
"Mamah..." teriak anak kecil dengan kaki pendeknya berlari menuju Mamah nya yang sedang membuatkan makan malam untuk mereka
"Iya sayang, tunggu sebentar ya Mamah belum selesai nak." ucap seorang wanita mudah kepada anaknya itu
Grep.
"Eh... Astaga nak, kamu buat Mamah kaget saja." anak kecil itu tersenyum kuda saat Mamah nya menunduk melihat wajahnya
"Aku kangen Mamah.." ujar anak kecil tersebut mengatakan kalimat rindu dengan wanita yang ia panggil Mamah itu
"Sabar nak, sabar ya ini Mamah sedang buat lauk untuk kita makan." anak kecil itu mengangguk mengerti
"Vano duduk disana dulu ya nak!" seru wanita itu yang tidak lain adalah Serafina
"Siap Mah."
"Hahha.. Kamu lucu banget sih." Sena mencubit pipi gembul Putra nya
Sena tersenyum manis melihat wajah Putra nya yang tidak berhenti tersenyum, wajah anaknya mengingatkan dirinya kepada sang suami yang telah ia tinggalkan dua tahun yang lalu
"Mamah, asap!"
"Hah?" Sena menoleh ke belakang, matanya membulat ketika melihat asap mengembul
"Oh astaga!" Sena segera bangkit dari jongkok nya untuk melihat masakan diatas kompor
"Untung tidak gosong nak telor ceplok kamu," ucap Sena
__ADS_1
"Hahha.. Mamah terlalu serius mandangin aku jadi sampai lupa kalau ada masakan diatas kompor." Vano terkekeh pelan menertawakan Mamah nya
"Bahagia ya kamu sayang," Sena melirik sekilas kepada Putra nya, Vano menggelengkan kepalanya
"Kenapa tidak bahagia sayang? Buktinya kamu tersenyum terus dari tadi." ujar Sena, Vano menggelengkan kepalanya lagi
"Vano tidak bahagia?" Vano mengangguk, seolah kepala kecil itu mengerti apa yang Mamah nya itu tanyakan
Sena meletakkan hasil masakannya diatas meja, lalu kedua tangannya meraih tubuh mungil itu sudah berada didalamm pelukan Sena, dan duduk diatas pangkuan Mamah nya.
"Katakan, kenapa Vano tidak bahagia sedangkan Vano selalu tersenyum kepada Mamah dan tetangga yang ada didekat-dekat sini?" Sena mengangkat kedua alisnya saat sang anak menatap wajahnya dengan manik hitam Elang tersebut
"Ayo katakan kepada Mamah apa alasan Vano tidak bahagia?"
"Vano merindukan Papah, Mah. Vano ingin bertemu langsung dengan Papah, bukan hanya melihat dari ponsel saja."
Deg.
"Mamah denger Vano?!.." suara anak kecil itu menyadarkan Sena dari lamunannya. Sena tersenyum lebar, ia memegang tangan kecil Vano yang berada di pipi sebelah kanannya
"Kita pasti bertemu dengan Papah sayang, tapi tidak sekarang." wajah Vano yang awalnya sudah tersenyum cerah harus memudar dengan kalimat terakhir yang Sena ucapkan
"Hei, jangan bersedih anak Mamah. Vano sayang dengan Mamah bukan?" Vano mendongakkan kepalanya, Sena tersenyum pelan melihat bibir anaknya yang mengerucut lucu
"Ihh.. Kok bibirnya lucu begini sih? Jadi enggak tampan lagi deh anak Mamah."
"Mamah!..." rengek Vano
__ADS_1
"Hahha... Hahhha..."
"Ututu... Baby Vano nya Mamah ngambekan." Sena membawa Putra nya masuk ke dalam pelukannya. Dengan sendirinya air mata jatuh dari kelopak mata Sena, permintaan anaknya berputar-putar didalam kepalanya. Bagaimana bisa anaknya bisa meminta sesuatu yang tidak pernah ia sangka-sangka, dan ia juga tidak percaya kalau Putra nya sudah tahu dengan wajah Papah nya. Walaupun Sena menyimpan foto Dave, namun Sena tidak pernah menunjukan kepada Putra nya bagaimana bentuk wajah Papah nya
"Aku lupa, dia semakin hari semakin tumbuh. Dan aku melupakan kenyataan itu. Aku tidak mungkin merahasiakan keberadaan Papah nya yang nyata-nyata masih hidup, dan aku juga tidak mungkin membiarkan Putraku selalu mendapatkan pertanyaan yang membuat hatinya sakit." tubuh Vano bergetar seiring dengan tubuh Mamah nya bergetar hebat, Sena melupakan kalau saat ini ada anaknya didalam dekapannya
"Mamah menangis?..."
"Tidak kok sayang, Mamah tidak menangis." jawab Sena yang dimana tangannya sudah buru-buru menghapus jejak air mata di pipinya
"Mamah tidak berbohong?" Vano menjauhkan kepalanya dan menatap wajah Mamah nya. Anak kecil itu meneliti wajah Mamah nya
"Mamah berbohong sama aku, lihat mata Mamah merah. Itu tandanya Mamah menangis." ujar Vano, Sena yang sudah tertangkap basah hanya bisa tersenyum kecil, anaknya terlalu pintar untuk dibodohi. Sama seperti Dave, begitulah Vano
"Maaf sayang, bukan maksud Mamah untuk berbohong. Tapi..."
"Tidak apa Mah, jika Mamah menangis karena merindukan Papah, Vano tidak akan marah. Vano senang jika Mamah menangis karena Papah, itu artinya Mamah merindukan Papah."
"Sayang, lihatlah Putramu begitu sangat dewasa. Aku iri dengan anak kecil ini, dia merindukanmu tapi dia tidak pernah menunjukan kesedihan nya. Malah aku yang selalu menangis karena merindukanmu." batin Sena, Sena memeluk kembali Putra nya
"Aku merindukanmu Dave."
_
_
_
__ADS_1
_
Bersambung...