Pemikat Sukma

Pemikat Sukma
Cincin


__ADS_3

Ridwan berada didalam mobilnya, sedang menunggu seseorang yang akan menuju parkiran.


Ketika melihat gadis yang ditunggunya berjalan menuju parkiran, Ia segera keluar dari mobilnya dan menghampirinya " Em... Ikut denganku sebentar ya? Ada sesuatu yang penting" ucap Ridwan kepada sang Gadis yang akan memasuki mobilnya.


Gadis itu menyunggingkan senyum manisnya, lalu mengikuti langkah Ridwan. Beberapa mahasiswa yang tak sengaja melihat kedua insan itu mulai bergosip dan menduga-duga jika keduanya memiliki hubungan yang special.


*****


Ridwan melajukan mobilnya menuju sebuah Mall yang menjadi tujuan mereka. Sesampainya dilokasi, mereka berjalan beriringan, dan menuju lantai dua Mall.


Ridwan membawa sang gadis menuju toko perhiasan. Ia akan membelikan cincin pertunangan mereka dan juga Mahar sebagai hadiah pernikahan mereka.


Namun saat Adillah akan memasuki pintu toko, tanpa sengaja Ia telah menabrak seorang wanita hingga tersungkur dilantai Mall.


Dengan cepat Ia meraih tangan wanita yang tersungkur dilantai itu dan meminta maaf.


sembari membantu wanita berpakaian aduhai itu bangkit Ia mengucapkan kata penyesalannya "Maaf, Mbak. Saya tidak sengaja." lalu membantu Wanita itu berdiri tegak.


Saat mata mereka beradu, Adillah terperangah melihat siapa wanita yang dihadapannya.


"Eh.. Ibu. Sudah lama kita gak ketemu" ucap Adillah ketika melihat Wina yang dihadapannya.


Wanita itu tersenyum sumringah ketika melihat Adillah. Ia begitu banyak berhutang budi pada gadis ini, karena sudah beberapa kali menolongnya. "Wah... Kamu, makin berseri saja." ucapnya, sembari memegang pipi kiri gadis itu.


Sentuhan Wina begitu berbeda. Ada getaran lain yang dirasakan oleh gadis itu merasuk kedalam kalbunya.


Adillah tersipu malu saat mendengar ucapan itu dari Wina.


"Sayang.... Ayo kita kedalam" ucap Ridwan tak sabar. Namun Ia memperhatikan wajah Adillah ada kemiripan dengan wanita itu. Ia menganggap mungkin hanya kebetulan saja.


Adillah menganggukkan kepalanya. "Maaf Bu, lain kali kita ngobrol ya, saya ada perlu sedikit." ucap Adillah sembari tersenyum manis.

__ADS_1


"Mau bertunangan Ya?" tanya Wina penasaran, entah perasaan apa yang mendorongnya untuk menanyakan hal tersebut.


Adillah tersenyum simpul. "Oh ya, minta nomor WA Ibu, mungkin akan memudahkan saya menghubungi Ibu untuk mengundang dihari pernikahan saya nanti." Adillah mengeluarkan phonselnya dan bersiap mencatat nomor yang diberikan oleh wanita itu.


Wina dengan suka rela memberikannya dan menyebutkannya.


Setelah Adillah menyimpan nomor wanita itu, Ia berpamitan untuk masuk ke toko perhiasan.


Wina memperhatikannya, ada debaran indah dihatinya "Mengapa Aku merasakan seperti menemukan Sofia dalam dirinya. Apa yang terjadi pada-nya? Apakah hilang begitu saja ataukah ada orang yang mengadopsinya?" Wina berguman dalam hatinya.


Rasa penyesalan kian mendera dihatinya, karena telah membuang darah dagingnya sendiri. Ia kini hidup kesepian, dalam kesendirian. Ia beranjak dari tempatnya, menuju lantai dasar untuk berbelanja kebutuhannya. Malam tadi Ia mendapatkan pelanggan yang berbaik hati memberikannya tips yang banyak atas pelayanannya.


Sementara itu, Ridwan meminta kepada pelayan untuk mengambilkan sepasang cincin pesanannya.


Pelayan toko itu memberikan apa yang diminta oleh Ridwan. Sepasang cincin bermata berlian putih telah berada ditangannya. "Apakah kamu menyukainya?"ucap Ridwan, sembari memperlihatkan sepasang cincin bermata berlian putih itu.


Adillah terperangah, Ia tak percaya jika Ridwan memberikan kejutan secepat itu kepadanya." wah... Bagus sekali Kak...?ucapnya tak percaya, sembari menutup mulutnya dengan kedua jemari tangannya.


Ridwan mencoba menyematkan cincin itu dijemari manis calon istrinya "Ternyata ukurannya pas, padahal Aku hanya menduga-duga saja" ungkapnya dengan jujur.


Adillah merasa sangat bahagia. Ternyata memilih untuk menikah dengan pria dewasa itu lebih tepat daripada harus mencari yang belum pasti.


Belum sempat hilang rasa bahagianya, kini Ia dikejutkan lagi oleh hadiah Mahar berupa kalung bertahta berlian yang ditaksir oleh Adillah sangatlah mahal.


"Apakah ini tidak terlalu berlebihan Kak...?" ungkap Adillah merasa sungkan.


Ridwan hanya membalas dengan sebuah senyuman. "Semuanya Aku ikhlas memberikan untukmu" jawabnya, lalu mengalungkan perhiasan itu dileher sang gadis yang berbalut hijab.


"Kamu semakin terlihat cantik dengan memakainya" ucap Ridwan dengan pujian yang tulus.


Seketika wajah Adillah bersemu merah dan tak mampu menyembunyikan rona kebahagiaannya.

__ADS_1


Lalu Ridwan meminta pelayan itu untuk membuatkan nota pembeliannya, dan membuatkan kotak yang terindah untuk diacara yang sebentar lagi akan berada didepan mata keduanya.


*****


Wina kembali pulang ke Kos-nya. Entah menhapa bayangan wajah gadis itu tak bisa hilang dari ingatannya. Ia tampak begitu gelisah. Ada setitik rindu dihatinya, Ia tak mengetahui mengapa Ia merasakan hal tersebut.


"Siapa Kamu? Mengapa Aku merasakan begitu sangat dekat denganmu" Wina merintih dalam hatinya. Ia merasakan kehampaan yang tak biasa.


Ia menuju dapur, memasak untuk makan siangnya, namun semua yang dilakukannya seperti berasa hambar.


Wanita itu telah menyelesaikan masakannya, Ia memakannya dengan rasa kehampaan. Tiba-tiba saja Ia mendapat notif dari sebuah pesan WA "Hai Bu, Ini Adillah. ini nomor aku, disimpan ya? Jika ada kesempatan kita bertemu lagi lain waktu" isi pesan tersebut.


Seketuka wajah Wina kembali ceria, hanya mendapatkan sebuah pesan tersebut. "Iya sayang, senang berkenalan denganmu" balas Wina dengan hati yang berbunga. Ia merasakan seketika hatinya berseri.


Lalu dengan sangat cepat Ia melahab makanannya, dan akan segera pergi menemui pelanggannya, ada sebuah janji untuk bertemu dihotel tempat Ia akan memberikan pelayanan kepada tamu yang telah memesannya.


Setelah menyelesaikan makan siangnya, Ia segera bersiap untuk pergi ke hotel yang akan ditujunya.


Ia harus bertahan hidup dan bekerja sebagai penjaja janji surgawi. Ia begitu terbiasa dengan pekerjaannya. Karena Ia tak tahu untuk bekerja apalagi.


Sesampai dihotel yang dituju, Ia berjalan melintasi loby hotel. Tanpa sengaja Ia menatap seorang pria tampan yang sedang berbicara dengan rekan bisnisnya.


Wina membeliakkan matanya seakan tak percaya. "Hanif...? Mengapa Ia berada di hotel ini? Apakah sedang melakukan meeting" Seketika raut ketakutan menggerayangi hatinya. Ia tampak kalut jika saja pria itu sampai memergokinya sedang bekerja menjajakan kemolekan tubuhnya.


"Sial...!! Jangan sampai Aku ketahuan olehnya, bisa hancur reputasiku dibuatnya" Wina berguman dalam hatinya.


"Nona Windy...!" ucap seorang rekan bisnis dari Hanif. Seketika Wina yang mengaku bernama Windy itu menghentikan langkahnya, namun dengan tetap taknberani melihat orang yang memanggilnya.


"I...iya Tuan." ucap Wina dengan gelisah dan kalut.


"Tunggu saya dikamar yang sudah saya kirimkan tadi" ucap pria bertubuh tambun dan berperut buncit.

__ADS_1


"I..i...iya...." jawab Wina tergagap dan segera menghilang agar tak lagi banyak mendapat pertanyaan.


__ADS_2