
Sheila turun dari mobil yang membawanya, ia cukup terkejut saat detik sebelumnya kakinya masih napak di tanah, tapi detik berikutnya tubuhnya sudah melayang ke atas
"Apa yang sedang kamu lakukan?" tanya Sheila menatap pria yang tengah menggendongnya itu dengan tajam
"Biar aku gendong kamu sampai ke dalam," Sheila menggelengkan kepalanya dan berusaha untuk menurunkan dirinya
"Biarkan nak, tubuh kamu juga masih lemas bukan?" tanya sang Ayah yang selalu menemani Sheila. Ibunya sudah tidak ada, dan kedua adiknya lah yang mengurus rumah selama Sheila dan Ayahnya bekerja
Sheila terdiam ketika Ayahnya yang bersuara, iapun diam saja dengan menundukkan kepalanya. Terlalu malu untuk menatap wajah pria yang saat ini sedang menggendongnya, apalagi pria yang tengah menggendongnya ini merupakan Ayah dari anak yang ada didalam perutnya
"Mau sampai kapan seperti ini? Kalau kamu masih betah ingin berada disini, turunkan saja aku biar aku duluan yang masuk." pria itu hanya tersenyum, setelah ith ia membawa Sheila masuk ke dalam rumah itu
Ayah Sheila tersenyum melihat anak serta pria yang selalu menemani dirinya dirumah sakit.
"Aku tidak tahu apa rencana tuhan untuk hidupmu, tapi aku sangat berharap tuhan memberikan orang yang tepat yang bisa membawa mu keluar dari semua ini dan musibah yang sedang kamu hadapi."
****
Sena membuka selimut tebal yang menutupi tubuh suaminya, sedari pagi tadi ia sudah pontang panting menenangkan baby Vano yang terus saja menangis
"Sayang! Bangun kenapa? Ini anak kamu dari tadi menangis, kamu kok betah ya dengar anaknya menangis sampai seperti ini?" tanya Sena sambil mengayunkan anaknya agar tenang
"Vano sayang! Anak Mamah kenapa sayang? Vano menangis pingin digendong sama Papah ya nak?" Sena terus mengajak Putra nya berbicara
Oeekkk... Oekkk...
Bukannya diam, baby Vano malah semakin menangis jerit. Sena yang sudah panik karena melihat anaknya yang seperti tidak akan berhenti menangis itu mencoba membangunkan suaminya kembali
"Dave! Bangun sayang, ini anak kamu tidak berhenti menangis." Sena menggoyangkan bahu suaminya yang sudah seperti orang meninggal
Dave menggeliat dan membuka matanya perlahan, dipandangnya wajah natural sang istri yang sedang terlihat cemas
"Apa sayang? Aku baru tidur jam tiga tadi lho, "
__ADS_1
"Kok apa sih? Ini lho anak kamu menangis terus sejak tadi, aku sampai bingung harus bagaimana menenangkan dia." Sena menimang anaknya agar berhenti menangis
"Letakkan dua disini sayang," ucap Dave menepuk tempat disamping nya. Sena mengecup pipi anaknya sekilas dan meletakkan baby Vano disamping Dave. Dave memiringkan tubuhnya dengan tangan kanan sebagai tumpuan kepalanya
"Anak Papah kenapa sayang? Vano menangis kenapa hmm?" Dave menepuk-nepuk pelan dada baby Vano pelan, ajaibnya berapa kali tepukan tangan Dave tangis baby Vano mereda
"Hmm... Rupanya kamu ingin dekat dengan Papah ya?" tanya Dave dan menghapus air mata yang membasahi pipi gembul Putra nya
"Huh... Dia menangis terlalu lama, aku sampai takut terjadi sesuatu dengan dia. Tapi ternyata dia sedang mengerjai Mamah nya sendiri." Sena terduduk lemas disamping baby Vano, hampir memakan waktu satu jam bagi Sena mencoba menenangkan Putra nya. Namun apa yang terjadi, Vano berhenti menangis saat Dave yang menenangkan nya
"Dia anakku sayang, wajar jika dia berhenti menangis hanya karena aku."
"Dia juga anakku, aku yang mengandungnya jadi dia juga anakku." ucap Sena tidak terima dengan apa yang Dave katakan
"Tapi aku yang membuat nya sayang, aku lelah menggepurmu sampai pagi agar menjadi dia." mata Sena melotot seakan akan keluar dari tempatnya
"Aku tidak mau ya kalau Vano nanti menjadi mesum dan posesif seperti kamu, sudah cukup kamu saja aku tidak ingin anakku ikutan mesum!"
Sena menunduk melihat rengekan anaknya, Dave tersenyum menatap wajah Sena. Dave mengecup pipi Vano dan menepuk-nepuk kembali tubuh kecil baby Vano. Dave menatap wajah istrinya dengan tangan yang tidak berhenti menepuk-nepuk dada Vano
"Aku buatkan sarapan dulu ya," ucap Sena
"Nanti sayang, biarkan aku melihat wajah cantik kamu lebih lama lagi."
"Gombal!" seru Sena dengan wajah memerah
"Istri aku gemesin ya kalau malu-malu begini." goda Dave
"Sudahlah aku akan turun, apa kamu ingin makan masakan Bi Ina?" Dave menggelengkan kepalanya
"Ya sudah turun sayang." Sena mengangguk, iapun segera turun dari atas kasur dan mengambil bendongan Vano yang terjatuh. Sena pun melanjutkan langkahnya untuk turun dari sana, tapi saat ia menarik knop pintu
"Nenek?!" Sena langsung berhambur memeluk wanita tua itu, tersenyum saat Sena memanggilnya Nenek
__ADS_1
"Nenek pikir kamu tidak akan mengenali Nenek," ucap Diva
"Mana bisa aku melupakan wajah tua ini?"
Plak.
Sena terdiam saat Diva memjkul bahunya. Ia pikir Diva marah karena dirinya memanggilnya wanita tua
"Kamu bisa saja! Hahaha..." Diva tertawa keras, Sena tersenyum kecil melihat Nenek Dave yang sudah lanjut usia ini tertawa begitu lebar
"Sayang siapa?!.." teriak Dave dari dalam, tapi tidak ada jawaban dari Sena
Dave pun membawa anaknya untuk melihat siapa seseorang yang ada disana, Dave menimang-nimang tubuh anaknya yang matanya sedang membulat
"Mamah! Mamah sedang berbicara dengan siapa?" tanya Dave belum melihat siapa sosok orang yang sedang berbicara dengan istrinya
"Siapa sih Mah?" tanya Dave memanggil Sena Mamah
"Lihat sendiri sayang," jawab Sena
"Hishh..." Dave pun mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa seseorang itu
"Siapa sih pagi-pagi begin... Nenek!!"
_
_
_
_
Bersambung...
__ADS_1