Pemikat Sukma

Pemikat Sukma
tanpa judul


__ADS_3

Wina yang merasa ada sesuatu yang direncanakan oleh Rika sahabatnya, membuat Ia harus beranjak dari tempatnya, dan aejenak meninggalkan pelanggannya dengan alasan kekamar kecil.


Saat memasuki koridor toilet, Wina berpapasan dengan Duma yang tampak seperti habis senyum-senyum sendiri karena sedang mendapatkan sesuatu.


Saat menatap gadis itu, ada sesuatu yang menggetarkan hatinya, namun Ia sendiri tidak tahu itu apa.


Lalu mereka hanya saling tatap dan berlalu begitu saja.


Saat ini, Wina ingin melihat kondisi Rika yang tampak bengong di washtafel toilet, memandangi wajahnya dicermin seperti orang linglung.


Seketika Wina menghampirinya. Lalu menepuk pundak sahabatnya yang tampak seperti orang bengong.


"Hei.. Ngapain melamun disini..? Ntar kesambet baru tau.." Wina mencoba menegur Rika yang diam tak bergeming.


Sesaat Rika tersentak akan teguran dari wina. "Eh.. Kamu Win.. Ngagetin aja.." jawabnya sembari mengelus dadanya yang tiba-tiba bergemuruh karena kaget.


"Lagian kamu ngapain coba melamun ditempat seperti ini..? Pamali tau..? Bisa kesambet dirimu.." ujar Wina mencoba mengingatkan sahabatnya.


Rika tergagap, Ia mencoba mengingat apa yang barusan terjadi padanya. Namun saat ini, Ia masih belum dapat mengingatnya.


"Ya sudahlah.. Ayo kita kedepan, bekerja lagi, jangan fikir yang macam-macam.."ujar Wina mengingatkan.


Sesaat Rika menganggukkan kepalanya, dan berjalan mengikuti Wina yang sudah lebih dahulu berjalan didepannya.


Rika kembali ke meja bar, untuk menunggu giliran mengantarkan minuman. Ia terus mencoba mengingat apa yang terjadi, namun masih belum tergambar di memorynya.


Sesaat seirang Bartender datang menyuguhkan sebuah nampan berisi racikan minuman alkhol, untuk diantar ke meja tamu. "Rik, antar ke meja yang disudut sana ya.. Dan tolong kalau ketemu dengan anak baru itu suruh kemari, ada pesanan untuk dia." ujar Bartender muda itu.


Rika hanya menganggukkan kepalanya, namun mendengar kata anak baru tersebut, tentulah itu Duma. Ia mencoba merasakan ada seseuatu yang berbeda dihatinya.


Rika berjalan menuju meja tamu yang ditunjukkan oleh sang bartender, lalu tanpa sengaja Ia berpapasan dengan sang gadis yang tampak tersenyum-senyum geli melihatnya. "Ada apa dengannya..? Mengapa Ia menatapku seperti itu..? Dasar gadis sialan.. Kalau bukan karena aku yang membawamu kemari, maka kau hanya menjadi penjaja tubuh jalanan.." gerutu Rika sembari berjalan melintasinya.


Bahkan Rika melupakan pesan dari sang bartender tersebut.


Namun tampaknya Duma berjalan mengarah ke meja Bar, lalu menunggu pesanan. Dan bertender itu datang menghampirinya. "Ini bawa ke pelanggan dilantai dua, lama sekali kamu, apakah Rika tidak menyampaikan pesanku padamu..?" tanya Bartender itu dengan sedikit ketus.

__ADS_1


Duma hanya tersenyum menanggapi omrlan sang bartender, karena Ia tidak mendapat pesan apapun dari Rika.


Duma segera mengambil nampan itu, lalu berjalan melenggokkan tubuhnya, mencari perhatian para tamu yang sedang berseliweren didalam ruangan Bar, dan tak jarang terkadang tangan-tangan jahil menyentuh sedikit bagian tubuhnya yang menggoda.


Duma merasa bangga jika para tamu itu terlihat tergoda akan keelokan tubuhnya, dia akan tersenyum penuh kebanggaan.


gadis itu menapaki anak tangga, lalu Ia sampai di lantai dua, ruangan khusus VVIP.


Ia melihat dua orang tamu disana, dan satu tamu diantaranya adalah dia, pemuda yang selama ini belum dapat Ia taklukkan. "Khanza.. Dia kah itu..?" Guman Duma lirih dalam hatinya.


Peeasaannya bergetar tak karuan, tiba-tiba I menjadi thremor, tangannya gemetaran dan Ia berusaha untuk menjaga detak jantungnya agar normal.


Ia baru menyadari, jika nampan yang dibawanya satu gelas berisi air lemon, dan itu tentu pesanan pemuda tampan yang kini dihadapannya.


Duma meletakkan gelas berisi air lemon ke hadapan Khanza, dan minuman alkohol ke hadapan tamu yang satunya. Seolah-olah gadis itu sudah sangat hafal dengan minuman para pelanggannya.


Seorang tamu chiness yang bersama Khanza, tampak menarik lengan Duma. "Kamu disini saja nona, saya sudah membayarmu, maka layani saya untuk menuangkan minuman ini."ucap tamu Chiness itu, lalu mendaratkan kecupannya dipipi sang gadis.


Duma hanya mengangguk, lalu duduk disisi tamu Chiness tersebut.


Sementara iru, Khanza tak memperdulikan lirikan dari mata sang gadis yang terus saja memperhatikannya. Ia seolah sibuk dengan urusannya, menatap layar laptopnya dengan penuh seksama.


Kini hanya ada Duma dan pemuda yang selalu bersikap dingin padanya.


Duma merasa sangat kesal, Ia tampak dicuekin dan dianggap tidak ada oleh pemuda itu. Lalu Ia merasa ini sudah keterlaluan. Duma mencoba merafalkan mantra pemikatnya, membaca dengan penuh kesungguhan, agar dapat merobohkan hati sang pemuda.


Namun, sudah lama Ia membacanya berulang kali, tetapi belum ada juga respon yang signifikan dari sang pemuda.


kini hingga tamu chiness itu datang kembali ke meja mereka, namun pemuda tampan itu tampak biasa saja.


Lalu Khanza dan rekan bisnisnya itu kembali melanjutkan perjanjian bisnisnya, dan meyepakati kerja sama.


Khanza bersiap akan pergi, sementara itu, tamu taipan itu mencengkram pinggang Duma, temani aku malam ini, dan akan aku beri tips lebih. "ucap pria itu dengan mata nakal.


Duma tak berkutik, namun sejatinya Ia ingin mengejar sang pemuda yang tampak sudah beranjak ingin pergi. Ia ingin mencegahnya, mimik wajahnya menggambarkan jika Ia ingin berbicara empat mata dengan sang pemuda. Namun pemuda itu tak menghiraukannya.

__ADS_1


Disisi lain, taipan itu sudah seperti tampak tak terkontrol. Tangan jahilnya sudah menggerayangi kemana saja.


Lalu Ia menarik sang gadis kepangkuannya dengan kondisinya yang sudah mabuk membuatnya hampir tak menyadari apa yang terjadi. Taipan itu terus meracau tak jelas. Duma memanfaatkan situasi tersebut, untuk memoroti seluruh uang tamunya. Hingga akhirnya sang taipan itu tak sadarkan diri karena minum terlalu banyak.


Duma segera beranjak keluar. Ia berusaha mengejar pemuda itu. Ia melihat sang pemuda sudah menuju arah pintu keluar. Duma mempercepat langkahnya, dan mencoba mendapatkan pemuda itu.


Setelah Ia berhasil menyusulnya, Duma menarik pundak sang pemuda agar menghadap padanya. Namun sepertinya Ia salah orang, karena itu bukan Khanza, melainkan orang yang memakai pakaian yang hampir mirip dengan pemuda yang sedang dicarinya.


Duma mengedarkan pandangannya. Lalu Ia melihat sebuah mobil mewah didepan jalanan yang sedang menepi. Ia melihat seorang pemuda baru saja keluar dari mini market dan meneteng kantong belanjaan.


Duma melihat dengan jelas jika itu pemuda yang cari, dengan langkah yang dipercepat, Duma berhasil mendapatkannya.


Sang pemuda yang melihat gadis itu berlari menuju padanya mencoba menghentikan langkahnya, hingga akhirnya sang gadis berada tepat dihadapannya.


Pandangan matanya yang begitu berbeda. Membuat Khanza berulang kali beristighfar.


"Tunggu.. Aku ingin berbicara padamu.." ucap Duma dengan nafasnya yang tersengal.


Khanza hanya diam, menatap sang gadis yang tampak seperti ingin berbicara serius padanya.


"Mengapa kau selalu mengabaikanku jika kita bertemu..? Apa salahku padamu..?" tanya Duma tak tau apa dengan yang diucapkannya.


Gadis itu seperti kehabisan kata-kata untuk bertanya kepada pemuda itu.


"Aku tidak mengenalmu.. Lalu kesalahan apa yang kau perbuat padaku..?" jawab Khanza dengan tenang.


Suara itu, membuat hati Duma bergetar, Ia tidak pernah mendengarnya dari seorang pria manapun. Setiap suara yang didengarnya selama ini hanyalah sebuah rintihan hasrat yang bergemuruh, namun berbeda dengan sang pemuda, Ia begitu mengagumkan.


"Tetapi kita sering bertemu.. Dan kau seperti mengabaikanku.." ucap Duma bergetar.


"Kamu sedang bekerja, dan aku tidak suka mengacau pekerjaan seseorang.." jawab Khanza, lalu beranjak ingin pergi.


Namun Duma segera menarik pergelangan tangan Khanza. "Maukah kau berteman denganku.." pinta Duma dengan nada memelas.


Khanza hanya diam mematung, lalu menepiskan genggaman tangan gadis itu. "Aku sedang sibuk.. Maaf.." jawab Khanza, lalu beranjak pergi, tanpa menoleh sedikitpun kepada sang gadis.

__ADS_1


Mata gadis itu berbah mendung, menatap punggung pemuda yang terus berjalan menuju mobil, hingga akhirnya berlalu.


Duma merasakan baru kali ini dirinya ditolak seorang pria. Bukankah dengan pemikat, tubuh elok dan wajah rupawan Ia bisa mendapatkan pria manapun, namun sulit menaklukkan pemuda itu.


__ADS_2