Pemikat Sukma

Pemikat Sukma
pertemuan tanpa sengaja


__ADS_3

Setelah Bernard mengalami kesembuhan, namun Ia kini tidak lagi normal seperti dahulu.


Ia hanya dapat mengurus dirinya sendiri, namun jika untuk bekerja, pola fikiranya tidaklah 100 persen normal, sekitar 85 persen saja.


Namun hal itu sudah menjadi hal yang sangat disyukuri oleh keluarganya.


Safri kembali bekerja, Ia sudah tidak merasakan cemas lagi saat bekerja. Begitu juga dengan Ambar, Ia sudah kembali merajut ulos.


Karena untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mereka haruslah bekerja. Dimana uang kontrakan rumah haruslah dibayar setiap bulannya.


Bernard masih mengurung dirinya di kamar. entah apa yang kini dirasakannya, Ia merindukan seseorang.


Hatinya seperti merasakan kekosongan yang teramat dalam. Ia membuka laci lemari kabinetnya. tanpa sengaja Ia menemukan sebuah foto yang tercetak pada sebuah kertas HVS.


Wajah seorang gadis tepampang disana. "Rena.." ucap lirih, menyebutkan nama satu wanita. itu.


Bernard mencari informasi tentang keberadaan Rena. Ia lalu membuat sebuah akun baru yang mana membuatnya dengan akun fake. Foto profil seorang wanita, lalu alamat yang juga dipalsukan.


Bernard mengirimi permintaan pertemanan, berharap akan diconfirmasi oleh Renna.


Berbekal handphone yang sangat murah, dan tentunya masih bisa berinternet ria, Bernard berhasil mendapatkan confirmasi pertemanan dari Rena.


Setelah akun mereka berteman, maka Bernard dapat mengintai dimana tempat dan keberadaan Rena kini.


Ia membuka semua aktifitas yang dialkukan Rena. Alangkah terkejutnya Ia saat melihat Rena telah memiliki dua orang anak. "jika saja sat itu kita menikah, mungkin anak-anak itu akan menjadi anak kita berdua. " Bernard berguman lirih.


------------


"sayang..Hubby ada pekerjaan di Medan. Kamu ikut gak.? Sekalian berkunjung kerumah ibu." ucap Hanif pada suatu pagi..


"benarkah..? Kalau begitu Ren akan bersiap-siap untuk membawa semua keperluan." jawab Rena dengan bersemangat.


Rena bergegas mempersiapkan segala keperkuan untuk dirinya, dan kekuarganya.


---------------


Setelah menyelesaikan pekerjaan yang dengan koleganya, Hanif bergegas menuju hotel tempat meteka menginap. Hanif membawa Rena menemui paman Rasyid.


Sesampainya dirumah paman Rasyid, mereka melihat jika kondisi kesehatan paman Rasyid makin memburuk. Tubuhnya terlihat sangat kurus.


"apa kabar paman..?" sapa Rena saat memasuki kamar paman Rasyid. Ia membawakan buah tangan kesukaan paman Rasyid, yaitu pisang matang pokok.


Paman Rasyid sangat bahagia saat menerima makanan kesukaannya.


Tampak mata paman Rasyid begitu berbinar menerima pemberian Rena.

__ADS_1


"ayo, Khanza dan Adillah, salam kakek.." pinta Rena kepada kedua bocil menggemaskan itu.


Kedua bocil itu bergantian menyalim paman Rasyid dan tante Marti segara bergantian. Tante Marti ternyata merasa gemas, lalu menciumi kedua pipi gembul para bocil.


Bang Nisar dan kak Ocha juga ikut nimbrung, mereka menciumi bocil itu dengan gemasnya.


Saat akan berpamitan, Rena memberikan amplop berisi uang kepada paman Rasyid. "ini untuk beli apa saja yang paman suka." bisik Rena kepada paman Rasyid. Paman Rasyid tampak sumringah.


"paman mau beli Soto Medan" ucapnya Sumringah. Sepertinya kondisi penyakit paman Rasyid membawa dampak perubahan yang sangat drastis pada dirinya. Paman Rasyid mengalami sedikit kepikunan.


Tubuhnya yang dahulu gagah dan perkasa, kini mulai menyusut dan tampak kendur. Garis-garis ketampanannya mulai tampak menghilang.


Rena menatapnya dengan sedih. "boleh..paman boleh beki apa saja." ucap Rena, tanpa sengaja air matanya mengalir menahan rasa sesak yang tak dapat diungkapkannya.


Semasa hidupnya, paman Rasyid adalah orang yang sangat baik, namun mengapa Ia harus menderita dengan penyakit seperti ini.


Setelah puas berkunjung dirumah paman Rasyid, mereka akan kembali ke hotel. Kak Ocha sudah mempersiapkn kado untuk para bocil yang menggemaskan. Dan hal itu membuat kedua bocil sangat bersemangat dan merasa senang.


Rena juga memberikan buah tangan kepada Ariel anak kak Ocha.


"terimakasih ya tante.." Rena mengajari kedua bocilnya untuk mengucapkan terimakasih saat menwrima pemberian dari orang lain.


"makacih ante" kedua bocah itu mengikuti ucapan Rena.


--------


mereka berangkat sangat pagi sekali, sehingga sampai di perkebunan itu tidak terlalu siang.


Daun teh membentang sepanjang mata memandang, disana tampak begitu asri. Suasana yang memanjakan mata.


Rena dan kedua bocilnya tampak sangat antusias. Hanif diam-diam memotret istrinya saat melihat momen kebahagiaan itu.


Bagi Hanif, menyenangkan hati istri dan anak-anaknya adalah sebuah ibadah. Ia juga berselfie ria bersama kekuarga kecilnya.


Perlakuan Hanif terhadap Rena, membuat banyaak mata memandang. Mereka merasa, jika Hanif adalah sosok pria idaman semua para wanita.


Sikap romantis Hanif terhadap Rena, merupakan pemandangan yang sangat memanjakan mata.


Sepasang mata memperhatikan momen meteka dari kejauhan. Sesosok Pria berbadan kecil dan buruk rupa, sedang memperhatikan mereka.


"Rena.. Ternyata setelah menikah, tubuhmu tetap seperti dahulu. Tetap langsing dan tentunya semakin menggoda." guman lirih seorang pria.


Pria itu juga sedang berlibur. Kelurganya mengajaknya liburan untuk memberikan refreshing kepada kesehatannya yang selama ini sedikit terganggu. Namun siapa sangka, langkah mereka ternyata sama dengan orang Rena.


Pria itu adalah Bernard, Ia melangkah mendekati Rena. Ia memperhatikan momen kebahagiaan Rena. Inhin rasanya Ia menyapa wanita itu. Namun hatinya menciut ketika melihat ketampanan Hanif.

__ADS_1


Bernrd menggunakan jaket hoddie, Ia terus memperhatikan Rena yang sedang berselfie ria bersama Hanif.


Hingga tanpa sadar, Adillah terlepas dari pengawasan mereka.


Adillah berjalan kesana kemari, bermain dengan djnia sendiri. Lalu Ia mendekati Bernard yang sedang mematung memperhatikan Rena.


bocah itu menghampiri Bernard. Ia tersenyum dan mengajak Bernard bermain.


Setelah puas berselfie. Rena tersadar jika Adillah telah menghilang. Seketika Rena panik. "bby.. Adillah kemana ?" keduanya saling tatap dan tersentak. Mereka lalu mengedarkan pandangannya kesegala arah, mencari keberadaan Adilah.


Perasaan kalut menghampiri keduanya. "bby, tolong bawakan troli bayi ini, Ren akan mencari Adilah.


Rena menyibak kerumunan para pengunjung. tampak dari kejauhan Adilah sedang bermain dengan orang Asing. Rena segera menghampirinya dengan sedikit berlari. Setelah dekat jaraknya, Rena segera menyambar tubuh mungil Adilah.


Lalu menciumi bocah yang sempat hilang tersebut. Tanpa sadar, Bernard mendekati Rena.


"hai..apa kabar..?" sapa Bernard.


Seketika Rena tersentak mendengar suara tersebut. Suara yang sangat Ia kenal dan sudah Ia lupakan selama ini.


Ia menoleh ke arah orang yang menyapanya.


Matanya seketika membulat, "haaah.. Ka..kamu.." ucap Rena terkejut.


"apa kabarmu.." sapa Bernard lagi dengan senyum termanisnya.


"ba..baik.." jawab Rena. Lalu dengan perasaan yang sangat ketakutan, Rena berjalan dengan tergesah-gesah sembari menggendong Adilah.


Rena merasakan ketakutan yang sangat luar biasa. Ia menghampiri Hanif.


"dahnketemu Adilah syang" ucap Hanif saat melihat Rena menggendong Adilah. Ia merasa lega, saat melihat Adillah ditemukan.


"bby..kita pergi dari tempat ini sekarang.." ucap Rena dengan wajah yang sangat pucat. Layaknya melihat hanyu disiang bolong, Ia begitu amat ketakutannya.


"kenapa buru-buru sayang.." ucap Hanif lembut.


"pokoknya kita pergi sekarang" ucap Rena dengan sedikit memaksa. Hanif merasa mungkin istrinya itu ketakutan karena baru kehilangan anaknya.


"iya sayang.. Kita pergi dari tempat ini." ucap Hanif lembut. Semabari mendorong troli bayk.


Saat didalam mobil, Rena terlihat diam saja. Sepertinya Ia trauma dengan pertemuan tanpa sengaja tadi.


~setiap penyakit yang dikirim Allah kepada hamba-Nya, adalah sebagai bentuk penggugur dosa, jika hamba itu bersabar.~


~doa orang yang dalam kondisi tertimpa penyakit, akan dikabulkan, maka berdoalah ketika dalam kondisi sakit~

__ADS_1


~Terkadang hal kecil yang kita berikan kepada seseorang dapat memberikan kebahagiaan kepada orang tersebut. bukan tentang seberapa harganya, dan mungkin orang tersebut dapat membelinya dalam jumlah banyak, namun berbeda dengan apa yang kita beri, karena disana ada nilai sikap kepedulian kita.~


__ADS_2