
Dave mengernyitkan dahinya ketika sinar matahari yang mengintip dari celah gorden yang tertutup rapat itu mengganggu tidur nyenyak nya. Padahal Dave baru berapa jam tertidur, niat awal ingin bangun siang.
Dave membuka kedua matanya dengan sempurna, ia menatap langit-langit kamarnya dan tersenyum setelah mengingat kejadian semalam, ia dan Sena benar-benar melepaskan rindu yang sudah sejak lama pendam
Merasakan pergerakan di sampingnya, Dave menolehkan kepalanya ke samping dan mendapati wajah sang istri yang terlihat begitu pulas tertidur. Ia terkekeh pelan saat melihat kedua alis istrinya itu mengerut saat ia melingkarkan tangannya di pinggang sang istri
"Saat tidur saja kamu secantik ini, apalagi terbangun. Aku selalu takut kalau kamu di ambil orang, tetapi rupanya kamu lebih takut dari aku." Dave tersenyum puas, ia menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajah istrinya
"Aku yakin anak kita akan segera tumbuh di sini," Dave mengusap perut rata Sena yang memang tidak terbalut apapun itu
"Dan jika usahaku tadi malam hingga petang tidak membuahi hasil, maka dengan senang hati aku mengajak kamu untuk olahraga di lain hari." Dave tersenyum setelah menyelesaikan kalimatnya
"Awww..." teriak Dave saat merasakan ada sengatan di pinggangnya, dan itu terasa begitu sangat sakit di kulitnya
"Sayang, kamu kok tega banget sih?" tanya Dave dengan tangan yang masih sibuk mengusap bagian samping perutnya yang terasa perih saat ini. Ia tidak percaya orang tidur tangannya bisa berjalan ke mana-mana. Dave melihat istrinya itu membuka matanya dan menatap dirinya tajam, seakan singa betina yang bersiap untuk menerkam mangsanya
"Belum puas juga?" tanya Sena, Dave yang diberikan pertanyaan seperti itu malah menyengir tanpa merasa bersalah sedikitpun
"Sudah puas atau belum?" tanya Sena lagi
"Belum sayang, kamu terlalu sexy jadi aku rasanya pengen terus." Sena membulatkan matanya dengan kepala menggeleng pelan
"Itu nafsu kamu atau nafsu binatang?" Dave mengangkat bahunya
"Intinya aku enggak mau lagi ya," ujar Sena, Dave mencebikkan bibirnya
"Itu berarti kamu sudah tidak mencintai aku kalau kamu tidak mau melayani aku lagi." ucap Dave menatap Sena sedih. Sena yang merasa bersalah karena sudah berbicara seperti itu
"Aku kenapa sih suka banget bicara seperti ini, sudah tahu punya suami yang dikit-dikit ngambek seperti perempuan. Dan lihatlah sekarang wajah ini, ingin sekali aku pukul." batin Sena menatap wajah Dave yang tengah cemberut bagaikan anak kecil yang tidak diberi permen oleh ibunya
__ADS_1
Melihat tidak ada tanggapan dari sang istri, Dave pun memilih untuk membersihkan tubuhnya. Hari ini adalah hari kerja, dan ia tidak mungkin membiarkan Papah nya terus-terusan menggantikan dirinya di kantor, Papah nya adalah seorang komisiaris, bagaimana mungkin ia begitu kurang ajar membiarkan seorang komisiaris menggantikan posisinya.
Sena pun sedikit galagapan ketika melihat Dave menyibakkan selimut dan turun dari atas kasur tanpa mengucapkan sepatah katapun, ia yakin kalau saat ini suami posesifnya itu marah padanya karena kalimatnya yang tadi
"Dave.. Aku tidak bermaksud berkata seperti itu, aku hanya sedan..."
"Sudahlah, sejak awal saja kamu tidak mau melayani aku, jadi tidak perlu membela diri atau apapun itu. Aku tidak mau kamu melakukan itu hanya karena paksaan dariku." sela Dave yang berada diambang pintu kamar mandi. Setelah mengatakan itu ia segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya
"Bodoh... Bodoh... Aku tidak tahu kalau aku mempunyai suami yang mempunyai sifat anak kecil." Sena memukul-mukul kepalanya seperti orang perustasi
"Oke baiklah, kamu harus tenang Sena. Yang perlu kamu lakukan adalah mengambil hati suamimu di hari pertamanya bekerja, kamu hanya perlu mengembalikan moodnya yang sudah menjadi buruk di pagi hari."
Sena menggulung tubuhnya menggunakan selimut, tubuhnya sudah terasa sangat lengket, apalagi bagian bawahnya. Bahkan sprei kasur yang ia dan Dave gunakan itu sudah berbau amis. Sena mengernyit saat ia menggerakkan kakinya untuk turun dari sana, rasa sakit dan perih begitu mendominasi, membuat Sena harus menggigit dalam bibirnya
"Bagaimana aku bisa menyiapkan pakaiannya jika turun dari sini saja aku tidak bisa." Sena mengepalkan kedua tangannya dan kembali berusaha untuk bisa turun
"Ini mau menambah anak atau menyiksa aku sih? Hanya dalam beberapa jam saja dia sudah berhasil membuat istrinya tidak bisa berjalan, apalagi jika harus di tambah lagi besok dan besoknya." Sena yang melihat tidak ada perkembangan apapun itu memilih menyandarkan kepalanya di kepala ranjang
****
Dave menggosok tubuhnya dengan senyum yang tidak pernah hilang dari wajah tampannya, sudah sangat lama Dave tidak sebahagia hari ini, bahkan sangking bahagianya ia sampai rela berpura-pura marah pada istrinya
"Dia pasti tidak bisa bangun dari tempat tidur, aku jadi tidak tega." ucap Dave mengingat betapa ganasnya dirinya semalam yang terus mengajak Sena untuk mencapai kepuasan bersama tanpa berpikir kalau itu bisa membuat sang istri tidak akan bisa berjalan besoknya, dan Dave malah berpura-pura marah
"Seharusnya kan dia yang marah, tapi kenapa jadi terbalik begini?" Dave tersenyum pelan
"Tapi tidak apa, mungkin dengan aku marah begini dia mau berubah pikiran dan tidak akan pernah menolak suami tampannya ini." ujar Dave begitu sangat bahagia, bahkan tanpa Dave sadari kalau ritual mandinya itu adalah ritual mandi terlama. Padahal Dave begitu sangat anti jika harus berlama-lama didalam kamar mandi seperti perempuan
"Semoga cepat hadir ya nak, Papah tidak sabar menunggu kamu hadir di dalam perut Mamah." gumam Dave, setelah itu ia membilas tubuhnya kembali dan memilih menyudahi ritual mandinya itu.
__ADS_1
*****
Ceklek
Mendengar pintu kamar mandi terbuka Sena menegapkan badannya cepat, ia melihat Dave keluar menggunakan handuk sebatas pinggang dan handuk kecil sebagai pengering rambut basahnya.
"Da.. Sayang, maaf ya aku tidak bisa membantu kamu bersiap." mendengar suara lembut Sena yang memanggilnya sayang membuat Dave dengan cepat menoleh ke arah kasur, dimana sang istri tengah tersenyum manis padanya
"Aduhh... Jantung ini seperti saat pertama aku melihat kamu sayang, bahkan sampai kuatnya berdetak aku tidak bisa mengontrolnya." batin Sena begitu terpana dengan senyuman manis Sena pagi ini
"Apa kamu tidak bisa bangun dari sana?" tanya Dave. Sena pun mengangguk cepat
"Biar aku bantu mandi ya."
"Hah? Tidak-tidak. Tidak perlu repot-repot, aku bisa melakukan itu nanti." Sena tersenyum manis berharap Dave mau mendengarnya, melihat Dave berjalan ke arahnya membuat Sena sedikit takut
"Aku tidak akan melakukannya lagi sayang, aku akan melakukannya jika kamu yang memintanya." ucap Dave setelah berada disamping kasur
"Tapi bohong." batin Dave, ia tersenyum agar istrinya itu percaya. Melihat Sena membalas senyumnya Dave pun menggendong tubuh sang istri beserta selimutnya memasuki kamar mandi
_
_
_
_
Bersambung...
__ADS_1