
Semua karyawan ikut tersenyum saat melihat Presdir mereka kembali masuk dengan senyum yang sangat cerah, senyum yang sudah sangat lama tidak mereka lihat kini kembali hadir lagi di wajah tampan putra tunggal Davin Alexander
"Selamat pagi Presdir!" sapa Jerry yang sudah menunggu Dave di lift khusus untuk pemimpin perusahaan itu
"Pagi juga Jerr, apa kabar kamu? Sehat?" Jerry mencebikkan bibirnya mendengar Dave yang menanyakan kabarnya padahal mereka bertemu kemarin. Namun Jerry tetap menjawab pertanyaan Boss nya itu walaupun sedikit sangat aneh bagi Jerry
"Seperti yang anda lihat Presdir," Dave pun melihat Jerry dari atas sampai ke bawah, ia mengangguk pelan saat melihat Jerry dalam keadaan baik
"Syukurlah kalau kamu baik-baik saja."
"Iya Presdir, malah saya merasa kalau Presdir lah yang sedang tidak baik-baik saja." ucap Jerry yang terdengar seperti gumaman
"Bagaimana Jerr?" tanya Dave yang dimana malah membuat Jerry galagapan karena gumamannya terdengar oleh Dave
"Oh, tidak apa-apa Presdir, saja mengingat kalau istri saya menitip susu saat saya pulang nanti."
Plukk.. Plukk..
"Memang harus seperti itu seorang Ayah, mereka harus bertanggung jawab kepada anak dan istri." Jerry mengangguk pelan dengan senyum cengengesannya
"Hehe.. Ya Presdir, itu memang sudah tugas seorang suami kepada keluarganya." Dave mengacungkan dua jempolnya, dan setelah itu ia menatap lurus ke depan dengan kedua tangan yang ia masukkan ke dalam saku celananya.
Jerry menatap aneh Dave dari samping, ia merasa heran apa yang terjadi dengan tingkah Dave hari ini yang begitu aneh, setelah lama tidak tersenyum, dan sekembalinya senyum itu Dave menjadi gila pikir Jerry
"Tidur kah kamu Jerr?!.."
"Hah? Maaf Presdir." Dave menoleh lagi ke samping
"Mau sampai kapan aku menunggu lift ini buka?" Jerry membulatkan matanya, ia sampai lupa kalau mereka sedang ada di lantai bawah, dan Dave sedang menunggu ia untuk membukakan lift itu untuknya
"Maafkan atas kelalaian saya Presdir." ucap Jerry dan menekankan tombol yang ada di sampingnya
"Baiklah tidak apa, karena hari ini moodku sedang bagus, maka aku maafkan kamu." jawab Dave dengan tersenyum manis ke arah Jerry. Melihat pintu lift itu terbuka, Dave pun segera masuk, dan jangan lupakan senyum itu tidak lepas dari wajah tampan Dave. Membuat beberapa karyawan wanita yang lewat disana juga ikut tersenyum malu karena mereka mengira kalau Dave tengah tersenyum kepada mereka
"Kok gini amat ya gue punya Boss, mentang-mentang istri sama anak sudah kembali dia jadi berubah menjadi sangat aneh seperti ini." batin Jerry mengedikkan bahunya dan segera ikut masuk menyusul Dave
__ADS_1
****
Tokk! Tokk! Tokk!
Suara ketukan pintu mengalihkan pandangan Sena yang masih asyik menonton film yang tsedang booming ditengah masyarakat, apalagi kalau bukan ikatan cinta.
"Masuk!" teriak Sena, tentu saja alat penyedap suara didalam kamar itu sudah Dave matikan terlebih dulu sebelum ia berangkat kerja
Ceklek.
Sena menyimpan ponselnya dibawah bantal saat mendengar suara pintu terbuka, Sena berpura-pura mengambil majalah yang ada diatas meja nakas agar tidak begitu terlalu nampak jika ia tidak bisa bangun dari tempat tidur itu
"Mamah!.." Sena yang mendengar itu langsung mengalihkan atensinya dari majalah yang ia pegang ketika mendengar suara Vano memanggil dirinya
"Sayang," Sena tersenyum manis melihat putranya sudah sangat tampan dengan baju yang begitu sangat lucu. Sena yakin kalau baju yang dikenakan oleh Vano sekarang bukanlah baju murahan, terlihat dari bahannya yang begitu sangat bagus dan terlihat sangat nyaman ditubuh anaknya
"Resiko anak dan cucu dari keluarga kaya, apa-apa harus serba bagus dan mahal." batin Sena, namun saat melihat Mamah Dave juga ada disana dengan membawa nampan yang Sena tebak kalau itu adalah sarapan, sebab Sena melihat ada segelas susu didalam nampan itu, membuat Sena merasa gugup ketika mertuanya itu tersenyum kepadanya.
"Pagi sayang!"
"Kenapa harus repot-repot sih Mah membawakan Sena sarapan!" Veny meletakkan nampan itu diatas nakas
"Memang nya kamu bisa jalan sayang?" tanya Veny tersenyum menggoda, ketahuilah wajah Sena saat ini sudah sangat merah seperti kepiting rebus oleh pertanyaan yang meluncur dari mulut Veny
"Mak.. Maksud Mamah?" tanya Sena was-was
"Sudahlah sayang tidak perlu bertanya seperti itu, Mamah tahu kok kalau kalian semalam habis olahraga ranjang." Sena memalingkan wajahnya ke arah lain, ia menggigit dalam bibirnya menahan malu yang tidak bisa ia jelaskan
"Mamah, semalam pas Vano buka mata dan melihat ke sekeliling tidak ada Mamah, dan Vano juga tertidur di keranjang yang sangat kecil, saat Vano memanggil-manggil Mamah, malah Oma dan Opa yang menjawab."
"Maaf ya nak, Mamah enggak menemani Vano semalam. Habisnya Papah Vano sakit sayang,"
"Sakit?!" Sena melirik mertuanya yang kini tengah terkikik geli mendengar alasan yang ia berikan kepada anaknya
"Kalau Papah sakit dia ada di mana sekarang? Bukankah orang sakit itu harus istirahat di tempat tidur kata Mamah, tetapi kenapa malah Mamah yang ada di sini?"
__ADS_1
"Pfttt.." Sena menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, Sena lupa kalau yang ada di depannya saat ini adalah anak Dave, tentu saja ia akan kalah jika soal kepintaran dalam berbicara dan isi otak. Melihat menantunya itu terpojok, Veny pun memilih untuk membantu
"Ekhmm.. Cucu Oma yang tampan nya tidak tertandingi, Papah itu kalau sakit tidak suka diam di rumah, dia lebih suka bekerja agar bisa cepat sehat. Dan untuk Mamah, Mamah sedang tidak enak badan sayang." Vano memandang wajah Oma nya
"Jadi kalau sakit Papah akan bekerja begitu Oma?" Veny mengangguk pelan
"Terus Mamah sedang sakit juga, begitu?" lagi-lagi Veny mengangguk. Setelah melihat Veny mengangguk, Vano yang awalnya duduk disamping Sena itu langsung berdiri dan menempelkan buku tangannya didahi Sena, membuat Sena sedikit terkejut
"Tidak panas, terus Mamah sakit apaan?" tanya Vano menatap wajah Sena
"Emm... Itu sayang, kepala Mamah pusing. Jadi Mamah ingin istirahat saja hari ini, Vano bermain dengan Oma dan Opa dulu ya." jawab Sena sambil mengusap pipi mungil Vano, ia tersenyum melihat tatapan khawatir putranya untuk dirinya
"Mamah tidak apa-apa sayang, hanya butuh istirahat saja." ucap Sena lagi
"Benar ya Mamah tidak apa-apa," Sena mengangguk, ia tersenyum saat Vano memeluk erat lehernya.
"Vano enggak mau Mamah sakit, jadi Mamah harus minum obat biar cepat sembuh." Sena mengusap punggung anaknya
"Iya nak, Mamah pasti akan sembuh besok." jawab Sena meyakinkan Vano. Veny yang melihat kedekatan menantu dan cucunya itu tersenyum haru, ia mengingat masa kecil Dave jika melihat Vano
"Sekarang Vano main sama Oma dulu ya sayang," Sena melepaskan pelukan itu dan menatap putranya. Vano pun mengangguk, setelah mengecup pipi Sena iapun beralih meminta gendong sang Oma
"Mamah bawa dia turun ya, kamu makan biar dia cepat tumbuh."
"Mamah!" seru Sena karena Veny lagi-lagi menggodanya. Veny terkekeh pelan dan segera membawa Vano dari sana
"Jangan nakal ya sayang."
_
_
_
_
__ADS_1
Bersambung...