Pemikat Sukma

Pemikat Sukma
Ke Khawatiran


__ADS_3

Munah sibuk mengadon adonan kuenya. namun hati dan fikirannya gelisah. beberapa hari ini' Munah selalu teringat akan anak gadis semata wayangnya. "mengapa hatiku tidak tenang? wajah Rena selalu terlintas di fikiranku? apa sebenarnya yang terjadi pada anak gadisku.?" Muna bertanya pada hatinya.


"Ton..Toni..sini bentar sayang." panggil Muna dengan lembut' kepada anak laki-laki bungsunya.


Toni yang saat itu baru selesai belajar' mengerjakan PR-nya, berjalan mendekati ke arahnya. "ada apa bu?" tanya Toni kepada Munah dengan sopan.


"perasaan ibu beberapa hari ini tidak tenang. ibu selalu terbayang wajah kakakmu. Rena." ucap Munah dengan hati yang gelisah. "semoga saja Rena baik-baik saja." ucap Munah lirih. hatinya gelisah tak menentu.


"bentar' ya bu. Toni ambil handphone dulu. nanti Toni coba hubungi kak Rena." ucap Toni seraya berlalu menuju kamarnya' untuk mengambil handphone.


Munah masih berjibaku dengan adonan kuenya, namun hati dan fikirannya berkelana entah kemana. lalu Toni sudah berada di dekatnya' sembari memainkan handphone tulalit miliknya, mencari contact name yang ada phonebooknya.


setelah menemukan nama 'kak Rena'' lalu Toni menghubunginya. dan panggilan itu sedang aktif, namun tidak tersambung' karena pemilik nomor tidak menerima panggilan masuknya.


Toni berulang kali mencoba menghubunginya, namun tak juga diterima Rena. Munah yang sedari tadi memperhatikan Toni kian gelisah. " belum diangkat juga sama kakakmu, Ton?" ucap Munah dengan lirih.


"belum bu, mungkin kak Rena sedang kuliah, jadi tidak bisa dihubungi, nanti kita coba lagi ya." ucap Toni menenangkan hati ibunya.


Munah menghentikan sejenak pekerjaannya, dia sedang memikirkan sesuatu. " coba kamu hubungi tante Aningmu, tanyakan kabar Rena kepada tante Aning, mungkin tantemu tau kabar kakakmu." ucap Munah menyarankan.


"iya bu, Toni coba dulu ya." ucap Toni, sembari mencari contact name tante Aning. setelah ketemu, Toni menghubunginya, dan telefon tersambung. "hallo, ada apa Ton? jam segini jangan nelfon-nelfon tante, lagi sibuk masak buat makan malam." jawab tante Aning ketus, dari seberang telefon.

__ADS_1


"hallo tante, kabar tante sehatkan?" ucap Toni tulus.


"gak usah basa-basi, ada perlu apa?" tanya tante Aning semakin jengkel. namun Toni berusaha untuk tenang menanggapi kejutekkan tantenya.


"emmmm.. ibu mau tanya, tentang keadaan kak Rena disana, apa baik-baik saja tante?" ucap Toni dengan hati, takut disemprot omelan tantenya.


"ya ellaaa, tanya orangnya langsunglah, kan ada nomor telefonnya." jawab tante Aning dengan kesal' karena telfonan dengan ponakannya sudah menganggu waktunya.


dugaan Toni benar, ternyata kena omelan, bukannya dapat jawaban. "Toni sudah coba hubungi kak Rena, Tan. tapi dari tadi gak diangkat-angkat. bisa minta tolong tante lihat kondisi kak Rena, soalnya ibu khawatir, Tante." Toni berusaha menjaga ucapannya sebaik mungkin, bahkan dengan nada memohon.


"ya, sudah. coba saya lihat dulu dikamarnya, menganggu saja. si Rena juga, ngapain saja sih kerjanya, berkurung terus dikamar." terdengar omelan tante Aning yang terus nyerocos.


Toni memutuskan sambungan telefonnya, sembari menunggu tante Aning melihat kondisi Rena.


"bentar, bu. tante Aning sedang memeriksa kondisi kak Rena dikamar. bisa jadi kak Rena ketiduran." jawab Toni, sebisa mungkin menenangkan hati ibunya.


*****


tok..tok..tok.. tante Aning mengetuk kamar Rena. "Ren...Rena..buka pintunya" suara jutek tante Aning dari depan pintu kamar Rena. namun tak ada sahutan. "Renaaaa...kamu masih hidup gak sih? dipanggil tuli banget, gak punya mulut ya? makanya diam saja dipanggil?" suara tante Aning makin meninggi.


"kemana sih, nih anak? dipanggil diam saja." ucap tante Aning yang mulai menurunkan ritme suaranya. "coba ku cek saja kedalam kamar." tante Aning berinisiatif untuk membuka pintu kamar Rena, sembari meraih gagang pintu dan membukanya.

__ADS_1


kreeek..suara pintu kamar terbuka, ternyata Rena lupa mengunci pintunya. terlihat kamarnya sepi, Ia melihat handphone motorala lipat berwarna pink tergelatak di atas ranjang. lalu tante Aning mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi, dan tante Aning berfikir bahwa Rena sedang mandi. "pantesan saja tuh anak tuli, ternyata dia sedang mandi." ucap Tante Aning menggerutu. lalu memutuskan untuk keluar dari kamar Rena. seraya berlalu, dan menutup pintu kamar Rena.


"hallo. Ton, Rena sedang mandi, makanya tidak dengar saat ditelfon. sudah dulu ya, tante mau masak. jangan ganggu tante lagi." ucap tante Aning kepada Toni melalui sambungan telefonnya. lalu tante Aning mengakhiri panggilannya dan bergegas pergi kedapur lagi untuk melanjutkan memasak.


*****


Rena sedari tadi tak beranjak dari kamar mandinya. sudah hampir 2 jam Ia mengurung dirinya didalan kamar mandi. Ia terduduk dilantai kamar mandi, dengan kedua tangannya memeluk lututnya. kepalanya diletakkan di atas kedua lututnya.


shower yang terus mengguyur tubuhnya hingga basah kuyup, bahkan tubuhnya telah menggigil, tak mampu menghilangkan kesedihannya. Ia sedang patah hati. Ia menumpahkan segala kesedihannya. merenungi nasibnya yang terasa kian mengenaskan. mata sembabnya kian membengkak seperti sehabis terkena sengatan lebah.


"mengapa kau memutuskan hubungan kita Bernard? aku sangat mencintaimu, aku tak mampu hidup tanpamu.. hanya kaulah satu-satunya tambatan hatiku" ucap Rena lirih. air matanya tak henti-hentinya mengalir, bahkan hampir kering. jika saja air matanya bukan Made in Tuhan, mungkin Rena terpaksa harus isi ulang air mata buat stok, agar bisa melanjutkan tangisannya.


tubuhnya yang meringkuk semakin hampir membeku karena kedinginan, bibirnya telah pucat membiru. akhirnya Rena menyudahi ritual menangisnya, menyalin pakaiannya yang basah dengan handuk, lalu meletakkannya dikeranjang pakaian kotor.


Rena keluar dari kamar mandi, dengan mata sembabnya. lalu membuka lemari jati tiga pintu, yang disediakan Tante Marti untuk meletakkan barang-barang miliknya dan pakaiannya.


Rena menyalinnya dengan pakaian piyama. lalu beniat tidur tanpa malan malam. Ia meraih handphonenya, berharap mendapat pesan dari Bernard. setidaknya berharap Bernard untuk mengabarinya.


Rena terkejut saat mendapat 5 panggilan dari Toni, Adiknya.


lalu Rena mengirimi pesan kepada Toni. "ada apa dik? kakak lagi mandi tadi, semoga disana dalam keadaan baik- saja. kakak disini juga baik-baik saja, kakak lagi banyak tugas kuliah, maka jarang menghubungi. maafin kakak ya." tulis Rena dalam pesannya. Ia menghindari via telefon, karena takut ibunya khawatir jika mendengar suaranya yang bergetar karena sedang menangis.

__ADS_1


tak selang beberapa lama, masuk balasan dari Toni" alhamdulillah kalau kakak baik-baik. kami juga dalam kondisi baik. tadi ibu kangen sama kakak, ibu khawatir dengan keadaan kakak. jika kakak dalam kondisi baik dan sedang sibuk dengan tugas kuliah, ya sudah . baik-baik disana ya kak." balasan Roni dengan panjang lebar.


"ok adikku yang paling tampan" balas Rena dengan emoji tersenyum, seolah dia baik-baik saja.


__ADS_2