
"Ma.. Kita pulang kerumah saja dulu yuk, ntar malam kita baru kerumah paman Nisar" Khanza mencoba menyarankan. Sebab Ia sudah tak sabar ingin merasakan masakan mamanya yang sudwh lama sekali tidak bertemu.
" Ya sudah, kita pulang, mama mau memasak dulu.." ujar Rena menyetujui usulan Khanza, sembari menenteng kantong belanjaannya.
Khanza yang melihat mamanya membawa dua buah kantong plastik tersebut, lalu mengambil alih dan menggantikannya. "Sini, Ma, biar Khanza yang bawa.." ucapnya, seraya meraih kantong plastik dari tangan ibunya.
Rena hanya bersikap pasrah saja, membiarkan puteranya membawa kantong belanja tersebut.
Tak selang berapa lama, mereka sudah sampai dirumah minimalis yang di tempati oleh Khanza dan Adillah.
Tampak senyap dan sunyi. "Kemana Papamu..? Mengapa begini sunyi..?" tanya Rena kepada Khanza, semabri mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan rumah.
"Mungkin dikamar Ma.." Jawab Khanza, lalu meletakkan kantong belanjaan tersebut keatas meja kompor, lalu menuju kamar tamu spesial yang kini ditempati oleh ayah dan ibunya.
"Pa.. Papa.." Ucap Khanza seraya mengetuk pintu kamar Papanya.
Terdengar suara derap langkah kaki seseorang menuju pintu kamar. Lalu terdengar handle pintu dibuka.
Tampak wajah Hanif menyembul dari balik pintu, Ia tampak sedang habis shalat dan berdzikir.
"Maaf, mengganggu Pa, tadi Mama khawatir karena kondisi rumah sepi." ucap Khanza merasa bersalah karena telah mengganggu ibadah Papanya.
"Tidak mengapa, bisa kita bicara didalam kamar..? Ada yang ingin Papa sampaikan." ucap khanif dengan penuh tatapan serius. Khanza tidak pernah melihat keseriusan wajah papanya seperti saat ini.
"Boleh Pa.." jawab Khanza, lalu mengikuti papanya memasuki kamar, dan Hanif mengunci pintu kamar tersebut.
"Duduklah.." ucap Hanif dengan tenang, lalu Ia juga turut duduk dilantai kamar dan saling berhadapan.
Hanif menatap lekat wajah sang Puteranya uang kini sudah mulai tumbuh dewasa. Ada jelas tergambar wajah Rena sang istri tercinta diraut wajah Sang Putera.
Hanif menghela nafasnya dengan sangat berat. "Apakah kamu merasakan sesuatu yang berbeda saat ini..? Seperti kamu merjndukan seseorang tanpa sebab..?" tanya Hanif to the point kepada Khanza.
Pemuda itu tercengang mendengar penuturan dari sang Papa. Bagaimana mungkin papanya mengetahui apa yang kini Ia rasakan. Bahkan perasaan itu telah lama Ia pendam dan Ia berusaha melawannya.
Namun Kahnza mencoba menyembunyikan perasaan aneh yang bersemayam didalam hayinya, sehingga siapapun tak dapat menebak apa yang kini dirasakannya, bahkan sang Pemikat sendiri dibuat penasaran oleh sikapnya.
__ADS_1
"Mengapa Papa bisa tahu apa yang terjadi padaku..?" tanya Khanza penasaran pemuda bahkan belum bercerita kepada siapapun tentang perasaannya.
Hanif hanya tersenyum sahaja mendengar pertanyaan sang Putera yang merasa sangat penasaran.
"Katakan saja, apakah benar apa yang Papa katakan..?" cecar Hanif, agar Puteranya itu berterus terang tentang apa yang kini dialaminya.
Khanza menatap sang Papa dengan pandangan sendu. "Iya, Pa.." jawabnya mencoba jujur dengan kondisinya saat ini.
"Apakah kamu mengenal gadis itu..?" cecar Hanif tak sabar.
"Iya.. Tapi aku tidak mengenalnya secara intens, hanya sebatas mengenalnya saja." jawab Khanza berusaha jujur.
Hanif memandang Sang Putera, yang kini wajahnya dinaungi oleh awan kelabu. Ada sebongkah ikatan ghaib yang kini mencoba mengikat hatinya dengan berbagai daya dan upaya. Tampaknya sang pelaku pemikat Sukma mencoba untuk membuat puteranya tunduk dan patuh.
"coba carikan Papa satu buah jeruk limau, bawakan kepada Papa, sekarang juga.." titah Hanif kepada puteranya.
Khanza mengernyitkan keningnya. " untuk apa Pa..?" tanya Khanza penasaran.
" Nanti akan Papa jelaskan, carikan segera kepada Papa" Pinta Hanif dengan penekanan.
Saat Ia melangkah pergi, Papanya kembali berseru. "Sekalian bawa pisau.." ucap Hanif mengingatkan.
"Iya, Pa.." jawab Khanza dengan singkat, tanpa menoleh kepada Papanya.
Lalu Hanif menyiapkan segelas air putih yang terdapat diatas meja nakas, lalu membawanya keatas sajadahnya yang masih membentang . Pria beruska 40-an tahun itu memejamkan matanya, lalu berkonsentrasi dalam keheningan dan mencoba membaca dzikir sebagai bemtuk permohonan agar doanya dikabulkan.
sementara itu, Khanza menuju dapur, dimana Rena, sang Mama sedang sibuk memasak sup daging kesukaannya.
"Ma..jeruk limau untuk sambal yang Mama beli tadi mana Ma..?" tanya Khanza sembari memeriksa setiap bungkusan belanja sang Mama.
"untuk apa jeruk limau..?" tanya Rena, sembari mengiris sayuran kacang buncis dan wotel yang kini sudah dibersihkannya.
"Papa yang minta Ma.." jawab Khanza, sembari mengobrak-abrik belanjaan sang Mama.
Rena menghentikan kegiatan mengirisnya, lalu menoleh kepada Khanza. "untuk apa sama Papa mu jeruk limau..?" Tanya Rena penasaran. Lalu Ia melihat daging yang sedang direbusnya apakah sudah empuk atau belum.
__ADS_1
"Nah.. Ini dia.." ucap Khanza girang, saat menemukan benda yang dicarinya. "Minta satu ya Ma.." ucap Khanza, lalu beranjak pergi, namun kembali lagi, saat teringat akan pisau yang ketinggalan.
"Ma..pisaunya aku bawa sekalian ya.." ucapnya, lalu menyambar pisau yang sedang tergeletak diatas talenan sang Mama.
"Khanza.. Mama belum selesai memasak.." ucap Rena mengingatkan.
"Bentar saja, Ma.. " jawab Khanza tanpa meeasa bersalah dan terus bergegas cepat menuju kamar tempat Papanya sedang menunggu.
Rena sangat kesal dengan kelakuan Khanza dan juga suaminya yang sangat aneh hari ini.
Katena tak ingin berdebat, akhirnya Rena memilih untuk menglah, lalu mencari pisau cutter untuk melanjutkan memasaknya.
Sementara itu, Khanza sudah berada didepan sang Papa yang tampak begitu konsentrasi dalam menggunakan tasbih ditangannya.
Wajah teduh dan penuh ketenangan itu kini tampak begitu sangat serius.
"Pa.. Ini jeruk limaunya.." ucap Khanza, sembari duduk dan menyerahkan jeruk limau yang diminta sang Papa, lalu duduk disisi kanan papanya.
Hanif menghentikan dzikirnya, lalu menoleh kepada sang putera, dan menerima jeruk limau tersebut.
Setelah itu, Hanif membelah jeruk liamu itu menjadi 4 bagian, mengambil airnya yang dicampur dengan segelas air yang telah dizikirkannya.
Setelah itu, Ia memandang sang Putera semata wayangnya itu. "Jangan sampai terlangkahi.. Bawalah air ini mandi, untuk bilasan terakhirmu, dan sapukan keseluruh wajahmu, dan jangan lupa membaca shalawat sebanyak 3 kali, agar apa yang dinginkan mustazab." ucap Hanif menjelaskan.
Khanza yang masih dalam kebingungan hanya dapat menuruti apa yang diperintahkan oleh papanya.
"Iya..Pa.. "jawab Khanza, sembari mengambil segelas air putih bercampur limau tersebut.
Pemuda itu beranjak bangkit dan ingin pergi dari kamar papanya.
"Setelah selesai mandi, temui Papa.." titah Hanif kepada puteranya itu.
"Baik, Pa.." jawab khanza singkat. lalu keluar dari kamar Papanya dan menuju kamarnya untuk nenjalankan ritual mandi limaunya.
Sementara itu, Rena sudah selesai dengan memasaknya dan menyiapkan menu yang diminta oleh sang puteranya.
__ADS_1