Possesif CEO

Possesif CEO
Kala Itu


__ADS_3

"Sheila adalah istri saya Nyonya muda.."


Kalimat itu terus berputar di kepala Sena, apalagi dengan Dave yang terus memandangi wajahnya. Membuat Sena bertambah malu hanya untuk sekedar membalas pandangan itu. Tapi Sena lebih menatap Jerry dengan tatapan penuh tanya


"Jelaskan kepadaku, bagaimana bisa Dave yang menggendong dia bukannya kamu?" tanya Sena, ia ingin mendengarnya langsung penjelasan dari kedua pria yang telah membuatnya salah paham itu


Dave dan Jerry saling pandang, keduanya seakan enggan untuk menjawab dan saling menunggu satu sama lain untuk menjawab pertanyaan Sena. Dave yang tahu seperti apa jika istrinya mengamuk, dan Jerry yang tidak ingin menjadi sasaran amukan Sena begitu berharap Dave dengan berbaik hati menjawab pertanyaan sang istri


"Kenapa kalian dua diam? Aku bertanya pada kalian berdua, bukan dengan patung."


"Emm... Itu say..."


"Jangan panggil aku sayang sebelum kamu menjelaskan semuanya." saat itu juga Dave langsung mengatup kedua bibirnya, ia menatap sendu Sena lalu beralih menatap Jerry yang berada disamping nya


"Aku potong gajimu jika kamu masih menertawakan aku." gumam Dave, Jerry yang tengah senyum-senyum itu seketika terdiam dan menyengir kuda


"Hei, kalian berdua tidak tuli kan?!" pandangan Dave dan Kerry kini kembali tertuju kepada Sena lagi


"Jawab Jerr, dan tunjukan bukti bila perlu agar dia sadar kalau dialah yang salah menilaiku selama ini." Jerry yang sudah diperintahkan seperti itu sudah tidak dapat berkutik lagi


"Jadi cerita awalnya begini Nyonya muda..."


Flashback on~


Sheila melangkah memasuki kantor Dave, yang dimana adalah tempat ia bekerja. Ia tersenyum manis kepada semua karyawan yang berlalu lalang dan berpapasan dengannya.


Bukan hal aneh jika Sheila begitu percaya diri datang ke kantor itu, karena seluruh kantor Dave sudah mengetahui jika asisten dari Presdir mereka sudah menikah dengan mantan asisten Presdir.


Semua karyawan kantor juga beranggapan kalau Sheila adalah penyebab Dave tidak mencari sekretaris lagi. Para karyawan mengira jika Dave begitu sangat kehilangan sekretaris yang begitu rajin dan profesional itu, namun kenyataan yang sesungguhnya tidaklah seperti itu. Dave malah merasa lega jika Sheila keluar dari perusahaannya tanpa ia harus bersusah payah memecatnya


"Hai Mbak Sheila!" Sheila yang sudah berdiri didepan lift itu menoleh saat ada yang menyapanya


"Ohh hai!" balas Sheila dengan tersenyum kecil


"Gimana dengan kandungannya Mbak? Sehat?" tanya karyawan wanita yang selalu menyapa Sheila sedari ia bekerja sampai saat ini

__ADS_1


"Alhamdulillah sehat. Ini juga debay nya sudah mau lahir."


"Benarkah? Kapan itu pergiraannya?" tanya karyawan itu antusias


"Dokter bilang sih dua hari mendatang, tapi tidak tahu jika perkiraannya melesat. Tapi mulai dari sekarang ya harus jaga-jaga." karyawan itu menganggukkan kepalanya


"Kalau begitu Mbak harus sehat agar waktu persalinan nanti Mbak dan debay nya kuat."


"Aamiin. Terima kasih ya." ucap Sheila tersenyum manis kkepada karyawan wanita yang ada di hadapannya ini


"Hidup seperti ini ternyata lebih enak. Aku tenang, dan semua orang juga tulus kepadaku. Ya tuhan, tolong maafkan aku yang pernah memiliki niat jahat kepada kehidupan rumah tangga orang lain." batin Sheila memohon ampun pada sang pencipta, namun senyum di wajahnya tidak luntur sama sekali


"Kalau begitu aku lanjut kerja dulu ya Mbak, sampai jumpa lagi!" karyawan itu melambaikan tangannya kepada Sheila. Dimana dibalas lambaian tangan juga oleh Sheila


"Tante itu baik ya sayang," ucap Sheila kepada janin nya


"Sekarang kita lanjut lagi untuk bertemu dengan Ayah!" Sheila pun menekan tombol lift yang tadi sempat ia urungkan


****


"Waktunya bertemu Ayah sayang." lagi-lagi Sheila mengajak janin nya berbicara


Sheila menatap pintu ruangan Jerry, lalu ia teringat akan sesuatu yang membawanya kesini. Sheila menundukkan kepalanya dan melihat wadah bekal makan siang yang ia bawakan khusus untuk suaminya


"Semoga kamu selalu suka dengan masakan aku." ucap Sheila, iapun memutuskan untuk mengetuk pintu itu terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam. Namun pada saat tangannya terangkat untuk mengetuk pintu, rasa mulas tiba-tiba saja menyerang perutnya


"Akkhhh... Sakittt..." rintih Sheila memegang perut bagian bawah. Ketika tubuhnya akan limbung ke belakang, dengan cepat Sheila melepaskan bekal untuk suaminya dan meraih gagang pintu sebagai pegangan


"Tolong... Tolong... Akkhhh..." rintih Sheila, ia menangis karena merasakan sesuatu merembes di celananya


"Kamu harus kuat nak, kamu harus melihat dunia ini. Bunda dan ayah mencintai kamu, jadi Bunda mohon kamu harus kuat." Sheila yakin jika air ketubannya sudah pecah, sebab ia merasakan cairan itu terus mengalir dan jatuh ke lantai


"Tolong, siapapun yang mendengar tolong aku!"


****

__ADS_1


"Lama sekali Jerry disuruh beli makan siang saja." Dave melihat jam yang melingkar ditangannya. Ia sudah sangat lapar, tapi restauran yang biasa mengantarkan makan siang ke kantornya sedang tutup. Dan alhasil Dave menyuruh Jerry untuk membelikannya makan diluar, namun sudah setengah jam lewat Jerry belum juga kembali


"Lebih baik aku lihat diruangan nya saja," ucap Dave dan bangkit dari kursinya. Dengan langkah yang pasti Dave melangkah meninggalkan ruangannya


"Tolong, siapapun yang mendengar tolong aku!"


Dave menoleh ketika ia baru saja membuka ruangannya ada suara perempuan meminta tolong, Dave terdiam sebentar sebelum suara itu kembali terdengar ditelinga Dave


"Tolong... Tolong aku, ini sungguh sangat sakit. Hikss..."


"Tidak mungkin hantu bukan? Jika hantu, mana bisa ia berteriak meminta tolong lalu mengeluh sakit." gumam Dave, merasa penasaran Dave pun keluar dan menutup pintu ruangannya. Seketika mata Dave membulat kala melihat istri asistennya tengah mengaduh kesakitan


Dave berlari menghampiri Sheila yang sudah terlihat sangat lemah itu, ketika Dave berada dekat dengan Sheila tubuh itu akan limbung ke belakang. Namun dengan cepat Dave menangkapnya


"Presdir," satu kata itulah yang keluar dari mulut Sheila sebelum ia kehilangan kesadarannya


"Sheila bangun! Hei, ayo bangun!" seru Dave sambil menepuk-nepuk pipi Sheila


"Bagaimana ini?" gumam Dave, namun matanya tidak sengaja melihat kearah lantai


"Air apa itu? Jangan bilang dia akan melahirkan? Astaga!" Dave pun mengangkat tubuh Sheila, ia mencari sesuatu sebelum pergi dari sana


"Sayang, Jerry. Aku minta maaf jika sudah lancang, tapi percayalah aku melakukan ini karena keadaan mendesak." ucap Dave dengan melihat kearah benda kecil yang ada diatas pintu ruangan Jerry.


Setelah mengatakan itu Dave pun melangkah dengan cepat agar Sheila dan bayi yang ada didalam kandungan Sheila selamat. Sembari melangkah hati Dave juga dilanda perasaan tidak menentu, namun ia selalu merapatlkan doa agar semuanya berjalan baik-baik saja


Flashback off~


_


_


_


_

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2