangat menyakitkan.


"aku akan mencari waktu yang tepat untuk mengatakannya." ucap Rena.


"bagus...lebih cepat lebih baik..karena move on dari seseorang itu bukanlah hal mudah.." ucap Amy dengan hati-hati.


Rena mengangguk mengerti. "ternyata selain konyol dan banyak makan, kamu juga pintar dalam hal tentang perasaan..." ucap Rena terkekeh.

__ADS_1


Amy tertawa mendengarnya.." karena aku merangkap sebagai psikolog.." Ucap Amy menimpali..


"iya deh.." ucap Rena...sembari menyenggol lengan kanan Amy. mereka tertawa penuh kasih persahabatan.


__ADS_2