
Duma merasa kebingungan dengan apa yang kini Ia rasakan. Ia tak lagi mampu membayangkan wajah Khanza "Sial...! Mengapa wajahnya tak lagi mampu Ku hadirkan dalam pandanganku" Duma merasa kesal, lalu menggeretakkan giginya.
Ia kini sudah bersiap untuk melakukan ritual untuk melakukan ajian pemikatnya, dan ditujukan kepada pemuda incarannya.
Namun baru saja Ia hendak melakukannya, Ia merasakan hawa panas merasuk kedalam tubuhnya. Ia melihat sebuah bayangan pria bersorban sedang memandangnya dengan tatapan tajam. Ia seketika menjadi gemetar dan ketakutan dimana pandangan itu tampak begitu mengintimidasinya.
Duma tersentak kaget. Ia menghentikan ritualnya, lalu beringsut dari tempatnya. Ia bergerak mundur dengan menggeser bokongnya, dan kini telah tersudut didinding.
"Bertaubatlah, sebelum Kamu menyesali segala apa yang kamu perbuat" Ucap sosok bersorban putih dengan suara beratnya. Wajah sosok itu tidak jelas terlihat, namun suaranya sanagt jelas terdengar.
Seketika tubuh Duma mengigil ketakutakutan, Ia tak menduga akan berhadapan dengan sosok tersebut.
"Jangan pernah Kau sekalipun menganggu pemuda itu, jika Kau tak ingin mendapatkan ganjaran yang lebih berat" sosok itu kembali memperingatkan, lalu menghilang dalam sekejap saja.
Duma merasakan tubuhnya mengigil ketakutan, Ia tak pernah merasakan hal yang begitu amat mengerikan. "Taubat? Apa itu... Bulshit!" bantahnya dalam hati.
Ia kemudian beranjak dari duduknya, dan berjalan sempoyongan menuju kamar mandi. Belum sempat Ia sampai dikamar mandi, sebuah panggilan vedeo masuk kedalam phonsel.
Satu nama dari seorang pria yang selalu menggunakan kemolekan tubuhnya. "Bos William?" gumannya lirih.
Duma menggeser tanda hijau diphonselnya, tampak gambar seorang pria yang sedang duduk dimeja kerja sedang menatapnya nanar. "Cepatlah berdandan sayang, Aku tunggu dalam waktu 20 menit, kamu harus segera sampai disini" ucapnya penuh perintah.
Duma hanya mengangguk lemah, lalu mematikan phonselnya. Ia segera membersihkan dirinya dan harus sampai dilokasi kerja sebelum bos-nya itu berang.
*******
Duma sudah mampu membeli mobil dari hasil bekerjanya menjajakan kemolekan tubuhnya. Ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan tak biasa, agar segera sampai dilokasi bekerja.
Tak berselang lama, Ia telah sampai di depan diskotik dan memarkirkan mobilnya dipelataran parkir.
Ia bergegas keluar dari dalam mobilnya, lalu dengan terburu-buru menuju tempat bekerjanya. Saat akan memasuki pintu masuk, Ia bersenggolan dengan siseorang yang tak lain adalah Wina. Ia memandang sekilas kepada wanita itu, lalu melanjutkan langkahnya dan menuju ruangan tempat Bos-nya yang sedari tadi sudah menunggunya dan Ia sudah terlambat 10 menit.
__ADS_1
Sebelum mengetuk pintu, Ia sudah terlebih dahulu merafalkan mantra pemikatnya, bertujuan agar si Bos tidak mengomelinya.
Ia mengetuk pintu, lalu terdengar suara seseorang untuk memerintahkannya masuk.
Duma menarik handle pintu, dan melongok kedalamnya. Saat itu Ia melihat ada orang lain selain William disana.
Duma memasuki ruangan tersebut, dan menutup pintu itu kembali.
"Kunci pintunya" titah William. Tampak sekali wajah pria itu ingin marah karena telah lama menunggu, namun melihat senyuman Duma Ia langsung berubah fikiran dan luluh seketika.
"Mendekatlah sayang, ada tamu yang sedari tadi sudah menunggumu." ungkapnya tak sabar, sembari memperkenalkan seorang pria disisi kirinya.
"Ini Jhon, tamu yang akan membookingmu. Namun Ia ingin melihat kemampuanmu dalam menyenangkannya, dan kamu harus memperlihatkannya dengan sangat jelas sebagai bukti kemampuanmu." ucap William dengan senyum bangga, jika Ia memiliki karyawan yang pantas diandalkan.
Jhon, pria yang tampak Me*sum itu menatap kemolekan Duma hingga tak berkedip, ingin rasanya Ia menerkam gadis itu saat ini juga.
Duma menghampirinya, Ia memastikan jika pria itu memiliki banyak aset berharga. Ia mendekatinya, membacakan mantra pemikatnya, lalu meniupkan angin lembut kewajah pria itu. "Apakah Tuan ingin melakukannya sekarang?" tanya Duma dengan nada menggoda.
Seperti tak ingin kalah, Jhon bergabung dalam penuantasan hasrat bersama keduanya.
Duma merasa bangga dapat menaklukkan dua pria sekaligus, namun tanpa sadar, bahaya besar telah menunggu dihadapannya.
Setelah melakukan service kepada kedua pria itu sekaligus, Duma mendapatkan banyak kucuran dana kerekeningnya, membuatnya semakin menggila.
Ia keluar dari ruangan William setelah 3 jam lamanya. Namun tak sedikitpun rasa lelah menghampirinya.
Duma berjalan dengan rasa bangga, jika para teman seprofesinya masih ada yang menunggu langganan atau menunggu orang yang akan memakai jasa mereka, Ia dalam sekejab sudah dapat menaklukkan dua pria sekaligus, dengan bayaran cukup fantastis.
Duma berjalan santai di sofa, Ia duduk dengan perasaan senang saat membaca angka nominal di pesan masuk banking-nya.
Saat itu, seorang pria asing datang menghampirinya. Ia meminta Duma untuk melayaninya. Melihat pria Asing yang berasal dari negara luar itu, Duma lalu tersenyum sumringah.
__ADS_1
Ia menganggukkan kepalanya dan menyetujuinya. Lalu mereka mencari hotel terdekat.
*****
Duma sudah sampai dihotel bersama pria asing tersebut. Ia tidak begitu waspada terhadap bahaya yang sedang mengincarnya. Ia terlalu kemaruk akan uang dan harta dunia.
Pria asing itu mencampurkan obat didalam minuman Duma. Lalu memknta Gadis malang itu menenggaknya.
Denhan cepat Duma menenggaknya. Dan tiba-tiba saja kepalanya merasa pusing.
Tubuh gadis itu merasakan hawa panas yang sangat luar biasa. Hasratnya memuncak seketika, dan ingin terpenuhi.
Pandangan gadis itu mulai kabur, Ia melihat ada beberapa pasang mata sedang memandanginya. Ia mendengar suara-suara pria yang dipastikannya berjumlah 5 orang sedang mengelilinginya.
Lalu Ia hanya merasakan jika tubuhnya dijamah banyak tangan dengan sangat kasar, dan Ia merasakan jika dirinya digilir secara bersamaan.
Sesaat Ia merasakan tubuhnya disentuh jarum suntik dan cairan yang Ia tau itu adalah narkoba masuk kedalam aliran darahnya.
Sesekali mereka menenggukkan minuman berakohol kedalam mulutnya, lalu menggilirnya kembali.
*****
Duma mengerjapkan kedua matanya. Ia memandangi kesekelilingnya, tampak lengang. Tak ada satupun sesiapa didalam kamar hotel itu.
Ia hanya melihat sisa jarum suntik, botol minuman yang berserakan didalam kamar hotel tersebut.
Ia merasakan tubuhnya bagaikan remuk dan tak berdaya. rasa pusing dikepalanya kian mendera, Ia mendapati dirinya tanpa sehelai benangpun.
Duma berusaha bangkit dan memunguti pakaiannya yang berserakan dilantai. Ia merasakan dua area sensitipnya terasa nyeri. Sepertinya para pria asing itu menghajarnya habis-habisan.
Gadis itu mengenakan pakaiannya, Ia memungut kunci mobil dan barang-barangnya, tidak ada satupun yang hilang, namun Ia tidak menerima bayaran apapun dari para pria tersebut, hanya kesakitan ditubuhnya yang kini Ia rasakan.
__ADS_1
Duma berusaha untuk pulang sampai ke Kos-nya. Setelah sampai di Kos, Ia membaringkan tubuhnya yang begitu terasa remuk redam, Ia mencoba mengumpulkan segala tenaganya yang tersisa dan berusaha untuk beristirahat.