Pemikat Sukma

Pemikat Sukma
Paman Rasyid koma


__ADS_3

"Ren...abang bisa minta tolong sama kamu?" ucap bang Nisar diseberang telefon. terdengar suaranya panik.


"ada apa bang..?"


" papa koma, sekarang dirumah sakit, abang lagi di singapore, tiga hari lagi baru bisa balik.." ucapnya menjelaskan.


"Iya bang, Rena segera berangkat."


"terimakasih ya Ren.."


"sama-sama bang." lalu sambungan telefon terputus.


Rena bergegas mengemasi pakaiannya, memasukkanya dalam tas ransel. Ia tidak membawa banyak pakaian, karena masih ada pakaian yang tersisa di rumah paman Rasyid.


melihat Rena membawa tas Ransel, Munah sedikit bingung. "mau kemana kamu Ren..?" ucapnya dengan pandangan heran.


"Paman Rasyid koma bu..?"


"hah...koq bisa..?


"Rena gak tau sebabnya. makanya mau kesana. tadi dikasih tau bang Nisar."


Munah terdiam. "tapi kamu itu baru saja lamaran sayang.. 'darah manis kalau orang dulu bilang..'" ucap Munah penuh kebimbangan.


"Rena serahkan semuanya kepada Allah bu..niat Rena baik, bukan untuk maksiat. Insya Allah akan dalam perlindungan-Nya.."


"tapi..." Munah menggantung ucapannya.


"doakan sajanyang baik-baik ya bu.. Paman Rasyid banyak berjasa pada Rena, sudah sewajarnya Rena juga membalas kebaikannya." ucap Rena memohon restu ibunya.


akhirnya Munah menyerah.."baiklah..rawatlah pamanmu..ibu mengijinkanmu.." ucap Munah memberi ijin.


"makasih ya bu..." ucap Rena sembari memeluk ibunya.


Ia mencari keberadaan Toni. Ia tak menemukannya. lalu Ia menghubungi nomornya, suara dering handphone berasal dari dalam kamar. Ia melihat Toni kekamarnya.


ternyata Toni sedang tertidur pulas. Ia mengguncang tubuh Toni.."dik...dik..bangun." terdengar suara Toni mendengkur.


"ne anak kalau dah tidur susah banget banguninnya" ucapnya kesal.


tak kehabisan akal, Rena mencabut sehelai bulu dibetis Toni. seketika Toni terlonjak bangun karena kaget dan merasa sakit. Toni yang bangun tidur langsung terduduk, mengucek kedua matanya.

__ADS_1


saat ini nyawanya belum kumpul, Ia menguap sembari menggaruk betisnya yang terasa sakit juga gatal karena karena sehelai bulu kakinya dicabut paksa.


"dik..dik..ayo..bangun.." ucap Rena sembari mengguncang tubuh Toni dengan kasar.


Toni memaksa untuk membuka matanya. "ada apa sih kak..?" ucapnya dengan parau dan lemah.


"anterin kakak ke loket bus sekarang...kakak mau ke medan. paman Rasyid koma." ucap Rena dengan sedikit keras, agar suaranya didengar Toni yang masih sedkit oleng.


ternyata usahanya tak sia-sia.."apa..?! paman Rasyid koma..?!" dia tersentak dan langsung bugar saat mendengar kata koma. Ia bergegas kekamar mandi. lalu mencuci wajahnya dengan air. setelah itu Ia segera keluar rumah, memansakan mesin motor.


"ayo kak..biar aku antar.."


Rena mengangguk. sembari berpamitan kepada Ibunya.


****


Rena sampai di terminal bus, dijalan sisingamangaraja, Amplas' Medan. hari sudah hampir sore. Ia menunggu angkot yang melintas, yang akan membawanya ke jalan Gatot Subroto.


sebuah mobil CRV melintas dan menepi disampinya. lalu pemilik mobil menurunkan kaca pintu depan mobil "Ren..." ucap seorang pria yang suaranya sangat Ia kenal.


"Ridwan..dari mana..?" ucap Rena. sudah lama Ia tak bertemunya. semenjak wisuda hingga sampai hari lamarannya.


"masuk..yuk.sekalian jalan.." ucapnya menawarkan tumpangan. "Rena menuruti saja. toh, Ia memang lagi butuh tumpangan untuk segera menemui paman Rasyid.


"alhamdukillah baik..kamu..?"


alhamdulillah juga baik... makasih ya tumpangannya. kebetulan aku lagi terburu-buru" ucap Rena dengan sedikit panik.


Ridwan mengernyitkan keningnya.."memangnya ada masalah apa..?"


"pamanku koma, masuk rumah sakit."


"syafakallah buat pamanmu ya Ren..yang sabar ya.. jadi kamu mau aku anterin ke rumah sakit atau kerumah pamanmu..?" ucap Ridwan dengan lembut. Ia melihat raut wajah penuh kecemasan pada Rena.


"langsung kerumah sakit saja ya Rid, maaf merepotkan."


Ridwan hanya tersenyum simpul. "gak kok, aku senang dapat membantu kamu.." ucapnya tulus.


****


Rena sampai didepan Rumah sakit, Ia bergegas turun dari mobil. "terimakasihbya Rid, atas tumpangannya."

__ADS_1


Ridwan mengangguk."maaf, aku belum bisa jenguk paman kamu, ada urusan yang harus aku selssaikan." ucap Ridwan dengan sopan.


"iya..gak apa-apa...aku dulu ya.." ucap Rena yang melambaikan tangan sembari berlari kecil menuju ruangan rumah sakit.


Ia mencari ruangan pasien dimana tempat paman Rasyid dirawat. sebelumnya Ia telah mendapatkan informasi dari bang Nisar tentang ruangan paman Rasyid.


setelah menemukannya, Ia mengetuk pintu, terdengar langkah menuju pintu lalu membukanya.


Rena memasuki ruangan. terlihat wajah lelah tante Marti.


Rena segera memeluknya. tante Marti terisak dalam pekukan Rena.


Rena sangat mengerti apa yang dirasakan tante Marti saat ini. "apa yang terjadi tante..?" ucap Rena lembut dan penuh hati-hati..


Tante Marti menarik nafasnya dan menghelanya dengan berat. "pamanmu mengalami Hipoglikemia atau disebut gula darah terlalu rendah." tante Marti mencoba menahan bulir bening yang hampir jatuh.


"pamanmu melakukan diet sesuai petunjuk dokter, namun pamanmu juga memiliki riwayat diabetes melitus, jadi semuanya serba salah." ucap Tante Marti lirih. sembari melirik keranjang suaminya yang sedang tak sadarkan diri.


Tena melihat begitu banyak selang dimana-mana terpasang dibagian tubuh paman Rasyid. mulai dari selang infus, selang oksigen, selang Ventilator yang terpasang dimulut. sungguh miris hati Rena melihatnya.


"paman pasti sembuh.. tante jangan khawatir ya..?" ucap Rena menenangkan hati Tante Marti.


"tante beristirahatlah..biar Rena yang bergantian menunggu paman.."


Tante Marti mengangguk. wajahnya terlihat lelah. Ia merebahkan tubuhnya di ranjang khusus untuk keluarga pasien.


Rena memandangi wajah paman Rasyid yang terbaring lemah diranjang pasien. Tubuhnya yang dulu begitu gagah, kini perlahan kulitnya mulai mengendur. tubuhnya perlahan kurus.. tak ada lagi keceriaan disana.


"cepat sembuh ya paman.." ucap Rena lirih. sembari mengecup kepala Paman Rasyid perawat selalu mengecek kondisi pasien, memastikan tidak ada yang kurang dan salah pada pasien yang sedang diamati mereka.


***


dalam kasus Diabetes melitus, pasien harus mampu menjaga keseimbangan gula darahnya. jika terlalu tinggi mencapai 600 miligram/desiliter maka dapat menyebakan koma, namun gula darah dibawah mormal juga bisa menyebabkan koma.


Rena memohon pada Rabbi-Nya agar pamannya diberi ketabahan, kesabaran dan ikhlas dalam menerima segala apa yang sedang menimpanya.


setelah hampir larut malam, akhirnya mata Rena tak dapat dikontrolnya lagi. Ia juga turut mengantuk, lalu tertidur dikursi roda paman Rasyid, dengan memyandarkan kepalanya ditepian ranjang, lalu tertidur.


entah sudah berapa lama Rena tertidur, saat Ia sadar, tangan paman Rasyid mencoba meraih dengan lembut. Ia tersentak karena sapaan paman Rasyid.


"paman..paman sudah sadar..?" ucapnya dengan mata berbinar. paman Rasyid hanya mengerjapkan matanya. Ia tak mampu berbicara karena terhalang selang ventilator tersebut.

__ADS_1


dengan sigap Rena menekan tombol angka 'satu' pada nomer telefon. yang disediaknan pihak rumah sakit.


"dengan sigap perawat segera datang, memberikan pertolongan.


__ADS_2