
****
"sudah sampai mbak. apa mau sekalian saya stopkan bus? tujuannya kemana mbak?" ucap abang betor menawarkan bantuan. Ia begitu prihatin dengan gadis malang itu. meskipun Ia tak mengetahui permasalahan yang sebenarnya.
Rena yang masih terisak, hanya menganggukkan kepala saja. "jurusan Medan ya Bang." ucapnya lirih. namun tak mau beranjak dari atas betor.
"iya. mbak tunggu disitu saja. tak perlu turun. ntar kalau busnya sudah datang baru turun." ucap abang betor dengan tulus.
Rena hanya diam membisu. tak ada jawaban. air matanya tak henti membasahi kedua pipinya. hatinya hancur laksana serpihan-serpihan yang tersapu angin.
tak menunggu lama, bus pun datang. abang betor menghentikannya, dan kondektur bus memberi kode. bahwa ada penumpang yang akan naik.
"mbak, busnya sudah datang, mau naik sekarang?" ucap abang betor mengingatkan.
__ADS_1
Rena yang masih larut dalam kesedihannya, segera beranjak dari atas betor. Ia membayar ongkos sesukanya. tanpa lagi fokus dengan lembaran uang yang diberikannya kepada abang betor.
meskipun kurang dari harga ongkos yang sesungguhnya, namun abang betor ikhlas menerimanya. karena Ia yakin Rena sedang tidak baik-baik saja. sehingga tidak sengaja memberikan jumlah ongkos yang tidak sesuai.
Rena menaiki badan bus, masih dengan menunduk, matanya sembab. lalu Ia mencari kursi penumpang yang kosong. Ia duduk dengan diam seribu bahasa. hatinya kian pilu.
"mengapa kau setega ini padaku sayang? dua tahun setengah bukan waktu sebentar kita menjalin hubungan ini. ada banyak kenangan yang tersimpan rapi dihatiku." Bathin Rena dengan kesedihan
hatinya begitu nelangsa.. Ia tak rela jika harus diputuskan Bernard. dihatinya hanya ada Bernard seorang. Ia tak ingin cinta yang lain. apapun ceritanya, Rena ingin mempertahankan hubungannya. meskipun Bernard menyakitinya. Ia tetap kekeh terhadap cintanya.
****
sesampainya dirumah paman Rasyid. Rena langsung menuju kamarnya. mencurahkan segala kesedihannya. Ia melanjutkan tangisannya. sepuasnya Ia tumpahkan rasa sakit hatinya. matanya kian sembab, seperti seseorang yang terkena bogem mentah.
__ADS_1
Rena mengambil phonselnya. lalu mengirimkan pesan kepada Bernard. "aku tidak terima kamu putuskan. aku mencintaimu, hanya kamu dihatiku. kamu milikku. jika kau memiliki wanita lain, aku rela jika harus berbagi cinta dengannya. aku menerima semua kekuranganmu. tapi satu hal kumohon padamu, jangan putuskan hubungan ini." Rena mengirimkan message itu kepada Bernard.
setengah jam berlalu, tak ada balasan. hatinya kian gelisah. Ia mulai uring-uringan. semuanya terasa serba salah. apapun yang dilakukannya seperti tak memiliki arti.
hidup Rena kini tak ubah laksana kapal tanpa nahkoda. terombang-ambing dilautan tanpa tujuan. Ia tak lagi semangat menjalani hidupnya. Ia ingin mengakhiri hidupnya. namun wajah Munah ibunya, melintas begitu saja dihadapannya. sehingga Ia mengurungkan niatnya.
andai saja Imannya tidak kuat, mungkin Rena lebih baik mati, daripada harus menanggung penderitaan yang begitu menekan hidupnya.
tak satupun orang yang tau, apa yang sedang dialaminya. patah hati, membuatnya kehilangan arah.
tak jua mendapat balasan dari Bernard, Rena semakin perih.
"apakah kamu sedang bercinta dengan wanita lain?" ucap Rena membathin. "aku tidak masalah jika kau mendua. asalkan hubungan kita baik-baik saja. ku mohoooon, balaslah pesanku. aku tak dapat jika harus terus berdiam diiri"
__ADS_1
akhirnya Rena tertidur setelah sekian jam menangis tanpa henti?." kini Ia telah terlelap bersama mimpinya.