
Duma berjalan sedikit tertatih. Sedari malam hingga pagi ini, sudah tiga pria yang Ia layani.
Gadis belia itu tak lagi memperhatikan seperti apa masa depannya.
Ia berjalan menyusuri gang sempit menuju jalanan utama. Bodynya yang aduhai serta pakaian yang begitu minim, membuat para lelaki menjadi salah fokus saat berpapasan dengannya.
Hal tersebut semakin membuat Duma merasa bangga, berjalan melenggak lenggok seperti seorang artis yang berjalan di karpet merah.
Sesekali mereka menyiuli Duma yang sedang melintasi gang tersebut.
Tubuhnya yang semalaman melayani 3 orang pria tak merasakan lelah sedikitpun.
Seorang pria berbadan kekar, dengan tato hampir diseluruh tubuhnya berjalan mengikutinya menuju jalan utama.
Duma mencari angkot untuk sampai kerumah kostnya.
Sebuah angkot yang ditunggunya datang. Duma menghentikannya, lalu menaiki angkot tersebut dan tidak ada penumpang kecuali hanya Ia dan lekaki bertato tersebut.
Duma mengambil tempat duduk di sisi dekat pintu masuk, lalu pria Itu ikut juga memasuki angkot dan duduk disisi kanan Duma.
Duma sepertinya begitu acuh dan gak acuh atas kehadiran pria tersebut. Hingga akhirnya, pria itu merapatkan tubuhnya kepada Duma.
Duma merasa jika pria ini memiliki maksud tertentu terhadapanya. Ia merasakan sebuah ujung benda tajam menempel dipinggangnya.
Duma diam tak berkutik, Ia merasa jika Pria ini akan melakukan tindak kejahatan padanya.
Namun rasa takutnya hanya sesaat saja. Seketika Ia tersenyum sinis, lalu menatap pria itu dengan tatapan sempurnah.
Duma menatap lekat sang pria yang diduga adalah preman pasar yang hendak memanfaatkannya.
Saat pria itu membalas tatapan Duma, seketika tangannya melemah, lalu menarik kembali pisaunya. Ia mendadak terpana dan menciut bagaikan nyali kerupuk disiram air.
Sangar wajahnya tak lagi tampak, yang ada hanya sebuah kelemahan terhadap seorang wanita.
"berikan aku uangmu.." ucap Duma sembari berbisik ditelinga pria itu.
seketika pria itu mengangguk dan mengambil uang dari saku celananya yang didapatnya dari hasil memeras para pedagang yang ada disekitar gang.
Duma tersenyum dengan licik. Lalu dengan cepat Ia meraih uang tersebut, menghentikan angkot, lalu membayarnya, serta melambaikan tangannya kepada pria itu dengan senyum liciknya.
Pria itu bak seekor kerbau yang dicocok hidungnya, ikut tersenyum dan melambaikan tangannya kepada Duma.
__ADS_1
angkot yang ditumpangi pria itu melaju dengan cepat, menghilang dibalik keramaian.
Duma berjalan melangkah menyeberangi jalan dan menyetop angkot yang lewat berlainan arah dari tempat semula.
Sampai dipertigaan jalan, Ia menghentikan angkot dan menuju ruamah kostnya.
Ia berjalan dengan santainya, lalu membuka pintu rumah kos, dan memasukinya dengan senyum kemenangan.
Sedari malam tadi Ia telah banyak menghasilkan uang dari 4 orang pria dengan sangat mudah.
"ternyata tidak sia-sia mewarisi ilmu pemikat dari almarhum Bapa.. Karena dengan mudah aku mendapatkan apa yang aku inginkan.." ucap Duma menyeringai.
Lalu Ia pergi kekamar mandi untuk membersihkan dirinya..
Sembari membersihkan dirinya, Ia bersenandung ria menyanyikan lagu yang sembari memejamkan matanya.
Seketika Ia teringat akan Khanza.. Pemuda tampan yang pernah Ia kenal tanpa sengaja. Namun sepertinya pemuda itu sangat sulit ditaklukkan.
Duma membuka matanya, Ia merasakan amat penasaran tentang pemuda itu. Ia sangat ingin sekali bertemu dengannya.
"seberapa kuat kamu bisa menolak keinginanku..? Karena tidak ada satupun lelaki yang bisa menghindari pesonaku.." ucap Duma dengan tatapan sinis.
Ia mempercepat mandinya, Ia ingin beristirahat sejenak, karena sorenya akan mulai bekerja lagi di Bar, maka Ia ingin mengumpulkan tenaganya.
Pukul 5 sore. Duma terbangun dari tidurnya, lalu meguap dan menggeliatkan tubuhnya yang terasa pegal. Ia beranjak bangkit, lalu pergi kekamar mandi untuk mencuci mukanya yang masih terasa sangat mengantuk.
Ia merasa lapar, sedari pagi tadi Ia belum makan apapun.
Duma bergegas mempercantik dirinya dan mengenakan pakaian yang akan dipakainya untuk bekerja di Bar.
Celana jeans pendek sepangkal paha, dengan tanktop serta sepatu casual berwarna putih gading menjadi piihannya hari ini.
Ia berniat akan ke Mall untuk makan, sekaligus mencari mangsa baru disana.
Setelah mempercantik dirinya, Ia kemudian segera keluar dari rumah dan mencari Betor untuk alat transportasinya.
Setelah mendapatkan betor yang diinginkannya, Ia menuju Mall yang sebagai tempat pilihannya makan sore dan berbelanja, sekaligus mencari mangsa baru.
Ia memasuki sebuah restaurant cepat saji yang saat itu sangat ramai pengunjungnya.
Seorang pramusaji menghampiri dan menanyakan pesanan Duma.
__ADS_1
"pesan menu apa mbak..?" tanya pramusaji sembari menyodorkan data menu yang ada direstaurantnya.
Duma melihat-lihat daftar menu tersebut. Ia tertarik dengan satu menu disana.
"saya pesan 1 porsi steak tenderloin sauce paperblack, dan minuman soda.." ucap Duma kepada pramusaji itu.
"ok. Mbak.. Bisa ditunggu sebentar pesanannnya." ucap Pramusaji tersebut.
Duma menganggukkan kepalanya. Ia mengambil gadgetnya, lalu membuka aplikasi media sosial. Saat itu, sepasang mata memperhatikannya, disudut meja yang berhadapan dengannya.
Duma yang merasa ada seseorang mengintainya, menggeser gadgetnya sedikit kearah kiri, Ia melirik sosok siapa yang sedang memperhatikannya.
Deeeeeeeghh..
"haah..Dia.. Mengapa sangat kebetulan sekali..?" Duma berguman dalam hatinya.
Duma melemparkan senyum termanis sekaligus nakal kepada sosok pemuda itu.
Namun pemuda itu merundukkan pandangannya dan kembali menyantap makanannya.
Duma merasa sangat kesal, Ia tidak suka jika diabaikan, apalagi ditolak.
Duma semakin merasa penasaran dengan pemuda itu. Ia bertekad ingin menaklukan pemuda itu hingga bertekuk lutut kepadanya.
Duma menggeram dalam hatinya. Ia melirik kepada pemuda yang berpura-pura tidak melihatnya.
Sesaat kemudian, pesanannya datang. Duma menyantab pesanannya, sesaat Ia melirik kearah tempat pemuda itu duduk. Namun Ia tak menemukannya disana.
Duma berkeliling mencari keberadaan pemuda itu. "kemana dia menghilang.? Begitu cepat..?" Duma berguman lirih dalam hatinya.
Duma mengedarkan pandangannya kesekekiling arah, mencari sosok pemuda tersebut, namun tak menemukannya.
Duma mempercepat suapannya. Lalu bergegas membayarnya dan ingin mencari keberadaan pemuda tersebut, namun sial, Ia tak menemukannya.
Duma akhirnya memutuskan untuk berbelanja kosmetik dan bahan makanan lainnya.
Saat Ia memilih peralatan mandi, satu tangan ikut mengambil bahan yang sama dengannya. Seketika mata mereka beradu, lalu sosok itu terburu-buru melepas barang yang sama mereka inginkan.
Sosok itu berpaling darinya, lalu menuju rak yang lainnya. Sepertinya pemuda itu sengaja menghindarinya.
Duma sangat kesal sekali. Seoalah-olah Ia merasakan jiak pemuda itu sangat jijik melihatnya.
__ADS_1
Duma menggeretakkan gigi-giginya, Ia mengepalkan tinjunya, seoalh-olah ingin meninju wajah pemuda tampan itu.
"jangan kau kira kau bisa lepas dariku, kau belum tau siapa aku. Jika kulancarkan mantra pemikat sukmaku.. Maka kau akan merangkak mencariku, bahkan kau tidak akan mengingat keluargamu.. Terlalu sangat angkuh kau padaku..!!" Duma berguman geram dalam hatinya.