Pemikat Sukma

Pemikat Sukma
Pertemuan Dua Raga


__ADS_3

pak Ucok memandang lekat kepada Rena, Ia begitu amat prihatin terhadap kondisi Rena saat ini. Ia mengutuk perbuatan pria yang telah membuat gadis malang itu begitu mengenaskan.


"apakah bapak dapat menyembuhkan adik saya pak?" ucap Hanan dengan lirih. rasanya Ia ingin mencincang pria yang sudah membuat adiknya begitu malang.


pak ucok memejamkan matanya, berkonsentrasi pada fikirannya.


"seandainya saja kamu terlambat membawa adikmu kemari, dipastikan adikmu akan menjadi gila. Ia akan terlihat seperti orang depresi, Namun pada kenyataannya Ia dalam pengaruh sihir seseorang, hatinya terkunci hanya untuk pria tersebut."ucap pak ucok dengan gamblang.


pak ucok juga menjelaskan, bahwa korban yang terkena ilmu pelet akan merasakan cinta yang menggebu-gebu diluar kewajaran. merasa rindu berat ingin selalu bertemu orang yang telah memeletnya, melakukan apa saja yang diperintahkan oleh pelaku, merasakan sakit yang hanya bisa sembuh jika bertemu dengan orang yang memeletnya. sering mengeluarkan air mata atau menangis berlebihan saat membayangkan orang yang memeletnya.


penjelasan pak ucok sangat benar terjadi pada Rena, semua sikap yang dilakukan Rena seperti tidak wajar. bahkan diluar nalar.


"Apa yang harus saya lakukan pak? untuk menyelamatkan adik saya?" ucap Hanan dengan serius.


"nanti akan saya tuliskan apa saja yang harus kamu persiapkan. untuk saat ini saya akan membantu mendektesi pelakunya terlebih dahulu. apa motif Ia melakukan ini pada adik perempuanmu.


"baiklah pak, kalau bisa secepatnya ya pak." ucap Hanan penuh harapan.


Ucok kembali memejamkan matanya, Ia menangkap bayangan seorang pria bertubuh pendek dan mungil, sedang melakukan ritual didalam kamarnya. Pria yang dilihat Ucok sepertinya merasakan sedang diawasi. lalu Ia menghentikan ritualnya.


pak ucok kembali membuka matanya. " Rena dipelet oleh Pria bertubuh pendek dan kecil. Ia memiliki niat yang tidak baik pada Rena." ucap pak Ucok dengan lirih.


"dasar, pria tidak berguna" ucap Hanan dengan menggeram.


"besok datanglah kemari lagi, bawakan saya daun bidara sebanyak 11 lembar, buah bidara 1 biji.



gambar diatas adalah daun bidara dan buahnya ya pemirsa..


dan perlengkapan lainnya sepertinya kembang macan kerah.



nah, yang ini foto kembang macan Kerah.


dan untuk sisa bahan lainnya nanti akan saya tuliskan" ucap Pak Ucok, sembari mengambil kertas dan pena, lalu menuliskan bahan-bahan apa saja yang akan dibutuhkan untuk ritual menyembuhkan Rena.


setelah menuliskan bahan yang diperlukan. pak Ucok mengambil kertas timah yang terdapat didalam bungkus rokok. Ia melipatnya menjadi kecil, lalu menekannya hingga kuat dan membacakan sesuatu.

__ADS_1


setelah itu Ia memberikannya kepada Rena, meminta Rena memegang kertas tersebut dengan menggunakan ibu jari dan jari telunjuk.


"panas banget pak" ucap Rena saat menerima kertas yang dilipat tersebut. namun Ia dipaksa untuk tetap memegangnya.


setelah kertas itu terasa mulai turun suhu panasnya, Pak ucok meminta Rena untuk membukanya.


"bukalah lipatan kertas itu" perintah pak Ucok kepada Rena.


Rena mengangguk menyetujuinya. Saat Ia membuka seluruh kertas, Ia mendapati timah dalam kertas itu hancur seperti debu. Rena terperangah melihatnya.


"begitulah kondisi perasaanmu saat ini, hancur berkeping-keping menahan kerinduan pada pria pujaanmu." ucap Pak ucok menatap Rena.


Rena yang ditatap bingung, namun tak dapat Ia pungkiri, bahwa yang dikatakan oleh pak ucok benar adanya.


saat sedang berbincang dengan Rena dan Hanan, tiba-tiba saja pak Ucok tersentak kaget. lalu tersenyum dan membenarkan posisi duduknya.


"ternyata Ia tidak senang, Ia mengetahui ada yang akan menghalangi perbuatannya." ucap pak ucok sembari menggelengkan kepalanya.


Hanan menangkap signal yang tidak baik, sepertinya pak Ucok mendapatkan perlawanan dari pria yang sedang menyihir Rena.


Pak ucok menghela nafas dengan berat. Ia mendapatkan kiriman ghaib yang mencoba menantangnya.


"kalian boleh pulang sekarang, dan persiapkan apa saja yang saya minta. besok datanglah kembali." pak ucok menegaskan.


****


sesampainya dirumah paman Rasyid. Hanan langsung menuju kamar tidur dilantai atas. Ia kelelahan karena sedari subuh melakukan perjalanan panjang.


Hanan membersihkan tubuhnya, pria berusia 39 tahun itu ingin segera beristirahat untuk memulihkan kondisi fisiknya, karena esok hari harus membawa Rena berobat kembali. setelah selesai mandi dan makan malam, Hanan terlelap dalam tidurnya.


***


Rena, meskipun Ia mendengar ucapan pak Ucok bahwa Ia terkena pelet oleh Bernard, namun rasa cintanya terhadap pria itu tak pernah luntur. pengaruh sihir pemikat itu terlalu kuat, sehingga membuat Rena tak perduli dengan segalanya.


"Bernard, aku mencintaimu...hadirlah sayang.. aku begitu merinduimu.."ucapnya dengan lirih.


Rena membuka laptopnya, membuka aplikasi biru, mencari pesan masuk. lalu men-scroll pesan terdahulu, dan Ia menemukan foto Bernard yang hanya setengah badan. Rena mem-print foto itu.


Setelah selesai dengan print-nya, Rena memandang foto yang tercetak dalam ukuran kertas HVS. Ia menciumi foto tersebut, rasa rindu menggebu dihatinya membuatnya berkhayal akan fantasi hasrat yang menjalar keseluruh tubuhnya.

__ADS_1


foto Bernard mampu membuatnya menuju getaran-getaran hasrat yang semakin tinggi. Ia mengejangkan tubuhnya, pertanda telah mencapai puncak surgawinya.


Rena melenguhkan nafasnya, memandang nanar pada langit-langit kamar, Ia melihat bayangan wajah Bernard ada disana. tersenyum padanya dengan kedua tangan menjulur ingin memeluknya. Rena menyambut tangan Bernard dalam halusinasinya. Ia mensedekapkan kedua tangannya, memeluk foto Bernard hingga tertidur lelap.


Rena bermimpi bertemu dengan bernard, dalam mimpinya, Bernard membelai manja dirinya dengan penuh cinta, Bernard mengajak Rena kesebuah tempat yang Rena tidak mengetahuinya. disana ada banyak bunga-bunga yang bermekaran indah.


Bernard membaringkan tubuhnya diantara bunga-bunga, menjulurkan kedua tangannya, meminta Rena mendekatinya. dalam mimpi itu, Rena merasakan sedang bercinta dengan Bernard. hingga mencapai puncak surgawi.


Rena teramat bahagia bersama Bernad, pria pujaannya yang membuatnya mabuk kepayang. pria yang sudah membuatnya cinta mati, dan membuatnya tergila-gila hingga hampir gila.


***


Ucok mengambil tasbih yang disimpannya dilemari hias. Ia duduk bersila, memejamkan matanya dan berkonsentrasi penuh. lalu Ia menggerakkan setiap butir tasbih seperti gerakan menghitung. mulutnya terus merafalkan doa, bermunajad pada sang pencipta.


pak ucok melakukan perlepasan raganya, meninggalkan Jasadnya yang masih duduk bersila. Raga Ucok terbang mencari keberadaan Bernard. Ia menemukan pria kecil yang juga sedang melakukan 'Ngrogo Sukmo', sesaat raga mereka bertemu di alam yang hanya mereka yang mengetahuinya.


Bernard merasa ada tamu yang tak diundang sedang mengusiknya. raganya menemui raga Ucok, Ia menatap marah kepada pria berusia 40 tahun tersebut. raga mereka saling menatap satu sama lain.


"siapa kau?" ucap raga Bernard dengan nada berang.


"hai anak muda, kamu tidak perlu yau siapa aku. tapi kuperingatkan padamu, jangan usik gadis yang bernama Rena." ucap pak Ucok menegaskan.


"jangan ikut campur dengan urusanku hai orang tua!" ucap Bernard sinis. Ia penuh amarah.


"aku tidak akan mencampuri urusanmu jika tidak yang memiliki hubungan denganku. urusan Rena kini menjadi urusanku. jika kau tetap mengusiknya, aku tidak segan-segan akan memberikan pelajaran setimpal kepadamu." ucapan Ucok penuh ancaman. Ia berharap ancamannya pada pria bertubuh kecil tersebut akan membuatnya menjauhi Rena.


"ha.haa.ha..ha.. aku tidak takut dengan ancamanmu orang tua" ucap Bernard dengan nada sombong dan menantang.


Bernard merasa paling hebat, perawakan kekar ucok tak membuatnya ketir. namun Ia tidak sadar dengan siapa Ia sedang berhadapan. Bernard mengacakkan kedua tangannya dipinggang, menantang raga pria bertubuh tinggi kekar dihadapannya.


"heh..punya nyali juga rupanya kau ini ya.." ucap Ucok dengan sinis.


Lalu ucok menggerakkan tiap bulir tasbihnya, merafalkan doa, dan...


"aaaaaarrrrhhhhh..." raga Bernard terpental jauh, menyisakan suara lengkingan kesakitan yang begitu kuat.


Raga Ucok menyudahi aksinya, lalu kembali pulang untuk menyatu kembali ke dalam jasadnya.


setelah penyatuan tubuh dan raganya selesai, Ucok membuka matanya, matanya penuh kecemasan. Ia berharap esok hati Hanan segera datang menemuinya, agar Rena segera tertolong.

__ADS_1


Ucok sangat yakin, saat ini pria bertubuh kecil semakin gencar melancarkan aksi sihirnya kepada Rena. Ucok berharap-harap cemas dengan kondisi Rena yang tentu akan bertambah jika tidak segera diatasi.


Ucok ingin menerawang Rena malam ini, namun Ia merasa itu tak sopan, karena telah mengintai privasi gadis malam itu. Ia mengurungkan niatnya. lalu melanjutkan dzikirnya dan bermunajad pada Ilahi.


__ADS_2