
POV KAK HANAN
Hanan terbangun pukul 8 pagi, Ia tersentak kaget, lalu buru-buru shalat subuh, shalat kesiangan karena ketiduran dapat dimaklumi, kecuali jika disengaja diperlambat baru tidak sah.
setelah selesai shalat subuh, Hanan pergi kelantai bawah, Ia sarapan karena ingin membawa Rena pergi berobat hari ini kerumah pak Ucok. namun Ia tak melihat Rena sejak tadi.
Hanan segera mempercepat sarapannya. Ia memiliki firasat yang tidak baik. setelah selesai sarapan, Ia menuju kamar Rena. Hanan mengetuk pintu kamar Rena. lama Ia menunggu tak ada sahutan.
Hanan mencoba membuka pintu, dan.. "astahfirullah..." Hanan tersentak kaget mendapati kamar Rena kosong, tak ada sesiapa didalam kamar tersebut.
Nisar yang baru saja turun dari lantai dua ikut terkejut mendengar suara keras dari Hanan, adik sepupunya. merasa penasaran, Ia bergegas menghampiri Hanan yang berada dikamar Rena.
"ada apa Nan?" ucap Nisar penasaran..
"Rena, bang. Dia kabur..!"ucap Hanan dengan panik. Ia mengacak rambut ikalnya dengan frustasi.
"coba hubungi nomornya" ucap Nisar menyarankan dengan sikap tenang, sembari mencari jalan keluarnya.
Hanan yang panik langsung menghubungi nomor Rena, namun tidak aktif. lalu Hanan mengiriminya beberapa pesan.
Nisar memandangi sekeliling ruang kamar Rena. "pasti ada petunjuk yang bisa membuat kita menyelamatkan Rena." ucap Nisar lirih.
mata Hanan melihat sebuah benda berbentuk bola, yang dipastikan itu kertas yang diremas, tergelatak diranjang Rena. Hanan segera meraih bola kertas tersebut. lalu membukanya. "bang...lihat ini" ucap Hanan sedikit berteriak membuat Nisar terkejut dan menghampirinya.
"sial..pasti foto ini milik pria yang sudah menyihir Rena."ucap Nisar geram.
Ia melihat laptop Rena berada dimeja belajar. lalu membuka layarnya, mencari informasi tentang kebenaran dugaan mereka. mata Nisar tertuju pada aplikasi media sosial Facebok. Ia lalu membukanya, dan beruntungnya akun Rena tidak terkunci. Nisar membuka pesan masuk. lalu menemukan akun fake yang baru saja Rena berkomunikasi dengannya.
Nisar membaca semua isi pesan tersebut. alangkah terkejutnya Ia, bahwa mendapati Rena hampir tiga tahun menjalin cinta dengan pria sialan tersebut. kesibukan dirinya dan ayahnya dalam menjalankan bisnis, telah membuat mereka lalai mengontrol Rena. mereka mengira, hanya anak kecil saja yang perlu diawasi, namun orang dewasa juga perlu pengawasan.
"bagaimana bang? ada petunjuk? ucap Hanan penasaran. Ia seorang yang gaptek, alias gagal teknologi, sehingga tidak faham akan penggunaan alat-alat canggih, seperti laptop.
"bener dugaan kita, foto itu milik pria brengsek yang menyihir Rena. bahkan mereka menjalin hubungan hampir 3 tahun." ucap Nisar sedih.
"aa...apaa..? sampai begitu lamanya?" ucap Hanan terperangah. Ia seakan tak percaya.
Hanan meremas foto tersebut, lalu memasukkan foto itu kedalam saku celananya, Ia ingin membalas dendam atas perbuatan keji pria jelek tersebut.
"aku akan menghubungi pak Ucok, bang." ucap Hanan, sembari mengambil hanphone dari saku celananya. lalu menekan satu nama 'pak Ucok'.
[kriiiing....] saluran telefon tersambung.
"hallo...pak, maaf pak kami tudak bisa datang hari ini, Rena kabur pak." ucap Hanan dengan gelisah dan khawatir mengenai kondisi adiknya.
"iya' Hanan, saya sudah tau." jawab pak Ucok menejelaskan.
"ha...?! dari mana bapak tau? kan saya baru saja memberi tahu bapak?" ucap Hanan bingung.
"saya sedang mengawasinya dari sini dengan mata bathin saya". ucap Pak Ucok lagi..
"oooo... iya, terimakasih pak. apakah Rena tidak bisa bapak sembuhkan dengan jarak jauh pak? " ucap Hanan penasaran dan penuh harap.
Nisar menyimak pembicaraan Hanan, sepertinya adik sepupunya itu membawa Rena kepada seorang supernatural.
"tidak bisa Hanan, Rena harus dimandikan dengan ramuan yang bapak pesan semalam. karena pengaruh sihir itu sangat kuat, kita harus melunturkannya terlebih dahulu, baru membentenginya" ucap Pak Ucok menjelaskan.
"upayakan agar kalian dapat membawa Rena kemari secepatnya, beserta ramuan yang saya pesan." ucap pak ucok lagi.
"baiklah pak, kami akan mengupayakannya." ucap Hanan penuh kecemasan.
"apa yang harus kami lakukan sekarang?" ucap Hanan sebelum mengakhiri sambungan telefonnya.
"tunggu saja Rena pulang, Sekarang ia sedang dalam perjalanan pulang, dan akan segera sampai. saya sudah membimbing hatinya dari jauh agar Ia kembali pulang". ucap pak Ucok, menenangkan hati Hanan.
"tetapi, akan ada kejutan dari Rena, dan kalian jangan bersikap gegabah." ucap pak Ucok menasehati.
"kejutan apa pak?" ucap Hanan penasaran.
"tunggu saja, nanti kalian akan tahu." ucap Pak ucok mencoba merahasiakannya.
__ADS_1
"baiklah pak, terimakasih atas waktunya. assalammuaikum" ucap Hanan mengakhiri telefonnya.
"waalaikum salam" jawab pak Ucok, dan sambungan telefon berakhir.
***
Rena telah sampai dirumah paman Rasyid. Ia sudah dapat menduga apa yang akan terjadi. Ia dapat membayangkan bagaimana reaksi bang Hanan dan bang Nisar. namun Ia tetap pada rencananya.
Rena masuk kedalam rumah dengan kunci cadangan. Ia mengendap-endap kedalam kamarnya seperti pencuri yang takut kepergok pemilik rumah. Rena berhasil masuk kedalam kamar tanpa sepengetahuan Hanan dan Nisar. karena keduanya tidak berada di lantai bawah.
namun dugaan Rena salah, karena Nisar dan Hanan sedang mengintainya melalui CCTV yang terpasang dibagian depan rumah, dan disetiap ruangan, kecuali kamar Rena.
Rena merasa perutnya lapar. sejak pagi Ia belum sarapan. rasanya asam lambungnya naik. Ia butuh asupan makanan. Tak tahan dengan perutnya yang lapar, Ia keluar kamarnya, lalu mencari makanan didapur. membuka lemari kitchenset, mencari sesuatu yang bisa dimakan.
tante Aning kenapa belum pulang ya? apakah sakit mertuanya bertambah parah?" ucap Rena yang tak menemukan makanan didalam lemari.
Ia pun menuju lemari es, mencari telur untuk diceplok. setelah menemukan yang dicari, Ia memasaknya dan makan. setelah kenyang, Ia beranjak dari kursinya, lalu membersihkan sisa piring kotor. setelah selesai dengan cuci piring, Ia berniat untuk kekamar. namun baru saja Ia memutar tubuhnya.. tiba-tiba dua pria berbadan kekar menghadangnya dengan tatapan penuh intimidasi.
"duduk..!"perintah Nisar dengan tegas.
Rena terpaksa duduk kembali ke kursi meja makan. Ia menundukkan pandangannya.
sedangkan Hanan yang sedari tadi terdiam, kini menarik kursi kosong lainnya, lalu duduk disebelah kiri Rena.
"dari mana saja kamu?" ucap Nisar dengan tenang, sembari menarik kursi kosong dan menggesernya mendekati Rena, duduk di sebelah sisi kanan.
kedua Pria dewasa dan bertubuh kekar itu kini mengapit Rena, layaknya seorang tersangka pelaku kejahatan.
"menemui Dia." ucap Rena tanpa merasa bersalah.
"apa kamu sudah gila?! apa yang kamu harapkan dari pria brengsek tersebut?!" ucap Hanan Emosi sembari bangkit berdiri dan emosi.
"tapi aku mencintainya bang..aku tak bisa hidup tanpanya." ucap Rena sembari tergugu dan menangis.
"bulshit.."ucap Nisar yang meluncur begitu saja.
"apakah kamu kira dengan cinta kamu bisa mempertahankan sebuah hubungan.?" ucap Nisar yang mulai tenang kembali.
Nisar dan Hanan saling berpandangan satu sama lain. "apa...? tidak sudi abang menikahkanmu dengan pria sialan itu" ucap Hanan semakin emosi.
"tapi aku sedang mengandung anaknya..!"ucap Rena dengan keras.
"apa...? kamu..."Hanan melayangkan tangannya hendak menampar Rena, namun dengan sigap Nisar menangkisnya. dan menatap Hanan serta menggelengkan kepalanya, agar Hanan mengontrol emosinya.
Hanan yang sudah naik darah dan rasanya ingin menghajar adik perempuannya. jika saja Nisar tak mencegahnya, mungkin Rena sudah habis dihajarnya. dengan kasar Ia menurunkan tangannya.
Hanan menendang kaki kursi sebagai pelampiasan emosinya.
"kumohon bang... nikahkan aku dengannya. bagaimana dengan kandunganku." ucap Rena memohon dan mengiba. berharap keinginannya dikabulkan.
"gugurkan kandunganmu.. aku tak sudi memiliki keponakan dari pria brengsek itu." ucap Hanan dengan amarah.
Rena menggelengkan kepalanya. Ia tak sudi menerima saran abangnya.
"ayolah Rena, semua demi kebaikanmu, lanjutkan lagi kuliahmu. seminggu lagi skripsimu akan disidangkan." ucap bang Nisar masih dengan penuh ketenangan.
"tidak...aku tidak ingin melanjutkan skripsiku.. aku ingin menikah dengannya." ucap Rena dan bangkit dari duduknya ingin pergi. namun Hanan mencekal lengannya. menatap penuh amarah.
"jika kau memilih menikah dengannya, jangan pernah anggap lagi kami keluagamu." ancam Hanan.
"ya..aku siap tidak menjadi bagian keluarga kalian, asalkan dapat menikah dengannya." ucap Rena tanpa gentar sedikitpun, ia membalas sengit tatapan abangnya.
Hanan tak pernah menduga adiknya yang selalu bersikap manis dan penurut, kini berubah menjadi pembangkang. hati Hanan begitu sakit dan pedih. Ia melepaskan cengkraman dilengan Rena.
"awas kau pria brengsek, akan kubalas perbuatanmu. kaulah penyebab semua masalah ini" ucap Hanan dalam hatinya. Ia ingin membalas dendam atas perbuatan pria brengsek yang telah menyihir adiknya.
kedua pria itu kehabisan akal menghadapi Rena. tiba-tiba saja Ocha, wanita cantik nan anggun turun dari lantai dua dan mendekati mereka.
istri Nisar ternyata menguping pembicaraan mereka sedari tadi. dengan langkah anggun Ia mendekati tiga orang yang sedang berdebat.
__ADS_1
"dimana rumah pria itu? kami akan membawamu kepada Mereka untuk dinikahkan." ucap ocha dengan tenang.
Nisar terperangah mendengar ucapan istrinya, memandang wajah istrinya penuh tanda tanya. namun ocha membalas dengan kedipan kedua matanya dan senyum tips.
Nisar mengerti, bahwa istrinya merencanakan sesuatu dan mereka harus mengikutinya.
"a..pa..? tidak kak..aku tak sudi menikahkannya."ucap Hanan menolak saran kak Ocha, istri sepupunya itu.
Nisar menatap Hanan, dengan kata kunci harus mengikuti rencana Ocha. seketika Hanan mengerti.
wajah Rena berseri ,matanya berbinar. Ia tak menyangka kak Ocha yang menjadi satu-satunya pembelanya.
"benarkah kak? kakak gak bohongkan?" ucap Rena dengan mata berbinar.
Ocha mengangguk. ""bersiaplah, kami akan mengantarmu." ucap kak ocha meyakinkan.
Rena bergegas kekamarnya untuk bersiap-siap. Ia begitu bahagia dan tak sabar untuk segera bersanding dengan pria pujaannya.
Ocha memberi kode kepada kedua pria kekar tersebut untuk mendekatinya. lalu berkata sambil berbisik. kedua pria tersebut menyetujuinya.
****
Rena telah bersiap, berdandan dengan sebaiknya dan begitu terburu-buru. Ia mengenakan pakaian sedanya, karena ini dadakan, Ia memilih pakaian yang menurutnya pantas untuk melangsungkan pernikahan. Ia keluar dari kamarnya dengan wajah yang sumringah.
kak Ocha juga sudah bergatin pakaian dengan gaun berwarna hijau tosca, menambah keyakinan Rena bahwa mereka akan membawanya kerumah Bernard untuk dinikahkan. "dimana bang Hanan kak? bukankah dia yang akan menjadi wali nikahku?" ucap Rena karena tak melihat Hanan, abangnya.
"di mobil, sudah menunggu bersama bang Nisar. ayo..nanti kita kemalaman." ucap kak Ocha, sembari menggandeng tangan Rena.
Hati Rena begitu teramat bahagia, tak mampu Ia lukisakan dengan kata-kata.
sesampainya didepan pagar, Rena masuk kedalam mobil Alphard berwarna hitam milik Nisar, dan Hanan juga sudah duduk dikursi depan. mereka sudah menunggu kedua wanita itu. setelah Rena dan ocha masuk, Nisar melajukan mobilnya.
"minumlah dahulu, agar kamu tidak terlalu berdebar menyambut pernikahanmu" ucap kak Ocha sembari memberi air minum mineral kemasan yang sudah dipersiapkannya.
Rena meraih botol minum tersebut, lalu menenggaknya, agar Ia dapat mengontrol debaran didadanya. bayangan pernikahannya sudah menari didepan matanya. namun rasa kantuk menyerangnya. dan Ia tertidur pulas.
ketiga orang tersebut tersenyum. lalu mereka menuju tempat yang sesuai rencana mereka. mobil Nisar memasuki sebuah gedung yang bertuliskan praktek dokter kandungan. praktek tersebut tentu legal karena ada izin prakteknya.
mereka berencana akan mengugurkan kandungan Rena, tanpa sepengetahuannya. karena mereka telah memberi obat tidur pada minuman yang diminum Rena.
dokter kandungan yang menjadi langganan Ocha selama mengandung Ariel, telah mengetahui kedatangan mereka, karena Ocha sudah mendaftar online.
begitu sampai didepan gedung praktek, Hanan dan Nisar keluar dari mobil, lalu membopong tubuh ceking Rena kedalam ruang praktek.
para pasien lainnya melihat Hanan dan Nisar yang membopong tubuh Rena denan penuh tanda tanya, namun melihat ocha yang mengekor dari belakang, lalu mereka menduga Rena adalah pasien yang sedang pingsan dan membutuhkan pertolongan lebih intensif.
mereka memasuki ruang praktek dokter. mereka membaringkan tubuh rena diranjang pasien. lalu dokter menanyakan identitas Rena. setelah menyelesaikan administrasi, dokter mulai memeriksanya.
"apakah kalian sudah memikirkan resikonya? " ucap dokter Mia kepada Ocha, Hanan, dan Nisar.
"Ia dok, adik kami masih kuliah, kami tidak ingin Ia sampai putus kuliah, dan nama baik keluarga dipertaruhkan." ucap Hanan dengan mantab.
"iya dok, dan surat keterangan dari dokter akan kami jadikan sebagai bukti untuk melaporkan pria brengsek itu untuk menyeretnya kepenjara." ucap Nisar dengan tegas.
"baiklah..saya akan mencobanya." ucap dokter mia. Ia mulai me-USG kandungan Rena. Ia ingin memastikan usia kandungan Rena. Ia menatap layar komputer, memberikan cairan gel keatas perut Rena yang terlihat rata.
fungsi gel tersebut untuk melicinkan alat berbentuk seperti senter kecil yang bernama transducer. alat itu sebagai penghubung kelayar komputer tentang kondisi kandungan dari seorang pasien. Dokter Mia menggerakkan transducer ke area perut Rena, namun dokter Mia terlihat mengernyitkan keningnya.
"yang pria bisa menghadap ke arah pintu?! saya ingin melakukan pemeriksaan yang lebih intim" ucap dokter Mia dengan nada perintah. lalu Hanan dan Nisar dengan segera memutar tubuhnya menghadap pintu.
dokter Mia lalu melakukan pemeriksaan di organ intim milik Rena. seketika Ia terkekeh. tawa dokter Mia membuat semuanya heran dan saling pandang.
"bawalah adik kalian pulang..tidak ada yang mesti digugurkan.." ucap dokter Mia tersenyum.
"Lho..emang kenapa dok?" ucap Hanan tak sabar untuk mendapat jawaban dokter Mia.
"apa yang mau digugurkan? adik kalian masih perawan, selaputnya masih utuh." ucap dokter Mia sembari tersenyum.
"aa...paaa?" ucap ketiganya bersamaan. namun mereka bernafas lega. dan Rena berhasil membuat prank kepada mereka.
__ADS_1
***
setelah mereka membawa Rena kedalam mobil, mereka memutuskan untuk membawa Rena ke binjai, kerumah pak Ucok.