
Caca meringis melihat tatapan tajam yang Sena berikan kepadanya. Sejak dirinya datang tadi hingga kini sudah duduk santai di ruang keluarga rumah ini, Sena tidak henti-hentinya menatap dirinya
"Sejak kapan?" suara Sena yang datar itu mampu membuat Dave dan Radian menoleh kearah nya. Dave melirik Radian dengan kedua mata yang terangkat seakan bertanya kepada dua wanita ini
Tapi bertanya dengan Radian bukanlah hal yang tepat, sepertinya pria itu juga tidak tahu apa yang sedang terjadi. Buktinya Radian mengangkat kedua bahunya dan kedua tangan yang terbuka
"Sejak kapan apa sayang?" tanya Dave
"Aku nggak nanya kamu Dave! Jangan nyambung-nyambung ihh."
"Kan aku nggak bawa kabel sayang, bagaimana aku nyambunginnya?" tanya Dave dengan wajah yang seperti tidak berdosa
"Ppptthh.." Radian mengulum bibir bawahnya menahan tawa karena ulah Dave yang begitu jahil menggoda istrinya
"Aku marah sama kamu." Sena melengoskan kepalanya sombong, ia kesal dengan Dave yang menggodanya
"Gitu aja kok marah! Ya sudahlah aku dan Radian cari tempat lain saja biar kamu dan Caca enak berbincang nya."
Cup.
"Tolong hargai aku dan Caca dong Dave, kalau aku nggak tahan gimana?" tanya Radian sambil melirik kearah Caca
"Lah, kalau nggak tahan ya tinggal sosor aja. Lagi pula nggak ada yang marah kan?" Radian mengangkat kedua bahunya dan memberi kode kepada Dave untuk pergi dari sana
"Jangan marah ya sayang Dave." Dave mengelus pucuk kepala istrinya dan pergi dari sana untuk memberi ruang kepada istri dan kekasih rekan bisnisnya yang tidak lain adalah sahabat sang istri
"Jadi?"
"Hah?" tanya Caca seperti orang bodoh
"Berhenti berdehah huh, aku tanya sejak kapan?"
"Sejak kapan apa sih Se? Bertanya yang jelas kenapa?" sungut Sena, ia belum paham apa maksud pertanyaan Sena
__ADS_1
"Huhh!" Sena mendengus malas, dirinya jadi meragukan kalau Caca sahabatnya ini mendapatkan gelar sarjana dari menyogok rektor tempatnya berkuliah beberapa tahun lalu
"Sejak kapan kamu dan pak Radian jadian? Dan sejak kapan pula kamu mengenal dia?" Caca mengangguk mengerti apa yang sahabatnya itu tanyakan, ia menyengir bak kuda yang siap berlari
"Malah menyengir! Sudah cepat jawab sebelum gigi kamu kering karena keseringan menyengir." Caca mencebik, mendengar Sena mengejeknya
"Jadi begini..." Caca menceritakan awal mula ia dan Radian bertemu dan bagaimana mereka bisa memutuskan untuk menjalin hubungan dengan sedikit paksaan dari Radian
"Woaww... Ternyata pak Radian sama seperti Dave ya, suka memaksa." ujar Sena, ia bisa menyimpulkan dari cerita Caca barusan kalau Radian memang sudah lama mengincar sahabatnya
"Dia belum bapak-bapak Se, berhenti memanggil nya pak. Aku jadi berasa pacaran sama bapak-bapak," Sena terkekeh pelan mendengar ucapan Caca
"Baiklah, tapi apakah kalian sudah memiliki rencana untuk menikah?" tanya Sena menaikkan alisnya, sekaligus menggoda sahabatnya itu
"Nggak tahu Se, kamu tahu bukan sampai saat ini aku masih menunggu dia!" Caca memandang kosong ke depan. Disini dirinya sudah memiliki kekasih baru, sedangkan kekasih nya sedang berusaha menyelesaikan pendidikan di luar negeri
"Kamu masih saja memikirkan dia," Sena tidak mengerti mengapa Caca begitu berharap untuk sesuatu yang tidak pasti
"Apakah kamu yakin kalau dia masih berada disana? Bukankah mengambil magister itu tidak membutuhkan waktu lama? Ini bahkan sudah tahun ke tiga sejak dia pamit sama kamu untuk kuliah di luar." ujar Sena agar sahabatnya itu membuka mata untuk sesuatu yang tidak pasti dan sesuatu yang hanya bisa menyakiti
"Dia selalu hubungin aku dua bulan sekali, dan dia bilang mungkin tahun depan dia sudah pulang ke negara ini lagi." Sena tersenyum miris saat menerima fakta kalau sahabatnya ini sudah dibohongi oleh pria sok tampan itu
"Kamu terlalu bodoh Ca mau dibohongi," Caca seketika langsung menoleh menatap Sena dengan wajah bertanya
"Apa maksud kamu berbicara seperti itu Se?"
"Lihat ini!" Sena membuka tempat penyimpanan fotonya didalam ponsel. Untung saja beberapa waktu lalu Sena sempat mengambil gambar pria yang ia dan Caca bahas saat ini
"Ini Arya bukan?"
"Mana mungkin! Ini tidak mungkin Arya," Caca menolak kenyataan kalau yang ada didalam ponsel Sena itu adalah pria yang selama ini ia tunggu, yaitu Arya Wiguna. Pria yang menjadi cinta pertama sekaligus kekasih pertamanya itu berpamit padanya untuk berkuliah di luar negeri atas permintaan kedua orang tuanya, dan Caca dengan sedikit keberatan hatinya pada saat itu mengikhlaskan kekasih nya untuk mengejar cita-citanya selama ini, yaitu bisa berkuliah di luar
"Jika ini bukan Arya mengapa tante Lia ada disini? Bukankah wanita paruh baya itu adalah Mamah nya Arya?" tunjuk Sena pada wanita yang duduk bersebelahan dengan Arya
__ADS_1
"Tapi mana mungkin Arya berbohong sama aku Se? Dia bilang sama aku akan pulang tahun depan, jadi mana mungkin itu dia!" seru Caca yang masih tidak terima kenyataan kalau itu adalah Arya. Di tambah lagi itu seperti acara keluarga yang seperti sedang melakukan pertemuan untuk pernikahan
"Terserah kamu mau percaya atau nggak, yang penting aku sudah mengingatkan kamu dan memberitahu kamu kalau Arya itu bukanlah yang terbaik untuk kamu." ucap Sena lalu menyimpan ponselnya kembali
"Tahu apa kamu kalau Arya bukan yang terbaik buat aku? Toh yang menjalani aku dan dia!"
"Jika dia yang terbaik untuk kamu tidak mungkin dia membohongi kamu kan soal ini, seharusnya dia memberi tahu kamu jika dia sudah kembali ke Indonesia. Atau seenggaknya dia menghampiri kamu ke apartemen. Dia tahu kan dimana lokasi apartemen kamu!"
Caca terlihat tengah berpikir dengan ucapan Sena. Apa yang Sena katakan itu ada benarnya juga, tapi Caca belum yakin kalau didalam foto itu adalah Arya kekasih nya
"Masih belum percaya kalau itu Arya?" tanya Sena yang tahu apa pikiran sahabatnya saat ini
"Iya tidak apa-apa sih, yang terpenting aku sudah memberitahu kamu. Dan untuk sekarang lebih baik kamu mencari kebenarannya, sebelum kamu sakit dan menyesal karena menjadikan Radian sebagai pelampiasan saja."
"Tapi Se..." Sena menggelengkan kepalanya
"Jangan sia-siain seseorang yang datang dengan cinta yang tulus. Jika kamu kehilangan dia, kamu akan menyesal seumur hidup kamu. Buka mata kamu, sudah cukup tersiksa menahan Rindu saja. Jangan bodoh harus mau dibohongi oleh orang yang kamu sayang selama bertahun-tahun. Hidup kamu terlalu berharga untuk memikirkan orang seperti Arya."
"Apa aku bisa Se?.." lirih Caca sendu
"Kamu bisa kok Ca, ada aku yang selalu ada buat kamu." jawab Sena memegang bahu Caca
"Terima kasih banyak ya Se, aku bakal selidiki dulu apa yang sebenarnya terjadi."
_
_
_
_
Bersambung...
__ADS_1