Pemikat Sukma

Pemikat Sukma
Hari Pernikahan


__ADS_3

Suasana pernikahan ijab kabul akan dilaksanakan. Sedangkan resepsinya akan digelar digedung pernikahan dengan sangat meriah.


Wina mencoba menghadirinya, namun Duma hanya ingin menghadiri acara resepsinya saja. Karena saat ini Ia sedang kambuh.


Acara akad dilakukan di sebuah mesjid yang terkenal disana. Semua itu atas keinginan Adillah. Semua tamu undangan yang hanya terdiri dari beberapa orang keluarga dekat dan kenalan saja yang diundang untuk menjadi saksi pernikahan sakral tersebut.


Keluarga Ridwan sudah berada disana sejak sedari tadi. Adillah sudah berterus terang kepada Ridwan dengan kondisi jati dirinya yang sesusungguhnya, dan Ia mencoba menerimanya. Namun sayangnya, Ridwan tidak menceritakan hal tersebut kepada kedua orangtuanya.


Pihak Rena mengira semua akan berjalan lancar, karena Ridwan sudah menerima dengan ketulusan hati tentang jati diri dari Adillah.


Acara akad akan dilangsungkan, sedangkan Wina masih dalam perjalanan dan hampir sampai ditempat tujuan.


Sebuah insiden terjadi, saat akan terjadi akad, namun Hanif menyerahkannya kepada wali hakim. Sesaat Refa Deliana yang merupakan mama dari Ridwan merasa heran dan juga bingung, juga dengan keluarga yang lainnya.


"Mengapa diwalikan? Jika ayahnya tidak sanggup bukankah masih ada adik kandungnya, dan juga Kakeknya" Refa merasa tidak senang.


Seketika suasana menjadi tegang. Tidak seharusnya Refa meributkan hal itu disaat yanh tidak tepat. Namun karena ucapan Refa, seketika suasana menjadi kacau. Bisikan dari ghibahan para tamu yang hadir kian menusuk telinga.


Rena menatap Ridwan dengan tatapan meminta penjelasan, namun Ridwan merundukkan kepalanya, karena Ia tidak memberitahu tentang jati diri Adillah sebenarnya.


"Maaf, saya tidak bisa menjadi wali bagi pernikahan anak saya, karena ini melanggar syariat, dan ini saya serahkan kepada wali hakim." seketika suasana menjadi kian kacau dengan pengakuan Hanif yang terlalu jujur.


Suara-suara sumbang kian santer terdengar. Seketika wajah Refa dan suaminya mendadak menjadi merah. "Maksudnya apa? Adillah anak diluar nikah?" tanya Refa yang keceplosan.


Bersamaan dengan itu, Wina sudah sampai didepan pintu mesjid dan mendengar perdebatan tersebut.


Ia mengurungkan niatnya untuk masuk kedalam mesjid, melainkan memilih bersandar didinding dekat pintu masuk mesjid.


Wina mengintai dari jendela kaca, alangkah terkejutnya Ia saat melihat sosok Hanif berada disana dan juga Rena. "Siapa Adillah? Apakah Ia anak dari Hanif dan Rena?" gumannya lirih, dengan perasaan yang bercpur aduk. Ia ingin melangkah pergi, namun langkahnya tertahan, saat Ia mendengar suara Hanif berbicara.


"Dia bukan anak diluar nikah, namun kami memungutnya dijalanan sepi seorang diri dimalam hari. karena kami tidak mengetahui siapa orangtuanya, maka kami menyematkan binti Abdullah, yaitu hamba Allah." ucap Hanif menjelaskan.

__ADS_1


Seketika Wina merasa bagaikan disambar petir mendengar penjelasan dari Hanif.


"Apakah itu Sofia? Namun mengapa bibirnya tidak sumbing? Apakah Hanif mengoperasinya?" Wina mulai bertanya-tanya.


Disisi lain, suasana didalam mesjid kian kisruh dan saling berkasak kusuk.


Wali hakim berusaha menenangkannya " Saudara-saudara, harap tenang.! Jika pernikahan ini akan dilanjutkan, maka akan kita mulai, jika tidak maka akan dibatalkan." ucap Wali hakim tersebut.


Seketika suasan menjadi hening, Ridwan membuka suara. "Lanjutkan pernikahan ini Pak, Wali" Ucap Ridwan dengan tegas. Saat itu Refa ingin mengucapkan sesuatu kata, namun Papa Ridwan mencegahnya, dan pernikahan itu akhirnya dilanjutkan.


Sementara itu, Wina diam terpaku dan hanya mengintai dari kaca jendela memandangi jalannya prosesi pernikahan.


Ia tak ingin merusak suasana yang tadi sempat kacau, namun rasa penasaran membuatnya begitu sangat kuat. Ia beranjak dari pintu mesjid, mencari tempat untuk berteduh dan berjalan menuju area parkiran, Ia duduk ditepian lantai mesjid, menunggu acara itu usai.


Sementara itu acara pernikahan yang tadi sempat terjeda akhirnya dilanjutkan kembali dan berjalan sesuai rencana, meskipun wajah Adillah sempat memerah menahan rasa malu, dan sempat menitikkan air matanya. Namun Ridwan menerimanya apa adanya.


Disisi lain, Andi sang sopir membisiskkan sesuatu kepada Khanza, sembari menyerahkan sebuah amplop berisi kop surat rumah sakit. Khanza membukanya perlahan dan membaca isinya.


Khanza meremas kuat surat tersebut dan memasukkannya kedalam saku balazernya, pandangannya nanar kedepan.


Sementara itu, acara ijab qabul akhirnya selesai, kini Adillah dan Ridwan akhirnya sah menjadi suami dan istri, serta esok akan dilaksanakan acara resepsinya.


Perlahan satu persatu para tamu meninggalkan ruangan mesjid, dan Ridwan membawa Adillah nersamanya dalam satu mobil.


Kini tinggal Rena dan Hanif dan yang terakhir kali keluar dari mesjid karena menemui pengurus BKM untuk mengucapkan terimakasih dan meminta maaf atas insiden yang barusan terjadi.


Lalu keduanya beranjak akan pergi dari ruangan mesjid dan akan menuju parkiran, namun seseorang menghadangnya.


"Wina? Mengapa Kamu ada disini?" tanya Hanif dengan nada kagetnya.


Rena mencoba mengingat wajah wanita tersebut, Ia pernah bertemu dengannya beberapa kali, namun lupa dimana. Namun dari gelagat Hanif yang berbeda, Ia dapat menyimpulkan jika wanita itu masa lalunya.

__ADS_1


"Aku tidak berniat mengganggu kalian. Aku hanya ingin menanyakan sesuatu hal yang sangat penting" ucapnya lirih dengan wajah sedih.


"Katakanlah..." ucap Rena mencoba tenang.


Wina menarik nafasnya dalam, mencoba mengatur detak jantungnya yang kian memburu.


"Apakah kalian saat menemukan gadis itu dahulu dalam kondisi bibirnya sumbing?" ucap Wina dengan nada bergetar.


Duaaaaaaaar...


Rena dan Hanif bagaikan mendengar sambaran petir disiang hari mendengar ucapan Wina yang tak pernah diduganya sama sekali, terutama Hanif yang mulai menebak jalan fikiran Wina.


"Ba...bagaimana kamu bisa tahu?" tanya Rena penasaran dan juga tergugup.


Seketika Wina tak mampu menahan laju air matanya, Ia mulai tersedu dengan kepiluan hatinya. "Karena Aku yang telah membuangnya" ucapnya dengan rasa penyesalan yang sangat dalam.


Saat itu Adillah sedang berada dibelakang ketiganya, mereka tak menyadari kehadirannya yang tiba-tiba. Ia turun dari mobil saat melihat Wina menghampiri kedua orangtua angkatnya, maka Ia meminta ijin kepada Ridwan agar menunggunya sejenak.


Adillah yang dibalut kebaya putih lengkap dengan aksesorisnya itu tampak tak percaya mendengar apa yang dikatakan Wina barusan. Ternyata orang yang selama ini Ia bantu itu adalah Ibu yang telah membuangnya.


Rasa sakit yang luar biasa begitu bergelayut direlung hatinya yang terdalam. Hari ini bagaikan mendapat siksaan yang teramat pedih. berawal dari hampir kacaunya pernikahannya hingga mendapati kenyataan pengakuan Wina yang menyakitkan hatinya.


"Wina tersimpuh dikaki Rena sembari menangis tersedu "Te...terima kasih, sudah membesarkannya dengan baik dan juga memberikannya kasih sayang yang sangat luar biasa. Aku memang Ibu yang buruk!" ucapnya dengan penuh penyesalan.


Rena membantunya untuk bangkit. Meskipun Ia sendiri juga bingung bercampur sakit hati, karena mengetahui ada seorang Ibu yang tega menelantarkan anaknya. Namun setiap orang bisa melakukan ke khilafan, dan Allah memberikan jalan taubat.


"Bangunlah... Semua sudah terjadi, kini hanya bahaimana kamu memperbaikinya" ucap Rena berusaha tetap tenang.


Sementara itu, Hanif merasa sangat kacau, karena selama ini ternyata Ia telah membesarkan anak dari mantan kekasihnya yang waktu itu ketahuan berselingkuh didepan matanya.


Namun, haruskah Ia membenci Adillah yang tidak memiliki salah apapun dari semua dosa yang dilakukan oleh Wina sementara kasih sayangnya untuk Adillah sama besarnya kepada Khanza.

__ADS_1


seketika semuanya terhenyak, saat mendapati Adillah yang berlari semabari menangis menuju mobil Ridwan dan meminta sopir segera membawanya pulang kerumah.


__ADS_2