Possesif CEO

Possesif CEO
Pinang Belah Dua


__ADS_3

Dari kejauhan Dave memperhatikan anak kecil yang begitu sangat aktif dan menggemaskan. Terkadang Dave tersenyum kala melihat anak anak itu tersenyum dengan kelakuan nya sendiri


"Apa baby Vano masih mengenali Papah nak?" gumam Dave yang tidak pernah bisa berhenti memperhatikan anak kecil yang tidak lain adalah Putra semata wayangnya


"Papah harap kamu mengenali Papah, dan Papah sangat berharap kamu tidak pernah membenci ataupun takut dengan Papah." Dave melihat ada seorang wanita paruh baya yang keluar dari dalam kontrakan dan menghampiri baby Vano nya. Terlihat wanita patuh baya itu menyuapi Putra nya sesuatu yang Dave tebak adalah makan siang anaknya


"Dia sangat tidak bisa diam." Dave terkekeh pelan melihat kelakuan baby Vano yang tidak bisa diam, membuat wanita paruh baya itu sedikit kewalahan menggapai mulut kecil itu agar mau makan


"Papah ingin menggendong mu sayang," ucap Dave sangat berharap bisa menggendong anaknya lagi, sama seperti dulu ia selalu menggendong anaknya saat pulang dari bekerja


Setelah beberapa menit memperhatikan anaknya makan, Dave merasakan saku celananya bergetar. Dave pun mengambil benda pipih yang berada didalam saku celananya itu dan melihat siapa yang menghubunginya


"Jerry, pasti dia ingin bertanya dimana keberadaanku." Dave memilih tidak mengangkat panggilan itu, melihat anaknya lebih bermanfaat daripada mendengarkan suara Jerry


"Ternyata sudah selesai makannya," ucap Dave, saat ia sedang tersenyum memandang Putra nya. Anaknya itu malah keluar dari teras kontrakan dan ternyata baby Vano nya sedang mengejar bola yang menggelinding.


Melihat ada motor yang melaju dengan pelan dibelakang Putra nya. Namun bukan itu permasalahannya, melainkan pengemudi motor itu merupakan anak berumur 10 tahun dan sibuk memainkan ponsel. Dave pun memutuskan berlari dengan kencang untuk menggapai Putra nya


"Awas!..." teriak Dave dan langsung menyambar Putra nya dan membiarkan bola tersebut menjadi korbannya


"Astaga, Vano!" teriak wanita paruh baya yang merupakan pengasuh Vano


"Hah..." Dave menghela nafas kasar, jantungnya berdegup kencang memicu adrenalin saat dirinya berlari meraih Putra nya. Anak yang ia buat dengan susah payah, tidak akan Dave biarkan Putra nya celaka


"Vano," lirih seseorang dibelakang Dave, dan saat itu juga Dave merasakan kepala kecil yang ia bekap dengan perlahan mengangkat kepalanya.


Sama hal nya dengan sang anak, Dave juga merendahkan kepalanya. Mata Dave dan mata kecil berwarna coklat itu bertemu, dapat Dave lihat mata kecil itu berkaca-kaca setelah menatap wajahnya. Dave tahu apa penyebab Putra nya itu menjadi seperti itu


"Ini Papah?" pertanyaan singkat itu keluar dari mulut kecil anaknya


"Tuan maaf, maaf jika ana..." Dave mengangkat tangannya agar pengasuh Vano berhenti berbicara. Wanita paruh baya itupun mengerti, ia tidak melanjutkan kalimatnya setelah orang yang tengah menggendong anak asuhnya itu mengangkat tangan tanda untuk diam


"Kamu mengenali Papah sayang?" lirih Dave. Vano menganggukkan kepalanya

__ADS_1


"Papah sangat merindukan kamu baby Vano, Papah sangat rindu dengan Vano dan juga Mamah."


Pengasuh Vano menutup mulutnya tidak percaya, ia tidak menyangka kalau pria yang tengah menggendong Vano itu adalah benar-benar Papah Vano. Bahkan anak asuhnya itu dapat mengenali Papah nya langsung


"Darah lebih kental daripada air, ikatan batin antara ayah dan anak begitu kuat." batin wanita paruh baya itu, ia juga ikut terharu menyaksikan Vano yang selama ini hanya bisa bertanya kapan Papah nya akan menemuinya, dan kapan Papah nya akan menjemput ia dan Mamah nya. Namun kini pertanyaan-pertanyaan itu tidak akan pernah ia dengar lagi, karena kini anak asuhnya sudah bertemu dengan seseorang yang selalu ia tanya


"Hiksss... Hiksss... Papah kenapa baru jemput Vano? Hiksss..." tangis anak kecil itu kembali memeluk Dave dengan begitu eratnya. Dave tersenyum kecil, air matanya juga ikut luruh merasakan tubuh kecil yang selama ini ia rindukan dapat ia rasakan kembali setelah dua tahun berpisah.


Dave mengelus lembut rambut sang Putra, ia mengecup bibir baby Vano nya agar berhenti menangis. Dave terkekeh pelan melihat wajah anaknya begitu sangat jelek ketika menangis begini, sama seperti Sena pikir Dave


"Baby Vano, wajah kamu jelek sayang kalau menangis seperti ini!"


Plukk


Dave terkekeh lagi kala tangan kecil itu memukul bahunya, sedangkan pengasuh Vano tersenyum melihat anak dan ayah itu terlihat begitu akrab padahal bisa dibilang keduanya baru saja bertemu


"Kamu akan mengerti saat kamu sudah dewasa sayang, yang perlu kamu tahu adalah Papah begitu sangat menyayangi kamu dan Mamah selamanya."


"Papah sayang Vano?" Dave tersenyum manis, membuat baby Vano nya juga ikut tersenyum. Dave menghapus jejak air mata anaknya


"Tentu saja. Papah akan mencium seluruh wajah baby Vano kalau kalau baby Vano mau."


"No no no. Aku bukan baby Vano!" seru Vano meletakkan kedua tanggannya di pinggang dan menatap tajam Dave


"Tapi bagi Papah kamu tetaplah baby Vano Papah."


"Tapi Vano tidak suka dipanggil seperti itu!"


"Sudah tidak perlu dibahas. Jika Vano tidak mau dipanggil baby Vano oleh Papah, Papah akan pergi lagi." pengasuh Vano menggelengkan kepalanya


"Tidak, tidak. Aku tidak akan marah jika Papah memanggil ku baby Vano, aku janji." Vano mengangkat kedua jarinya, Dave membulatkan matanya kala melihat anaknya mengangkat kedua jari, namun detik kemudian ia tersenyum


"Dia benar-benar Putraku." batin Dave, tingkah Vano merayu sama seperti dirinya dulu yang sering merayu sang istri saat sang istri marah kepadanya.

__ADS_1


Berbicara soal istri, Dave baru mengingat kalau istrinya sedang bekerja. Vano memperhatikan wajah Papah nya


"Apa Papah mencari Mamah?" tanya Vano


"Mamah sedang bekerja sayang, jadi Papah akan menunggu Mamah pulang dengan bermain dan menjaga kamu hari ini."


"Papah tahu kalau Mamah bekerja?" tanya Vano, Dave tampak berpikir dengan menaikkan bola matanya keatas, iapun mengangguk karena tidak tahan melihat wajah sang Putra yang membuatnya selalu ingin tertawa


"Papah tahu semuanya sayang." ujar Dave sembari mengusap pipi gembul baby Vano


"Tuan,"


"Ah ya, Papah melupakan pengusah kamu nak." Dave pun berbalik badan, lalu ia memberikan senyum kecilnya ketika sang pengasuh anaknya tampak begitu terkejut


"Astaga, ini bak pinang dibelah dua." gumam wanita paruh baya itu, ia begitu sangat terkejut melihat wajah kedua orang berbeda usia di hadapannya ini. Wajar saja kalau Vano bisa mengenali Papah nya langsung, wajah keduanya bagaikan replika


"Nenek, bernafas lah!" seru Vano, yang dimana membuat wanita paruh baya itu tersadar


"Dasar anak nakal!" Dave mencubit kecil pipi Vano


"Sakit Papah!" teriak Vano


"Tuan, mari masuk! Tidak enak dilihat para tetangga." ujar pengasuh Vano, Dave mengedarkan pandangannya. Dan benar saja, ia melihat ada beberapa orang yang memperhatikan mereka


"Ah ya."


_


_


_


_

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2