
Rena seperti biasanya mengantar jemput Adillah dan Khanza.
saat Rena akan kembali untuk pulang, Bernard telah menantinya dipersimpangan jalan.
Rena yang tidak menyadari, terus melajukan mobilnya dan singgah disebuah mini market.
Rena berniat berbelanja susu Adillah dan Khanza. Meskipun sudah masuk sekola dasar, kedua buah hatinya tetap meminum susu formila, untuk membantu pemenuhan nutrisi pertumbuhannya.
Saat sedang asyik memilih susu formula, tiba-tiba saja Seseorang menghampirinya. Rena terperanjat melihat siapa yang berada disisinya.
"kaau..?!" Rena mengerutkan keningnya. Lalu berusaha menghindarinya.
Namun Orang tersebut berhasil mengoleskan sebuah minyak perindu dikulit tangan Rena. Lalu Ia pergi meninggalkan Rena begitu saja.
Seketika Rena merasakan perasaan yang sangat aneh. Ia merasa tak nyaman dan merasakan sesuatu yang berbeda.
Ia teringat sesuatu.. "Bernard.."Ucap Rena lirih.
Ia mencari sosok Bernard yang tadi berada didekatnya. Rena menuju kasir, melihat kearah pintu keluar. Tampak oleh Bernard sudah berada diluar halaman dan akan pergi.
Rena mengejarnya, namun mobil Bernard telah pergi..
Rena merasakan hatinya gelisah. Ia kembali memilih susu formula, lalu membayarnya dikasir.
Hatinya kini tak menentu. Tiba-tiba saja Ia merasakan cinta lama bersemi kembali. Ia mengingat masa-masa dimana mereka pernah memadu kasih. "Bernard.." ucap Rena lirih.
Kini hatinya dipenuhi dengan nama pria yang dulu pernah membuatnya bertekuk lutut dan terhila-gila.
-------******-------
Bernard tersenyum debgan hasil kerjanya. Didalam hatinya Ia terus merafalkan mantra 'pemikat Sukma'. Ia telah berhasil mencuri foto dengan memotret Rena saat berada di mini market tadi.
Ia mengendarai mobilnya dengan sangat bahagia.
Bernard telah berhasil menjual rumahnya. Ia berniat pindah ke kampung halamannya, membeli rumah sederhana dan membangun usaha warung sembako yang dikelola oleh kedua orangtuanya.
"bagaimana Rena..? Apakah kau masih bisa bertahan hidup dengan suamimu..? Sedangkan hatimu kini bersamaku..hahahaha..." Bernard berguman dan tertawa sendiri.
Kini Ia merasa puas telah membuat Rena kembali menggilainya.
--------*****-------
Rena sampai dirumah dengan perasaan yang gelisah. Hatinya kini dipenuhi oleh satu nama "Bernard.."
wajah Bernaed kini terus membayang dimatanya.
Rena menjadi uring-uringan gak jelas. Entah perasaan dari Mana hasratnya bergelora, menginginkan Bernard berada disisinya.
Kriiiiiiiiiiing..
Satu panggilan masuk dari Hanif. Namun Bernard seperti acuh tak acuh terhadap panggilan itu. biasanya Ia akan terus mengangkatnya dan menyambutnya dengan senang.
__ADS_1
"Bernard.. Dimana kamu..?" bisik Rena lirih..
Panggilan Hanif terus berdenting.. Namun Rena mengabaikannya. Hati penuh nama Bernard dan wajah pria itu begitu jelas terpatri dimatanya.
Rena merebahkan tubuhnya diranjang. Membayangkan Bernard bersamanya, hasratnya bergelora, mengharapkan kehadiran Bernard untuk memadu kasih nan syahdu.
-------*****------
"Mengapa Sayangku tidak mengangkat panggilanku..? Lagi apa sebenarnya dia..? Apa sedang dikamar mandi..?" Hanif mencoba positif thinking.
Hanif melirik arlojinya, menunjukkan pukul 12.30 Wib. siang. Ia semakin gelisah karena Rena tak juga mengangkat telefonnya.
Namun hatinya tak dapat dibohongi. Ia meradakan sesuatu yang tidak beres sedang terjadi.
"mengapa perasaanku mengatakan ada yang tidak beres..?" Hanif kini merasa gelisah.
Ia berniat hendak pulang. Lalu memanggil sekretarisnya, untuk menghandle segala kegiatan hari ini.
Hanif bergegas pulang, Ia mengendarai mobilnya dengan laju kemudi yang tak biasa.
Saat melintasi sekolah Adillah dan Khanza, Hanif melihat Khanza da Adillah berdiri didepan pagar sekolah dengan wajah celingukan menunggu jemputan mamanya.
Sekolah terlihat sepi karena hari ini Jum'at dan para Siswa cepat pulang. hanya saja pihak security masih menunggu disana, sampai keduanya dijemput orangtuanya.
"Adillah, Khanza.. Mengapa mamanya belum juga menjemputnya..?" Hanif berguman lirih.
Lalu Ia memutar mobilnya, menuju sekolah dan menjemput keduanya.
"papaaa...." teriak keduanya tak sabar. Saat security membuka pagar, mereka berduah dengan tak sabar berlari, menghambur kedalam pelukan Hanif.
"maaf pak, tadi kami sudah berulang kali menghubungi mamanya, tetapi tidak diangkat juga." ucap Security itu menjelaskan.
"oh..iya, maaf ya pak, telah membuat waktu bapak terbuang karena menjaga anak saya." jawab Hanif sopan dan merasa bersalah.
lalu Hanif mengambil 3 lembar uang ratusan ribu dan memberikannya kepada security itu.
"ini pak ambil, sebagai bentuk terimakasih saya krena dedikasi kerja bapak. terimakasih sudah sabar jagain kedua anak saya." ucap Hanif sopan.
"Waaaah..tidak usah pak.. Ini suad menjadi tanggung jawab Saya, saya tidak boleh pulang sebelum seluruh siswa dijemput oleh orangtuanya." security itu menolaknya.
Namun Hanif memaksa, dan memasukkannya kedalam saku pakaian security itu.
"terimakasih pak ganteng..yang baik hati.." ucap Security itu keceplosan.
Hanif membalasnya dengan senyum tulus.
"papa..kenapa mama tidak menjemput kami..? " pertanyaan yang hampir saja membuat Hanif tersentak.
"emmm..mungkin mama lagi ada urusan. Ya sudah..ayo pulang.." jawab Hanif, mencoba memberi pengertian kepada keduanya. Setidaknya jawabannya yidak menjatuhkan mamanya dihadapan kedua anaknya.
keduanya berlari menuju mobil, lalu masuk kedalam jok tengah. Mereka bercanda dan saling tertawa.
__ADS_1
Hanif menyetir dengan perasaan yang tak menentu. Hatinya gelisah memikirkan Rena. "apa yang terjadi pada istriku..? Mengapa tak seperti biasanya Ia bersikap." Hanif berguman lirih falam hatinya.
"pa...kami lapar.. Singgah beli makanan ya.." celoteh Khanza.
"iya.. Juga haus pa.."Adillah menimpali.
Deeeegh..
Jantung Hanif seolah berhenti. Hatinya begitu miris mendengar ucapan kedua buah hatinya. "Ya Allah.. Ternyata mereka sampai kelaparan..?" Hanif mencoba menahan nafasnya dan menghelanya dengan kasar.
"iya.. Kita beli makanan.. kalian mau makan apa sayang..?" tanya Hanif lembut kepada keduanya.
"makan bakso pa..." jawab keduanya serempak.
"om sayang... Kita cari dulu ya, warung bakso mana yang sudah buka." ucap Hanif untuk membuat kedua anaknya senang.
"horeeee..kita makan bakso.." teriak keduanya dengan perasaan senang.
kriiiiiuk...
Terdengar suara cacing diperut Khanza berbunyi.. Seketika kedua bocah itu tertawa.
Melihat keceriaan kedua anaknya, membuat Hanif sejenak melupakan kepenatannya. Canda tawa kedua bicah itu telah membuat hidupnya berwarna. Menjadikan semangat hidupnya terus tumbuh bersama sang waktu.
------*****-----
Rena menuntaskan hasratnya sendiri.. Pakaiannya telah acak-acakkan. Ia menyebut nama Bernard berulang kali saat mencapai puncak asmaranya.
Hingga akhirnya Ia tertidur dengan membawa senyum untuk Bernard.
Rena tidak menyadari jika Ia harus menjemput kedua buah hatinya. Bahkan Ia melupakan jika Hanif telah menelefonnya berulang kali, bahkan puluhan kali.
Rena seolah melupakan segalanya. Kini dihatinya hanya ada satu nama.. Bernard.
--------****--------
Kreeeeeeekkk...
Hanif membuka handle pintu kamar. Alangkah terkejutnya Ia, saat melihat Rena terbaring diranjang dengan pakaian yang sudah acak-acakkan..
"sayang.." Hanif berguman lirih. Lalu mengunci pintu kamar.
Ia menghampiri Rena yang meracau tak jelas. Ia melihat jika Rena baru saja menuntaskan hasratnya seorang diri.
Ia mengingat jika sesudah subuh tadi mereka baru saja bercinta. Tetapi mengapa Rena sampai melakukannya lagi, bahkan seorang diri.
"apa Ia tidak merasa puas denganku.." Hanif berguman lirih, memandang Rena yang kini sudah tertidur pulas.
Ada pedih dihatinya, menghadapi kenyataan yang baru saja dilihatnya.
Hanif membenahi pakaian Rena, lalu mengcup lembut kening Rena. Ia memandangi wajah Rena dengan seksama.
__ADS_1
"ada apa denganmu sayangku..?" Hanif seperti merasakan ada sesuatu yang tidak beres dalam diri Rena.