
Pesawat mendarat dengan sempurnah di bandara Sultan Syarif Kasim II di Pekanbaru.
Wina mendorong kursi roda yang kini dinaiki oleh Duma. Ia tak pernah merasakan hatinya setenang ini, Ia merasakan sebuah kedamaian yang tiba-tiba saja masuk kerelung hatinya.
"Rumah Kakekmu sangat besar. Apakah kita menjualnya saja, lalu membeli yang sedikit lebih kecil dan kita buat modal untuk usaha" ucap Wina sembari mendorong kursi roda tersebut menuju parkiran.
Ia telah memesan taksi online yang akan membawa mereka kerumah Fredy, Ayahnya.
Tak berselang lama taksi online pun datang dan membawa mereka menuju alamat yang telah diberikan.
"Jika letaknya ditengah kota sebaiknya tidak usah dijual, Bu. Kita bisa membuka toko sembako atau toko pakaian yang akan kita jual secara online dan offline" jawab Duma, Ia mulai menata hidupnya untuk menjadi lebih baik.
Namun,Duma belum mengetahui penyakit apa yang kini sedang menggerogotinya. Usianya yang terbilang masih muda fan tidak begitu memahami tentang bahaya penyakit menular yang sangat mematikan akibat dari pergaulan bebasnya.
Wina masih merahasiakan penyakit itu dari Duma, agar tidak menambah drop semangatnya, sehingga dapat mempengaruhi penurunan daya imunitas tubuhnya dan menyebabkan semakin cepat penyebaran virus tersebut.
"Uang penjualan mobil masih dapat kita gunakan sebagai modal usaha" Duma kembali melanjutkan ucapannya.
Wina hanya menganggukkan kepalanya, dan menatap nanar pada jalanan.
setelah menempuh perjalanan yang yang cukup melelahkan, akhirnya mereka sampai dirumah mewah nan megah milik fredy. "Ini rumah kakekmu. Dulunya kakekmu seorang pengusaha sukses, namun mengalami kebangkrutan karena persaingan bisnis dan tidak dapat menguasai pasar" Wina mencoba menjelaskan.
wanita yang hampir paruh baya itu membayar jasa taksi onlinenya, lalu membawa Duma keluar dari taksi dengan dibantu supir itu untuk meletakkan dikursi roda, dan Wina menuju pagar rumah dengan mendorong kursi roda tersebut.
Rumah itu tampak tak terawat, karena fredy tinggal sendirian dan seorang pelayan tua yang bertugas memasakkan untuknya.
Seorang pria berumur senja dan menggunakan sal yang melilit dilehernya dan tampak begitu sangat rapuh dan kurang sehat.
Ia terperangah melihat anak perempuan satu-satunya itu kembali lagi kepangkuannya setelah pergi merantau dan tak kembali.
Wajah cerianya kembali bersinar. "Wina... Akhirnya Kau kembali juga" ucapnya dengan tatapan sendu.
Wina menyunggingkan senyumnya dengan tatapan merasa bersalah, karena sudah meninggalkan Papanya seorang diri.
Ia bergegas mendorong kursi roda itu dan menghampiri Fredy yang berdiri terpaku, dan Ia melepaskan sejenak kursi roda yang kini sudah berada didalam rumah, Ia memeluk erat tubuh tua itu, lalu menagis tersedu dan menyesali perbuatannya.
__ADS_1
"Jangan tinggalkan Papa lagi.. Cukup Mamamu yang pergi meninggalkan Papa, jangan Kamu" ucapnya terisak dengan rasa haru.
Wina menganggukkan kepalanya dan berjankinyidak akan mengulangi lagi perbuatannya.
Lalu Fredy melepaskan pelukan Wina, lalu menatap pada gadis ayu yang kini berada dikursi roda "Siapa, Dia?" tanya Fredy penasaran.
"Dia puteriku, Pa" jawab Wina cepat.
"Sofia maksudmu?" cecar Fredy bingung.
Wina menggelengkan kepalanya lemah " Bukan, Dia puteriku saat bersama pria bernama Bernard itu" jawab Wina lirih.
Seketika wajah Fredy berubah menjadi tak suka. Ia sangat kesal dengan pria yang dimaksud oleh Wina tersebut. Namun sorot mata Wina yang memohon meluluhkan hatinya.
"Baiklah... Terserah Kamu saja" jawab Fredy datar.
"Terimakasih, Pa" ucap Wina dengan lega.
Fredy hanya mengangguk lemah.
Duma tercengang melihat rumah mewah milik kakeknya, Ia tidak menyangka jika kakeknya dulunya seorang pengusaha sukses.
"Kita dikamar bawah saja, agar tidak mempersulitmu jika ingin keluar kamar dan berjalan-jalan diluar" ucap Wina, sembari membuka pintu kamar dan memperlihatkan isinya.
Duma tercengang dengan kondisi kamar yang masih lengkap dengan furniture mewah dan ranjang mahal tersebut. Namun semua terlihat sedikit berdebu.
Wina membersihkannya, dan membantun Duma untuk berbaring diranjang.
"beristirahatlah, nanti Ibu kemari lagi." Ucap Wjna memberitahu.
Duma merasakan tubuhnya sangat begitu lelah, Ia menuruti ucapan dari wina yang kini Ia ketahui adalah Ibunya.
Wina beranjak keluar dari kamar Duma, Ia menuju kamarnya dilantai 2.
Ia memasuki kamarnya yang sudah lama ditinggalkannya. Saat Fredy menyebut kata 'Sofia' hatinya begitu amat terenyuh. Ia mengingat anak perempuannya yang pernah Ia buang waktu itu.
__ADS_1
"Mudah-mudah Kamu masih hidup, Nak" Ia berguman lirih dalam hatinya. Lalu mengambil sebuah kotak didalam laci nakasnya, Ia membukanya dan mengambil sebuah foto gadis kecil dengan bibirnya yang sumbing.
Ia mengambilnya, dan memandangi foto itu dengan rasa penyesalan yang sangat dalam. Lalu Ia menyimpannya kembali kedalam laci nakas dan merebahkan dirinya diranjang, merenungi masa lalunya kelam penuh dengan lumpur dosa.
Sesaat suara.dering pbonselnya berbunyi. Satu panggilan masuk dari seorang gadis yang tak sengaja dikenalnya dikota Medan.
Ia mengangkatnya " Ya Hallo" ucapnya lirih.
"Assallammualaikum, Bu. Apa kabarnya" terdengar suara lembut dari seberang telefon.
"Waalaikumsalam, kabar baik" jawab Wina dengan ramah.
"Maaf, Bu mengganggu. Apakah Ibu masih dirumah sakit? Maaf Dillah tidak mengunjungi Ibu karena mendadak pulang kampung untuk mempersiapkan hari pernikahan Dillah" ucap gadia itu dengan nada yang tampak bahagia.
"Wah... Selamat ya, semoga menjadi keluarga yang langgeng" Doanya dengan tulus.
"Aamiin.. Makasih buat doanya. Jika Ibu ada waktu datanglah dihari pernikahanku, aku akan mengirimkan ongkos untuk Ibu agar bisa menghadiri pernikahanku" ucapnya dengan bersungguh.
"Maaf, Ibu tidak berada di Medan lagi, Ibu sudah pulang kekampung halaman Ibu, di Pekanbaru" jawab Wina lemah.
"Apa...?! Ibu di Pekanbaru? Yang benar saja? Dimananya, Bu?" desak Adillah seperti tak sabar.
"Wina menyebutkan sebuah alamat yang diminta oleh gadis itu. Lalu percakapan mereka terputus.
Wina merasa ikut bahagia jika gadis itu akan menikah, entahlah, Ia hanya merasakannya saja.
Wina beranjak dari ranjangnya, menuju dapur. Ia ingin memasak dan menyiapkan makan siang untuk mereka, dan Ia akan menyiapkan rencana untuk membuka usaha esok harinya.
Ia pergi kedapur, lalu memasak dan menyiapkan segalanya. Selama ini Ia hidup dirumah itu dengan tinggal enaknya saja, namun hidup diperantauan membuatnya mengajarkan sesuatu yang berharga.
Ia membawa hidangan itu ke meja makan. Ia memanggil Papanya untuk makan bersama, lalu Ia menuju kamar Duma dan berniat memberi makan gadis itu.
Saat Ia membuka pintu kamar, Ia dikejutkan oleh Duma yang tampak meringkuk bagaikan udang diatas ranjang. Tubuhnya menggigil karena demam tinggi dan rasa ngilu serta nyeri ditulang dan sendinya membuat wajahnya memucat menahan sakit.
Seketika Wina berlari menghampirinya, Ia memeluk gadis itu dengan erat, berusaha memberikan kehangatan cinta, karena itu yang tersisa kini dalam hidupnya.
__ADS_1
Wina menyambar obat ARV dari dokter, lalu meminumkannya kepada Duma, untuk meredam sedikit rasa yang menyiksa gadis itu.