Pemikat Sukma

Pemikat Sukma
Operasi bibir Sumbing untuk Adillah


__ADS_3

2 tahun kemudian..


"Hubby.. kita bawa Adillah operasi bibir sumbingnya ke Singapore.." pinta Rena dengan nada memohon.


Hanif yang sedang berkutat dengan pekerjaannya menghentukan sejenak pekerjaannya. "nanti kita cari waktu yang tepat. sekakian liburan." ucap Hanif dengan nada serius.


"benarkah..?? makasih yang sayang.." ucap Hanif dengan sumringah. akhirnya Ia dapat membawa Adillah operasi.


sebenarnya wajah Adillah sangatlah cantik, tetapi hanya karena bibirnya sumbing, menghalangi cantik wajahnya.


Adillah kini sudah tumbuh menjadi balita yang sangat menggemaskan. usianya terpaut 6 bulan dengan Khanza. dan pertumbuhan mereka terlihat sama.


selama dua tahun umur Adillah, belum pernah terdengar ditelinga mereka atau terbaca mereka tentang kehilangan seorang anak. apakah mungkin mereka sengaja membuang Adillah. entahlah.. ku tak tau..


 


setelah memilih waktu yang tepat dan sesuai jadwal. akhirnya Hanif dan Rena terbang ke Singapore membawa serta Khanza da Adillah yang akan melakukan operasi bibir sumbingnya.


selama ini jika Ia memanggil Rena dengan sebutan 'Mama' menjadi 'Aa', dan juga untuk sebutan kata 'Ayah' juga menjadi 'Aa' dan hampir tak ada bedanya.


Adilah juga tumbuh menjadi gadis kecil yang sangat pintar. dan pemilihan operasi di Singapore adalah agar tampak sempurnah.


hari Ini adalah awal untuk Adillah menyambut hari baiknya.


Adillah memasuki ruangan operasi. untuk memberikan ketenangan pada Adillah, dikter mengijinkan Hanif ikut mendampinginya selama proses operasi.


setelah beberapa jam lamanya, akhirnya proses operasinya pun berhasil. tinggal menunggu pemulihan saja.


saat dibawa keruangan pasien yang telah dipesan oleh Hanif, Adillah masih dalm pengaruh obat bius.


 


setelah pulang kerumah, Adillah semakin lincah dalam perkembangannya. dokter menyarankan pengoperasian sebanyak 3 kali mendapatkan hasil yang sempurnah.


namun untuk operasi pertamanya sudah membantu Adillah dalam berbicara. Ia tak lagi kesulitan untuk menguyah makanannya.


dan untuk pertama kalinya Adillah dapat memamggil kata "Mama dan Papa".Hati Rena begitu sangat senang.


 


Setelah 2 tahun membuang Sofia, Wina merasa kini hidupnya begitubsangat bebas-sebebasnya Ia keluar masuk club malam untuk mencari kepuasan belaka.


bahkan kini Ia sembari menjual narkoba dilingkungan club malam tersebut.

__ADS_1


pakaian yang digunakannya juga terlalu sangat vulgar, demi untuk mencari pelanggan barang haram tersebut.


Melisa juga sepertinya tidak begitu perduli dengan prilaku anak perempuannya. jika Ferdy masih terus mencari para pemodal yang ingin menanamkan saham diperusahaannya yang hampir terancam bangkrut.


Ia juga tidak sempat memperhatikan kondisi Wina yang kini sudah lepas kendali.


selama dua tahun ini, Wina jarang melihat Hanif, karena Hanif ternyata sering pergi ke Dumai untuk meninjau pembangunan pabrik barunya. serta wahana wisata yang terlihat menjanjikan.


Wina mencoba mencari tau keberadaan Hanif, namun sepertinya orang-orang tutup mulut untuk memberikan informasi.


 


setelah enam bulan kemudian, Adillah melakukan operasi keduanya, kini agar terlihat lebih sempurnah.



Ia terlihat semakin percaya diri dan lincah. kemampuan bahasanya juga semakin berkembang..


Rena semakin menyayanginya. bahkan kini Ia sudah lancar berbicara.


perkembangan dan pertumbuhannya semakin pesat. bahkan Ia mampu melafalkan doa sehari-hari meski masih belum fasih falam penyebutannya. dia juga menyangi Khanza sang adik sesusuannya.


setelah melewati masa pemulihan, untuk pertama kalinya Rena membawanya berbelanja ke Mall dengan ditemani oleh seorang baby sister.


saat Ia memutar tubuhnya. Ia melihat ternyata Wina adalah wanita yang ditabraknya yanpa sengaja.


Rena menatap tanpa ekspresi dan memalingkan muka dari Wina, lalu lebih memilih berbelanja.


Wina mencibirnya. "cih..wanita kampung, berlaga sok nyonya" Wina menyindirnya sembari berpura-pura untuk memilih barang yang sebenarnya tidak untuk dibeli.


"Daripada menjadi murahan, menjebak suami orang..!!" jawab Rena dengan pedas.


"kau yang merebut Hanif dariku, aku yang terlebih dahulu mengenalnya, bukan kau..!!" ucap Wina sedikit menekan suaranya.


raut wajanya kini berubah menjadi masam karena cibiran Rena, yang mengatakannya murahan.


saat suasana hampir panas, baby Sisyer menghampiri Rena sembari membawa troli bayi yang duduk dua sekaligus.


"nyonya.. saya menunggu diruang T*me Zone saja ya, sembari mengajak Khanza dan Adillah bermain." ucap baby sister itu kepada Rena.


Rena menganggukkan kepalanya. lalu Rena melanjutkan belanjanya meninggalkan Wina yang sedang memperhatikan kedua balita milik Rena.


"bukankah bayi mereka cuma satu..? tetapi mengapa ada dua..? apakah Rena langsung hamil lagi setelah melahirkan bayi pertamanya..?" Wina menerka-nerka.

__ADS_1


"tetapi setahuku anak pertamanya adalah laki-laki, bukan perempuan..? apakah aku salah mendapatkan informasi..?" Wina semakin penasaran.


diam-diam Ia mengikuti sang babysister ke arena bermain. Ia memperhatikan anak perempuan berusia 2 tahun lebih itu dengan seksama. "seperti pernah melihatnya..? tapi dimana..?" Ucap Wina penasaran.


namun jika dilihat-lihat, bayi itu cantik. lalu Wina berlalu dari arena bermain. "cepat banget punya anak dua.." gerutu Wina dengan kesal sembari berlalu.


Ia sangat kesal sekali hari ini. Ia menganggap sial karena bertemu Rena di Mall. dimana Ia juga harus menyaksikan Rena sudah memiliki sepasang anak yang menggemaskan.


 


Wina memasuki kamarnya dengan kesal. bahkan Ia sempat membanting pintu kamarnya dengan keras.


"sialaannn..! kau Rena. bisa-bisanya kau memiliki dua anak dalam waktu hampir tiga tahun." Wina mengumpat.


"mengapa semua keberuntungan memihak padamu..?" sedangkan aku harus dirundung kesialan." Ia menggeram.


Ia terkenang akan Sofia. "coba saja kau terlahir tanpa bibir sumbingmu, mungkin aku tidak akan membuangmu." Wina meratapi nasibnya yang malang.


-------


Hanif pulang dari luar kota. Ia membawa banyak oleh-oleh untuk kedua anaknya. Khanza yang juga semakin pintar, mengejar Hanif yang muncul dari balik pintu kamar. caranya yang berjalan dengan tertatih karena tubuhnya yang gembul membuat gemas Hanif. "sayang papa.." ucap Hanif sembari melambai-lambaikan kotak mainan kepada Khanza.


Adillah yang melihat Hanif didepan pintu juga ikutan menghampirinya, memberikan ciuman kepada Hanif. lalu Hanif menggendong keduanya dengan susah payah, karena bocah itu berbadan gembul keduanya.


melihat kotak mainan yang dibawa Hanif, kedua bocah itu terlihat sangat senang.


saat kedua bocah menggemaskan itu asyik dengan mainannya, Hanif langsung mengalihkan perhatiannya kepada Rena. selain suka menggoda Istrinya, terkadang Ia bersikap jahil .


"mereka tumbuh hampir sama besarnya ya bby..?" ucap Rena sembari memandangi kedua bocah yang Asyik bermain.


"Iya.. Khanza jadi punya teman bermain." jawab Hanif.


"siapa ibu yang tega membiang bayi secantik itu..?" ucap Rena dengan lirih.


"yang pastinya akalnya sudah tidak sehat, makanya dia sanggup membuang anaknya." jawab Hanif sekenanya.


" oh ya bby..tadi di Mall Ren bertemu mantan kamu yang sok paling cantik sejagad raya itu." ucap Rena dengan nada cemburu.


"oh ya.. dia memang cantik.." jawab Hanif, membuat hati Rena terbakar.


"apaaa..?" ucap Rena dengan wajah memerah..


"tapi lebih cantik kamu.." ucap Hanif, sembari mencuri ciumannya dibibir Rena. membuat Rena gemas dibuatnya.

__ADS_1


__ADS_2