Pemikat Sukma

Pemikat Sukma
Bertemunya Dua Hati


__ADS_3

Rena kini tak lagi menjadi gadis yang pemurung. perkenalannya dengan Hanif melalui via sms dan telefonan membuatnya selalu berbunga.


hari-harinya dilalui dengan hati yang bahagia. Hanif begitu mampu menyentuh hatinya. ruang kosong dihatinya, kini telah terisi sebuah nama, yaitu 'Hanif'.


suara lembut pria itu mampu menghipnotis Rena. Ia seperti tersanjung setiap saat.


"seperti apa ya wajah Hanif..? jika nantinya seperti Bernard gimana..? ah..sudahlah.. yang penting aku akan terima Ia apa adanya. jikapun wajahnya tak setampan Rehan dan Ridwan, namun Ia sudah mencuri hatiku." ucap Rena lirih. Ia begitu sumringah senyum manis tak lepas dari bibirnya.


Rena pernah meminta akun media sosial Facebok Hanif, namun pria itu mengatakan jika Ia tak memiliki akun media sosial. karena Hanif begitu sibuk dengan pekerjaannya, sehingga tidak begitu mengikuti perkembangan media sosial.


saat Rena asyik dengan khyalannya, dan tiba-tiba Handphonenya berdering.


[kriiiiiiing......]...satu panggilan masuk dengan nama "Hai". Rena dengan bergegas mengangkat panggilan telefon itu.


"Hai..Rena..sedang apa kamu..?" ucap Hanif dengan lembutnya. membuat hati Rena meleleh. mendengar suaranya saja mampu membuat Rena tersenyum bahagia. Rena tak mampu melukiskan perasaannya saat ini.


Rena dengan debaran dihati yang tak menentu mencoba menjawab Hanif." emmm..lagi santai saja koq.. kamu sedang apa..?" ucap Rena dengan senyum yang terus terkembang.


"lagi waktu istirahat, jadi aku teringat kamu, makanya aku coba telfon" ucap Hanif dengan penuh ketulusan. Rena yang mendengarnya merasa hampir copot jantungnya. Ia terlonjak kegirangan. seperti memenangkan sebuah jackpot.


Rena merasa dirinya begitu spesial bagi pria ini. sampai waktu istirahat pria kenalannya itu digunakan untuk menelfonnya. baru kali ini Rena merasakan dirinya begitu berarti dalam hidup seorang pria.


"ih..gombal.." ucap Rena manja..


terdengar Hanif tertawa renyah. "apakah aku terlihat seperti orang yang sedang menggombal? hai gerangan yang sudah mengusik hatiku..?" ucap Hanif dengan penuh kelembutan.


Rena semakin sesak dadanya, seperti sulit bernafas. bukan karena terkena sesak nafas, tetapi karena kata-kata Hanif yang begitu membiusnya.


Rena tak mampu menyembunyikan rasa bahagianya, hatinya seakan berlonjak kegirangan.


Rena terdiam sesaat, tak mampu menjawab pertanyaan Hanif, namun yang pastinya, kata-kata Hanif barusan begitu mengena dihatinya.


"Ren..masih adakah kamu disana..?" Hanif mencoba bertanya, karena tak ada suara apapun dari Rena. Rena membisu.


"iya...aku masih disini" ucap Rena dengan lirih.


"Ren...aku ingin memberitahumu..jadwal keberangkatanku ke Medan dimajukan lebih cepat. esok aku berangkat menggunakan pesawat." ucap Hanif memberitahu Rena.


"aa...apa..? benarkah..?" ucap Rena, sembari membekap mulutnya. Ia tak percaya jika akan segera bertemu dengan pria yang membuatnya berbunga-bunga.


Hanif menghela nafasnya. "iya..apakah kamu bersedia menemuiku saat aku berada di Medan nanti?" ucap Hanif penuh harap.


"i..iyaa..aku akan menemuimu.." ucap Rena meluncur begitu saja.


"terimakasih.. sudah dulu ya, ada pekerjaan yang akan aku selesaikan, untuk persiapan keberangkatan esok." ucap Hanif dengan nada selembut mungkin.


"iya...aku menunggu kedatanganmu.." ucap Rena dengan penuh semangat.


Hanif terkekeh mendengar ucapan Rena yang begitu bersemangat.


"terimakasih Hai pencuri Hati..Miss U.." ucap Hanif yang semakin membuat Rena klepek..klepek..


Rena terperangah mendengar ucapan Hanif barusan..lalu sambungan telefon berakhir.


"Miss U to.." ucap Rena meski mengetahui telefon telah berakhir..


Ia beranjak ke ranjang tidurnya, lalu berguling-guling diatas kasur, memeluk guling dengan erat, karena Ia merasa sangat bahagia hari ini. Ia tak sabar akan bertemu pria yang telah mencuri hatinya.


****


setelah sambungan telefonnya dengan Rena berakhir, Hanif menelefon sekretarisnya, untuk mempersiapkan keberangkatannya hari ini. Ia akan membuat kejutan untuk gadis yang telah mencuri hatinya. gadis yang sudah membuat tak nyenyak tidurnya.

__ADS_1


Hanif bergegas ke Bandara Internasional Sultan Syarif Kasim II, Pekan Baru.


Ia melakukan rute penerbangan Domestik, Pekan Baru-Medan. Ia sudah mempersiapkan segala dokumen yang akan dipresentasekan pada kliennya saat meeting di Medan nanti.


namun sebenarnya jadwal meeting itu masih ada 3 hari lagi. namun entah mengapa, kehadiran Rena mengusik hatinya, dan membuatnya sedikit tidak fokus pada pekerjaannya. Ia begitu penasaran.


pesawat melakukan Take off dan mengudara.


***


setelah menempuh perjalanan 1 jam 30 menit, Hanif telah sampai di Bandara Polonia, Medan. Ia bergegas menuju Hotel yang sudah dipersiapkan oleh sekrerarisnya. seseorang telah menjemputnya dan mengatarkan ke hotel.


Sebuah Hotel bintang 5 dengan segala fasilitas yang mewah untuk kamar type suite. Hanif sampai digedung Madani Syariah Hotel. setelah menemui receptionis, Hanif menuju kamarnya dilantai 4 menggunakan lift.


Ia membuka pintu kamar dengan menggunakan electronik card dengan cara digesekkan pada sistem yang sudah tersedia. setelah memasuki kamar, Ia menuju kamar mandi dan membersihkan diri. lalu menyalin pakaiannya dengan pakaian casual. Ia merebahkan tubuhnya,


hari mulai senja, lalu Ia meraih handphonenya, dan mencari sebuah nomor, dengan Nama ' Pencuri Hati'.


Hanif mengiriminya sebuah pesan ."Hai...Rena.. jika kamu ada waktu..maukah kau menemuiku malam ini? di lobi Hotel Madani Syariah Medan. jika kamu bersedia, balaslah pesanku. lalu Hanif mengirimkan pesan itu. setelah mengirimkan pesan kepada Rena, matanya menerawang jauh.. ada sesuatu yang sedang difikirkannya.


****


Rena membuka satu pesan masuk. Ia terperangah membaca pesan itu. "bukankah beberapa jam yang lalu Hanif menelefonnya, dan mengatakan dua hari lagi akan berangkat dari Pekan Baru..? tetapi mengapa tiba-tiba sudah sampai di hotel Madani..?" Rena bingung dan bimbang, apakah Hanif hanya sekedar bercanda untuk menggodanya.


Rena dengan cepat membalas "bohong deh.." ucap Rena penasaran. laku Hanif membalasnya "apakah aku terlihat seperti orang yang sedang berbohong..? jika kamu bersedia menemuiku, aku menunggumu" balas Hanif.


Rena bingung antara percaya atau tidak. tetapi rasa penasaran membuatnya memaksa agar Ia menemui Hanif.


"baiklah, aku akan menemuimu, namun jika ternyata kamu berbohong, aku pastikan aku tidak akan pernah ingin mengenalmu lagi." balas Rena.


lalu Hanif membalas pesan Rena. "baiklah, hai pencuri hatiku, jika aku berbohong aku akan menerima hukuman darimu." jawaban yang begitu melelehkan hati Rena.


"ok..aku menunggumu.. miss U.." ucap Hanif, mengakhiri sambungan telefonnya.


Rena melompat-lompat kegirangan. siapa sangka Ia akan bertemu pria yang sudah membuat hatinya meleleh dalam hitungan hari saja.


Ia bingung harus mengenakan pakaian apa. hatinya yang terlalu bahagia sampai bingung mencari pakaiannya. akhirnya pilihannya jatuh pada midi dress bianca, menggunakan kerah shanghai, berlengan pendek. motif bergaris putih, dengan warna dasar pink peach.


Ia memadukannya dengan sepatu casual berwarna putih, berdandan seadanya, lips gloss berwarna pink muda, dengan memoleskan bedak padat kewajahnya. lalu rambut panjangnya digerai begitu saja, dan menggunakan jepit rambut diatas pony disisi bagian sebelah kanan.


Ia meminta ijin kepada Nisar yang sedang makan malam bersama kak Ocha dimeja makan, dengan alasan ingin membeli buku.


setelah mendapatkan ijin, Ia bergegas menuju jalanan kompleks. lalu sampai dijalan utama, mencari abang betor yang melintas dijalanan.


~jika pemirsa bertanya mengapa Rena selalu menggunakan Betor bukan naik motor dalam berpergian, itu karena Rena tidak tau caranya naik motor.~


Rena meminta abang betor mengantarnya ke Madani Hotel. sesampainya Ia di lobi Hotel, Ia menghubungi Hanif, bahwa Ia telah sampai di lobi.


hatinya terus bertanya-tanya.. seperti apa wujud asli pemilik suara lembut itu.


"jika Ia sejelek Bernard gimana ya..?" ucap Rena penuh kebimbangan. hatinya gelisah. menanti kedatangan sipemilik suara nan syahdu.


Ia memandangi setiap tamu hotel yang lalu lalang keluar masuk melintasi lobi. Ia memandang kesegala arah, mencari orang yang sedang dinantikannya.


lalu handphonenya berdering, satu panggilan masuk dari pemilik nama "Hai", jantungnya berdetak kencang, Ia tak mengangkat panggilan itu, tetapi sibuk mencari siapa yang sedang menelefonnya.


dari kejauhan, Ia melihat seorang pria tampan sedang melakukan panggilan. pria itu berambut rapi, berhidung mancung, dengan wajah bersahaja.


pria itu menggunakan kaos casual berwarna putih, celana setengah lutut, dengan sendal jepit yang terbuat dari kulit. sesaat Rena mengangkat panggilan telefonnya, memastikan apakah benar pria itu Hanif yang sesuai dugaannya.


saat telefon diangkat, Rena bangkit dari duduknya, lalu terperangah memandang pria yang Ia duga Hanif karena telefon itu tersambung.

__ADS_1


Rena seakan tak percaya, jika Hanif diluar dari ekspektasinya. jika Ridwan dan Rehan tampan, maka Hanif dua kali lebih tampan dari keduanya.


Hanif mengedarkan pandangannya. "haa..lo.." lalu mata mereka beradu dari kejauhan. merasakan debaran hati yang memburu. saat Rena masih dalam ketercengangannya, Hanif melemparkan senyum yang begitu manisnya. membuat detak jantung Rena semakin memburu.


Hanif melangkah dengan begitu gagahnya, tubuh tinggi kekar dengan perut sixpacknya, menambah pesonanya saat berjalan.


Rena mengerjapkan matanya, mencoba menyadarkannya jika ini bukan mimpi semata. ketika Hanif semakin mendekat, Rasanya Rena pengen pingsan saja, tak mampu memandang wajah tampan dihadapannya.


"hai...Rena..kan?" kata 'Hai' yang selalu Ia dengar dan menjadi ciri khas Hanif.


Rena hanya mengangguk dengan tubuh gemetar. ada rasa sedikit berkecil hati berhadapan dengan Hanif. Ia hanya seorang gadis desa dengan paras yang juga terbilang manis, bukan cantik. bahkan dengan pekerja receptionist hotel saja Ia kalah cantik.


lalu, apakah Hanif akan menerimanya dengan tulus. namun Ia akui, Ia menyukai Hanif sejak pertama kali mendengar suara Hanif, saat menelefonnya untuk pertama kali.


"Hai..aku..Hanif.." ucap Hanif sembari mengulurkan tangannya untuk berkenalan secara tatap muka.


Rena mengulurkan tangannya, menyambut tangan Hanif. "Re..Re..na" ucap Rena gugup. suara lembut itu, dengan tatapan teduh dan senyum manis dari bibir sensual Hanif, membuat Rena terpesona.


Rena membisu, lalu Hanif melambaikan tangannya seperti seseorang yang melakukan dada didepan wajah Rena.


Rena tersadar dari lamunannya. lalu mengerjapkan matanya, dan sikap tergagap.


Hanif tersenyum manis melihat tingkah Rena.


"apakah kamu tidak ingin membawaku berjalan-jalan menikamati suasana keindahan suasana malam kota ini..? " ucap Hanif dengan lembut.


"emmm...iya..iya.." ucap Rena kikuk..


"kalau begitu tunggu apalagi..?" ucap Hanif segera beranjak ingin melangkah. namun Ia menghentikan langkahnya, karena tak mendapati Rena mengikutinya. Rena berdiri mematung ditempatnya.


Hanif terkekeh melihat tingkah Rena. "hai...nona..apakah kau berfikir aku akan menculikmu..?" ucap Hanif bercanda.


Rena masih salah tingkah, namun Hanif melakukan tindakan yang tak pernah dibayangkan Rena sebelumnya. Hanif meraih pergelangan tangan ramping milik Rena, lalu membawanya berjalan keluar hotel. Sepanjang perjalanan Rena tak hentinya menatap wajah tampan milik Hanif.


tubuhnya terasa panas dingin. tak tahu harus berkata apa.


sebuah mobil berhenti dihadapan mereka, lalu Hanif membuka pintu untuk Rena, dan mempersilahkan Rena masuk. lalu menutupnya, san disusul hanif yang masuk dari sisi pintu sebelah samping kanan.


mereka menuju tempat makan dengan suasana alam terbuka. menikmati makan malam dengan berpayungkan langit dan juta bintang yang berkelap-kelip.


setelah selesai makan malam, Hanif mengeluarkan sebuah kota kecil. Ia membukanya. sebuah cincin berlian bermata biru, begitu indah.


"Ren..kuharap kamu tidak menolaknya." ucap hanif, sembari meraih jemari Rena, dan menyematkan dijemari manis milik Rena.


tanpa penolakan, Rena menyerahkan jemarinya. kini cincin berlian bermata biru, tersemat dijemarinya.


Rena memandang takjub cincin itu. "a..apakah...ini tidak terlalu mahal..untukku..?" ucap Rena bergetar.


"aku senang jika kau kamu menerimanya." ucap Hanif tulus.


"tiga bulan lagi, aku akan membawa orang tuaku untuk melamarmu. apakah kau mau menerimaku menjadi pendamping hidupmu? menualah bersamaku..?" ucap Hanif dengan tilus dan penuh pengharapan.


"aa...apa..?.tiga bulan..? apakah itu tidak terlalu terburu..buru..?" ucap Rena bingung.


Hanif menatap lembut Rena. "tiga bulan sudah cukup untuk kita saling mengenal, seperti aku yang yakin dengan perasaanku saat pertama kali mendengar suaramu.." ucap Hanif tulus.


Rena termangu mendengar perkataan Hanif, mengapa mereka bisa satu hati, jatuh cinta pada saat mendengar suara lawan bicaranya saat pertama kali, bukan jatuh cinta saat pada pandangan pertama.


"apakah kau menerima lamaranku..?" ucap Hamif dengan tatapan teduhnya.


Rena menjawab dengan anggukan.

__ADS_1


__ADS_2