
semakin hari, tubuh Rena semakin kurus, Ia tak bersemangat melakukan apapun. Ia hanya menginginkan Bernard. hadir disisinya.
setiap mata kuliah, tak pernah ia pelajari dengan fokus. fikirannya hanya tertuju pada Bernard seorang. pria yang sangat dicintainya.
dua tahun setengah, menjalani cinta jarak jauh atau Long Distance Relationship atau biasa disebut LDR.
hubungan jarak jauh, yang membuat pertemuan sulit terjadi. bahkan kurangnya komunikasi membuat Rena kelimpungan. namun Ia tetap bertahan dengan hubungan yang dianggap orang lain menyedihkan.
"aku harus bertemu denganmu. harus..aku tidak ingin berlarut dalam kerinduan yang menyiksa." ucap Rena lirih.
"tetapi aku tidak tau dimana rumahnya. aku harus kemana mencarimu? ucap Rena hampir berputus asa.
"meminta tolong dengan bang Anju tidak mungkin. Ia sudah mem-blokir nomorku. namun jika aku menghubunginya dengan nomor lain, itu tidak etis." ucap mala berfikir
"oh, ya. aku ingat. aku ingat tempatnya bekerja. aku akan mendatangi lokasinya bekerja." ucap Rena menemukan semangat hidupnya kembali.
esok paginya, Rena bersiap-siap akan berangkat ke kota Tebing Tinggi. Ia akan mencari keberadaan Bernard. rasa rindu dihatinya, membuatnya mengalahkan rasa malu.
Rasa malu dan harga diri dipertaruhkannya, hanya demi seorang pria, seperti Bernard.
saat ini, kesadaran dan logika Rena sudah tidak berfungsi dengan benar. Ia hanya berambisi mengejar Bernard , bukan cita-citanya seperti saat berada dikampung halaman.
tujuannya hanya ingin mendapatkan Bernard bahkan berharap dapat menikah dengan Bernard.
Rena bergegas keluar kamar, Ia tak melihat paman Rasyid, karena dari kemarin Paman Rasyid dan tante Marti masih berada di Penang, Malaysia. setiap bulan Paman Rasyid dan tante Marti selalu berulang pergi ke negeri jiran tersebut. untuk mengontrol kesehatannya.
ini kesempatan bagi Rena, bebas pergi sesukanya. masalah tante Aning bisa diatasinya.
Rena keluar rumah, dengan terburu-buru, menuju gang kompleks, menghentikan Betor yang melintas. meminta mengantarkannya ke loket bus.
tanpa menawar ongkos, abang Betor langsung menancapkan gasnya. sesampainya di loket, Rena menyerahkan uang lima puluh ribu satu lembar.
saat abang Betor ingin mengembalikan kembaliannya, Rena menolak.
"ambil buat abang saja kembaliannya."ucap Rena dengan tergesa-gesa turun dari betor.
setelah memesan bus, Rena menaiki badan Bus, mencari kursi penumpang, duduk dan menyandarkan tubuhnya dikursi penumpang.
"apa aku sudah gila? sampai mengejarnya kemanapun?" ucap Rena saat tubuhnya sudah duduk bersandar dikursi penumpang.
"mengapa aku begitu mencintainya? merinduinya?" aku tak mampu menahannya." ucap rena dalam hatinya.
Ia tak lagi meminta dijemput Bernard, karena yang dihubungi tidak menanggapinya.
bahkan Rena merahasiakan kedatangannya untuk memberikan kejutan.
Sudah enam kali bertemu, selalu Rena yang datang. maka Rena sudah hafal simpangnya.
****
Rena sampai di disimpang. setelah sopir menghentikan bus-nya, Rena bergegas turun. lalu menuju kesimpang.
sepertinya para tukang ojek dan abang betor yang mangkal, sudah mengenali wajah Rena.
karena sudah beberapa kali bertemu dan Rena dijemput Bernard, abang ojek dan abang betor bersikap biasa saja.
berbeda dengan Rena, Ia memanggil salah satu abang Betor, dan yang dipanggil mendekati.
"mau kemana mbak? biasanya dijemput sama adiknya." ucap abang betor, yang mengira Bernard adalah adiknya.
"ya salaaam..berarti selama ini mereka menganggap kami kakak adik?" guman Rena dalam hatinya.
"terserahlah, apa omongan orang, yang penting aku cinta dan nyaman bersama Bernard." ucap Rena dalam hatinya.
"koq bengong dik?" mau abang anterin kemana ini? "ucap abang betor membuyarkan lamunannya.
"emmm.. kepabrik roti bang." jawab Rena yang setengah tersentak.
"oh, ya sudah, sini abang anterin." ucap abang betor.
"iya bang." ucap Rena seraya menaiki badan becak.
Rena terdiam selama perjalanan.
****
__ADS_1
"dik, dah sampai, inikan pabrik roti yang adik maksud?" ucap abang betor bertanya.
"iya bang, bener ini pabriknya." ucap Rena membenarkan ucapan abang betor.
"berapa ongkosnya bang?" ucap Rena.
"empat puluh ribu dik." ucap abang betor menjelaskan.
"ini uangnya bang."ucap Rena, seraya menyerahkan selembar uang lima puluh ribu.
"gak ada kembaliannya dik, abang baru buka dasar. adik sewa penumpang pertama hari ini." jawab abang betor.
"ya sudah, ambil saja kembaliannya. buat abang" jawab Rena.
Rena berjalan ke arah pagar pembatas, hatinya ragu. Ia menghentikan sejenak langkahnya. mengamati kesekeliling lokasi pabrik. pabrik itu hanya berupa ruko tiga pintu. tidak ada penjagaan khusus, seperti security.
"kepada siapa aku harus bertanya?"Rena berguman dalam hatinya.
sesaat, Rena melihat seorang pria paruh baya, Ia seorang petugas kebersihan, yang sedang membersihkan sampah diarea parkiran.
Rena melanjutkan langkahnya. masuk ke area lokasi parkiran. mendekati petugas kebersihan yang sedang bertugas.
"maaf, pak mengganggu."tegur Rena dengan sopan.
"eh, kaget bapak." jawab petugas kebersihan itu dengan sedikit terkejut karena kehadiran Rena yang dengan tiba-tiba saja muncul dibelakangnya.
"maaf, membuat bapak kaget." ucap Rena dengan sopan.
"oh, iya gak apa-apa mbak. memang ada yang bisa saya bantu?" jawab petugas kebersihan itu lagi, menawarkan bantuannya kepada Rena.
"emmm..saya mau tanya, bapak kenal dwngan salah satu karyawan di pabrik ini? namanya Bernard." ucap Rena dengan hati-hati.
"ooooh.. yang knalpot motornya berisik itu ya mbak?" ucap petugas kebersihan itu nyerocos.
"astaga..ternyata Bernard dikenal karena knalpot berisiknya, bukan karena kinerjanya?" Rena berguman dalam hatinya.
"iya pak, bapak tau dia sekarang dimana?" ucap Rena mengorek informasi dari petugas kebersihan itu.
"gimana ya mbak, Bernard sudah dua minggu yang lalu tidak bekerja disini lagi."ucap petugas itu menjelaskan.
"emangnya kenapa ya pak, sampai Bernard tidak bekerja lagi disini?" tanya Rena kepada petugas itu.
"kurang tau ya, mbak. tapi denger-denger sih, katanya penyelewengan dana penjualan. tapi bener enggaknya saya kurang tau." ucap petugas itu menjelaskan.
"penyelewangan dana penjualan? sekotor itukah Bernard?" Rena membatin.
Tanpa sengaja, Rena melihat Anju yang sedang melintas di area parkir. Tanpa fikir panjang, Rena berlari kecil menghampiri Anju. Ia tidak perduli jika nanti Anju menolak memberinya informasi. tapi setidaknya Ia mencoba dulu.
"bang Anju.!" teriak Rena, seraya berlari mendekati Anju. nafasnya tersengal-sengal.
Anju yang dipanggil namanya, menoleh kearah Rena. Ia terperanjat melihat Rena sudah berada didekatnya.
"apaan sih kamu? kenapa sampai nekad datang kemari lagi?" ucap Anju heran.
"maafin Rena bang, Rena terpaksa melakukan ini." ucap Rena dengan nada yang masih terbata-bata.
"ada apa lagi?" ucap Anju melemah.
"Bernard sudah dua minggu tidak menghubungiku lagi, makanya aku nekad datang kemari.
"sepertinya ada yang sudah tidak beres dengan kamu Ren." ucap Anju lirih.
"maksud abang apa?" ucap Rena penasaran.
Anju hanya terdiam, menatap Rena dengan penuh iba.
"Bernard sudah tidak bekerja disini lagi." ucap Anju. menjelaskan.
"aku sudah tau, dari petugas kebersihan."jawab Rena.
"apa benar dia, menyelewengkan dana penjualan bang?" tanya Rena menyelidiki.
hemmmmmm.. Anju menarik nafasnya. menghilangkan sesak yang menghimpit dadanya.
"iya." jawab Anju.
__ADS_1
"tetapi untuk apa bang?" ucap Rena penasaran.
"selama ini, Rena selalu memberikannya uang." ucap Rena keceplosan.
"apaa..?" ucap Anju terkejut, dengan apa yang diucapkan Rena.
"i..iya bang." ucap Rena dengan gelisah.
"mengapa kamu sampai seroyal itu Ren? apa yang bisa kamu banggakan dari pria seperti dia. berfikirlah dengan logika, jangan menurutkan hatimu." ucap Anju menasehatinya.
"tapi aku sangat mencintainya bang." ucap Rena lirih.
"meskipun kelak uangmu habis digunakannya untuk ketempat pelacuran?" ucap Anju geram.
"aku tidak tahu bang, dengan perasaanku." ucap Rena terisak. Ia terpukul dengan pengakuan Anju, bahwa uang yang selalu ditransfernya digunakan untuk bersenang-senang dengan pelacur.
"mengapa aku tidak bisa membecinya bang?" ucap Rena dengan isakannya.
"ada yang tidak beres denganmu Ren, cobalah meminta petunjuk pada Tuhan." ucap Anju memberikan saran.
"aku baik-baik saja, bang" ucap Rena menyangkalnya.
Anju menggelengkan kepalanya.
petugas parkir yang memperhatikan dari jauh, mengira Anju telah menodai gadis itu. dan kini gadis itu meminta pertanggungjawaban padanya.
"tadi si mbaknya, nanya Bernard. kenapa sekarang bertemu dengan Anju malah menangis? apa Anju telah menodai gadis itu ya? ada-ada saja anak zaman sekarang." ucap petugas kebersihan dengan menggelengkan kepalanya.
petugas kebersihan itu lalu mengabaikan Rena dan Anju yang sedang mendebatkan sesuatu.
"tolong anterin aku kerumah Bernard bang, aku ingin bertemu dengannya." rengek Rena.
"abang akan memberikan alamatnya, carilah sendiri. abang bidak bisa mengantarkanmu. karena ada pekerjaan yang ingin abang selesaikan." jawab anju.
"iya, tak apa." ucap Rena pasrah.
Anju menuliskan alamat Bernard pada secarik kertas, lalu memberikannya pada Rena.
"terimakasih ya bang?" ucap Rena lirih.
"ya, ucap Anju. datar. seraya memandangi gadis didepannya dengan penuh iba.
"Rena pergi dulu ya bang, untuk mencari rumah Bernard."ucap Rena, seraya beranjak dari hadapan Anju.
"ya." jawab Anju datar.
Anju mentapi gadis yang telah berjalan meninggalkannya. ada rasa kasihan dan iba disana. tak tega rasanya melihat gadis sebaik Rena yang hanya dimanfaatkan oleh Bernard.
"semoga kelak, kamu menemukan pria, yang benar-benar tulus mencintaimu Rena." ucap Anju, lalu beranjak pergi masuk kedalam pabrik, untuk melanjutkan pekerjaannya.
Rena menghentikan betor yang sedang melintas. menanyakan alamat yang tertulis disecarik kertas pemberian Anju. abang betor mengangguk, bahwa Ia mengetahui alamat itu.
setelah negosiasi harga ongkos, akhirnya mereka sepakat. lalu Rena menaiki becak.
****
"ini alamatnya mbak.. kalau rumah bercat hijau, berarti rumah kontrakan yang dua pintu itu mbak." ucap abag Betor menjelaskan.
"iya bang, kalau menurut alamatnya sih emang benar yang ini." ucap Rena membenarkan ucapan abang betor.
"saya tanya dulu ya bang, abang jangan pergi dulu. kalau benar ini rumahnya, batu abang boleh pergi." ucap Rena menegaskan.
"iya mbak, coba tanyakan dulu saja." kalau salah, nanti kita cari. tetapi alamatnya sudah sesuai." jawab abang betor meyakinkan Rena.
Rena mengangguk. menyetujui.
Rena berjalan, menuju rumah kontrakan bercat warna hijau, Ia mendekati pintu yang tertutup. lalu mengetuknya.
toook...tok..tok.. suara ketukan pintu.
"siapa?" ucap suara seorang pria. suara yang sangat Ia kenal. suara yang iya rindukan.
kreeek....suara pintu terbuka.
dan tampak seorang pria berdiri diambang pintu..
__ADS_1
"ka...kaamu"ucap pria itu terperanjat.