Possesif CEO

Possesif CEO
Berbeda Hari Ini


__ADS_3

Pagi-pagi sekali dirumah yang cukup besar wanita beranak satu itu sudah bangun dan menyiapkan apa saja keperluan suaminya dan menyiapkan sarapan. Sheila tidak mau suaminya sampai tidak sarapan, karena ia tahu suaminya itu akan sangat sibuk apalagi ia mengatakan kalau Boss nya itu sudah semangat bekerja seperti dulu, yang dimana artinya Dave akan banyak menyusahkan Jerry


"Bunda!" Sheila yang sedang fokus pada kerjaannya menoleh, ia tersenyum melihat suami dan anaknya dengan wajah bantal menghampiri dirinya


"Sudah bangun jagoan-jagoan Bunda?" anak kecil yang beberapa bulan lagi akan memasuki umur dua tahun itu mengangguk, walaupun ia tidak bisa menjawab pertanyaan Bunda nya


"Sudah Bunda, jika belum bangun bagaimana kami bisa ada di sini?" jawab Jerry menirukan suara anak kecil


"Diamlah Mas, aku bertanya pada anak kita kok."


"Seperti dia bisa menjawab saja." gumam Jerry


"Mas!"


"Iya sayang?"


"Ngomong apa kamu tadi?"


"Tidak ada sayang, aku hanya mengajak Jefri berbicara."


"Beneran?" tanya Sheila meyakinkan dirinya, karena ia tadi mendengar suara Jerry seperti mengatakan sesuatu


"Ya sayang." jawab Jerry dengan nada yang cukup panjang


"Cucu wajah dulu sana Mas!" Jerry mengangguk patuh lalu melangkah menuju kamar mandi yang ada didekat sana, tak lupa juga Jerry membawa anaknya


"Pagi Mbak!" belum lama Jerry beranjak dari sana, sudah ada suara lain yang menyapa Sheila


"Wahh... rajin sekali kamu Dek pagi-pagi begini sudah rapi," gadis yang berseragam putih biru itu tersenyum


"Iya Kak, Lia hari ini ada piket jadi harus datang pagi." Sheila mengangguk mengerti


"Yuda mana?" Sheila menanyakan adik laki-laki nya yang belum kelihatan itu


"Ohh kalau Mas Yuda baru saja bangun kak, soalnya pas aku mau turun tadi dia sedang membereskan tempat tidurnya." lagi-lagi Sheila mengangguk setelah mendengar penjelasan dari adik bungsunya itu


"Bisa bantu Mbak, Dek?" Sheila menoleh ke belakang, ia tersenyum kala melihat anggukan kepala dari adiknya itu


Lia pun segera membantu Sheila membawa sarapan yang telah selesai dibuat itu ke atas meja makan keluarga, ia selalu suka apa yang dimasak oleh Sheila karena masakan yang dibuat oleh Sheila adalah masakan terenak yang ada di dunia


"Anak Ayah kedinginan ya sayang? Air nya dingin nak?" dari arah belakang suara Jerry mengalihkan pandangan kedua perempuan itu


"Jefri kenapa Mas?" Jerry menoleh saat mendengar suara adik iparnya


"Sudah bangun Lia? Apa tidak kepagian kamu?" tanya Jerry yang melihat adik iparnya itu sudah rapi dengan seragam sekolah. Gadis yang sebentar lagi akan menginjakkan kakinya di sekolah menengah atas itu menyengir kuda

__ADS_1


"Hari ini jadwal Lia piket kelas Mas, dan kemarin Lia dan teman tidak sempat karena ada tugas kelompok." Jerry menganggukkan kepalanya pelan dengan bibir yang membulat


"Itu anak kamu kenapa Mas?" tanya Sheila pada akhirnya


"Kedinginan sayang, masak kamu tidak bisa melihat kalau anak kamu ini sedang kedinginan." Sheila memutar bola matanya malas


"Tinggal jawab saja yang benar apa susahnya sih?"


"Lah? Tadi kan sudah di jawab."


"Hmm." dehem Sheila dan melewati suaminya dengan kedua tangan yang membawa piring berisi lauk untuk sarapan mereka


"Yeee... Ngambek Bunda kamu sayang." ujar Jerry pada putranya, anak kecil itu malah tersenyum seolah mengejek Ayahnya


"Dihh, malah ngeledek kamu." Jefri semakin tertawa lebar karena sang Ayah menyentil hidung mungil nya


"Ayo ke meja makan! Kita sarapan dulu!" ajak Jerry kepada adik iparnya itu, Lia pun mengangguk


"Ya Mas." setelah itu Jerry melangkah menyusul sang istri yang sudah menunggu di meja makan, Lia tersenyum kecil melihat keluarga kecil kakak perempuannya


"Aku ingin memiliki keluarga seperti ini kelak," gumamnya, lalu menyusul keluarga kecil yang sudah lebih dulu ada disana


****


"Anak Mamah tunggu di sini oke, Mamah mau bantu Bibi dulu." anak berumur dua tahun itu menganggukkan kepalanya mengiyakan apa yang dikatakan oleh Mamah nya


Cup.


Sena mengecup pipi putranya sebelum pergi dari sana untuk menyiapkan sarapan, Sena meminta bantu dengan Bi Inah, karena ia takut tidak ke buru jika dirinya sendiri yang mengerjakan


Berbeda dengan Sena yang sedang membuat sarapan, dan Vano yang memperhatikan Mamah nya dari tempat duduk, Dave yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi itu segera mengambil pakaian kantor yang telah istrinya siapkan.


"Oke, tema hari ini adalah hitam dan putih." ujar Dave dengan tersenyum melihat warna pakaian yang telah istrinya siapkan


Tidak ingin membuang-buang waktu, Dave pun segera memakai pakaian kerja itu. Setelah berpakaian, Dave berjalan ke arah ruang pakaiannya. Ia membuka lemari tempat penyimpanan barang-barang mahalnya, jam tangan Jacob & Co. Billionaire Watch dari Amerika, Jam tangan ini dilengkapi dengan permata emerald-cut sejumlah 260 karat dan dihargai tidak kurang dari 243 miliar rupiah.


Dave menutup kembali setelah mengambil salah satu koleksi jam tangan mahalnya, iapun melangkah keluar dan berhenti didepan meja rias istrinya untuk merapihkan rambut dan melihat kembali penampilannya barang kali ada yang kurang


"Sepertinya sudah selesai, baiklah sekarang mari kita turun!" wajah tampan Dave pun berseri, rona bahagia selalu nampak di wajah Dave setelah sang istri kembali


****


"Good morning baby tampan Papah!" sapa Dave dan memberi kecupan di kedua pipi putranya


"Papah ganteng banget sih hari ini," ucap Vano yang melihat Dave begitu berbeda hari ini, ia tidak henti-hentinya menatap wajah Dave yang terlihat begitu bahagia

__ADS_1


"Benarkah?" tanya Dave tidak percaya saat putranya memuji dirinya, Vano mengangguk-anggukan kepalanya


"Aaaa... Anak Papah kok pintar banget sih! Kalau Papah tampan, baby Vano juga akan tampan."


"Bukan juga Papah!" Dave menghentikan senyumnya


"Lalu apa sayang?" tanya Dave dengan wajah serius


"Memang sudah tampan sedari lahir."


"Apa?" teriak Dave membuat Vano menutup kedua telinganya


"Sayang!" Dave menoleh ketika ada yang memanggilnya, ia tersenyum saat melihat sang istri lah yang memanggilnya dengan panggilan manis itu


"Ngapain teriak-teriak seperti orang hutan?" tanya Sena kepada suaminya itu


"Anak kamu nih yang buat aku teriak," tunjuk Dave mengarah pada putranya


"Anak kamu juga ya, masak anak aku aja." protes Sena


"Oh ya deng." Dave menyengir kuda


"Memang nya apa yang kamu katakan sama Papah sayang?" Vano melirik Dave dengan senyum manis, membuat Dave mengernyit heran


"Tadi Vano bilang Papah ganteng Mah hari ini." Sena mengangguk, ia juga mengakui kalau suaminya hari ini sangat berbeda dari biasanya


"Terus masalahnya di mana?" tanya Sena lagi pada putranya


"Masalahnya ada di Papah, Mah." tunjuk Vano mengarah ke Dave


"Loh? Kok Papah?" tanya Dave bingung


"Ya Mah, soalnya Papah bilang kalau dia hari ini tampan karena ingin para perempuan melirik Papah." mata Dave dan Sena membulat


"Apa?!!!!"


_


_


_


_


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2