Pemikat Sukma

Pemikat Sukma
Demam-2


__ADS_3

Tubuh Duma semakin menggigil. Dokter sudah memberikan obat ARV untuk menekan jumlah penyebaran dari virus yang kini menguasai tubuh gadis itu.


Saat ini Wina masih terus menungguinya. Ia sangat meyakini jika gadis ini adalah anak perempuannya yang dulu pernah diberikan kepada mertuanya ditebing tjnggi dan tidak pernqh dijenguknya.


Gadis ini adalah anak dari Ia dan Bernard, pria yang dulu pernah memikat hatinya. "Apakah Ia juga mewawrisi ilmu pemikat itu dari ayahnya? Bagaimana kabar mertuaku sekarang?" Wina mulai berkelana di alam fikirannya.


Ia menggenggam jemari tangan Duma, Ia sudah menyalin pakaian gadis itu dan membersihkannya.


Entah mengapa kini rasa keibuannya tumbuh besar. Mungkinkah Rabb-Nya telah membuka cahaya hidayah kepada-nya? Wina tampak begitu menyesali segala perbuatannya dimasa lalu.


Ia memandang wajah sang gadis yang kini terbaring lemah, kecantikan dan kemolekan tubuhnya bagaikan tak berharga saat Rabb-nya sudsh menitipkan penyakit tersebut.


Wina menghubungi William, meminta bantuan untuk biaya pengobatan Duma. Ia menceritakan semuanya tentang kondisi gadis itu. Bukannya membantu, tetapi malah sebaliknya.


"Sial...!! Ternyata dia menularkan juga penyakit itu padaku! Dasar gadis brengsek!" Maki William dengan kesal saat mengetahui kebenarannya.


Bahkan William memberikan sumpah serapah kepada gadis yang dulu begitu amat Ia puja. Kini semuanya berbanding terbalik, tak ada lagi kekaguman dan kebanggaan atas kemolekan tubuh sang gadis, yang ada kini hanyalah ketakutan bayangan akan penyakit mematikan itu begitu sangat dekat.


"Aku tidak perduli dengan Dia sekarang. Karena juga sudah menularkan penyakit kotor itu kepadaku! Urus saja Dia seberapa Kamu sanggup, jika tidak sanggup, biarkan Ia membusuk disana!" ungkap William yang sangat begitu menyakitkan.


Deeeeeeg...


Kini Wina baru menyadari, jika apa yang diperbuatnya sangatlah merugikan dirinya sendiri. Bahkan Ia juga sekarang sangat takut jika Ia juga tertular virus mematikan itu. Ia pun segera mencoba mendaftarkan diri untuk melakukan pengecekan laboratorium untuk pemeriksaan darah, apakah Ia tertular atau tidak.


Saat Ia akan keluar dari kamar pasien, Ia mendengar suara Duma merintih menahan sendi-sendi tulangnya yang sakit dan ngilu.


Ia kembali mengurungkan niatnya, lalu menghampiri Duma. Kini mata gadis itu mencoba mengerjap, Ia memandang dengan sayu sekelilingnya.


Saat matanya beradu dengan Wina, Ia menatap nanar dan bingung, mengapa Wanita itu sampai berada disisinya dan Ia terbaring dirumah sakit.


"Mengapa Aku berada disini?" ucapnya bingung sembari menahan nyeri disetiap tulang dan sendinya. Rasanya bagaikan digigit ribuan serangga, ngilu dan menyiksa.

__ADS_1


Wina menyentuh pipi kiri gadis itu "Beristirahatlah, ada Aku disini yang akan menjagamu" jawab Wina lembut. Tak pernah Ia mengatakan hal tersebut kepada siapapun, ebtah mengapa Ia mendadak berubah prilaku.


Seketika Duma merasakan sebuah sentuhan jiwa yang begitu sangat menyejukkan. Ia tidak mengetahui mengapa tiba-tiba wanita yang selama ini satu profesi dengannya itu berbuat baik dan lembut padanya.


"Apa yang terjadi padaku?" tanya Duma pensaran.


Wina hanya menggelengkan kepalanya lemah "Kamu terserang demam tinggi, beristirahatlah, aku akan menemui lagi, saat ini aku ada keperluan sedikit" ucap Wina tenang, lalu beranjak keluar dari ranjang troli pasien tempat Duma dirawat.


Kini gadis itu tinggal dalam kesendirian, Ia bingung mengapa berada dikamar pasien. Namun rasa ngilu dan nyeri ditulang dan sendinya membuatanya meringis menahan sakit.


******


Seminggu kemudian...


"Ini hasil laboratorium untuk Ibu. Dari hasil pemeriksaan ini Ibu dinyatakan negatif dari HIV & AIDS. Jalani hidup sehat dan jangan berganti-ganti pasangan untuk mencegah penularannya" ucap dokter itu menjelaskan.


Wina merasa senang mendengar hasil dari pemeriksaan tersebut, Ia akhirnya bernafas lega. Ia berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya dimasa lalu.


Dokter itu tersenyum "Penularannya melalui hubungan I*ntim, transfusi darah, jarum suntik yang dipakai bersamaan. Jika hanya bersentuhan tidak akan menularkan penyakit tersebut." dokter itu mencoba menjelaskan.


Wina menganggukkan kepalanya, setidaknya Ia tidak merasa khawatir saat merawat Duma nanti.


"Dan ini hasil laboratorium dari tes DNA antara Ibu dan gadis itu memiliki hasil yang positif. Gadis itu adalah puteri Ibu." dokter itu menyodorkan sebuah amplop berisi keterangan tentang tes DNA yang dilakukan oleh Wina seminggu yang lalu.


Wajah wanita seketika berubah sendu. Ia sudah menduganya jika Duma adalah anaknya saat pertama kali melihat foto Bernard didalam dompet gadis itu.


Namun semuanya tampak terlambat, Ia menemukan gadis itu dalam kondisi yang sangat mengenaskan.


"Berarti gadis itu hatus saya rawat jalan dok?" ucap Wina mencoba meyakinkan.


"Ya... Ia bisa dirawat jalan. Virus ini sulit disembuhkan, tetapi obat yang diberikan kepadanya hanya menekan jumlah penyebarannya saja, maka harus rutin diberikan" ucap dokter itu menjelaskan.

__ADS_1


Wina mengangguk mengerti. Lalu Ia berpamitan keluar dari ruangan tersebut.


Wina berencana membawa Duma pulang ke Pekanbaru, kerumah ayahnya Fredy. Setidaknya disana Ia tidak mengontrak rumah, dan rumah itu juga cukup besar.


Wina membawa Duma keluar dari rumah sakit setelah membereskan sekurh administrasinya. Gadis itu mempercayakan kartu denit dan creditnua dipegang oleh Wina. Ia melihat ketulusan Wina saat merawatnya.


Sesampainya di Kos-an, Wina hanya membawa beberapa pakaian Duma yang seadanya saja. "Kita pulang ke Pekanbaru, disana rumah kakekmu sangat besar dan kita tidak perku mengontrak lagi." ucap Wina tanpa sadar.


"Kita? Kakek...? Apa maksudnya?" tanya Duma lirih dan bingung.


Deeeeg...


Wina tersentak, karena tanpa sadar Ia menyebutkan kalimat yang menjadi rahasianya selama seminggu ini. Namun Ia juga harus memberitahu gadis itu, jika Ia adalah Ibu kandungnya.


Wina mengambil sepucuk amplop dan membukanya, laku menyerahkannya kepada Duma "Bacalah... Ini keterangan dari hasil tes DNA jika kamu adalah puteriku" ucap Wina dengan nada bergetar dan air matanya yang menhalir tanpa dapat dicegah.


Duma mengambilnya dan membacanya, Ia tak percaya dengan melihat hasilnya yang menyarakan Ia dan wanita itu memiliki hubungan darah.


"Bagaimana Ibu tahu jika Aku adalah puterimu" tanyanya penasaran dan bingung.


Wina membuka isi dompet Duma, lalu mengambil foto seorang pria yang berukuran sedang "Dia adalah prianyang pernah menjadi suamiku meski hanya sekejap, Ia memikat diriku dengan ilmu yang tak mampu ku mengerti" wina menjelaskan dengan lirih.


Seketika Duma tersadar, jika Ia dalah pewaris ilmu tersebut, dan hal itu benar adanya. Ia kini menyadari, jika segala sesuatu yang diperbuatnya akan mendapatkan balasan sesuai kadarnya.


"Dan inikah alasan yang membuat Ibu merawatku selama ini?" tanya Duma dengan sendu.


Wina menghampiri Duma yang kini duduk dikursi roda "Ya.. Maafkan Aku yang selama ini menjadi Ibu yang buruk buatmu" ucap Wina merasa bersalah.


Duma tersenyum kecut, namun semua sudah berlalu, kini mereka hanya perlu menata hidup yang baru. Ia menghela nafasnya dengan berat "Tak mengapa, sekarang kita jalani saja hidup ini untuk masa yang mendatang" jawabnya dengan lemah.


Lalu Wina memeluknya erat "Makasih sayang. Sekarang kita pulang kerumah kakekmu, mobilmu sudah Ibu jual ke showroom, dan kita pulang naik pesawat." ucap Wina lalu melepaskan pelukannya dan meninggalkan rumah kos tersebut, menuju bandara.

__ADS_1


*Duma dalam bahasa batak artinya makmur. Mereka sering memakaikan nama ini pada anak perempuannya.*


__ADS_2