Pemikat Sukma

Pemikat Sukma
Lahirnya Titisan Pemikat


__ADS_3

Sembilan bulan mengandung, akhirnya Wina kini tiba saatnya melahirkan seorang anak perepuan nan cantik rupawan. Wina yang sudah menghubungi keluarga Bernard sebelumnya, dan akhirnya Ia melahurkan disalah satu klinik terdekat.


Sesuai kesepakatan antara Wina dan Safri jika harus membayar seluruh biaya persalinan dan harga bayi cantik itu.


Ketika seseorang dibutakan oleh uang, maka Ia akan menjadi gelap mata.


Setelah Safri dan Ambar membayar seluruh biaya persalinan dan uang perjanjian dengan Wina, mereka memboyong Cucunya itu kekampung halaman mereka. Disana mereka akan merawat bayi itu dengan baik.


Kamar yang telah lama dipersiapakan oleh Safri kini akan terdengar suara tangisan bayi yang imut dan lucu. Bayi itu mereka beri nama Duma


setiap saat Ambar harus kembali lagi seperti seorang wanita yang baru saja memiliki seorang bayi. Ia harus bangun malam membuatkan susu formula jika Bayi itu rewel.


Namun semua Ia lakukan agar sang cucu segera cepat tumbuh besar. Ia sudah tidak sanggup lagi melihat Safri, suaminya yang selalu uring-uringan menahan rasa hasratnya yang berlebih karena menjadi wadah sementara sebelum penerusnya berusia 17 tahun.


Bahkan pernah suatu masa, Safri tak mampu menahan gejolak hasratnya, saat melihat tetangga baru yang mengontrak dirumah kontrakan milik mereka. Seorang janda muda dengan body nan aduhai. Membuat jiwa mudanya kembali bergelora.


Si janda muda yang juga kini telah menjadi budak cinta Safri, dengan suka Rela melayani hasrat Safri, dengan imbalan bebas tanpa membayar uang kontrakan.


Terkadang Safri berusaha sekuat tenaga dan hatinya menolak dorongan untuk berselingkuh dari Ambar. Namun dorongan untuk memenuhi hasratnya tak mampu Ia bendung.


Hingga akhirnya, Ambar mengalah membiarkan Safri bercinta didepan matanya, dengan wanita lain.


Bukan karena Ia Rela dari lubuk hatinya, namun karena Ia juga terkena pengaruh Pelet Pemikat Sukma itu sendiri, sehingga memberi kebebasan kepada Safri untuk menyalurkan hasratnya.


--------♡♡♡♡♡------


tujuh belas tahun kemudian.....


Duma kini duduk di bangku sekolah menengah kelas 3 SMK. Ia ingin melanjutkan kuliah di bagian tour guide. Ia kini tumbuh menjadi gadis yang cantik dan dengan body yang aduhai, Mewarisi kecantikan sang Ibu, Wina.


Dengan kecantikan dan tubuhnya yang aduhai, membuatnya menjadi bangga dan sombong. Ia kerap kali membuat ulah disekolah, dan tak jarang jika Ambar atau Safri dipanggil kesekolah, kerena ulahnya yang nakal.


Ia kerap kali berkelahi dengan teman sesama wanitanya, karena dituding menjadi perebut pacar orang. Tak jarang mereka sering melakukan baku hantam bahkan saling jambak.

__ADS_1


Duma tumbuh menjadi gadis cantik sekaligus momok yang menakutkan bagi para wanita bersuami.



Visual Duma yang kini menjadi titisan pemikat Sukma milik Bernad. Ia mewarisi kecantikan sang ibu.


Disekolah menengah kejurannya, Ia menjadi idola bagi teman-teman pria sekelas dan bahkan hampir seluruh siswa satu sekolah itu mengakui kecantikannya.


Mereka berlomba-lomba ingin menjadi pacar Duma. Bahkan tak jarang mereka membuat taruhan hanya untuk mendapatkan jadi pacarnya, meski hanya sehari.


Karena merasa diperebutkan, Ia menjadi bangga dan sombong, merasa paling cantik dan menarik.


--------♡♡♡♡-------


Suatu hari, Ambar menggedor pintu kamar Duma dengan sangat keras.


Tok..tok..tok..


"Duma.. buka pintunya.. Opung doli panggil kau untuk menghadapnya." teriak Ambar dengan panik.


"iya opung Boru.. Duma kesana.." sahut Duma dari dalam kamar.


Ambar kembali kemarnya, memastikan keadaan Safrinyang terlihat sangat kritis. Namun saat akan dipaksa kerumah sakit, Ia tetap menolak dan meminta Duma menghadapnya.


Sesaat Duma datang menghadap opung Doli nya.


Saat melihat Duma, Safri melambaikan tangannya, meminta Duma untuk mwndekat kepadanya.


Duma menuruti perintah Safri, lalu duduk bersimpuh di dihadapannya.


Ketika Duma telah berada disisunya, Safri memintanya untuk menghisap ubun-ubun kepalanya dengan kuat.


"ayolah Duma, ambillah apa yang menjadi milikmu. Opung sudah tidak sanggup lagi menahan dan menjadi wadah untuknya." ucap Safri dengan lemah dan lirih.

__ADS_1


Duma beranjak dari duduknya. Lalu menghisap dengan kuat ubun-ubun si opung doli nya. Seketika tubuhnya berkeringat, lalu menghadirkan sensasi panas yang menjalar keseluruh aliran darahnya. Aura kecantikannya kian memancar dan membuatnya semakin tampak lebih bergairah.


Setelah Duma mengambil semua titipan almarhum ayahnya, kini Safri mendadak semakin sesak.


Nafasnya tersengal-sebgak dan lemah. Lalu Ia menghembuskan nafas terakhirnya.


Seketika suasana menjadi hening, Ambar mengguncang tubuh Safri, namun tak ada reaksi apapaun.


"bang...bang..bangun bang.. Jangan pergi bang..!" Ambar terlihat panik, Ia mengguncang tubuh itu hingga berulang kali. Ia mencoba menempelkan telinganya di dada Safri, namun tak ada terdengar bunyi detak jantungnya.


Merasa kurang puas, Ia memeriksa denyut nadi dipergelangan tangan Safri, dan tak ada denyut disana. Ambar kian panik, namun Duma terlihat biasa saja, entahlah entah apa yang ada difikiran anak gadis tersebut.


Ambar berteriak histeris, saat mengetahui jika Safri benar- benar telah pergi untuk selamanya. "bang.. Abang.."teriak Ambar dengan histeris. Meskipun Safri pernah mengkhianatinya, namun Ia tetaplah mencintai Safri sang suami.


Teriakan Ambar mengundang warga sekitar mendatangi rumahnya.


Mereka memanggil- manggil Ambar, memastikan apa yang sebenarnya terjadi.


Saat Duma membuka pintu untuk mereka, sebagian warga yang mayoritas para pria begitu tersihir dengan aura wajah Duma yang tampak lebih cantik dan penuh gairah.


Namun mereka tersadar, saat mendengar suara tangisan Ambar. Seketika mereka masuk kedalam rumah, lalu melongok kekamar, dan mendapati Safri telah terbujur kaku.


hari itu juga, mereka mengurusi jenazah Safri. Saat pemakaman tiba, berulang kali Ambar tak sadarkan diri. Ia belum rela untuk menjanda, apalagi Ia begitu sangat mencintai Safri. Perubahan Safri akhir-akhir ini hanyalah semata karena tak mampu menahan godaan dunia.


Warga membantu Membopong tubuh Ambar yang tak sadarkan diri. Mereka membawanya pulang kerumah. semua proses fardhu kifayah telah usai, warga satu persatu meninggalkan lokasi pemkaman, dimana makam Safri berdampingan dengan makam Bernard sang anak.


Setelah semua penziarah pulang, Kini tinggal Duma seorang diri yang berada dipemakaman.


Ia memandangi kedua makam yang berdampingan itu. Ia merasa kini hidupnya terasa bebas tanpa ada yang melarang semua kesukaannya. Setelah itunIa melangkah pergi meninggalkan pemakaman. jauh disudut pagar pemakaman, tampak sepasang mata yang sedari tadi memandanginya.


-----------♡♡♡♡-----'


Ambar tersadar dari pingsannya. Ia memandangi para pelayat yang terdiri dari kerabat dan para tetangga. "Bang Safri.. Bang.. Jangan tinggalkan adik bang." rintih Ambar dalam kepiluannya. Ia tidak dapat membayangkan jika hidup tanpa Safri. Semua terasa hampa.

__ADS_1


Ambar juga pastinya akan kewalahan untuk menghadapi prilaku Duma yang kian hari kian meresahkan. Diusianya yang baru menginjak 17 tahun, namun sudah bersikap terlalu dewasa dan sering membuat masalah. Ambar tak sanggup membayangkan semua hal yang akan dilaluinya nanti dalam menghadapi prilaku Duma.


__ADS_2