Possesif CEO

Possesif CEO
Takut


__ADS_3

Dave menempelkan kembali ponselnya ditelinga, berharap kali ini Sena akan mengangkatnya. Namun lagi-lagi hanya suara operator lah yang ia dengar


"Kamu dimana sayang? Angkat dong." ucap Dave cemas, sekarang sudah jam 8 malam tapi istrinya tidak ada kabar. Dari rumah kedua orang tuanya, rumah Caca dan panti asuhan tempat istrinya dulu pun Dave datangi namun tidak ada tanda-tanda adanya keberadaan sang istri disana


Drrtt.. Drrtt.. Drrtt..


"Akhirnya." gumam Dave dan menggeser tombol hijau dan menempelkan benda pipih itu ditelinga nya tanpa melihat siapa orang yang menghubungi itu


"Hallo sayang! Kamu dimana sayang, jangan buat aku cemas dong sayang, kamu sedang hamil besar aku takut banget terjadi sesuatu sama kamu. Tolong bilang sama aku, kamu ada dimana sekarang?" Dave terus saja berbicara tanpa tahu kalau orang di sebrang sana yang menghubunginya bukanlah sang istri melainkan Caca sahabat Sena


"Mr. Alexander, maaf saya bukan istri anda." Seketika Dave terdiam, ia pun menjauhkan benda pipih tersebut dari telinganya dan melihat ke layar ponselnya


"Siapa kamu?" tanya Dave yang memang tidak mengetahui siapa orang disebrang sana. Setahu Dave tidak banyak yang mengetahui nomor ponselnya, tapi kenapa saat ini suara wanita


"Aku Caca sahabat dari istri anda Mr. Alexander."


"Caca.. Apakah kamu sudah mengetahui keberadaan istriku?" tanya Dave berharap kabar baik yang ia dapat dari Caca


"Emm.. Tidak, saya malah ingin bertanya kepada anda. Apakah Sena sudah kembali ke rumah?" Dave menjadi lesu saat Caca malah bertanya balik kepadanya. Dave pikir Caca akan mengabarinya kalau Sena ada di tempatnya. Tapi ini malah sebaliknya, Caca malah bertanya apakah Sena sudah kembali ke rumah


"Belum Ca, aku masih mencari dimana keberadaan nya. Bisakah kamu bertanya dengan para sahabat kamu, siapa tahu Sena berada ditempat salah satu sahabat kamu dan Sena


"Ah baiklah, saya akan mencoba menghubungi mereka. Jika ada kabar tentang Sena saya akan menghubungi Mr. Alexander." ucap Caca


"Terima kasih." ucap Dave dan memutuskan panggilan tersebut


"Kopinya tuan," Bi Ina meletakkan kopi diatas meja, setelah meletakkan kopi diatas meja Bi Ina melihat wajah Dave yang tengah melamun itu


"Tuan!" seru Bi Ina


"Tuan, apa anda tidak apa-apa?"

__ADS_1


"Hah? Oh maaf Bi, apa Bibi sudah lama?" tanya Dave dan tersenyum singkat kepada Bi Ina


"Ini Bibi bawakan kopi untuk tuan, diminum dulu."


"Iya Bi." jawab Dave dan mengambil cangkir yang sudah berada diatas meja


****


"Minum dulu Se, berhentilah menangis tidak baik untuk kandungan kamu." Riko memberikan satu botol air mineral kepada Sena


Sena melihat botol yang berada di wajahnya sekilas dan bergantian menatap wajah Riko sebelum ia mengambil botol tersebut. Sena pun menegak air yang berada didalam botol tersebut cukup banyak sehingga menyisahkan setengah dari isinya


"Kamu mau ke mana berjalan dipinggir jalan seperti tadi?" tanya Riko, dimana tadi ia menemukan Sena berada di trotoar pinggir jalan dengan melamun


"Aku... Aku mau pulang, tapi dompet aku ketinggalan dirumah jadi aku tidak bisa naik taxi." jawab Sena lirih, ia menundukkan kepalanya dan kembali menjatuhkan air matanya lagi


"Dave ke mana? Kenapa kamu tidak menghubungi dia?" tanya Riko yang belum mengetahui apa permasalahan yang tengah dihadapi oleh Sena. Sena menggelengkan kepalanya


"Aku masih marah sama dia, aku nggak mau hubungin dia." ucap Sena dan membuka lagi botol air minum yang masih berada didalam genggaman nya.


"Se, hidup berumah tangga memang seperti itu. Kadang bahagia menghampiri, dan kadang cobaan bergantian setelah puas bahagia. Jika kedua orang itu sama-sama keras kepala dan tidak mau mengalah maka akan begitu terus sampai kalian tua," Sena mendengarkan dengan seksama apa yang disampaikan oleh Riko, ia menatap Riko yang juga tengah menatapnya


"Yeah.. Aku pernah mendengar istilah hubungan tanpa bertengkar itu tidak seru, kurang bergairah kehidupan rumah tangganya. Tapi, apakah kamu tahu kenapa pasangan suami istri kerap bertengkar saat mereka berbeda pendapat atau yang lainnya?" tanya Riko. Sena menggelengkan kepalanya


"Tuhan ingin kalian berdua belajar. Sabar untuk mengalah, sabar untuk memahami, dan sabar kalau itu hanya permasalahan kecil yang mungkin bisa membuat kalian sama-sama belajar kalau sabar dan mengalah itu lebih baik daripada harus bertengkar hebat."


"Tapi dia sangat menyebalkan Rik, aku nggak suka dia yang tidak mau mengerti aku." ucap Sena


"Dia tidak mau mengerti dalam hal apa?" Sena terdiam dengan menatap kearah lain. Ia menghela nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan Riko. Sena juga sempat berbicara kepada dirinya sendiri kalau tidak ada salahnya ia bercerita dengan Riko, karena selama ini juga ia merasa bimbang dengan hatinya yang selalu ingin menyembunyikan pernikahan mereka. Padahal saat itu jelas-jelas Sena sudah berani tampil didepan umum menemani Dave


"Aku, aku belum siap seluruh dunia tahu kalau aku dan Dave adalah pasangan suami istri."

__ADS_1


"Why?" kejut Riko, ia tidak percaya dengan pengakuan Sena kali ini. Sungguh jauh didalam pikiran Riko, jika hubungan Sena dan Dave sudah diketahui oleh orang banyak, namun dugaan Riko salah


"Aku takut Rik,"


"Takut?" Sena menganggukkan kepalanya


"Takut apa Se? Apa yang membuatmu takut sampai kamu harus bertengkar oleh hal ini?"


Riko menggeser tubuhnya kala Sena ingin beranjak dari duduknya, ia memberi jalan kepada Sena. Saat ini mereka sedang berada dirumah Riko. Dan Riko membawa Sena ke taman rumahnya untuk melihat bunga-bunga cantik yang ia rawat


Riko melihat Sena dari tempatnya, Riko menatap punggung Sena mencari jawaban apakah perasaan yang selama ini ia simpan kepada masih ada atau sudah hilang bersama harapannya yang ingin memiliki Sena namun sudah lebih didahului oleh pengusaha nomor satu di negara itu. Melihat Sena tersenyum kepada bunga-bunga itu membuat hati Riko sedikit berdesir. Riko menggelengkan kepalanya berharap rasa itu dan pikiran itu hilang dari hidupnya


"Ternyata masih ada, aku berharap rasa ini hilang." gumam Riko dengan mata terpejam, berharap kalau nanti ia membuka matanya rasa itu juga pergi


"Sena!" seru Riko saat membuka matanya Sena sudah berdiri dihadapan nya. Riko mengusap dadanya yang berdegup karena terkejut


"Kamu tidak pernah bilang kalau kamu punya taman seindah ini, Rik. Apakah kamu yang menanam semua ini?" tanya Sena


"Hmm, ini aku semuanya yang menanam. Setelah kepergian Mamah ku, rumah ini menjadi sepi seperti pemakaman. Maka dari itu aku memutuskan untuk menanam bunga-bunga ini agar rumah ini terlihat hidup seiring bunga ini tumbuh." Sena tersenyum mendengar penjelasan Riko, ia tidak menyangka orang seperti Riko juga menyukai hal-hal yang mungkin hanya dominan ke wanita


"Jadi, apa yang membuatmu takut? Kamu belum menjawabnya." Sena tersenyum kikuk, ia pun melangkah kembali mendekat kearah bunga-bunga cantik tadi


"Aku begitu takut...."


_


_


_


_

__ADS_1


Takut apasih Sena?!!


Bersambung...


__ADS_2