
Semua merasa terkejut akan kehadiran Adillah yang tidak mereka sadari. Rena melepaskan pegangan tangannya dipundak Wina, Ia mencoba mengejar Adillah yang sudah masuk kedalam mobil bersama Ridwan.
Rena bernafas lega, setidak adanya Ridwan yang akan memperhatikan Adillah, meskipun Rudwan sendiri bingung mengapa Adillah tiba-tiba berlari sembari menangis.
Hanif menghampiri Rena, lalu memegang lembut pundak istrinya "Ia butuh waktu untuk menerima kenyataan yang ada, semoga saja hal ini tidak membuatnya merasa tertekan, karena esok adalah hari resepsi pernikahannya." Hanif berkata panjang lebar.
Rena hanya mengangguk lemah, mereka mencoba untuk mengerti akan perasaan Adiillah yang kini sedang hancur.
Lalu Rena memutar tubuhnya, memandang wanita yang pernah menjadi masa lalu suaminya, bahkan anak hasil perselingkuhannya itu kini dibesarkan oleh Hanif hingga menjadi manusia yang sempurnah.
Wina hanya merundukkan kepalanya, tak mampu menatap dua bola mata Rena yang tampak bersahaja itu.
Rena menatap Hanif, lalu mengajaknya untuk pulang kerumah. Kini tinggal Wina dalam kesendirian dan hati yang lara. Ia memandangi punggung Rena yang berjalan menuju mobil untuk segera pulang.
Iabtak tahu harus mengatakan apa tentang wanita itu, dimana anak yang pernah dianggapnya sebagai pembawa sial, justru diadopsi oleh mantan kekasihnya yang dulu pernah Ia khianati.
Kini Wina menyadari jika Ia telah mencampakkan sebuah berlian demi sebongkah batu apung.
Ia menarik nafasnya dengan berat, lalu menghelanya.
Ia kembali berjalan pulang, lalu menunggu taksi online pesanannya.
Sementara itu, Duma kembali menggigil dan merasakan tulang dan sendinya bagaikan digigit ribuan semut yang terasa sangat ngilu dan setiap kali Ia buang air kecil selalu diikuti darah dan nanah yang membuatnya semakin frustasi.
Si mbok yangbertugas merawatnya tampak kebingungan, Ia merasa iba dan juga sedih, namun wanita sepertinya juga tidak memahami penyakit apa yang sedang dialami ileh gadis tersebut.
Duma sampai menggigit sebuah kain selimut untuk membantunya menahan rasa sakit tersebut.
Tak berselang lama, Wina datang memeriksa kekamar. Ia melihat Duma yang kini sudah tampak begitu menderita. Ia tak mampu lagi membendung air matanya. "Andai saja duku Ibu tak memberikanmu kepada Kakekmu, maka nasibmu tidak akan seperti ini, namun semua sudsh terjadi, sesal tak berkesudahan yang tiada arti." ratapnya dalam tangis tertahan
Disaat seperti ini, Ia baru menyadari arti sebuah tanggungjawab dan kasih sayang, serta penyesalan akan dosa dimasa lalunya.
Sesaat Duma perlahan mereda rasa saki yang deritanya. gadis itu terlihat sangat lelah. Tubuhnya terlihat semakin kurus secara drastis. 3 minggu dinyatakan mengidap HIV & AIDS banyak terdapat perubahan yang signifikan.
Gadis itu tak lagi perduli dengan kacantikan atau skincare wajah yang selama ini tak pernah ditinggalkannya. Ia hanya menahan derita yang tak berkesudahan.
__ADS_1
Perlahan Ia tampak tertidur. Pengaruh heroin yang merasuk ketubuhnya mempercepat pelemahan imunitas tubuhnya, sehingga virus tersebut dengan cepat menyerang sel darah putih yang sebagai pertahanan daya tahan tubuhnya.
Wina kembali ke toko semabakonya. Ia mencoba mengecek stok bahan yang sudah tampak habis dan harus ditambah lagi persediaannya.
setelah sekian jam lamanya berada ditoko dan sibuk melayani pelanggan, tiba-tiba saja sebuah mobil berhenti didepan tokonya. Tampak seirang wanita turun dari dalam mobil sembari membawa sebuah paper bag.
"Dia...? Mengapa bisa tahu rumahku?" Wina berguman lirih.
Wanita yang tak lain adalah Rena, melangkah memasuki toko Wina, dengan tatapan sahaja.
Wina menghentikan kegiatannya, dan menyerahkannya kepada pekerjanya.
"Hai..." sapanya dengan gugup.
"Aku hanya ingin menyerahkan ini" ucap Rena, sembari menyerahkan paper bag tersebut. Sebelum Wina sempat bertanya, Rena sudah melanjutkan ucapannya kembali "Datanglah esok, dihari pernikahan Adillah, bagaimanapun kamu itu Ibunya" ucap Rena sembari berlalu.
Wina memandangi kepergian Wina, Ia tak tahu harus mengatakan apa. Ia tidak tahu yerbuat dari apa hati wanita itu, sungguh..!! Ia sangat begitu malu.
Dengan hati yang berdegub kencang, Ia membuka paper bag itu, dan dengan tangan yang bergetar Ia menarik isinya dan Ia begitu terperangah, sembari menutup mulutnya dengan satu tangannya.
********
Rena bergegas menuju kamar Adillah, Ia mengetuk kamar puterinya, mencoba untuk berbicara dengan perlahan.
Lalu terdengar suara pintu dibuka, dan ternyata Ridwan. "Boleh bertemu Adillah?" Tanya Rena meminta ijin.
Ridwan menganggukkan kepalanya, Ia bingung harus memanggil kata Ibu kepada Rena.
Rena memasuki kamar setelah mendapat ijin dari Ridwan. Ia menghampiri Adillah yang masih bertelangkup diatas bantal dengan tubuh yang tampak berguncang, pertanda Ia masih menangis dan bersedih.
Rena membelai lembut punggung Adillah, lalu mencoba mengajaknya berbicara.
"Hei puteriku yang cantik... Ini hari bahagiamu, lalu mengapa bersedih? Apakah esok para tamu undangan harus melihat pengantin wanita tampil dengan dua bola mata sebesar pingpong" ucap Rena mencoba merayu Adillah.
Adillah sedikit meredakan tangisnya. Lalu memutar tubuhnya, dan membenahi posisinya menjadi duduk bersandar disandaran ranjang.
__ADS_1
Rena menggeser duduknya, dan kini berada disisi kiri Adillah. "Setiap manusia meliliki kekhilafan, dan jika Ia meminta maaf dan menyesalinya, apakah kamu menolaknya?" tanya Rena lembut.
Adillah masih terdiam dalam kebisuan, baginya kesalahan seorang Ibu yang membuang bayinya dengan sengaja apakah masih bisa dikatakan seorang Ibu dan bisa ditolerir? Adillah masih meeasakan sakit hati yang sangat dalam.
"Ibu tidak memaksamu, namun bukalah hatimu untuknya, meski hanya sedikit saja. Setidaknya Ia pernah mengandungmu dan surgamu tetap berada dibawah kakinya." ucap Rena sembari membelai lembut ujung kepala puterinya, lalu beranjak meninggalkannya.
Ia mengerjapkan matanya kepada Ridwan, pertanda sudah selesai urusannya dengan Adillah, lalu Ia keluar dari kamar pengantin baru tersebut.
Rena menuju kamarnya. Tampak didalam kamar Hanif juga sedang uring-uringan. Ia sepertinya sangat kesal jika mengingat kisah dimana saat Wina mengkhianatinya, dan bercumbu dengan pria selingkuhannya.
Rena menghampiri Hanif sang suami "Sayang... Lupakan semua kenangan masa lalumu, dan juga kenangan burukmu. Jika kamu melakukannya, maka kamu akan merasakan kelapangan hati dan akan lebih baik." Rena mencoba menenangkan suaminya.
Hanif menghela nafas beratnya, lalu memandang kepada Rena. Seharusnya dalam posisi ini Rena yang marah dan ngambek, namun sebaliknya. Akhirnya Ia mencoba berlapang dada, dan menganggap Adillah merupakan titipan untuknya.
Tak berselang lama, suara ketukan dipintu kamar terdengar sangat lemah.
Rena beranjak dan membuka pintu. TampaknAdillah dengan mata sembabnya sedang menenteng sebuah paper bag dan menyerahkannya kepada Rena. "Bisa Mama tolong Adillah berikan ini kepadanya" ucap Adillah, dengan maksud kepada Wina.
Rena tersenyum tipis "Pasti sayang" ucapnya dengan tulus, lalu Adillah tersenyum tipis, dan memeluk Rena dengan erat " Terimakasih, atas semua kasih sayang yang telah mama berikan kepada Adillah" ucapnya sembari terisak.
Rena menganggukkan kepalanya, lalu membelai lembut punggung gadis itu, dan Adillah melepaskan pekukannya, lalu kembali kelantai dasar kamarnya.
Rena menghampiri Hanif, menanyakan dimana alamat Wina berada, meski sempat menolak, namun Rena memaksa dan akan menyampaikan amanah dari Adillah. Dengan sangat terpaksa, Hanif memberikan alamat tersebut.
Kini Rena sudah merasa lega, karena esok dihari resepsi tidak ada lagi rasa dendam dan kedukaan yang dapat merusak kebahagiaan puterinya.
Berbekal dengan alamat yang diberikan oleh Hanif, Rena mencari alamat yang sesuai petunjuk Hanif serta menggunakan bantuan maps go*ogle.
Setelah sejam lamanya, akhirnya Ia menemukan rumah Wina, Ia harus menyampaikan amanah yang diberikan Adillah kepadanya.
Ia melihat wanita itu sedang melayani pembeli yang berbelanja ditoko sembakonya. Ia turun dari mobil lalu memberikan paper bag tersebut.
Bagaimanapun keadaannya, dan sebenci apapun Adillah kepada wanita itu, namun Ia tetaplah Ibu kandungnya. Biarlah dosa dimasa lalunya menjadi pertanggungjawabannya kelak terhadap Rabb-Nya.
Kita sebagai manusia hanya dapat memaafkan, dan pemberi ampunan hanya milik sang Pencipta.
__ADS_1
Setelah selesai menyampaikan amanah dari Adillah, kini Ia merasa lebih merasa lega.
Rena berharap esok dihari resepsi merupakan hari tanpa air mata kesedihan dari Adillah, gadis itu harus menangis karena haru dan bahagia, Itu doanya untuk puteri susuannya.