
Dua Setengah Tahun Kemudian...
selama masa Kuliah, Rena tergolong mahasisiwi yang pintar. itu yang membuat Ia disukai banyak temannya. Rena juga sering dijadikan tempat membuat tugas kelompok. dan dari mengerjakan tugas kelompok, membuat Rena mendapatkan pemasukan Uang.
IPK Rena, selalu baik disetiap semester. baik semester ganjil atau semester genap. Indeks Prestasi Kumulatif yang didapatnya, selalu Ia setorkan kepada paman Rasyid, agar Paman mengetahui bahwa Ia tak sia-sia mengeluarkan biaya untuk perkuliahan Rena.
hingga suatu saat, Paman Rasyid kesal. selama ini paman pamannya tidak pernah memarahinya.
"apa-apaan ini Rena? mengapa IPK-mu dibawah rata-rata? hanya 1.9 saja? apa yang sedang kamu fkkirkan?" ucap Paman Rasyid dengan bingung.
selama ini nilai IPK Rena selalu 3, bahkan pernah mencapai IPK 3.8, yang membuat pamannya semakin menyayanginya. bahkan memberikan apa saja yang diminta Rena.
saat mendapat IPK 3.8, Tante Marti pernah menghadiahinya sebuah liontin emas dengan nilai sepuluh juta rupiah.
liontin emas itu, diberikan agar Rena lebih bersemangat lagi.
namun, kali ini Paman Rasyid sedikit kecewa, dengan apa yang dilihatnya. selembar kertas yang diberikan Rena dengan KOP surat Kampus, memberikan informasi bahwa banyak dari nilai setiap mata kuliah hanya mencapai 'C' saja.
"maafin Rena paman..? ucapnya ketakutan. wajannya hanya menunduk tak mampu memandang wajah pamannya.
"sebenarnya kamu memiliki masalah apa?" ucap Paman Rasyid, dengan nada yang mulai mereda.
Ia tak tega juga melihat keponakannya itu meneteskan air mata.
"Rena hanya kurang fokus saat ini Paman?" ucap Rena dengan terisak.
"apa yang membuatmu tidak fokus? tolong jawab Paman. ucap Paman Rasyid, dengan nada datar.
__ADS_1
"tidak ada ada apa-apa paman, hanya belakangan ini kangen sama ibu." ucap Rena berbohong.
"jika kamu kangen ibumu, pulanglah sejenak, saat liburan semester nanti. supir akan mengantarkanmu. jika kangenmu sudah hilang, cepatlah kembali. karena kamu harus mengulang mata kuliah kamu yang anjlok." ucap Paman Rasyid dengan sarkas.
"i..iya paman." jawab Rena ditengah isakannya.
***
POV Rena
sudah dua minggu lamanya, Bernard tidak menghubunginya. nomornya aktif, namun saat tersambung panggilanya akan di reject nya.
"mengapa Ia me-reject panggilanku.? apakah Ia sudah tidak mencintaiku lagi.?" ucap Rena dengan sedih.
"sudah seminggu ini Ia tak membalas message ku. apa yang terjadi padanya?" ucap Rena kian kalut.
hatinya yang gunda gulana, menjadikannya tidak fokus terhadap materi kuliah. bahkan dosen yang sedang menjelaskan pun Ia abaikan.
tubuhnya yang memang langsing, kian bertambah kurus. bahkan hampir ceking. hanya saja, jas Almamatir menutupi berat tubuhnya yang kian habis dimakan fikiran.
"dimanakah kamu Bernard? tidakkah kau merindukku? hatiku hampa tanpamu?" ucapnya kian lirih.
"hatiku kering, seperti seorang musafir yang sedang kehausan ditengah padang pasir." ucap Rena. kini Ia tak harus mencari Bernard kemana. karena Bernard mengabaikainnya.
"woooi.." sapa Amy, mengagetkan Rena,seraya menepuk pundakny.
"hah..!" Rena tersentak dari lamunannya.
__ADS_1
Ia tergagap, karena tidak menyadari bahwa materi kuliah sudah usai. bahkan sang dosen sudah tidak ada lagi dikelas.
"ngelamunin apaan sih?" koq dari tadi diem mulu," ucap Amy yang mulai kepo.
"aku perhatikan, kamu ada yang berubah dari kamu Ren" ucap Amy.
sebagai seorang teman yang paling dekat dengan Rena, tentu Ia sangat faham perubahan itu.
"berubah apanya sih cantik?" jawab Rena.
"dulu kamu ceria, kini muram. dulu kamu berseri, kini kusam. dulu kamu sexy, kini ceking." ucap Amy mengungkapkan isi hatinya.
"masa sih? perasaan kamu saja kali. kan aku emang kurus dari dulu."ucap Rena lagi
"iya, kamu emang kurus dari dulu, tapi tak sekurus sekarang." ucap Amy sedikit kesal.
"sebenarnya kamu ada masalah apa sih?" ucap Amy penasaran
"gak ada masalah apa-apa koq. Mi.." ucap Rena berbohong tak ingin membuat sahabatnya cemas.
"apa kamu menganggapku bukan sahabat? sehingga tak ingin membagi masalahmu denganku?" ucap Amy lagi.
"maafin aku Mi, aku tidak bisa menceritakannya padamu. maafin aku." ucap Rena dengan raut wajah yang sedih.
"ya sudah, aku tidak ingin memaksa. ayo kekantin. aku lapar." ucap Amy, lalu meraih tangan sahabatnya itu. menuntunnya seperti anak kecil.
Ridwan yang sejak tadi memperhatikan Rena saat dikelas, memiliki firasat yang tidak baik terhadap Rena. Ia merasakan, Rena sedang memiliki masalah.
__ADS_1
meskipun cintanya belum juga bersambut, namun cintanya tak pernah surut. Ia tetap menyimpannya rapi didalam dihatinya, hingga suatu saat nanti Rena menerimanya.
Ridwan hanya bisa berharap dan berdoa, semoga suatu saat nanti akan indah pada masanya.