
Rasa cinta yang dulu pernah mati, kini perlahan mulai tumbuh. Ada semangat dalam jiwanya yang rapuh. rasa kecewa akan seorang gadis manis yang pernah mematahkan hatinya, kini perlahan mulai membaik. Ada rasa disana, rasa yang tak mampu Ia ungkapkan, meski usia kini tak lagi muda.
Ridwan mengenakan pakaian terbaiknya, Ia ingin mengimbangi usia Adillah yang terpaut 20 tahun darinya. Ia harus terlihat fresh, agar tidak dikata om-om memacari brondong.
Ia begitu bersemangat, lalu bergegas menuju garasi dan menyetir mobil dengan sangat riang.
Ridwan bersenandung lirih dalam setiap alunan melody hatinya yang kini sedang berbunga.
Sementara itu, Adillah tampak bersemangat dan juga penuh debaran. Malam ini adalah dinner pertamanya dengan seorang pria, apalagi pria itu sudah sangat dewasa.
Khanza yang memperhatikan penampilan dan gerak gerik kakaknya yang tidak biasa merasa begitu kepo.
"Eheeem.. Mau kemana kak..? Gak biasanya dandan begitu." tanya Khanza dengan nada sindirin.
"emm.. Anu.. Lagi nunggu temen, mau ngajak makan malam.." jawab Adillah gugup.
"Temen apa pacar.?" ledek Khanza, sembari mencibirkan bibirnya.
Seketika wajah Adillah memerah menahan malu."Ia beneran temen.." Kilah Adillah, semakin gugup.
"Kalau beneran pacar juga gak apa koq, karena Mama bakal punya menantu pertama.." ledek Khanza lagi, membuat Adillah semakin memerah.
Seketika Adillah beranjak bangkit, lalu mencubit pinggang Khanza dengan gemas. "Kamu ya.. Ngeledekin kakak terus.." ucap Adillah dengan memanyunkan bibirnya.
Khanza terkekeh melihat perubahan wajah kakaknya. Ia merasa itu sangat lucu, karena Iabtahu, kakaknya baru kali ini dekat dengan seorang pria, dan tingkahnya terlihat sangatlah lucu.
Belum sempat Khanza meledek kembali, sebuah mobil tampak berhenti didepan rumah mereka. Lalu seorang pria tampak turun dari mobil dan berjalan menghampiri keduanya.
Ridwan tampak begitu sangat antusias. Lalu menatap pada Khanza dan mencoba tersenyum semanis mungkin.
"Malam Kak.. Saya mau minta izin membawa Adillah Dinner diluar."Sapa Ridwan ketika sudah berhadapan dengan Khanza.
__ADS_1
Meskipun umur Ridwan jauh lebih tua dari usia Khanza, namun Ridwan harus menghargai pemuda itu sebagai suadara laki-laki Adillah.
Khanza tersenyum datar. "Aku memberi izin, tetapi jangan terlalu lama dan tetap menajaga kakakkubdari segi apapun."jawab Khanza dengan sedikit penekanan.
Ridwan mengangguk, sembari tersenyum manis.
"Baik Ka,K, saya akan selalu menjaga Adillah dengan sepenuh hati saya."jawab Ridwan dengan penuh semangat.
Lalu Adillah berpamitan kepada Adik lelakinya. Tampak diwajahnya ada rona merah kebahagiaan.
Kedua insan pergi menuju sebuah cafe yang terbilang romantis, dengan gaya ala modern. Ridwan membawa gadis muda itu menuju sebuahbmeja yang sudah dipesannya terlebih dahulu.
Pria itu sedari tadi tak lepas dsri senyumnya, Ia begitu amat bahagia malam ini, rasanya Ia bagaikan berada diadalam taman dengan aneka bunga yang bertebaran indah.
Seorang pelayan datang, dan Ia memberikan daftar menu yang disediakan oleh pihak cafe.
Ridwan meminta Adillah memilihkan pesanan yang sama dengan pesanan sang gadis. Bahkan untuk memesan menu saja Ia terlihat sangat gugup.
Seperti layaknya seorang A Be Ge yang sedang jatuh cinta, keduanya tampak begitu malu-malu.
"Emmm..sangat enjoy.. Karena impianku sejak lama. Namun aku juga harus semabri bekerja paruh waktu untuk membantu mengurus perusahaan Papa." jawab Adillah dengan tenang.
Ridwan tercengang mendengarnya, Ia tidak menyangka jika gadis dihadapannya begitu sangat bertanggungjawab, dan juga pekerja keras.
"Kamu pasti perempuan hebat, dapat mengerjakan dua pekerjaan dalam sekaligus.." ujar Ridwan, mencoba memuji wanita didepannya.
Adillah yang mendapatkan pujian seperti itu tentunya merasakan begitu sangat melayang. Hatinya sangat merasa bahagia. Ia tidak menyangka jika pria yang selama inindianggapnya dingin ternya memiliki jiwa romantis juga. Ridwan telah mampu membuat hatinsang gadis merasa tersentuhkan.
Tak lama kemudian, pesanan mereka datang, hanya juice lemon and dessert, tidak ada makanan berat, maklum, masih tahap awal, takut dibilang apalah gitu makan makanan karbohidrat, jaga image.
Keduanya menyantap dengan sedikit malu-malu menyuapkan kedalam mulutnya, terkadang saling lirik, layaknya bocah remaja yang baru saja mengalami pubertas.
__ADS_1
"Apakah aku boleh bertemu dengan kedua orang tuamu..? Jika kamu mengijinkan, aku ingin membawa hubungan kita bukan hanya sebatas rekan kerja, tetapi sebuah ikatan yang lebih serius. Karena usiaku tak lagi muda, maka bukan lagi waktunya pacaran layaknya para remaja. Aku membutuhkan seorang pendamping."ujar Ridwan dengan lancarnya.
Pria itu ingin membuang semua kisah masa lalunya. Dimana Ia terbelenggu oleh kasih tak sampai oleh seorang gadis manis bernama Rena.
Ridwan ingin mencoba melepaskan dirinya dari bayang-bayang rena yang begitu sangat mengunci hatinya.
Sementara itu, degub jantung Adillah bagaikan genderang mau perang, gemuruhnya begitu keras terdengar ditelinya.
Bahkan saat ingin meraih gelas juice lemonnya, Ia bagaikan tak memiliki otot dan tenaga. Pernyataan Ridwan yang terlalu cepat, membuatnya begitu tersentak.
Gadis cantik itu seolah tak memiliki kekuatan untuk mengeluarkan sepatah katapun. Suaranya tercekat ditenggorokannya.
Ridwan melihat ekspresi sang gadis yang begitu amat kentara.
"Jika kamu belum dapat memberikan jawaban apapun, akubtidak memaksanya, namun aku menunggunya, jangan menggantungku.." ucap Ridwan dengan nada harapan.
Adillah berusaha menatap mata pria dihadapannya. Ada pengharapan yang begitu besar terpancar dimatanya.
"Berikan aku waktu sebentar saja, aku akan memikirkannya." jawab Adillah berusaha tenang, meskipun didalam hatinya bergejolak.
Tak dapat dipungkiri sang gadis, jika hatinya juga memiliki rasa yang sama terhadap pria dihadapannya. Bahkan Adillah tak mengindahkan perbedaan umur mereka yang terlalu mencolok.
Ridwan menatap sang gadis dengan tatapan sendu. "Baiklah.. Katakan saja nanti setelah kamu benar-benar siap." jawab Ridwan dengan hati yang masih penuh harapan. Ada banyak dugaan-dugaan didalam hatinya. Pria itu begitu takut jika nantinya Adillah menolak cintanya, Ia begitu amat trauma akan penolakan.
Adillah mampu menerka apa isi hati sang Dosen tampan dihadapannya, Ia meyakini jika perasaan pria itu sangat begitu penuh debaran. Namun Ia tak bisa memberi jawaban yang terlalu cepat, karena ada banyak pertimbangannya.
Namun Ia mengakui, Ia menaruh rasa pada pria dihadapannya. Ehtah itu kagum, atau perasaan lainnya.
Adillah merasakan, jika hatinya begitu nyaman ketika berada disisi Ridwan. Sebuah perasaan yang tak mampu Ia jelaskan.
"Kalau begitu kita pulang saja ya, esok akan ada pekerjaan menanti, dan saya juga tidak bisa pulang terlalu malam, adik lelaki saya akan merasa khawatir, karena dikota ini, dia yang menjaga dan mengawasi saya." kilah Adillah.
__ADS_1
"Baiklah.. Terimakasih sudah menemani saya dinner malam ini.. Jika kamu bersedia, malam minggu depan saya akan menjemputmu lagi." ucap Ridwan dengan tenang.
Adillah hanya memberikan jawaban dengan sebuah cengiran.