
Malam ini Wina memutuskan untuk tidur menemani Duma. Ia takut jika sewaktu-waktu Duma menggigil Ia tidak berada disisinya.
Duma tidqk menyadari, jika Ia telah menderita Aids sejak 8 tahun yang lalu. Semua itu berawal ketika Ia dan teman-temannya semasa SLTP terjebak ajang coba-coba dengan menggunakan narkoba jenis heroin yang disuntikan kepergelangan tangan mereka secara bergantian.
Meski mahal, saat itu ada salah satu temannya yang merupakan anak seorang pengusaha sukses yang sudah hidup bebas dan berlimpah materi dari orang tuanya.
Kenakalan remaja terus terjadi tanpa mereka sadari dampak dari penggunaan jarum suntik secara beramai-ramai itu menimbulkan efek buruk bagi mereka di masa yang mendatang.
Saat memasuki usia SMA, Duma mulai terbiasa hidup bebas. Ia melakukan eksplorasi dalam pemuasan hasratnya yang terlarang. Ia mencoba bergonta ganti pasangan untuk mendapatkan uang agar dapat memenuhi keinginannya membeli barang-barang yang disukainya.
Bahkan, hubungan yang tidak sehat sering dilakukannya melalui jalur belakang (an*us) demi memenuhi kepuasan pelanggannya. Hal tersebut yang tanpa disadari Duma adalah salah satu penyebab menyebarnya Virus AIDS kedalam tubuhnya.
Kurangnya pemahaman dalam kesehatan, membuat Duma menjadi gadis yang bernasib malang saat ini.
Virus yang kini menggerogoti tubuhnya sudah memasuki stadiun akhir, bahkan Ia juga sudah menularkannya kepada banyak orang, terutama William.
Wina tertidur dengan nyenyaknya, hingga saatnya Ia harus terbangun saat mendengar suara rintihan dari Duma yang tampak menggigil kedinginan. Keringat bercucuran ditubuhnya, wajahnya kian memucat.
Wina mencoba menenangkannya, pemakain obat ARV-nya sudah dalam waktu yang ditentukan, esok pagi baru diberikan ulang.
Tiba-tiba timbul bercak merah dikulit tubuhnya. Bercak merah itu hampir menyebar keseluruh tubuhnya. Area sensitifnya mengalami pembengkakan, dan saat ia buang air kecil, keluar bercak darah bercampur nanah dengan aroma bau yang sangat menyengat.
Duma mengalami diare yang terus menerus, sehingga membuat penurunan berat badannya secara drastis. Ia kini tampak layu, tak seperti saat sebelumnya.
Wina memberinya minum, namun tenggorokannya serasa sakit, menelan saja sangat sulit, dilidahnya timbul bercak-bercak putih yang sangat banyak.
Duma dalam kesakitan, Ia sangat menderita dan sangat tersiksa.
Wina mencoba memeluknya, memberikan kasih sayang sepenuhnya, meskipun itu sudah terlambat.
__ADS_1
Ia menyeka air matanya, Ia tahu jika penyakit Duma sudah sangat parah, dan tak ada jalan untuk lari dari kematian.
Tubuhnya yang elok dan rupawan, kini tak akan ada lagi yang ingin menyentuhnya. Semua lelaki akan merasa jijik kepadanya. Sepanjang hari Ia hanya akan mengeluh dan merintih kesakitan.
Sesaat Ia mereda, akhirnya Wina bernafas lega. Ia melepaskan pelukannya, menyelimuti gadisnya yang malang.
Ia memandangi tubuh Duma yang tampak berbecak merah dan tampak sangat parah. Ia tidur di sisi puterinya tersebut.
*****
Wina memutar otaknya, bagaimana agar mendapatkan masukan, dan uang yang Ia pegang tidak habis sia-sia.
Maka Ia mulai membuka warung sembako didepan rumahnya yang kebetulan sekali berada ditengah kota. Duma sudah selesai Ia mandikan dan sarapan meski hanya beberapa sendok saja, juga sudah memakan obat ARV-nya.
Wina yang memulai usahanya dibantu oleh Fredy meski hanya sekedarnya. Ia mendukung Wina untuk membuka usaha tersebut, dan memberikan semangat agar lebih giat lagi.
Wina mencari seorang pekerja yang bisa memabntunya mengurus Duma. Semua itu agar perobatan Duma terus berjalan.
Hilang sudah kebanggaan, hilang sudah kecantikan. Tubuhnya kian melemah, setiap kali Ia ingin buang air kecil, Ia merasakan sakit yang sangat luar biasa, karena bercampur dengan nanah dan darah yang sangat bau.
Sementara itu, hari pernikahan Adillah sudah diambang pintu. Dimana Wina akan menghadirinya, Ia ingin membawa Duma serta kesana, karena Adillah yang meminta.
Wina memesan pakaian yang pantas untuk Duma. Tentunya yang dapat menutupi ruam dikulitnya.
Bagaimanapun Duma ingin menyaksikan pernikahan sahabat barunya itu, Ia ingin melihat kebahagiaan orang lain meski Ia tidak tahu kapan Ia dapat merasakannya atau tidak sama sekali.
Duma seperti merasakan jika kehidupannya kini sudah gak lama lagi. Rasa sakit yang menyiksanya tak dapat Ia pungkiri sebagai dosa-dosanya dimasa lalu.
Duma meminta keluar kamar, yang kini didorong dikursi roda oleh seorang wanita paruh baya yang bertugas membantu keperluan Duma.
__ADS_1
Saat melihat Duma berada didepan toko sembako, Wina menghampirinya saat selesai melayani pembeli.
"Kamu ingin berjemur dibawah sinar mentari sayang?" ucap Wina menyarankan.
Duma menganggukkan kepalanya dengan lemah dan tersenyum tipis.
Wina mendorong kursi roda itu didepan halaman rumah, disisi toko sembako.
Sebuah mobil berhenti, tepat didepan toko sembako. Seorang pria yang terlihat seperti sopir turun dari mobil sedang membeli minuman ringan dan mineral ditokonya.
Wina meninggalkan Duma sejenak "Bentar ya, Ibu melayani pemebeli dulu" ucap Wina lembut, dan Duma menganggukkan kepalanya.
Tanpa disadari, seorang pemuda tampan memandanginya dari dalam mobil melalui kaca pintu mobil yang tampak gelap.
"Dia... Mengapa berada disini?" gumannya dalam hati, lalu tanpa sadar sopir itu sudah masuk kedalam mobilnya dan mobil perlahan meninggalkan toko tersebut, beserta dengan menghilangnya gadis itu dari pandangannya.
Khanza... Ya pemuda dingin yang tak pernah berhasil ditaklukan oleh gadis sang pemikat yang kini dalam kondisi mengenaskan.
"Mengapa Ia berada dikursi roda, dan wajahnya memucat?" tiba-tiba rasa penasaran timbul dihatinya.
"Andi, carikan informasi tentang gadis yang berada disisi toko kamu membeli minuman tadi, secepatnya" titah Khanza kepada supirnya.
Andi merasa tercengang mendengar titah dari sang Bos yang tak biasa "Maksudnya gadis yang dikursi roda tadi?" ucap Andi sedikit bingung dan meyakinkan jika pendengarannya tidak salah.
"Ya... Carikan informasinya segera!" ucap Khanza tanpa bisa dibantah.
Andi hanya bisa menganggukkan kepalanya, Ia sendiri merasa heran dengan sikap Bos mudanya yang tiba-tiba mendadak perhatian tersebut.
Lalu mobil menuju pabrik yang sudah lama ditinggalkannya. Untuk sementara ini Khanza ikut tinggal di Pekanbaru sampai pernikahan kakak sesusuannya itu selesai. Setelah itu Ia akan kembali ke kantir cabang tempat dimana Ia bekerja.
__ADS_1
dalam perjalanan menuju pabrik, terlintas wajah gadis yang kini duduk lemah dikursi roda, tanpa daya apapun.
*ARV\= Anti Retro Viral, jenis obat yang menghambat penularan dan penyebaran virus AIDS kedalam tubuh. Biasanya Penderita akan bertahan hidup dalam jangka 8-10 tahun jika menggunakan obat tersebut, berbeda yang terlambat penangannya, maka akan lebih cepat bertemu Illahi. So.. Stop Narkoba, stop pergaulan bebas. 'Say no to drugs'.*