Pemikat Sukma

Pemikat Sukma
Undangan Makan Malam


__ADS_3

"Ma... Mungkin dalam waktu dekat ini Ridwan akan melamar seseorang buat menjadi menantu dirumah ini" Ungkangnya sembari membenahi letak dasinya.


Wanita yang hampir berusia senja itu menengadahkan wajahnya. Semburat kebahagiaan terpancar diwajahnya.


"Benarkah? Itu tandanya kamu telah move on dari masa lalumu?" Wanita Cantik dengan rambut yang mulai memutih itu beranjak dari lemari pakaian milik anak lelakinya.Ia menghampirinya, lalu memeluk tubuh kekar itu penuh cinta kasih seorang Ibu.


"Dapatkah kamu membawanya kemari? Untuk kamu perkenalkan kepada Papa dan Mama. Kami ingin melihat siapa gadis yang sudah mampu mencuri hatimu" ungkap Refa dengan tersedu menahan haru.


Ridwan tak menjawab pertanyaan Ibunya, Ia hanya dapat menelan senyum getir, namun Ia harus menerima kenyataan jika Rena bukanlah jodohnya, dan Hanif juga bukan saingan untuknya. Ia tidak boleh terpuruk dan berharap kehancuran rumah tangga orang yang dicintainya, maka sudah saatnya Ia harus ikhlas menerima takdirnya.


"Insya Allah akan Ridwan bawa malam ini untuk perkenalan kepada Mama dan Papa" ucapnya dengan berusaha tenang.


Refa mengendurkan pekukannya dan Ridwan berbalik arah menatap Mamanya. "Benarkah? Mama tak sabar untuk melihat gadis itu" ucap Refa dengan senyum bahagia. "Kalau begitu Mama akan berbelanja dan menyiapkan makan malam untuk menyambut kedatangan calon menantu Mama" ucap Refa antusias.


Ridwan tersenyum datar, Ia tidak ingin mengecewakan kebahagiaan Mamanya. Sudah sangat lama wanita itu ingin menanyakan cucu kepadanya, namun dirinya selalu menghindari setiap kali pertanyaan itu datang.


Maka kali ini, Ia tidak ingin menghampakan harapan kosong kepada Mamanya. Ia berjanji akan memenuhi keinginan Mamanya.


"Ridwan janji akan memenuhi keinginan mama kali ini" ucap Ridwan bersungguh-sungguh. Sehingga membuat rona kebahagiaan diwajah Refa.


"Kalau begitu Ayo bersiaplah untuk bersarapan. Setelah itu Mama akan pergi berbelanja untuk menyambut sang calon menantu" ucap Refa dengan senyum sumringah, sembari menarik lengan puteranya untuk segera turun kelantai dasar dan menuju meja makan.


******


kampus terlihat sangat ramai dengan segala aktifitas dari mahasiswa dan seluruh staf.


Ridwan duduk bersandar dikursi kebesarannya. Menghadap pintu ruangan kerjanya dan sedang menantikan seseorang.


Lalu terdengar suara derap langkah kaki dari sepasang sepatu higless yang sangat khas.


Tak-tak-tak

__ADS_1


Dan kini berdiri diambang pintu seorang gadis muda yang ayu rupawan. Ia tersenyum dengan raut wajah yang memancarkan aura pesona yang begitu menyejukkan hati.


"Masuklah... " ucap Ridwan dengan tenang. Srmakin gadis itu mendekat, Semakin lekat Ridwan memandanginya.


"Mengapa Adillah tidak ada sedikitpun kemiripan diwajahnya dengan Rena ataupun Hanif?" Ridwan berguman dalam hatinya, namun mencoba menepisnya "mungkin saja mirip nenek atau kakeknya." Ridwan mencoba berfikir positif.


Adillah menarik kursi didepannya, lalu duduk menghadap pria dewasa dan mapan itu dengan perasaan dag dig dug.


"Ada apa Kak memanggil saya sepagi ini, apakah ada hal yang sangat penting?" tanya Adillah dengan perasaan yang semakin penasaran.


"Mama mengundang Kamu makan malam, harap Kamu bersiap dan sampaikan juga undangan makan Malam untuk keluargamu.." ucapnya dengan setenang mungkin.


Adillah menyunggingkan bahagianya. "Insya Allah aku akan penuhi undangan dari Mama Kakak." ucap gadis itu dengan wajah yang begitu ceria. "Kalau begitu Aku kembali ke kelas untuk mengajar lagi ya Kak" ucapnya, sembari beranjak bangkit dan melangkah keluar.


Ridwan hanya membalas dengan senyum tipisnya. Lalu menghela nafasnya, dan menatap nanar kepergian sang calon istrinya.


******


Malam telah tiba. Adillah sudah bersiap akan pergi menghadiri undangan makan malam dari keluarga calon suaminya. "Ma... Sudah siapkah?" Teriak Adillah sembari membenahi hijab pahsminanya.


Lalu tampak Khanza juga keluar dari kamar lengkap dengan gaya casualnya. "Yuuuk..."ucapnya sembari menghampiri Kakak perempuannya.


"Papa belum siap, bentar lagi" ucap Adillah, memberitahu.


"Ya sudah, Aku tunggu di mobil saja" ucap Khanza sembari berlalu meninggalkan kedua wanita itu.


Gak berselang lama, Hanif keluar dari kamar sembari menutup pintu kamar dan mengamit tangan Rena, sang istri "Ayo, kita berangkat" ucapnya sembari berjalan menuju pintu keluar.


Adillah memandang kemesaraan Papa dan Mamanya, yang mana Ia tahu jika Papanya adalah lelaki sempurnah, yang selalu memberikan kebahagiaan untuk mamanya. Ia berharap jika kelak Ia mendapatkan suami seperti Papanya.


*******

__ADS_1


Khanza melajukan mobilnya, membelah jalanan kota Medan yang tampak hiruk pikuk dengan segala aktifitasnya.


Sesaat tiba-tiba, Hanif melihat sesosok wanita yang Ia merasa sangat mengenalnya. Wanita itu menggunakan pakaian yang sangat aduhai, sedang memasuki sebuah bangunan diskotik yang menyediakan Bar. "Wina...? Mengapa Ia sampai dikota ini?" Hanif berguman dalam hatinya. Ia memastikan jika matanya tidak salah melihat orang tersebut.


Namun, Ia mencoba untuk tidak perduli, dan berusaha menutupi perasaannya, pada wanita yang telah mengkhianati ketulusan cintanya. Meskipun Wina jauh lebih cantik dari Rena istrinya, namun baginya Rena adalah penyejuk hatinya.


Tak berselang lama, mobil yang mereka tumpangi telah sampai dikediaman orang tua Ridwan.


Ridwan sudah menyambutnya didepan pintu. Tampak Hanif yang selalu menggenggam jemari Rena selama dalam perjalanan akan masuk kerumah calon besannya, menandakan begitu kuat cinta pria itu pada wanita yang pernah dicintanya.


"Mari silahkan masuk..." ucap Ridwan setenang mungkin.


Lalu disambut senyuman oleh Hanif dan yang lainnya.


Tampak Refa sudah bersiap menyambut calon besannya. "Selamat datang, dan terimakasih sudah memenuhi undangan makan malam dari keluarga saya" ucapnya ramah.


"Terimakasih juga sudah memberikan undangan makan malam untuk Kita" jawab Hanif dengan ramah, dan melepaskan genggaman tangannya.


"Mari silahkan ke meja makan" Ajak Refa dengan senyum yang sumringah.


Lalu mereka semuanya menuju meja makan yang tampak mewah. Meja berbentuk elips dengan kayu jati dan ukiran yang tampak begitu elegan.


Dari arah lain, tampak seorang pria berusia senja sedang berjalan menuju kearah mereka " Tuan Khanza..." ucapnya kaget, saat melihat siapa pria yang berada didepannya dan sedang ikut dalam jamuan makan malamnya.


"Hei... Pak Jaya" ucap Khanza tak menduga jika Calon dari mertua kakak perempuannya ada rekan bisnisnya yang merupakan distributor dari produk mereka yang kini siap dipasarkan.


Melihat dua keluarga yang sudah saling berkenalan, maka sepertinya niat baik diantara keduanya akan berjalan sempurna.


Kedua keluarga lalu membicarakan tentang rencana lamaran yang akan dipercepat dari jadwal sebelumnya, dan pernikahan akan dilangsungkan segera dan tentunya akan diadakan di Pekanbaru di kota kelahiran Adillah.


Setelah acara jamuan berakhir,semua tampak terlihat bahagia, terutama Adillah yang siap menerima Ridwan meski perbedaan usia mereka yang terbilang sangat jauh.

__ADS_1


Namun baginya, Ridwan adalah pria yang pantas untuk menjadi pendamping hidupnya.


*Sorry, Author lupa nama Mamanya Ridwan. Kalau ada yang masih ingat bisa tolong diingatkan..*


__ADS_2