Possesif CEO

Possesif CEO
Berita Bahagia Calon Eyang


__ADS_3

Kasur empuk itu berdecit dengan begitu hebatnya, dimana kedua anak manusia itu sibuk mengejar pelepasan yang kesekian kalinya


Dave begitu genjar menghajar Sena sejak dua jam yang lalu, setelah selesai dengan pelepasan pertama Dave mengulangi lagi dan lagi. Jika terhitung mungkin saat ini sudah ya ke 5 atau 6 kali, jika ditambah ini jadilah 7 kali Dave mencapai puncaknya.


"Dave, aku lelah sayang. Aku takut anak kita, ahh.." desah Sena saat Dave melepaskan adiknya secara tiba-tiba


"Mau apa?" tanya Sena


"Berbalik sayang!"


"Tapi aku lemas Dave,"


"Aku janji tidak akan lama. Berbaliklah." Dave mengusap pipi Sena lembut melihat tatapan sayu istrinya. Dave ingin menghentikan permainan mereka, tapi dirinya belum bisa jika ini belum mencapai puncak


Dengan malas Sena membalikkan badannya dan menyangga tubuhnya dengan kedua siku yang menempel di kasur. Sena menyembunyikan wajahnya di bantal.


"Eughh, Dave.." desah Sena saat kedua tangan Dave memberikan remasan pada pada bokongnya


"Kamu sangat sexy dan panas sayang jika seperti ini, dan sialnya aku sangat bergairah jika melihat mu tanpa busana seperti ini." bisik Dave di telinga Sena dan menyesap singkat leher istrinya


"Mesum!" seru Sena dengan nafas terengah


"Tapi kamu cinta kan dengan pria mesum ini?" tanya Dave sambil tetap mengecup basah tengkuk Sena dan menyusuri punggung polos istrinya itu


"Masih lama kah Dave? Aku lelah dengan posisi seperti ini," keluh Sena yang memang sudah lelah menopang tubuhnya


"Aku akan memasuki mu sayang, bersiap lah." Sena menahan nafasnya merasakan adik Dave menempel pada intinya. Keduanya sama-sama mengerang saat tubuh mereka menyatu


Dave melakukan pergerakan dengan begitu sangat cepat. Mendengar istrinya sudah lelah Dave jadi tidak tega. Sena menggigit bibirnya menahan desahannya


"Moan me sayang... Ahh..." teriak Dave dengan mengentak-hentakan dirinya


"Dave... Ahh... Dave, ini terlalu cepat." ucap Sena terputus-putus


"Sebentar lagi sayang, sebentar lagi." jawab Dave dengan memegang pinggang Sena


"Sena... Senaaa.. Ahhhh..." teriak Dave dan menghentakkan dirinya kuat sebagai akhir dari permainannya


"Ahh.." desah Sena merasakan desiran hangat diperut bagian bawahnya. Dave masih mendiamkan miliknya didalam Sena agar cairan nya tak meluber. Di rasa sudah habis semua cairan miliknya yang keluar, Dave melepaskan dirinya dan menjatuhkan tubuhnya disamping Sena

__ADS_1


Dave tersenyum kala Sena masih bertahan dengan posisi itu. Dave mengelus punggung Sena lembut, sehingga sang empu mengangkat kepalanya dan menoleh ke samping


"Tidurnya yang benar sayang!" Sena mengangguk dan membalikkan badannya tang sudah sangat lemas itu. Dave membiarkan tangannya menjadi bantalan Sena


Dave mengecup pelepis istrinya yang tengah memejamkan matanya. Lalu tangannya mengusap perut datar istrinya berharap anaknya didalam sana baik-baik saja


"Apa Papah menyakiti kamu sayang? Papah harap kamu baik-baik saja didalam sana ya." Dave mengecup lama perut Sena berharap anaknya didalam sana baik-baik saja


"Aku mengantuk Dave, biarkan aku tidur." Sena mengelus rambut Dave lembut, matanya begitu sangat berat hanya sekedar membuka mata saja


"Tidak jadi ke rumah Mamah?" tanya Dave. Sena langsung membuka mata ketika Dave menyebutkan Mamah nya


"Aku ingin.. Tapi aku sangat mengantuk untuk sekarang," wajah Sena memelas antara dua pilihan. Dimana di satu sisi ia sangat mengantuk, dan di sisi lain dia sangat ingin ke rumah mertuanya


"Tidak apa, kita bisa kesana lain waktu." ucap Dave, melihat tubuh Sena yang polos tidak berbalut apapun itu Dave segera menarik selimut untuntuk menutupi tubuh mereka. Sena menggeleng pelan


"Jadi maksud kamu kita kesana hari ini juga?" Sena mengangguk bagaikan anak kecil yang begitu menggemaskan di mata Dave


"Baiklah kita akan kesana. Jika kamu ingin tidur, tidur saja dulu. Masih ada waktu satu jam lebih, aku akan menghubungi Mamah agar dia memasakkan rendang yang kamu inginkan." Senyum di wajah Sena mengembang


"Terima kasih sayang."


Cup.


"Giliran ada mau saja aku dipanggil sayang," gumam Dave


"Aku belum terbiasa Dave, setelah anak kita lahir aku akan memanggil mu dengan panggilan sayang."


"Benarkah?" tanya Dave begitu senang dengan apa yang Sena ucapkan


"Hmm. Sekarang biarkan aku tidur, mataku sangat berat." gumam Sena lirih dengan mata terpejam


"Tidurlah, aku akan menghubungi Mamah dulu." Dave menoleh ke belakang, dan tangannya meraba meja nakas untuk mengambil ponselnya


Dave mencari nomor telpon Mamah nya dan menekan tombol hijau setelah menemukan nomor milik Mamah nya. Dave menempelkan benda pipih itu pada telinga kanannya dan sambil menatap wajah lelah sang istri dalam tidur


****


"Kenapa anak itu? Ada perlu apa dia menelpon Mamah?" tanya Davin tanpa mengalihkan pandangannya dari televisi

__ADS_1


"Papah mau denger kabar baik nggak?" tanya Veny duduk kembali disamping suaminya dengan rona bahagia di wajahnya. Davin menoleh, ia mengerutkan dahinya melihat istrinya itu tengah senyum-senyum sendiri


"Kabar baik kah sampai Mamah terlihat begitu bahagia?" tanya Davin, ia mengambil minumnya diatas meja dan menegaknya sampai habis


"Ini lebih dari baik Pah, aku saja sampai tidak percaya mendengar berita bahagia ini!" seru Veny dengan menatap langit-langit


Davin yang melihat kelakuan istrinya seperti itu hanya bisa mengangkat kedua bahunya acuh dan menatap lurus ke depan. Tayangan didepan lebih membuat nya bahagia saat ini


"Papah beneran nggak pengen tahu nih?" tanya Veny yang melihat reaksi suaminya biasa saja


"Mamah kan tinggal bicara, lagi pula Papah belum budek kok."


"Sudah ah, Papah nggak asik. Mamah mau ke belakang dulu!" seru Veny dan beranjak dari duduknya, tapi pada saat akan melewati Davin, tangan Veny dicekal oleh suaminya itu


"Cepet katakan apa berita bahagia nya? Papah juga ingin tahu." Veny tersenyum, ia pun mendekatkan wajahnya pada wajah suaminya


"Kita bakal punya cucu Pah, anak mantu kita tengah mengandung saat ini." bisik Veny pada telinga suaminya. Davin memundurkan kepalanya untuk melihat wajah sang istri


"Mamah tidak bohong kan?" tanya Davin mencoba meyakinkan diri kalau apa yang istrinya katakan itu bukanlah kebohongan semata. Veny pun mengangguk, saat berniat menjauhkan kepalanya tangan Davin lebih dulu menahan tengkuknya


Cup.


Davin mengecup singkat bibir Veny dan melepaskan tangannya dari tengkuk sang istri. Davin tersenyum bahagia untuk kabar bahagia yang baru saja ia dengar


"Papah senang mendengarnya, akhirnya mereka diberikan kepercayaan lagi oleh tuhan." ucap Davin yang diangguki oleh Veny, apa yang dikatakan oleh suaminya itu benar. Dave dan menantunya kini diberikan kepercayaan lagi oleh tuhan untuk memiliki buah hati


"Lalu apalagi yang dia katakan Mah?" tanya Davin, karena tadi istrinya berbicara cukup lama dengan anaknya


"Oh astaga, Mamah lupa kan Pah! Itu menantu kita mengidam ingin makan rendang masakan Mamah," Davin terkekeh pelan


"Rupanya dia tidak sabar ingin bertemu Eyang nya. Baiklah Papah akan membantu Mamah, ayo kita ke belakang!" Davin ikut berdiri dari duduknya


"Ayo Pah!" pasangan suami istri itu pun berjalan menuju dapur untuk membuatkan makanan yang di inginkan oleh menantunya.


_


_


_

__ADS_1


_


Bersambung...


__ADS_2