
Sudah hampir satu jam Sena berkutat dengan alat-alat dapur, hari ini ia dengan sengaja membuatkan beberapa makanan kesukaan suaminya. Mungkin dengan ini suaminya itu bisa kembali menjadi suaminya yang dulu, yang selalu perhatian dan memanjakan nya.
Sena juga tidak mengerti mengapa sikap Dave menjadi berubah seperti ini, setelah lima tahun tidak ada pertengkaran atau keributan yang besar dalam rumah tangganya, dan kali inilah Dave nya sangat berbeda
"Nyonya serius tidak mau Bibi bantu?" tanya bi Ina yang sedari tadi memperhatikan nyonya nya dengan mengerjakan pekerjaan yang lain. Sena menoleh dan tersenyum singkat
"Tidak perlu Bi, Sena ingin memasak khusus untuk suami dan anak-anak Sena." jawab Sena, membuat bi Ina mengangguk mengerti dan beralih melakukan pekerjaan yang lain
****
Berbeda dengan Sena yang begitu semangat berkutat didapur, Dave didalam kamar tengah sibuk berbicara dengan lawan bicaranya yang entah mengapa jika orang lain melihat raut wajah Dave, pria itu tengah kasmaran
"Benarkah? Kalau begitu ayo kita bertemu besok, aku juga sangat merindukanmu." ucap Dave pada seseorang disebrang sana
"Aku tutup dulu, nanti Sena masuk dan mendengar pembicaraan kita." tanpa banyak bicara Dave langsung memutuskan panggilan itu setelah mendapatkan jawaban dari lawan bicaranya
Dave tersenyum melirik layar ponselnya dan menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku. Saat membalikkan badannya Dave terperanjat mendapati sang istri tengah berdiri didekat sofa yang berhadapan dengan televisi yang ada di kamar
"Pah! Lagi bahagia ya?" tanya Sena yang melihat senyum manis sang suami, namun itu tidak lama karena Dave dengan cepat mengubah ekspresi wajahnya menjadi datar, persis seperti yang Dave laku satu minggu terakhir ini. Sena tidak mengerti permasalahan apa yang sedang terjadi pada rumah tangganya yang ia tahu kehidupan rumah tangganya baik-baik saja
__ADS_1
"Bukan urusan kamu." jawab Dave sarkas, dimana itu untuk kesekian kalinya Sena harus menahan sakit ulah kalimat pedas Dave. Tetapi Sena pintar menyembunyikan sakitnya, ia bahkan tersenyum manis kepada suami tampan nya itu
"Maaf. Ayo turun, aku sudah buatkan makan malam untuk kamu dan anak-anak."
"Kamu ajak anak-anak saja, aku sudah makan di luar tadi." balas Dave dan melangkah menuju kasur, Sena terdiam bagaikan patung sambil memperhatikan gerak-gerik sang suami
"Oh ya sayang, maaf aku enggak tahu kalau kamu sudah makan. Aku akan keluar dulu untuk menemani anak-anak makan." ujar Sena lagi dengan senyum yang tidak pernah lepas dari wajah cantiknya, ia tidak marah saat Dave mengatakan sudah makan diluar, lagi pula ia membuat sekian banyak makan malam tanpa bertanya terlebih dulu pada suaminya, jadi Sena tidak mungkin marah atas kecerobohan dirinya
"Hmm."
Sena menatap suaminya cukup lama disana, sebelum ia benar-benar keluar untuk menemani anak-anak nya makan termasuk dirinya, mungkin. Dengan keadaan ia dan suaminya seperti ini, Sena tidak bisa makan dengan benar, pikirannya ke mana-mana, dan ia harus menahan semuanya agar tidak semakin buruk.
Sedangkan Dave menatap penuh arti pintu kamar yang sudah tertutup menelan tubuh istrinya. Ia menghela nafas pelan dan mengusap dadanya sebelum memilih untuk beristirahat
****
"Mah?"
Sena menoleh saat suara putranya memanggil dirinya
__ADS_1
"Ya sayang? Vano mau tambah?" tanya Sena yang melihat piring putranya sudah kosong. Vano menggeleng pelan
"Mamah kenapa enggak makan?" pertanyaan Vano membuat Vina yang tengah asyik mengunyah menoleh ke arah sang Mamah. Betul apa yang dikatakan oleh kakak nya, jika sangat Mamah tidak makan
"Mamah sudah kenyang sayang, jadi Mamah temani kalian saja." jawab Sena dengan suara yang begitu lembut. Vano menggeleng pelan tanda jika ia tidak percaya dengan apa yang Mamah nya katakan
"Jangan bohongi Vano Mah. Walaupun Vano anak kecil tapi Vano tahu apa yang tengah terjadi di rumah ini." kalimat yang keluar dari mulut Vano sukses membuat Sena menegakkan tubuhnya
"Vano, Ma... Mah..."
"Papah sama Mamah sedang tidak baikan kan?.."
_
_
_
_
__ADS_1
Bersambung...