Pemikat Sukma

Pemikat Sukma
Merahasiakan


__ADS_3

Rena seperti terlihat sangat sibuk pagi ini. Ia bangun sangat cepat. kondisinya yang masih nifas, membuatnya masih dalam masa pemulihan.


Aisyah masih menginap beberapa hari, untuk membantu sang menantu merawat bayinya. karena bukan hanya satu tetapi dua sekaligus.


Aisyah memesankan jamu terbaik, racikan seorang sesepuh yang dipercaya dapat memulihkan kesehatan wanita pasca melahirkan.


Hanif telah menghubungi keluarga Rena, untuk datang berkunjung. bahkan Hanif telah menyediakan mobil untuk menjemput Munah, sang ibu mertua.


Rena rajin meminum jamu pemberian mertuanya. sehingga Ia akan lebih terlihat bugar dan segera pulih.


Rena juga rajin memakan daun katuk, jantung pisang serawak atau jantung pisang kepok, yang dipercaya untuk melancarkan ASI, karena Ia kini menyusui dua bayi sekaligus.


Meskipun Hanif sebenarnya tidak begitu setuju dengan keputusan Rena, namun Ia tak dapat menolak keiinginan istrinya yang begitu keras.


rasa cintanya terhadap Rena membuatnya tak mampu menolak apapun yang diinginkan istrinya.


Hanif hanya kasihan, melihat istrinya harus berkurang jam tidurnya untuk merawat kedua bayinya.


Hanif berencana mencari babysister yang dapat membantu merawat bayinya dan mengurangi rasa lelah Rena.


kini dibantu Aisyah, kedua bayi mungil itu sudah bersih dan wangi. mereka sudah mandi.


Rena menyusui Khanza dengan cinta kasih seorang ibu. sehingga bayi itu tertidur lelap dengan perut kenyang. lalu Rena mengambil Bayi perempuan yang belum sempat mereka beri nama.


Rena menyusui bayi itu, memandang mata bayi berusia sekitar enam bulan itu dengan penuh kasih. bibir sumbingnya membuat Rena iba.


"Hubby..gimana kalau nanti kita operasikan bibir gadis mungil ini..? pasti Ia akan terlihat sangat cantik" ucap Rena kepada Hanif sang suami.


Hanif ikut memandang gadis mungil, yang menyusu dengan sangat lahabnya. membuat Hanif sedikit agak kikuk.


bukannya mendengarkan ucapan Rena, Ia justru merasakan sesuatu sedang mengeras diarea sensitifnya. Ia merasa gemas dengan buah melon itu saat penuh dengan ASI. "yank.. kapan ne giliran Hubby..? masa mereka berdua terus dari tadi." ucap Hanif berbisik kepada Rena.


Rena yang mendengar ucapan Hanif membulatkan matanya, lalu mencubit pinggang Hanif "aaaw.. sakit yank.." ucap Hanif meringis menahan sakit.


wajah Rena bersemu merah, karena ibu mertuanya sedang berada tak jauh dari mereka. Ia sangat malu jika sampai ibu mertuanya mendengar ucapan anaknya yang sangat nyeleneh.


"rasain.. gak lihat tu ada mama..? sembarangan kalau ngomong." ucap Rena Kesal. membuat Hanif semakin gemas.


sepertinya Aisyah mendengar percakapan keduanya. namun sebagai orang tua yang bijak, Ia memberikan nasehat kepada anak lelakinya.

__ADS_1


"Hanif sayang, ditahan ya sampai 46 hari masa nifas istrimu. jangan coba macam-macam, karena Mama dan ibu mertuamu akan bergantian menjaga Rena dikamar ini, sehingga kamu tidak bisa mengganggunya." ucap Aisyah dengan tegas dan penuh penekanan disetiap katanya.


Hanif terperangah mendengarnya. "Lama banget Ma puasanya..?" ucap Hanif seenaknya.


"huuus..malu bby." ucap Rena dengan mata yang membulat. Hanif cengengesan mendapat tekanan dari Rena.


Aisyah menggeleng-gelengkan kepalanya melihat sikap Hanif yang begitu manja kepada Rena.


"bby. bagaimana pendapat Hubby tentang usul Ren tadi..?" ucap Rena mengulang idenya untuk mengoperasaikan gadis mungil itu.


Hanif menoleh kearah Rena. "jika itu yang terbaik, ya kita akan lakukan." ucap Hanif dengan lembut.


"makasih ya sayang.." ucap Rena sumringah.


Hanif menoleh kearah Rena. "a..apa..coba ulangi lagi.." ucap Hanif manja.


"yang mana.?" ucap Rena bingung.


"yang kata terakhir tadi." ucap Hanif mendesak dengan kedipan matanya.


"hubby makin genit deh.." ucap Rena manyun. Hanif mencubit pipi Rena dengan gemas.


------------'


"kita beri nama siapa bayi mungil ini bby..?" ucap Rena, yang mana mereka hampir lupa memberinya nama.


Hanif berfikir sejenak. "Adilah.." ucap Hanif singkat.


"bagus juga.. jadi deal ne 'Adilah' ..?" ucap Rena.


Hanif menganggukkan kepalanya. dan tersenyum manja.


Rena terdiam sejenak ada sesuatu yang mengganjal dihatinya. Sepertinya Ia tidak rela jika melepasakn bayi mungil ini. Ia sudah jatuh hati padanya. "Bby.. lebih baik kita rahasiakan saja penemuan bayi ini..?" ucap Rena dengan lirih.


Hanif mengernyitkan keningnya." maksudnya..? " Hanif bingung dengan ucapan Rena.


"emm..ya jika nanti ada yang mencari kita pulangkan keorangtuanya. tetapi jika tidak, ya kita tidak perlu mengumumkannya. karena akan berdampak pada hubby juga nantinya." ucap Rena menjelaskan.


"misalnya. ada yang ngaku-ngakubjika itu anaknya, dan menuduh hubby menculiknyakan akan merepotkan." Rena kembali menjelaskan.

__ADS_1


Hanif manggut-manggut menyetujuinya. "sepertinya kita harus merahasiakan bayi ini. hubby setuju." ucap Hanif.


Rena tersenyum sumringah, Ia berhasil merayu Hanif. karena sejatinya, Ia tidak ingin melepaskan bayi tersebut. mungkin egois, tetapi Rena sudah jatuh hati padanya.


-------------


Wina merasakan hidupnya kini sudah bebas. Ia tidak lagi memiliki Sofia yang dianggapnya sebagai penghalang Ia untuk melakukan sesuatu. tentunya Ia tidak lagi repot bangun malam untuk membuatkan susu formula, mengganti popok serta suara tangisan Sofia yang mengganggunya.


bahkan Ia tidak perduli bagaimana nasib Sofia saat ditinggalkannya malam itu. apakah ada binatang yang menggigitnya, atau serangan hewan berbisa. atau kedinginan. bahkan mati kehausan juga Ia tidak perduli.


"Sejak dikandungan aku sudah menyingkirkanmu, namun kau sangat keras kepala untuk meminta dilahirkan." ucapnya dengan geram.


Wina berbaring ditepian ranjangnya. menikmati waktu luangnya yang telah lama hilang.


kini Ia berfikir, bahaimana caranya agar dapat merebut Hanif kembali. jika tidak dengan cara normal, Ia akan merebutnya dengan cara ghaib.


"aku akan merebutmu kembali Hanif..!! kau hanya milikku. dan tak ada yang dapat merebutmu dariku." ucap Wina dengan tatapan penuh kebencian.


[tok..tok..tok..] suara ketukan pintu diluar kamar.


Wina bangkit dari ranjangnya, beranjak kepintu kamar dan membukanya. terlihat Melisa sang Mama berdiri diambang pintu.


"mana Sofia..? sudahndua hari tidak menangis..?" ucap Melisa penasaran.


"aku sudah membuangnya..seperti yang ibu sarankan." ucap Wina dengan seenaknya.


Melisa terperangah. "dimana kau membuangnya.?" ucap Melisa dengan penasaran.


"dijalanan.. mungkin jika tidak ada yang memungutnya sudah mati diterkam hewan buas." ucap Wina gampang.


"gila kami.. kenapa tidak kau buang saja kepanti asuhan.?" ucap Melisa geram.


Wina memandang Melisa. "memangnya kenapa..?" ucap Wina dengan ketus.


Mekisa membulatkan matanya." makanya jika melakukan sesuatu itu pakai otak. kalau sampai orang menemukannya dalam kondisi yak bernyawa, maka keluarga ini akan terseret, karena ada sidik jarimu disitu." ucap Melisa sengit.


Wina terdiam sejenak. "tetapi ini sudah dua hari, dan tidak ada kehebohan yang terdengar." ucap Wina dengan sedikit menenangkan hatinya.


"terserah kau saja. jika sampai ini menjadi kasus maka jangan libatkan mama." ucapnya dengan sengit.

__ADS_1


__ADS_2