
Setelah Rena merengek meminta pulang dari kebun Teh Damanik.
Hanif memutuskan untuk kembali ke hotel. Mungkin tiga hari lagi mereka akan melanjutkan kembali pulang ke Pekanbaru dengan menggunakan pesawat melalaui bandara Kualanamu-Medan.
Rena seperti tidak bersemangat setelah pertemuannya dengan Bernard. Rasa takut yang dahulu pernah Ia alami begitu sangat mengganggunya.
Setelah sampai dihotel. Ia langsung membersihkan dirinya dan kedua buah hatinya.
Dihari ini mereka akan mengunjungi Munah ibunya Rena. Perjalanan kali ini membuat wajah Rena sumringah. Ia sudah lama sekali ingin pulang kampung, dan hal ini sangat dinantikannya.
"ibu..." teriak Rena sembari menghamburkan dirinya kepelukan Munah. Rasa rindu itu begitu menggebu. Setelah puas menciumi ibunya, Rena memberikan oleh-oleh bingka Ambon, makanan khas Medan yang menjadi favorit Munah, ibunya.
Toni langsung menemani dua bocil itu bermain. Kedua ponakannya itu langsung menjadi lengket saat saat berdekatan dengan Toni.
Hanif yang kelelahan menyetir langsung tepar diruangan tengah. Melihat hal tersebut, Muna buru-buru mengambilkan bantal untuk sang menantu laki-laki satunya. Tentunya bantal tersebut tanpa ada iler yang tertempel.
Munah sibuk memasak dan mempersiapkan segalanya dalam menyambut kehadiran Rena. Ia memasak masakan kesukaan Rena, seperti Arsik ikan Mas dan lainnya. Munah memasak dengan sangat bersemangat.
~sambutlah tamumu dengan ramah dan baik. Karena setiap Tamu yang datang membawa keberkahan.~
~ketika jam makan tiba, berilah tamumu itu makan dan minum semampumu, jangan biarkan mereka pulang dengan kedaan perut kosong~
~Adab bertamu itu juga ada, batas menginap adalah 3 malam, dan janganlah menyusahkan tuan rumah hingga tidak ada lagi yang harus untuk dimasak.~
Setelah selesai memasak, mereka membangunkan Hanif, lalu makan bersama-sama. Hanif memandang Munah sepertinya kurang sehat. Wanita itu terlihat sangat lelah.
"mungkin karena aku telah menculik anak perempuannya, hingga akhirnya ibu mertua mengerjakan semua pekerjaannya sendiri.." Hanif berguman lirih dalam hatinya.
Mereka memutuskan menginap satu malam dirumah Munah, karena Hanif juga harus kembali bekerja.
Toni mengajak mereka berjalan-jalan ke air terjun yang berada tak jauh dari rumah mereka.
Tentu hal ini membuat Hanif merasa senang. Perjalanan ke air terjun hanya memakan waktu 5 menit saja dari rumah.
Air terjunnya rendah, dasarnya juga tidak dalam, terbentuk seperti kolam renang.
Setelah puas mandi dibawah air terjun, mereka pulang kerumah.
Esok harinya, Rena bersiap-siap hendak pulang. Toni membawakan buah Matoa, buah unik dari tanah Papua yang kini tersebar diseluruh wilayah Indonesia berkat program menanam seribu pohon pada masa pemerintahan SBY.
Buah itu memiliki daging buah seperti lengkeng, namun rasanya All variant. Ada rasa durian, rambutan, dan juga lengkeng. Sungguh buah yang unik.
__ADS_1
Buah ini sudah sangat digemari Rena sejak kehadirannya didesa mereka. Dan tentunya Hanif yang baru mencoba merasakan keunikannya. Bahkan Ia berniat menanamnya untuk dijadikan lahan bisnis. (Dasar Hanif, nampak sesuatu langsung diolah jadi bisnis)
Mereka berpamitan pulang. Tanpa sepengetahuan Rena, Hanif memberikan Munah sang ibu mertua amplop berisikan uang yang dalam jumlah yang banyak dengan secara diam-diam. "ini untuk ibu, jangan terlalu banyak bekerja, nanti ibu kecapekan. Jaga kesehatan ya" ucapnya dengan lembut, sembari mencium punggung tangan ibu mertua.
~mertua adalah Mahram kita, meskipun kita bercerai dengan pasangan kita, namun tidak ada mantan mertua, wudhu kita tetap tidak batal jika bersentuhan, dan diharamkan menikah dengn mantan mertua. Karena mantan pasangan suami istri ada, tetapi mantan mertua itu tidak ada.~
Munah yang merasakan amplop itu sangat tebal, Ia terperangah, Ia memastikan jumlahnya sangat banyak. "terimakasih nak Hanif, tetapi apakah ini tidak terlau banyak..?" ucap Munah berkaca-kaca. Netra matanya hendak menjatuhkan bulir bening karena merasa beruntung memiliki menantu seperti Hanif.
"ini tidak sepadan dengan jasa ibu yang telah mengandung Rena dan membesarkannya, sedangkan saya mengambilnya dari ibu ketika Rena telah menjadi dewasa. Terimakasih telah memberikan anak perempuan ibu untuk menjadi istriku." jawab Hanif dengan tulus.
Munah memeluk anak menantunya dengan haru. Ia serasa memiliki seorang anak laki-laki tambahan.
setelah selesai berpamitan, Hanif melanjutkan perjalanan ke medan. Sungguh melelahkan, namun Ia lakukan dengan senang dan ikhlas.
Sebelum kembali pulang, Hanif mengajak Rena berpamitan kepada Amy dan keluarganya. Pertemuan keduanya begitu mengharu biru.
Dua sahabat yang sudah lama tak bertemu itu langsung berpelukan melepas rindu.
Amy sedang mengandung calon sang buah hatinya. Ia lebih terlihat berisi selama mengandung.
Setelah puas saling melepaskan kerinduan. Rena berpamitan pada Amy dan keluarganya.
Lalu Hanif membawa Rena kerumah paman Rasyid untuk berpamitan.
Mereka memasuki kamar paman Rasyid, saat menatap paman Rasyid, Hanif tiba-tiba saja berdegub kencang jantungnya.
"Astaghfirullah haladzhim." Hanif berguman lirih hatinya.
Rena menyalim paman Rasyid dan tante Marti. Begitu juga dengan para bocil yang ikut menyalim .
Hanif menghampiri paman Rasyid ada perasan yang tidak baik didalam hati Hanif.
Ia memeluk paman Rasyid, tanpa kata apapun.
Sepanjang perjalanan ke bandara, Hanif hanya diam saja. Rena menjadi sangat khawatir.
"sayang.. Kalau kamu mau tinggal dirumah paman Rasyid untuk beberapa hari Hubby mengijinkan." ucap Hanif tiba- tiba sembari terus fokus menyetir.
"maksud kamu apa bby..?" ucap Rena bingung.
Hanif diam, lalu menghela nafasnya dengan berat. "beberapa waktu yang lalu hubby ada bermimpi, jika dirumah paman Rasyid sedang menggelar hajatan." Hanif menjeda ucapannnya.
"dan tadi Hubby melihat jika tanda-tanda itu itu sudah dekat." ucap Hanif lirih.
Rena semakin bingung dengan segala ucapan Hanif, suaminya. "maksud kamu apa si Bby..?" tanya Rena dengan penasaran.
__ADS_1
"Hubby takut kamu menyesal dan semuanya terlambat." jawab Hanif menegaskan.
Rena semakin bingung dengan sikap Hanif suaminya. "jadi Ren harus bagaimana..? Kalau tinggal dengan dua baby itu repot bby dirumah orang. Lagi pula pula mimpi itu hanya bunga tidur.." ucap Rena dengan lirih
Hanif terus menyetir, hingga akhirnya sampai dibandara. "mau tinggal disini beberapa hari atau ikut pulang..?" Hanif bertanya sekali lagi.
"ikut pulang.." jawab Rena singkat.
Hanif menghela nafas. Ia sedang tidak ingin berdebat kepada Rena, karena Ia sudah mengenali watak istrinya yang sedikit keras kepala, maka Hanif harus extra sabar menghadapinya.
~wanita itu terbuat dari tulang rusuk yang bengkok disebelah atas dekat dengan hati. Maka mendidiknya harus sabar. Jika dipaksa meluruskannya akan patah, jika dibiarkan akan tetap bengkok, maka yang dibutuhkan adalah kesabaran dan terus mengingatkannya tanpa lelah.~
Karena Rena tetap kekeh ingin ikut pulang ke pekanbaru, maka Hanif menurutinya. meskipun hatinya merasakan firasat buruk akan terjadi.
Mereka tiba di Pekanbaru pada siang hari. Rasa lelah membuat mereka terkapar diranjang. Baby sister mengambil alih mengasuh dua bocil. Rena dan Hanif tertidur pulas.
Satu jam tertidur pulas, Rena dikejutkan dengan panggilan masuk dari nomor Toni.
"hallo kak.. Assalammuaikum. " ucap Toni dengan suara panik.
"waalaikum salam, Dik." jawab Rena parau dengan karena baru bangun tidur.
"kakak masih di Medan atau sudah balik ke Pekanbaru..?" cecar Toni dengan suara penuh cemas.
"batu sampai sejam yang lalu, ada apa dik..?" tanya Rena dengan memaksakan matanya agar terbuka.
"Paman Rasyid meninggal kak.. Setengah jam yang lalu." ucap Toni lemah.
"a..apa..? Innalillahi wa inna ilaihi raji'un.." jawab Rena spontan, air matanya mengalir deras, suaranya tersedu dan tercekat ditenggorokannya.
Suara tangisan Rena mebangunkan Hanif. Ia mengucek matanya. "ada apa sayang...?" tanya Hanif dengan suara lemah karena bangun tidur.
Rena menatap Hanif. "apakah maksud yang dikatakan Hubby itu adalah paman Rasyid akan pergi..?" ucap Rena lirih.
"innallillahi wa inna ilaihi raji'un.." ucap Hanif, lalu bangkit dan memeluk Rena.
Ia mencoba menenangkan Rena, Ia juga tak ingin membuat Rena merasa bersalah atas semua ini.
"lalu bagaimana.? Apakah kita harus kembali ke Medan lagi..?" jawab Hanif lembut.
Rena kebingungan, karena mereka juga baru sampai dan rasa lelah itu masih mendera. Apalagi para bocil.
"Ren harus pulang, Ren ingin melihat paman Rasyid untuk yang terakhir kalinya." pinta Rena merengek.
Hanif berfikir keras mencari caranya. Ke bandara saja membutuhkan waktu 1 jam. Namun Ia juga tidak ingin mengecewakan permintaan istrinya.
"tinggalkan Khanza dan Adillah dirumah, biar mama dan baby sister yang mengurusnya untuk sementara waktu. Karena jika mereka ikut akan sangat melelahkan bagi mereka." Hanif mencoba mencari solusinya.
__ADS_1
Kali ini Rena tak mampu membantah perkataan Hanif. lalu mereka kembali bergegas menuju bandara, dan mengantarkan Rena untuk kembali ke Medan. Hanif tidak ikut, karena ada hal penting yang tidak dapat ditinggalkannya. Rena berangkat sendiri.