
Nisar menuruni anak tangga dengan tergesah-gesah. Ia menghampiri kamar Rena. [tok...tok..tok..] " Ren... Rena.. buka pintunya bentar.." ucap Nisar dengan nada khawatir.
Rena membuka pintu, "ada apa bang?" wajahnya kusut karena belajar seharian untuk mempersiapkan sidang skripsinya.
"tolong kamu kemasin baju papa ya, baju mama juga jangan lupa ya Ren.." ucap Nisar dengan nada sedikit perintah.
"emangnya ada apa bang?" ucap Rena penasaran.
"nanti abang jelasin..kamu persiapkan saja dulu yang abang minta. ini kunci kamar papa ya.." ucap Nisar sembari menyerahkan kunci kamar dan berlalu dari kamar Rena dengan tergesa-gesa.
Rena menuruti perintah bang Nisar, namun hatinya sedikit bimbang. "apa sebenarnya yang sedang terjadi?" Rena berguman dalam hatinya, dengan berbagai juta tanya.
setelah mengemasi semua pakaian dalam koper, Rena beranjak ingin ke luar kamar. namun Ia tertuju pada lembar kertas di atas nakas. "apa ini? mengapa surat berlian ini ada di atas nakas?" Rena melihat surat berlian beserta cincin milik paman Rasyid yang berhias butiran berlian diatasnya, dengan harga mencapa 500 juta tergeletak begitu saja diatas nakas.
Rena membiarkan saja tanpa menyentuhnya. namun Ia berfikir, apa sebenarnya yang sedang terjadi.
saat akan berbalik hendak keluar dari kamar, Nisar muncul dengan tiba-tiba sembari menelefon seseorang. lalu Ia menatap Rena. "Ren, ada liat cincin berlian papa dikamar?" ucap Nisar kepada Rena dengan wajah gelisah.
"ada bang, yang inikah?" ucap Rena sembari meraih cincin tersebut.
Nisar mengangguk."iya..benar yang itu. tolong bawa kemari" ucap Nisar
Rena beranjak dari tempatnya dan memberikan cincin berlian tersebut. "ada apa sebenarnya bang..?" ucap Rena dengan perasaan cemas.
"papa divonis gagal ginjal Ren.." suara bang Nisar tercekat, lalu bulir kristal mengalir dipipinya.
"abang mau jual cincin berlian papa buat perobatan, karena malam ini penerbangan papa dari Penang-Medan akan sampai dibandara Polonia. (tahun 2011 bandara Medan masih Polonia ya pemirsah, tahun 2013 baru berpindah ke kualanamu, bandara yang bertaraf internasional.)
__ADS_1
"a...apa bang? sejak kapan paman Rasyid twrkena gagal ginjal?" ucap Rena dengan nada sedih.
"sejak 3 bulan yang lalu, sebab itu papa berada terus di Penang, untuk perawatan. selama disana papa cuci darah, menghabiskan banyak biaya. mobil milik papa juga sudah dijual satu untuk biaya perawatan disana."ucap bang Nisar lirih.
"mengapa Rena tidak tahu bang?" ucap Rena sedih.
"saat itu kondisi kamu juga sedang tidak baik. makanya kami merahasiakannya dari kamu." ucap bang Nisar lirih..
Rena menangis pilu mendapati kabar yang sangat memilukan hatinya. Ia tak memyangkan jika abang sepupunya begitu banyak mengalami masalah. bahkan masalah hidupnya juga. Rena merasa menjadi beban bagi Nisar."maafin Rena yang sudah membuat abang begitu sulit" ucap Rena dalam tersedu.
"kamu tidak salah apa-apa, ini memang takdir yang harus kita jalani. semoga ada hikmah dibalik ini semua. "ucap bang Nisar sembari mengacak rambut Rena.
"ayo kita jemput papa dan mama dibandara, kamu berangkat dengan supir, abang mau menjual berlian ini dahulu kepada colektor yang akan membayar mahal." ucap bang Nisar.
"nanti kamu langsung bawa papa dan mama ke rumah sakit Columbia Asia Medan, setelah menjual berlian ini abang akan mengurus administrasinya." ucap bang Nisar menjelaskan.
Rena bergegas membawa koper berisi pakaian, dan menemui supir, lalu menuju bandara untuk menjemput paman Rasyid. sepanjang perjalanan Rena menangis. Ia tak pernah membayangkan jika pamannya yang terlihat baik-baik saja ternyata kini menjadi pesakitan.
"akankah aku menjadi bebannya?" sedangkan biaya perawatan paman selama cuci darah di Penang saja bang Nisar sampai menjual satu mobil milik paman. kini tersisa 3 mobil lagi. dan tadi cincin berlian Paman Rasyid juga ikut dijual" ucap Rena dalam hatinya. Ia begitu perih.
masalah hidupnya baru saja selesai, kini sudah datang masalah yang lebih pelik lagi, bahkan saat sebelum Rena sadar dari pengaruh sihir Bernard sejak 3 bulan yang lalu.
"pantas saja paman Rasyid berada terus dipenang tidak pulang-pulang, ternyata menjalani cuci darah?." ucap Rena lirih.
Rena sampai dibandara Polonia, Ia dan supir sudah menunggu kedatangan pesawat diarea parkir. Rena menunggu dengan hati berdebar dan sedih.
__ADS_1
setelah pesawat mendarat, Rena melihat pamannya berada dikursi roda, didorong oleh tante Marti. Rena menghambur mendatangi paman Rasyid, Dengan refleks Ia mencium pamannya dan menangis. Pamannya yang gagah kini duduk lemah dikursi roda.
Rena menggantikan mendorong kursi roda. mereka menuju mobil yang ada diparkiran.
****
mereka sampai di RS columbia Asia Medan, Nisar telah menunggu disana. Ia telah mengurus semua administrasi. paman Rasyid segera dibawa keruangan pasien, Ia sedang menunggu antrian untuk melakukan cuci darah. setelah giliran antrian, kini paman Rasuid akan menjalani cuci darahnya. Ia dibawa keruangan khusus.
Rena mengikuti paman Rasyid, Ia ingin melihat bagaimana proses cuci darah (hemodialisis) tersebut. Ia begitu terhiris hatinya, melihat pamannya berbaring dengan selang ditangan yang terhubung dengan mesin yang disebut Dialisis.
hati Rena hancur, Ia menangis membayangkan kehidupan pamannya yang begitu miris.
bahkan pamannya dianjurkan cuci darah sebanyak 3 kali dalam seminggu. pamannya juga harus melakukan diet serta pembatasan cairan, yaitu air minum yang ditakar dengan gelas takar.
Rena mendekati tante Marti, Ia terlihat seperti lelah, mungkin menjaga paman Rashid seorang diri selama 3 bulan dinegeri orang sangatlah sulit. apalagi tante Marti juga sudah berusia tidak muda lagi.
"tante...mengapa paman tidak cangkok ginjal saja? jika melakukan cangkok, kemungkinan paman untuk sembuh lebih besar." ucap Rena dengan hati-hati.
tante Marti menghela nafasnya dengan berat. "bukan tante tidak mau cangkok ginjal untuk pamanmu, tetapi..." ucapan tante Marti terjeda sesaat.
"stok ginjal berasal dari luar negeri, kita tidak pernah tahu itu ginjal siapa bukan? ada nyawa yang berkorban demi untuk menyelamatkan nyawa lain." ucap tante Marti dengan pandangan menerawang.
"biarlah tante berkorban uang untuk pamanmu melakukan cuci darah setiap 2 hari sekali, akan ada rezeki yang datang untuk pamanmu. jika sudah menjadi suratan takdir, kita harus terima." ucap tante Marti berusaha tegar.
"bukankah setiap penyakit yang diberi Allah kepada hamba-Nya adalah bentuk penghapus dosa-dosa kita?" ucap tante Marti lagi, sembari menatap Rena dengan senyum yang dipaksa untuk kuat.
Rena mengangguk, lalu memeluk tante Marti erat.
__ADS_1