Possesif CEO

Possesif CEO
Sadis


__ADS_3

Tok! Tok! Tok!


Dave yang masih bersandar pada kursi kebesaran nya menatap foto istri cantiknya bersama sang anak didalam gendongan itu menoleh ketika mendengar suara ketukan pintu


"Masuk!" seru Dave sembari merapihkan kemeja nya


"Selamat siang Presdir!" sapa Jerry tersenyum manis kepada Dave. Membuat Dave yang melihat itu bergidik saat mendapatkan senyuman manis dari Jerry


"Apa dia salah minum obat?" batin Dave meneliti wajah Jerry yang tetap tersenyum manis itu


"Siang juga, apa ada sesuatu yang terjadi setelah kamu mengambil cuti dua hari?" tanya Dave sembari mempersilahkan Jerry untuk duduk


"Tidak ada Presdir." jawab Jerry, namun lagi-lagi ia memberikan senyumnya kepada Dave


"Bagaimana bisa kamu mengatakan tidak ada sedangkan aku melihat kamu hari ini sangat berbeda dan aneh." ujar Dave


"Mungkin panggilan alam Presdir." Dave mengernyitkan alisnya mendengar penuturan Jerry


"Bisa begitu ya," gumam Dave


Jerry meletakkan beberapa map untuk berkas-berkas yang masuk dan tidak ia kerjakan selama hampir empat hari. Selama datang pagi tadi ia tidak pernah selesai melihat dan mengerjakan pekerjaan yang sudah sangat menumpuk, ia pikir Dave akan berbaik hati untuk membantunya mengerjakan tugas-tugas itu. Namun ternyata tidak, Dave tetaplah Dave.


"Presdir ini baru setengah dari pekerjaan saya, sisanya nanti akan saya selesaikan dengan cepat." ucap Jeryy menatap Dave yang juga tengah menatap dirinya.


Dave menganggukkan kepalanya, lalu mengambil berkas yang Jerry letakkan didepan nya. Dave membaca dengan teliti berkas yang ada di tangannya. Sedangkan Jerry dengan setia menunggu dan melihat Dave yang sedang melihat hasil kerjanya itu


"Bagus. Kamu memang tidak pernah mengecewakan aku." ucap Dave yang telah selesai membaca satu berkas yang Jerry bawakan. Jerry tersenyum mendengar pujian dari Dave, bukan hal yang langka dipuji oleh Dave, namun dengan begitu ia senang hasil kerjanya dipuji oleh Bos sekaligus sahabatnya


"Jadi..."


"Jadi apa Presdir?" tanya Jerry bingung


"Apa yang membuat kamu sampai izin tidak masuk kerja? Dan saat kamu masuk kerja kamu menjadi aneh seperti ini?" Jerry tersenyum kikuk mendengar pertanyaan Dave, ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu sembari terus tersenyum kepada Dave


"Hei, aku tidak butuh senyuman mu itu, senyum istriku lebih menyejukkan dibanding senyummu, jadi berhentilah bersikap manis seperti itu aku menjadi sendiri karena nya." Jerry merapatkan bibirnya dan tersenyum kikuk kepada Dave


"Kamu sangat aneh semenjak libur, sudah sana pergi! Kerjakan pekerjaan yang belum kamu selesaikan, dan jangan lupa pesankan aku makan siang." ucap Dave mengusir Jerry dari ruangannya, sedangkan Jerry hanya melongo ketika Dave mengusir dirinya. Namun Jerry tetap mengangguk dan keluar dari sana setelah berpamit dengan Dave


Ceklek


Suara pintu ruangan itu tertutup kembali. Dave menolehkan kepalanya kearah pintu dan menatap pintu itu dengan senyum sinis, ia menyandarkan punggungnya disana dengan nyaman dan dengan mata yang masih setia menatap pintu

__ADS_1


"Dia pikir aku tidak tahu apa yang sedang terjadi padanya," ucap Dave menggelengkan kepalanya


"Tapi lebih baik seperti itu daripada dia melajang sampai tua." gumam Dave, ia mengangkat bahunya acuh ketika memikirkan skenario tuhan yang tidak disangka-sangka


"Lebih baik aku menelpon istri cantikku yang ngangenin dirumah daripada memikirkan Jerry." Dave menyambar ponselnya yang ada diatas meja, ia segera mencari nomor ponsel sang istri.


Dave tersenyum ketika panggilan itu tersambung, iapun segera mengarahkan ponsel tersebut ke hadapan wajahnya. Ya, tidak tanggung-tanggung Dave langsung menelpon dengan video call


"Hallo Papah!" hati Dave bergetar saat suara pertama yang menyapanya begitu membuat jantung nya berdegup. Bagaimana tidak istri serta anaknya yang ditengah digendong sang istri menyapanya dengan senyum lebar dengan sapaan yang begitu sangat manis


"Hallo kesayangan Papah! Kalian berdua apa kabar dirumah?" wajah Sena langsung berubah sengit kala Dave membalas sapaannya


"Lho sayang, wajah kamu kenapa jadi seperti itu?" tanya Dave kepada istrinya, Dave merasa heran mengapa wajah Sena dalam sekejap sudah berubah dari yang tadinya senyum menjadi sangat menakutkan


"Ya kamu apa-apaan, belum ada satu hari keluar dari rumah sudah bertanya apa kabar." jawab Sena dari sebrang. Dave terkekeh mendengar suara kesal istrinya


"Aku bertanya apa adanya sayang, jujur aku sudah sangat rindu dengan kalian berdua dan rasanya aku ingin pulang sekarang." ucap Dave jujur, entah mengapa kelahiran buah hatinya malah membuat rasa cintanya kepada Sena semakin menggebu-gebu


"Gombal!" seru Sena dari sebrang dengan malu-malu


"Hahha... Hahhhaa... Tadi ssaja marah-marah, lihat sekarang wajahnya sudah memerah seperti itu. Hahhha... Hahha.." suara tawa Dave begitu menggelegar didalam ruangan kedap suara itu. Dave tidak bisa berhenti ketawa kala melihat keterkejutan anaknya disebrang ketika mendengar suara tawanya yang begitu kuat


"Sayang, lihatlah Putramu ini terkejut!" Dave memegang perutnya dan berusaha berhenti tertawa, sehingga mengakibatkan wajahnya harus memerah karena menahan tawa


"Sayang," panggil Sena dengan suara manja


"Iya sayang maaf." Dave mengangkat kedua jarinya keatas kepala


"Sudah dulu ya, kerja yang bener. Matanya jangan nakal, sampai matanya nakal enggak aku bolehin pulang kamu." ancam Sena, Dave bergidik mendengar ancaman sang istri


"Sadis banget sih kamu sayang,"


"Biarin, kamu enggak suka?" tanya Sena menantang


"Hehhe.. Enggak kok sayang, enggak. Ya sudah aku lanjutin kerja dulu ya, sampai jumpa dirumah muachh.." Dave tersenyum kala melihat istrinya tersenyum. Ia dadah terlebih dahulu baru menutup panggilan itu


"Sadis sejak dulu, tapi anehnya aku cinta." Dave tersenyum sendiri mendengar kalimatnya


****


Drett... Drett... Drett...

__ADS_1


Dering ponsel milik Jerry berdering, Jerry yang sedang serius menatap layar komputer di hadapannya itupun mengangkat kepalanya melihat jam yang berada didinding diatas pintu ruangannya.


"Ada dan tidak ada sekretaris sama saja, aku yang repot harus mengerjakan semuanya. Huhh..." Jerry merenggangkan otot-ototnya dengan mengangkat kedua tangannya keatas kepala


"Haummm..." Jerry menutupi mulutnya ketika menguap


Drett... Drett... Drett...


Jerry melirik ponselnya yang kembali berbunyi untuk kedua kalinya, ketika melihat nama karyawan yang bertugas sebagai resepsionis itu, Jerry langsung menyambar ponselnya


"Hallo, ada apa?" tanya Jerry to the point


"Suruh seseorang mengantarkan ke ruangan Presdir, saya sedang sibuk dan tidak bisa untuk turun." ucap Jerry pada karyawan resepsionis tersebut


"Kalau begitu saya tutup, terima kasih."


Tut.


Jerry meletakkan kembali ponselnya diatas meja, ia menjatuhkan tubuhnya ke sandaran kursi untuk beristirahat sejenak. Jerry tersenyum ketika dirinya mengingat malam pertama dengan seorang wanita yang kini telah menjadi istrinya, yang kini tengah mengandung anaknya dari sebuah kesalahan yang tidak pernah Jerry duga akan membuat hidupnya berakhir dengan wanita yang selalu ia remehkan


"Jodoh siapa yang tahu, bahkan aku menikah dengan orang yang tidak pernah ada didalam kriteria ku." ucap Jerry


Drett... Drett... Drett...


"Siapa lagi?" tanya Jerry lalu menyambar ponselnya


"Ada apalagi ini?" gumam Jerry saat melihat nama karyawan resepsionis itulah yang menghubungi nya


"Ada apa? Aku sudah bilang suruh sese... Apa kamu bilang?" tanya Jerry dengan begitu terkejut


"Oke, katakan pada dia untuk tunggu diruangan office girl, aku akan ke sana sekarang."


Tut.


Jerry menutup panggilan itu dengan sepihak, iapun segera beranjak dari duduknya dan melangkah dengan cepat menuju pintu untuk turun ke bawah.


_


_


_

__ADS_1


_


Bersambung...


__ADS_2