
Dave mendengarkan seksama apa yang Jerry jelaskan kepadanya. Kepalanya saat ini bercabang banyak pertanyaan, mulai dari perusahaan nya yang ada di Paris sedang ada masalah dan memikirkan istrinya yang saat ini sedang marah padanya dirumah
"Jadi maksud kamu Joni tidak bisa mengatasi semua masalah yang ada disana?" tanya Dave dan mengangkat kepalanya. Jerry menganggukkan kepalanya saat Bos nya bertanya ulang apa yang sudah ia sampaikan sebelumnya
"Kapan aku harus kesana?" tanya Dave
"Secepatnya Bos." jawab Jerry dan mengulum bibir bawahnya saat mendengar Bos nya melenguh
"Atur jadwal keberangkatan ku Jerr, gunakan jet pribadi milik keluarga Alexander. Aku tidak ingin berlama-lama diperjalanan." ujar Dave menghela nafasnya kasar, ia pun menjatuhkan punggung nya kepada kursi dan mengadahkan kepalanya keatas
"Baik Bos. Kalau begitu saya permisi dulu." Jerry keluar dari sana meninggalkan Dave dengan pikiran yang sedang begitu tidak menentu
"Apa aku bisa meninggalkan Sena sendiri? Tapi jika aku membawa nya akan berbahaya bagi kehamilan nya." gumam Dave
"Aaahhh... Sial, kenapa juga harus ada masalah, padahal Joni selalu memberi laporan kalau perusahaan baik-baik saja dan tidak ada masalah. Sekalinya datang masalah aku juga yang harus turun tangan."
Brak..
Dave menggebrak meja kerjanya, saat sedang seperti ini hanya Sena lah yang mampu membuat nya tenang
"Tapi kan dia masih marah, apa dia bakal angkat ya?" gumam Dave
"Bodo lah, mana bisa tahu diangkat apa nggak kalau belum coba." Dave pun menekan nomor ponsel istrinya. Dave menggigit bibir bawahnya saat suara dari sebrang berdering namun belum di angkat
"Apa dia masih marah ya?" gumam Dave dan melihat layar ponselnya
"Huhh..." Dave menghela nafas panjang dan menyudahi panggilan pada nomor Sena lalu melempar ponselnya keatas meja
"Seharusnya kan aku yang marah, kenapa jadi terbalik seperti ini? Ibu hamil memang sulit ditebak dan di mengerti. Mau nya selalu menang sendiri."
Flashback on~
Dave tersenyum memasuki rumahnya, setelah pengangkatan jabatan dari CEO ke Presdir Dave diserbu oleh semua karyawannya untuk mentraktir mereka makan sesuai dengan janji Dave
"Kemana dia? Ini masih siang kenapa dia tidak menyambut kedatangan ku?" batin Dave yang melihat rumahnya sudah seperti kuburan, dengan pencahayaan yang minim dan suasana sepi membuat rumah itu tampak horor
"Tuan," Dave menoleh kesamping
"Hantu!" teriak Dave menjatuhkan tas kerjanya dan berjongkok menyembunyikan wajahnya
__ADS_1
Klik.
Ruangan itu seketika menjadi terang ketika Sena yang dari dapur akan kembali ke kamarnya mendengar suara teriakan sang suami
"Sayang!" Dave seketika menjadi tenang saat suara tidak asing di telinganya, dengan perlahan Sena mengangkat kepalanya dan mendongak keatas
"Bibi!" kesal Dave karena Bi Ina lah orang yang ia katakan hantu. Bagaimana tidak berteriak hantu jika ditengah keremangan seperti ini Bi Ina menggunakan masker putih dimana itu menutupi wajah kulit sawo matang nya
"Kamu saja yang penakut, aku sampai terkejut mendengar teriakan kamu." ucap Sena menertawakan suaminya melihat nafas Dave yang naik turun ia merasa kalau Dave ini adalah seorang penakut
"Sayang kamu berbicara apa? Mana mungkin aku seorang penakut, lagi pula Bibi membuat aku terkejut." protes Dave yang tidak mau diledek penakut oleh istrinya, itu akan terlihat sangat tidak gantle man, dan juga akan ditaruh dimana wajahnya
"Untuk besok-besok jangan seperti ini lagi Bi," ucap Dave kepada Bi Ina
"Siap tuan, Bibi tidak akan mengulangi lagi." jawab Bi Ina tanpa rasa bersalah sedikit pun, membuat Dave jengah akan hal itu
"Ayo ke atas sayang!" Sena mengajak suaminya untuk keatas, Dave pun mengangguk lalu mengikuti istrinya dari belakang
****
"Hah!.." Dave menjatuhkan tubuhnya diatas kasur, dengan kedua tangan dan kaki yang direntangkan menyerupai huruf X. Sena menggeleng pelan melihat suaminya itu sudah tidur tanpa melepaskan sepatu dan membersihkan diri
"Tidak sekalian dengan celananya sayang?"
"Kalau aku buka sekalian dengan celananya kamu nggak bakal mandi." Dave terkekeh dan bangun dari tidurnya dan melangkah memasuki kamar mandi
Ting!
"Ponsel aku kah?" tanya dan menoleh kebelakang
"Ponsel Dave," Sena mengambil ponsel itu, namun saat Sena akan meletakkan kembali ponsel itu, layar ponsel itu seketika berbunyi lagi
"Siapa sih?" Sena pun membuka ponsel Dave untuk mengetahui siapa sebenarnya yang menghubungi suaminya malam begini
Klik
Kode ponsel itu terbuka, Sena menutup mulutnya kala hal pertama yang ia lihat adalah foto Dave tengah memangku seorang wanita, yang dimana wanita itu lebih muda darinya
"Jadi ini yang dia bilang sedang berpesta dengan para karyawannya?" gumam Sena. Saat mendengar suara gemercik air dari dalam kamar mandi berhenti, Sena meletakkan kembali ponsel Dave dan berlari keluar dari sana
__ADS_1
****
Ceklek.
Dave keluar dengan mengusap rambutnya menggunakan handuk kecil dan tubuh yang terbalut badrobe, ia melirik kearah kasur dan kamarnya, namun ia tidak melihat keberadaan sang istri
"Kemana dia?" tanya Dave dan melihat pintu kamarnya yang terbuka. Dave pun memilih memasuki wardrobe untuk mengganti piyama. Tidak butuh waktu lama bagi Dave berganti pakaian, kini dia telah keluar dari sana dengan menggunakan piyama kotak-kotak
Ketika Dave akan keluar dari sana suara dering ponsel membuat langkahnya terhenti, Dave berbalik dan melangkah untuk mengangkat telepon itu, yang ia yakini kalau dering ponsel itu adalah milik Sena
"Nomor baru?" gumam Dave karena melihat di layar ponsel itu tidak ada nama yang diberikan Sena, Dave yang penasaran itu pun menggeser tombol hijau lalu menempelkan ditelinga nya.
****
Sena melipat tangannya didepan dada dengan melihat tayangan kartu didepan nya, ia kesal dengan Dave yang sudah berani membohongi dirinya.
"Astaga!" teriak Sena saat ponsel miliknya sudah berada didepan mata, saat tangan Sena terulur untuk mengambil benda pipih canggih itu, Dave malah melemparnya keatas meja yang ada disana
"Apa maksud kamu?" tanya Dave, dimana pertanyaan itu membuat Sena bingung
"Kenapa pria sialan itu masih menyimpan nomor kamu? Apakah kamu berniat untuk bermain belakang?" Sena menggeleng tidak percaya akan tuduhan suaminya
"Bukan begitu cara mainnya." nafas Sena naik turun mendengar semua kalimat yang keluar dari mulut Dave
"Bagaimana cara mainnya hah? Aku juga tidak tahu bagaimana dia bisa mengetahui nomorku, jika aku merespon dia, tidak mungkin aku tinggalkan ponselku."
"Tapi kenapa tidak langsung kamu blokir?"
"Aku tidak peduli. Yang perlu aku ingat sekarang, kamu lah yang main belakang dari aku." Sena bangkit dari duduknya dan pergi dari sana
"Maksud kamu apa sayang?!.." teriak Dave
_
_
_
_
__ADS_1
Bersambung...