Pemikat Sukma

Pemikat Sukma
Ujian


__ADS_3

Hanif berkutat dengan laptopnya. Ia begitu cepat datang kekantor.


Ada banyak pekerjaan yang membuatnya harus datang lebih pagi.


Tok..tok..tok..


Suara pintu diketuk..


"masuk.." ucap Hanif tanpa melihat siapa uang masuk.


Refa sang sekretaris masuk membawa sebuah laptop. "siang pak." sapanya kepada Hanif. Ia masih berdiri mematung karena hanif belum mempersilahkannya duduk.


"duduk.." ucapnya, dengan nada datar.


"berkas-berkasnya sudah saya kirimkan kepada bapak melalui akun email." ucap Refa dengan sopan.


Hanif mengangguk, ya saya sudah membacanya. Persiapkan naskah untuk presentase meeting besok." titah Hanif, tanpa ekspresi.


Refa menganggukkan kepalanya. Lalu beranjak bangkit. "permisi pak.." ucap Refa sembari undur diri.


"hem.." sahut Hanif tanpa menoleh sedikitpun.


Refa menggerutu dalam hatinya. "punya bos terlalu dingin. Untung cakep, kalau gak, entahlah.." Refa mengomel sendiri dalam hatinya.


 


Tok...tok...tok...


"masuk..." ucap Hanif yang sedari tadi masih sibuk dengan laptopnya.


Langkah kaki seirang wanita menggunakan highless sangat begitu anggun. Langkah itu terhenti didepan meja Hanif.


"apalagi Refa..? Apa belum jelas yang saya katakan tadi..?" ucap Hanif, tanpa melihat lawan bicaranya.


Namun wanita itu tetap diam tak bergeming.


Akhirnya Hanif menghentikan pekerjaannya, untuk melihat lawan bicaranya yang terdiam tanpa sepatah katapun.


Saat melihat wanita didepannya, Hanif terperanjat karena kaget. "kau..?! Apa yang kau lakukan disini..?" ucap Hanif sedikit nada tinggi.


"aku hanya mengantarkan berkas ini." ucap Wina sembari menyodorkan berkas yang dikatakannya. Wina sepertinya sengaja tidak duduk dikursi, Ia juga mengenakan pakaian yang super ketat dan membentuk lekuk tubuhnya.


Kancing bajunya juga sengaja dibiarkan terbuka 2 buah, sehingga ketika Ia merunduk memperlihatkan dua buah melon miliknya menyembul keluar.


Meski tanpa sengaja dilihatpun, pemandangan itu akan sangat jelas terlihat.


Hanif segera merundukkan pandangannya, lalu memeriksa berkas pengajuan milik Perusahan Contractor tempat Wina bekerja.


Sepertinya, papanya Ferdy mengalami kebangkrutan. Sehingga Wina terpaksa menopang hidup keluarganya. Kabarnya juga mamanya Amel bercerai, dan kabur bersama pria kaya.


Wina memperhatikan Hanif yang sedang memeriksa berkas pengajuan penawaran kerjanya. Cara Hanif yang sedang menceklis point-point kerjasama itu terlihat sangat sexy baginya.

__ADS_1


Sesekali Wina menggit bibir bawahnya, menahan gejolak hasrat yang kian menjalar ditubuhnya.


5 tahun tanpa sentuhan seorang pria, membuatnya haus akan hal itu.


"sudah.. Dan keluarlah..!" titah Hanif tanpa menoleh sedikitpun.


"permisi.." ucap Wina undur diri.


Namun tak ada jawaban dari Hanif. Ia melihat Hanif begitu acuh padanya. Seolah tidak mengenalnya. Bukankah dulu mereka pernah menjalin cinta kasih yang indah.? Namun Hanif dapat membuangnya begitu saja, hanya dengan seorang Rena.


---------


Wina melangkah keluar dari ruangan Hanif. Ia membuka lembaran berkas itu, Ia sedikit berbinar, karena penawarannya disetujui oleh Hanif.


"apakah tandanya Ia masih perduli padaku..? Atau hanya karena merasa kasihan saja..?" Wina masih menerka-nerka isi kepala Hanif sebenarnya.


Ia menuju area parkir, namun memasuki mobilnya. Namun Ia sejenak mengundurkan niatnya untuk menghidupkan mesin mobil.


Ia melihat sebuah mobil berhenti, dan Rena keluar dari mobil dengan seorang bocah laki-laki yang sangat tampan dan bocah perempuan yang umurnya hampir sama, dengan wajah cantik rupawan.


Seketika Wina teringat akan anak yang pernah dibuangnya dahulu. "andai Sofia bersamaku, pasti umurnya sebaya dengan anak Hanif..? Kira-kira dimana keberadaan Sofia sekarang?" Wina mengingat kejadian 6 tahun yang lalu.


Gadis kecil itu tampak lincah, Ia begitu terlihat manja bersama Rena. Seketika hatinya merasa iri dengan kebahagiaan Rena dan Hanif.


Ketika Rena dan kedua anaknya menghilang dari pandangannya, Ia kemuadian mengendarai mobilnya, meninggalkan parkiran.


------------


"ehhh.. Jagoan papa..Sini sayang." ucap Hanif kepada keduanya."


Lalu Hanif betanjak dari duduknya. Seketika kepalanya yang pusing karena urusan pekerjaan, kini menjadi segar dengan kehadiran kedua bocah itu, serta Rena yang membawakan makan siang untuknya.


Kedua bocah itu memghambur kepelukannya. Menciumi Hanif bergantian. Hanif memggendeng keduanya menuju sofa tamu.


Rena duduk disana. Membuka bekal bawaannya. Kedua bocah itu didukkannya di atas sofa.


Hanif mengecup ujung kepala Rena dengan lembut. Rena menyuapkan masakan yang dibawanya kepada Hanif.


Rena adalah type istri yang suka memanjakan lidah, dan perut suaminya.


Setiap hari Ia akan mengganti menu masakan agar Hanif tidak merasa bosan. "Sup masakan kamu enak sayang.." puji Hanif dengan tulus.


Rena tersenyum dengan sangat manis. Membuat Hanif merasa gemas.


"sayang, besok ada pekerjaan diluar kota dengan beberapa rekan bisnis. Semua bawa keluarga, kamu ikut ya..? Sekalian untuk liburan bersama anak-anak.." pinta Hanif kepad Rena.


"boleh juga, kalau begitu nanti Ren minta Bik Inah memyiapkan pakaian untuk dibawa berlibur." jawab Rena dengan senang.


"beneran kamu mau ikut?" tanya Hanif meyakinkan.


Rena menganggukkan kepalanya. Tanda Ia akan menyetujui permintaan Hanif.

__ADS_1


"makasih ya sayang..? Hubby tu kesepian kalau pergi sendirian." ucapnya sembari mengecup pipi Rena.


"malulah bby, diliatin bocil" ucap Rena mengingatkan.


Hanif nyengir melihat kedua bocah yang berada disisinya.


---------


Semua orang sudah berkumpul disebuah hotel yang dijadikan tempat untuk rekreasi bersama rekan bisnisnya. Selain membahas pekerjaan, mereka juga sekalian berlibur untuk membawa keluarga bersama.


Rena membawa kedua anaknya bermain wahana air, untuk memuaskan masa berlibur kedua buah hatinya.


Ia juga membawa seorang baby sister untuk mengawasi kedua buah hatinya.


Hanif sedang berbincang dengan rekan bisnisnya. Setelah selesai mereka masing-masing menuju keluarganya yang sedang bermain wahana air.


Hamif merasakan kepalanya sedikit pusing, Ia ingin kekamar hotel sebentar, untuk beristirahat sekejab. diperjalanannya menuju kamar hotel, Ia merasakan hasratnya datang menggebu.


"apa ini..? Mengapa aku tiba-tiba saja merasakan hasrat yang tak terbendung.?" Hanif merasakan gelenyar aneh itu terus menguasainya.


Ia mencapai pintu kamar hotel, menggesekkan kartu pembuka kunci dengan gontai. Saat Ia akan masuk, seseorang mendorongnya dari luar, lalu menutup pintu hotel.


Hanif seperti orang yang sedang haus akan hasrat. Namun kesadarannya masih dapat berfungsi.


Ia melihat Wina berada disisinya. "brengsek kau, akan kubatalkan semua perjanjian kontrak kerja tersebut." ancam Hanif kepada Wina.


Namun Wina tak memperdulikannya, Ia membuka pakaiannya, lalu berusaha memekuk Hanif.


Dengan sisa kesadarannya, Hanif, mendorong tubuh Wina agar menjauh. Namun Wina menarik kemeja Hanif, hingga beberapa kancingnya terlepas.


Hanif sempoyangan dan limbung kelantai. Ia berusaha bangkit, untuk mengusir Wina dari kamarnya.


Saat itu Rena memasuki kamar, Ia terkejut melihat Hanif tersungkur dilantai dengan pakaian yang acak-acakan. Bahkan Ia sangat geram melihat Wina yang sudah tidak memakai pakaian lagi.


Melihat kehadiran Rena, Hanif berusaha bangkit. Hasrat yang sudah tak mampu Ia bendung tak lagi terkontrolnya.


Tanpa melihat situasinya, Ia meraih tubuh Rena yang masih berada diambang pintu, lalu mentutup kasar pintu hotel.


Ia tidak memperdulikan emosi Rena yang sangat tinggi saat melihat kehadiran Wina bersamanya.


Bahkan Ia juga tidak memperdulikan keberadaan Wina bersama mereka.


Dengan sangat brutal, Hanif yang sudah dikuasai p perangsang, menyeret tubuh Rena keatas ranjang.


Ia seperti singa lapar yang tanpa ampun mencumbui Rena. Entah harus marah atau merasa harus apa dengan prilaku suaminya.


Hanif melampiaskan pengaruh pil perangsang itu kepada Rena tanpa ampun.


Wina yang menyaksikan cumbuan suami istri merasa sangat kesal dan penuh amarah. Buru-buru Ia memakai kembali pakaiannya, lalu membuka pintu kamar hotel dengan sangat marah, karena harus menyaksikan adegan percintaan Hanif denga Rena didepan matanya.


Wina pergi dengan perasaan kecewa. Ia memutuskan untuk kembali pulang hari ini juga.

__ADS_1


__ADS_2