Pemikat Sukma

Pemikat Sukma
Lamaran


__ADS_3

Adillah menghampiri Khanza, lalu menelisik wajah gadis itu, mencoba mengingat dimana pernsh bertemu. "Apakah Ia yang membeli bubur ayam waktu itu? Dan aku sempat mengantarkannya ke kos" Adillah berguman dalam hatinya.


Ada rasa iba direlung hatinya, rasa kasihan dan juga sedih melihat kondisi gadis malang yang tak berdaya itu.


"Sakit apa gadis ini Bu?" tanya Adillah penasaran.


Wina menoleh kepada Adillah. Ia tak mampu menahan laju titik air matanya "Tertular HIV & AIDS" ungkap Wina dengan lirih.


Adillah tersentak dengan kaget saat mendengar penuturan wanita itu. "Sungguh sangat disayangkan, wajah cantik dan juga usia yang sangat muda" ucap Adillah merasa kasihan melihat kondisi Duma yang begitu amat tragis.


Wina menyeka air matanya, Ia juga menghampiri Duma diranjang troli. "Ini semua salahku, tak mampu menjaganya dan menjadi Ibu yang buruk bagi anak-anakku" ucap Wina dengan lirih dan pilu.


"jadi gadis ini anak Ibu?" tanya Adillah penasaran.


" Lalu Apakah Ibu memiliki anak lain selain dia?" cecar Adillah yang mulai tampak peduli dengan wanita itu.


Wina hanya menganggukkan kepalanya dengan lemah "Yah... Ada satu lagi, Namun..." Wina menggantung ucapannya, dan tak ingin mengungkapkan rahasia kelamnya.


"Jika tidak ingin bercerita tak mengapa" ucap Adillah sembari menepuk lembut pundak Wina. Wanita itu tersenyum getir.


Sembari menyeka air matanya, Ia memandang kepada Adillah "Titip salam kepada kedua orangtuamu, terimakasih atas segala bantuan yang sudah kamu berikan" ucap Wina tulus.


Adillah menganggukkan kepalanya, lalu Ia berpamitan untuk pulang. Ia menyelipkan beberapa lembar uang untuk pegangan Wina jika sewaktu-sewaktu dibutuhkan.


******


Rena telah mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk menyambut kedatangan calon besannya dalam acara lamaran untuk Adillah.


Tak lupa Rena mengundang kakak sepupunya Nisar dan Ocha beserta Ariel yang sekarang juga sudah tumbuh dewasa.


Disisi lain, Hanif juga mengundang keluarga besarnya Amy yang juga merupakan teman dekat Rena. Acara lamaran ini juga menjadi acara reunian dua sahabat yang sudah lama terpisah.

__ADS_1


Rena mencemaskan Adillah yang belum juga tampak batang hidungnya. Ia berulang kalai menghubungi anak gadisnya itu, namun tak jua mendapat kabar.


Harinsemakin petang, keluarga besar sudah berkumpul sedari tadi. Ditengah kecemasan itu, mobil Adillah memasuki pelataran rumah. Hampir saja Rena mengomel jika tak dihalangi oleh Khanza yang mencoba menenangkan hati Mamanya.


Sesampainya didepan pintu rumah, Rena sudah memasang wajah kesalnya. "Kamu ya sayang, kalau mau kemana-mana itu ya bilang, Mama cemas mengkhawatirkanmu" ungkap Rena mencoba menahan emosinya.


"Maaf, Ma..." jawab Rena lirih, sembari menunjukkan raut wajah bersalah.


"Sudah, mandi dan bersihkan dirimu, sehabis maghrib akan datang orang yang akan merias kamu" uvap Rena melemah, gak tega melihat wajah puterinya yang merasa bersalah.


Adillah hanya mengangguk dan segera pergi kekamarnya untuk membersihkan dirinya.


Sementara itu, Amy yang sudah lama tak bertemu sahabatnya bagaikan lem yang terus merekat dan bercengkrama dengan ria. Rena dan Amy melanjutkan perbincangan mereka dan menceritakan kisah mereka saat kuliah dulu.


Disatu sisi, Hanif yang sedang berada dikamar tampak gelisah. Ia sedang memulikirkan sesuatu yang sangat begitu teramat berat. Ia senang jika akhirnya Adillah menemukan jodohnya, namun ada beban yang harus Ia tannggung, dan Ia sedang memikirkan cara penyelesaiannya.


Tok...tok..tok..


"Hubby, Kak Nisar nyariin tuh, mau ngajak ngobrol" ucap Rena lembut.


Sesaat kemudian Ia membuka pintu kamar, dan masih melihat istrinya berdiri didepan pintu. "Ada.apa Hubby? Mengapa tampak sanagt gelisah" tanya Rena penasaran.


Hanif menggelengkan kepalanya, mencoba menutupi perasaannya yang sekarang sedang kalut.


"Tidak ada apa-apa sayang, mari kita bergabung dengan para tamu dan keluarga" titah Hanif dengan nada sahaja.


Rena mematuhi ucapan suaminya, lalu berjalan beriringan menghampiri para tamunya.


Mereka bercengkrama sembari menunggu waktu Maghrib tiba, dan bersiap menyambut rombongan calon besan mereka.


Setelah waktu maghrib berlalu, Adillah dirias dengan make up natural untuk acara pertunangannya.

__ADS_1


tak berselang lama setelah selesai make up, hingga waktu isya selesai. Maka rombongan Ridwan datang bersama beberapa keluarga dan membawa berbagai seserahan.


Seluruh keluarga tampak bersemangat dan bergembira. Acara penyambutan yang tampak begitu bersemangat dari kedua pihak. Namun diantara yang berbahagia, hanya Hanif yang tampak gelisah dan gampak sedang memikirkan sesuatu.


"jadi kapan ketentuan tanggal pernikahannya?" tanya Ayah Ridwan dengan tak sabar.


"Jika tak ada aral rintangan akan dilaksanakan dua minggu setelah acara pertunangan ini. Dan pernikahannya sebaiknya diadakan di Pekanbaru saja" Jawab Seorang tetuah yang mewakili sebagai pembicara tersebut.


Keluarga Ridwan setuju-setuju saja dengan keputusan yang telah ditetapkan oleh keluarga calon besannya. Apalagi keluarga calon besannya merupakan orang ternama dan memiliki bisnis yang mumpuni.


Lalu Refa melirik calon menantunya yang kini tampil sangat cantik, dan menyelipkan cincin dijemari manis sang calon menantunya.


Lalu acara lamaran itupun kini sudah sah sepenuhnya. Dan hari pernikahan hanya tinggal menghitung hari saja.


Ridwan sedari tadi memandangi calon istrinya, tidak salahnya jika mendapatkan daun muda, agar mengimbangi dirinya yang kini berusia dewasa.


Setelah selesai acara pertunangan, lalu kedua keluarga menyantap hidangan yang tersedia. Semua tampak begitu sangat bahagia dan tak sabar melihat keduanya bersanding dipelaminan, terutama Refa yang sudah lama menginginkan cucu dari Ridwan.


Setelah acara lamaran selesai. Seluruh keluarga Ridwan berpamitan. begitu juga dengan Kak Nisar dan yang lainnya juga ikut pamit karena ada pekerjaan yang sedang menunggu.


Kini tinggal Rena dan Hanif yang juga bersiap ke kamar untuk mengganti pakaian mereka dan bersiap untuk tidur, terutama Rena yang sudah merasa lelah karena seharian mempersiapkan acara lamaran tersebut, meski dibantu pihak chatering.


Rena nenuju ranjangnya, dan tak mampu menahan rasa kantuk yang teramat begitu berat, Kini Ia sudah tertidur pulas dalam sekejab saja.


Hanif memandang wajah lelah istrinya. Ia menghampirinya, memberikan kecupan lembut dikeningnya.


Kini Ia bersandar disandaran ranjangnya, lalu menatap nanar lurus kedepan. Ia tidak tahu harus melakukan apa dalam tempo dua minggu.


"Bagaimana jika Adillah mengetahui jika Aku dan Rena bukanlah orangtua kandungnya?" Hanif memijat keningnya. "Bagaimana jika Ia mempertanyakan siapa orangtuanya?" begitu banyak pertanyaan muncul dibenaknya yang tak dapat Ia jelaskan.


Rasa khawatir yang begitu amat besar membuatnya sulit untuk tidur. Ia tak mampu membayangkan reaksi Adillah jika pada kenyataannya Ia adalah anak adopsi, anak adopsi yang dipungut dipinggir jalanan.

__ADS_1


Lalu, apakah keluarga Ridwan dapat menerima kenyataan yang ada? Namun Hanif sudah mempersiapkan segala kemungkinan jika sampai keluarga Ridwan menolaknya. Hanya perasaan Adillah yang Ia khawatirkan jika sampai mengetahui jati dirinya sebenarnya.


Kini


__ADS_2